Panggilan itu masuk lewat radio Bu Harni pukul dua lewat sepuluh siang: seorang lelaki tumbang di ruang tamunya di tepi Kelurahan Tambaksari, mulut mencong, lengan kanan tak bisa diangkat. Ranu mencatat jamnya di kepala sebelum menuliskannya di run sheet. Pada kasus otak, jam adalah segalanya.
Ambulans Sangkala Satu menembus Simpang Arteri Wanaraja yang berkilat oleh panas. Cempaka sudah menyiapkan sungkup oksigen sebelum roda berhenti sempurna. Rumah itu sempit dan berbau minyak kayu putih. Pak Kusnadi terbaring di lantai, ditopang bantal oleh istrinya yang tak henti memanggil nama suaminya. Separuh wajah lelaki itu melorot seperti lilin kena api. Ia sadar; matanya bergerak mengikuti Ranu. Tapi bibirnya hanya sanggup mengeluarkan bunyi yang bukan kata.
"Sejak kapan begini, Bu?" Ranu berlutut, menyorot pupil dengan senter kecil.
"Baru saja. Tadi masih minta kopi. Terus gelasnya jatuh sendiri."
Baru saja. Ranu menahan sesuatu yang menyerupai harapan. Kalau benar baru, mereka masih di dalam jendela itu — celah sempit ketika sumbatan di otak masih mungkin dibuka sebelum sel-sel yang kelaparan mati satu per satu dan tak pernah pulang. Ia dan Cempaka memindahkan Pak Kusnadi ke brankar dengan gerak yang sudah hafal di tulang, memasang sungkup, menempelkan monitor jantung. Tekanan darahnya tinggi sekali. Napasnya berat, tapi jalan.
"Sentana yang paling dekat," kata Cempaka, sudah tahu jawaban sebelum ia selesai bertanya. RS Karyahusada dua puluh menit lebih jauh lewat jalur yang macet di jam ini. Dua puluh menit bisa berarti setengah tubuh. Ranu menekan pedal ke arah RS Sentana dan menyebut jam serangan lewat radio, keras-keras, supaya tercatat.
Di depan pintu IGD RS Sentana, harapan itu mulai retak.
Perawat triase mencatat, lalu menunjuk ke loket. Petugas loket menanyakan kartu, deposit, nomor rujukan. Ranu menjelaskan — stroke, awitan kurang dari sejam, butuh pindai kepala sekarang. Petugas mengangguk tanpa benar-benar mendengar dan menyuruhnya menunggu dokter jaga. Dokter jaga datang, memeriksa sebentar, lalu berkata pemindai sedang dipakai dan dokter saraf yang bertugas belum tiba di rumah sakit.
"Berapa lama?" Ranu bertanya.
"Ditunggu saja. Nanti dibacakan hasilnya dulu, baru bisa diputuskan."
Jarum jam di dinding IGD bergerak dengan cara yang kejam. Ranu berdiri di samping brankar yang belum boleh ia tinggalkan, menghitung menit yang jatuh satu-satu seperti tetes infus. Pak Kusnadi dipindahkan ke ranjang dorong rumah sakit, lalu didorong ke lorong, lalu didorong lagi ke sudut lain karena kebetulan ada tempat kosong. Dari meja triase ke meja administrasi, dari administrasi ke dokter jaga, dari dokter jaga ke antrean pemindai yang entah kapan. Setiap perpindahan memakan waktu yang tak bisa dikembalikan. Istri Pak Kusnadi berdiri di pojok, memeluk tas plastik berisi baju ganti, tak mengerti mengapa tak ada yang bergegas.
"Kita harus jalan, Ranu," Cempaka menyentuh sikunya pelan. Ada panggilan lain menunggu di radio; ambulans bukan milik satu orang. Ranu tahu itu. Ia menatap wajah setengah beku Pak Kusnadi sekali lagi, lalu menyerahkan run sheet pada perawat, memastikan jam awitan tertulis dengan tinta, dan pergi dengan perasaan seseorang yang meninggalkan pintu terbuka di tengah hujan.
Malam itu di Pos Sangkala, ia tak bisa melepaskan angka-angka itu dari kepalanya. Pukul serangan. Pukul tiba di Sentana. Pukul terakhir ia melihat Pak Kusnadi masih menunggu giliran. Bu Harni lewat membawa segelas teh, menaruhnya di dekat sikunya, dan tak bertanya apa-apa. Ranu bersyukur untuk itu.
Tiga hari kemudian ia tahu kabarnya. Pak Kusnadi hidup. Ia bertahan. Tapi sumbatan itu baru dibuka jauh setelah jendela emasnya tertutup — setelah dioper, ditunggu, dibacakan, dirapatkan. Otaknya kehilangan bagian yang tak bisa disambung lagi. Lelaki yang tiga hari lalu meminta kopi kini tak bisa menggerakkan sisi kanan tubuhnya, dan bicaranya tinggal separuh.
Ranu menjenguknya di bangsal. Pak Kusnadi terbaring dengan tangan kanan menekuk kaku di dada. Istrinya mengenali Ranu dari pintu dan bangkit, menggenggam tangannya dengan kedua tangan yang gemetar.
"Terima kasih, Nak. Untung ada kalian waktu itu. Kalau tidak, mungkin sudah tiada."
Ranu membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Perempuan itu bersungguh-sungguh. Di matanya tak ada tuduhan sedikit pun, hanya syukur yang jujur dan letih. Dan justru itu yang paling berat ditanggung — diterima kasih untuk sebuah penyelamatan yang, ia tahu betul, gagal separuh jalan. Bukan tangannya yang terlambat. Bukan Cempaka. Bukan sirene atau brankar atau sungkup. Yang terlambat adalah rangkaian meja di seberang pintu itu, deretan tanda tangan dan antrean dan alasan yang menelan menit-menit yang tak akan pernah kembali.
Ia teringat sebuah kabin ambulans dua tahun lalu, seorang remaja dari Gang Kenanga Tiga, dan jalan yang sama-sama panjang menuju pintu yang sama-sama lambat terbuka. Luka itu tidak pernah benar-benar menutup; ia hanya menunggu alamat yang tepat untuk merekah lagi.
"Sama-sama, Bu," akhirnya Ranu berkata, karena tak ada kalimat lain yang pantas diucapkan di ruangan itu.
Di luar, sore turun perlahan atas Kota Sangkala. Ranu berdiri lama di koridor rumah sakit, menatap jendela besar yang memisahkan bangsal dari jalanan. Kaca itu bersih, memantulkan wajahnya samar. Ia memikirkan semua jendela lain — yang di kepala Pak Kusnadi, yang di dada Wira dulu — jendela-jendela yang menutup diam-diam sementara orang-orang sibuk mengurus kertas. Menit emas, pikirnya, bukan direbut oleh penyakit. Ia diambil oleh mereka yang punya waktu untuk menunda.
Ia menyimpan angka-angka itu rapat-rapat di dalam dada. Suatu hari, entah kapan, ia ingin ada yang membacanya bukan sebagai keluhan seorang paramedis yang keras kepala, melainkan sebagai daftar nama yang seharusnya masih utuh.