Gang Kenanga Tiga tidak berubah. Itu yang pertama Ranu rasakan, dan itu pula yang paling ganjil. Aspal yang retak di ujung mulut gang masih retak di garis yang sama. Selokan di kiri masih mengalirkan air kelabu berbau tajam ke arah yang membingungkan. Genteng-genteng rumah petak masih saling menindih seperti barisan yang kelelahan menahan langit. Dua tahun. Dua tahun sejak ia terakhir membelokkan Ambulans Sangkala Satu ke mulut gang ini, dan kota seperti lupa bahwa di dalamnya pernah ada seseorang yang mati.
Ia datang tanpa seragam. Kaus lengan panjang, celana biasa, sandal jepit yang mulai menipis di tumit. Ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ia lewat karena rute pulang yang lain sedang digali, tetapi kakinya tahu ia berbohong. Kakinya membawanya masuk ke gang yang selama dua tahun ia hindari seolah alamat itu bisa menular.
Anak-anak bermain bola plastik di pelataran sempit. Seorang perempuan menjemur kain di kawat yang membentang antara dua tiang. Bau nasi dan minyak goreng bekas menggantung. Hidup berjalan di sini, pikirnya, seolah kematian bukan tetangga yang pernah singgah.
"Om cari siapa?"
Ranu menoleh. Seorang gadis berdiri di depan sebuah rumah dengan pintu yang dicat hijau pudar. Umurnya barangkali tujuh belas, mengenakan seragam abu-abu yang lengannya digulung, tas sekolah masih tergantung di satu bahu. Ada sesuatu di garis rahangnya, di cara matanya menyipit menakar orang asing, yang membuat dada Ranu mengetat sebelum akalnya sempat menjelaskan mengapa.
Ia mengenal wajah itu. Bukan wajah ini persis—tetapi bayangannya. Versi yang lebih muda, lebih perempuan, dari wajah yang pernah membiru di brankarnya di bawah sungkup oksigen yang terlambat berguna.
"Saya—" Suaranya tersendat. "Saya cuma lewat."
Gadis itu tidak langsung percaya, tetapi ia juga tidak curiga. Ia meletakkan tasnya di kursi plastik di teras. "Kalau cari kontrakan kosong, adanya di ujung. Yang ini penuh semua."
"Bukan." Ranu menelan sesuatu yang kering. "Kamu... tinggal di sini?"
"Dari lahir." Gadis itu menyeka dahinya dengan punggung tangan. "Saya Lastri."
Nama itu jatuh ke dalam Ranu seperti batu ke sumur yang ia kira sudah kering. Lastri. Adik. Di berkas lama yang ia simpan diam-diam, di kolom keluarga pasien, ada nama itu tertulis dengan tinta yang telah ia baca berpuluh kali sampai hafal. Lastri, adik Wira.
Ia hampir mundur. Hampir mengucapkan sesuatu yang sopan dan kosong lalu pergi, membiarkan gang ini menelannya kembali seperti selama dua tahun ini. Tetapi mulutnya, yang biasa terlatih tenang di tengah darah dan patah tulang, mengkhianatinya.
"Wira," katanya. Pelan. Seperti melepas sesuatu yang tajam. "Kamu adiknya Wira."
Gadis itu diam. Sesuatu bergeser di wajahnya—bukan curiga sekarang, melainkan pengenalan yang lambat, seperti orang yang mendengar lagu lama dari kejauhan. Ia memandang Ranu lebih lekat. Ke arah tangannya, entah kenapa. Lalu ke matanya.
"Om yang bawa Mas Wira waktu itu," katanya. Bukan bertanya.
Ranu tidak sanggup menjawab dengan suara, jadi ia hanya mengangguk. Ia sudah menyiapkan diri, selama dua tahun, untuk kemarahan. Untuk tangan yang mendorong dadanya, untuk teriakan, untuk tuduhan yang sudah ia lcontarkan pada dirinya sendiri ribuan kali di sepanjang malam-malam yang tak bisa tidur. Kenapa tidak lebih cepat. Kenapa tidak memaksa. Kenapa berhenti di pintu ketiga alih-alih menabrak masuk. Ia siap menerima semua itu. Ia hampir mengharapkannya, karena hukuman lebih mudah ditanggung daripada apa yang datang.
Lastri melangkah turun dari teras. Ia berdiri di depan Ranu, dan matanya—Tuhan, mata itu tidak menyimpan kebencian sama sekali.
"Ibu masih ingat Om," katanya. "Katanya Om nggak berhenti nyetir malam itu. Katanya Om ngangkut Mas Wira sampai ke rumah sakit yang jauh-jauh. Tiga kali." Ia berhenti, menelan. "Ibu bilang Om udah usaha."
Ada palu yang tak kelihatan menghantam sesuatu di dalam dada Ranu, dan retaknya tidak bersuara.
Ia ingin berkata: jangan. Jangan berterima kasih. Aku berhenti di pintu ketiga. Aku menerima kata "penuh" seperti orang bodoh yang percaya bahwa dinding tidak bisa ditembus. Aku duduk di kursi kanan sementara napas kakakmu menipis di belakangku dan aku menghitung menit yang tidak akan pernah kembali. Ia ingin gadis ini membencinya supaya bebannya masuk akal.
Tapi Lastri tidak membencinya. Dan justru itu yang tak tertanggungkan.
"Bu Ipah," Ranu berhasil berkata. "Ibumu. Ada di rumah?"
Lastri menoleh ke pintu hijau. "Lagi rebahan. Sesaknya kambuh lagi kalau hujan." Ia mengangkat bahu dengan cara yang berusaha ringan tapi tidak berhasil. "Om mau masuk?"
Dari dalam terdengar suara batuk, panjang dan berat, suara paru-paru yang bekerja terlalu keras untuk sesuatu yang seharusnya sederhana seperti bernapas. Ranu tahu suara itu. Ia telah mendengar seribu variasinya di seribu rumah petak. Dan untuk sesaat instingnya menyala—telinganya sudah menghitung, menakar, memetakan jarak ke rumah sakit terdekat yang mungkin, atau mungkin, menolak.
Ia menahannya. Ia hanya orang yang lewat.
"Lain kali," katanya, meski ia tahu kalimat itu bohong dengan cara yang berbeda dari bohongnya tadi. "Saya cuma... pengin lihat gangnya."
Lastri memandangnya, dan ada sesuatu yang tua di mata semuda itu. "Om suka lewat sini?"
"Nggak." Ranu jujur untuk pertama kalinya sepanjang sore. "Ini pertama kali lagi. Sejak."
Gadis itu mengangguk, seperti mengerti lebih banyak dari yang ia katakan. Ia memungut tasnya kembali. "Saya mau daftar les. Buat masuk sekolah kesehatan." Ia mengucapkannya dengan hati-hati, seperti menaruh gelas penuh di meja yang miring. "Pengin jadi kayak Om. Yang nolongin di jalan."
Ranu tidak tahu harus tertawa atau hancur. Rasanya keduanya, di tempat yang sama, pada saat yang sama.
Ia berjalan keluar dari Gang Kenanga Tiga saat matahari mulai jatuh miring di antara genteng-genteng yang letih. Suara batuk Bu Ipah masih mengejarnya sampai ke mulut gang, dan bersamanya, suara Lastri yang tidak menyalahkannya. Ia telah datang mencari hukuman dan pulang membawa sesuatu yang jauh lebih berat: pengampunan yang tidak ia minta, dari orang-orang yang paling berhak menolak memberinya.