Pasar itu masih basah oleh air cucian los ikan ketika panggilan masuk. Ranu Anggara menerima alamatnya dari corong radio dengan setengah telinga—laki-laki tua, roboh di dekat kios kelontong—dan setengah lagi ia pakai untuk memperhatikan Gilang di kursi kanan, yang menyetir dengan buku-buku jari memutih di kemudi.
"Pelan di tikungan," kata Ranu. "Orang pasar tidak dengar sirene, mereka cuma dengar isi kepala sendiri."
Gilang mengangguk terlalu banyak, seperti anak yang takut salah. Ia baru tiga pekan di Ambulans Sangkala Satu, ditarik dari daftar sopir karena punya sertifikat paramedis yang tintanya belum kering. Ranu belum tahu apakah anak ini akan bertahan. Kebanyakan tidak.
Mereka menembus gerbang pasar dengan brankar didorong miring melewati genangan. Bau amis, bau cabai busuk, bau keringat yang menumpuk sejak subuh. Di ujung lorong, kerumunan sudah menutup seperti daging luka menutup benda asing. Ranu membelah mereka dengan bahu dan satu kata yang diulang keras, "Minggir. Minggir."
Laki-laki itu terlentang di antara karung beras. Wajahnya kelabu, bibirnya membiru di sudut. Seorang perempuan berjongkok di sampingnya sambil menepuk-nepuk pipi suaminya, memanggil nama yang tak lagi didengar siapa-siapa.
Ranu berlutut, dua jari di leher. Tak ada. Ia menempelkan pipi ke mulut si bapak. Tak ada embusan.
"Gilang." Suaranya rata, sengaja rata. "Buka tas trauma. Tempel monitor. Sekarang."
Anak itu berlutut menabrak karung, tangannya bergetar saat merobek plastik elektroda. Ia menempelkan tiga tempel di dada yang basah keringat, dan tempelan pertama copot. Ia mengulang. Ranu tidak menegur; ia hanya menaruh telapaknya di tengah dada si bapak dan mulai menekan, satu-dua-tiga, dalam dan cepat, sampai tulang dada memberi bunyi kecil yang selalu membuat paramedis baru berhenti bernapas.
Layar monitor jantung menyala. Sebuah garis merambat dari kiri ke kanan—datar. Rata seperti permukaan air kolam yang tak ditiup angin.
"Asistol," kata Ranu. "Garis datar. Kamu tahu artinya?"
Gilang menatap layar itu seperti menatap vonis. "Tidak—tidak bisa dikejut, Bang."
"Betul. Setrum tidak menolong garis datar. Cuma tangan kita." Ranu menggeser lututnya. "Gantikan aku. Sekarang, mumpung tanganku belum lelah, biar kamu yang belajar lelah."
"Saya?"
"Kamu yang di sini. Aku yang mandu. Tumpuk tangan, kunci siku, pakai berat badan bukan tenaga lengan. Di garis puting. Tekan sedalam lima senti. Hitung keras, biar orang-orang ini diam."
Gilang menaruh tangan. Tekanan pertamanya terlalu dangkal, penakut. "Lebih dalam," kata Ranu. "Dia sudah mati, Gilang. Kamu tidak bisa menyakiti orang yang sudah mati. Kamu cuma bisa menariknya balik. Tekan."
Sesuatu berubah di bahu anak itu. Tekanan kedua turun penuh, dan dada si bapak memantul. "Satu, dua, tiga," Gilang menghitung, mula-mula gugup, lalu menemukan irama seperti orang menemukan langkah dalam gelap. Ranu meremas kantong sungkup oksigen, dua embusan tiap tiga puluh tekanan, memandang naik-turun dada yang dipompa orang lain.
Kerumunan mendesak. Ada yang merekam dengan telepon, ada yang berdoa, ada yang cuma menonton mulut menganga. Ranu berteriak ke belakang, "Beri jalan, ambulans harus lewat sini nanti!" walau ia tahu betul jalan pulang lebih berat dari jalan datang. Ia menyimpan pikiran itu; sekarang bukan waktunya.
"Ganti, dua menit sudah," kata Ranu, dan ia mengambil alih tanpa jeda, satu tangan meneruskan hentakan sebelum tangan Gilang benar-benar lepas—karena setiap detik dada berhenti ditekan adalah otak yang kehilangan cahaya. "Ambil adrenalin dari tas. Ampul kecil. Baca dosisnya keras-keras dulu sebelum kamu tarik."
Gilang membaca dengan suara pecah, tangannya lebih tenang sekarang karena ada pekerjaan untuk tangan itu. Ia menyuntik lewat selang infus yang dipasangnya sendiri, dua kali gagal menusuk vena, berhasil di ketiga. Ranu menghitung dalam hati. Menit emas untuk jantung yang berhenti diukur bukan dalam menit, tapi dalam detik yang bertumpuk jadi utang.
"Ganti lagi. Kamu."
Mereka bertukar, bertukar lagi. Keringat Gilang menetes ke karung beras. Di tekanan yang entah keberapa, saat Ranu menempelkan dua jarinya lagi di lipat paha, ia merasakannya—denyut. Tipis, ragu, seperti seseorang mengetuk pintu dari ruangan yang jauh.
"Berhenti. Berhenti sebentar."
Layar itu tidak lagi datar. Sebuah puncak muncul, lalu satu lagi, tak rapi, tapi ada. Dada si bapak naik sendiri, satu tarikan napas menggeram yang membuat istrinya menjerit dan seluruh kerumunan bergemuruh seolah menonton bola masuk gawang.
Gilang duduk terjengkang di atas tumit, dadanya sendiri naik-turun. Ia menatap tangannya seperti benda yang tak ia kenali. "Bang," katanya. "Bang, dia—"
"Belum," potong Ranu. Ia sudah memasang sungkup oksigen ke wajah kelabu yang mulai berwarna. "Ini bukan selesai. Ini cuma dikembalikan. Angkat papan spinal, kita pindahkan hati-hati, jantungnya masih rapuh seperti telur retak. Dan jangan senyum dulu. Kita masih harus cari yang mau menerima dia."
Kalimat terakhir itu keluar lebih pahit dari yang ia rencanakan. Gilang tak menangkapnya; anak itu masih terlalu penuh oleh keajaiban di ujung tangannya sendiri. Ranu membiarkannya. Biar ada satu hari anak ini percaya bahwa tangan bisa menang. Hari-hari yang lain akan datang sendiri.
Mereka mengangkat si bapak ke brankar melewati lorong ikan. Perempuan tadi berjalan di samping suaminya sambil menggenggam ujung selimut, tak berani menyentuh yang lain. Di mulut gerbang pasar, Ranu berhenti sejenak, memandang lalu lintas Kota Sangkala yang sudah mengental di jalan arteri, lalu meraih radio.
"Sangkala Satu ke Pos. Bu Harni, satu pasien pasca-henti jantung, sudah kembali, butuh IGD paling dekat yang mau buka pintu." Ia menekan tombol lagi, menambahkan dengan suara yang lebih rendah, hanya untuk dirinya dan corong itu. "Tolong, yang benar-benar mau buka pintu."