Pukul dua siang, langit Kota Sangkala berwarna seng yang dijemur, dan kabin Ambulans Sangkala Satu berbau antiseptik bercampur keringat. Di brankar terbaring seorang kuli panggul pasar, laki-laki setengah baya bernama Pak Rustam, dengan perut yang mengeras seperti papan. Cempaka menahan sungkup oksigen di wajahnya sambil membaca angka pada monitor jantung yang naik-turun tak menentu. Ranu Anggara memegang setir dengan buku-buku jari memutih. Radio di pangkuannya baru saja mengulang kalimat yang ia hafal luar kepala: RS Sentana penuh, tak ada ranjang, silakan cari rujukan lain.
Ia membanting arah menjauhi Simpang Arteri Wanaraja, memotong lewat gang sempit yang cuma muat satu mobil, dan menuju gerbang RS Karyahusada. Gilang, yang duduk di kursi kanan magang siang itu, menoleh gugup. "Kalau di sini juga ditolak, Mas?"
"Kita urus kalau sudah sampai," kata Ranu, meski dadanya sendiri sudah menyusun daftar rumah sakit berikutnya seperti orang menghitung anak tangga di kegelapan.
IGD RS Karyahusada siang itu seperti bejana yang meluap. Kursi tunggu penuh, lantai basah oleh pel yang tak sempat kering, dan seorang perawat berteriak minta tolong angkat pasien di sudut. Ranu mendorong brankar Pak Rustam melewati pintu ayun, bersiap menghadapi tembok yang biasa: petugas administrasi yang menanyakan deposit lebih dulu daripada tekanan darah.
Tetapi yang menyongsongnya justru seorang dokter perempuan berjas putih kusut, rambut diikat asal, dengan lingkaran gelap di bawah mata yang jelas bukan riasan. Papan namanya tertulis Saraswati. Ia tidak menatap map. Ia menatap perut Pak Rustam.
"Sejak kapan keras begini?" tanyanya, tangannya sudah menekan-nekan dinding perut sebelum Ranu sempat menjawab.
"Menurut keluarganya sejak tadi pagi, Dok. Muntah dua kali, yang terakhir kehitaman. Tensi tadi sembilan puluh per enam puluh, sekarang turun."
"Perforasi, mungkin. Bisa juga perdarahan dalam." Dr. Saraswati menegakkan badan. "Bawa ke bilik tiga. Pasang jalur infus kedua. Panggil bedah."
Seorang lelaki dengan seragam administrasi menyeruak, membawa map dan raut wajah yang sudah punya jawaban. "Dokter, statusnya belum jelas. Penjaminnya—"
"Statusnya jelas," potong dr. Saraswati tanpa menoleh. "Dia sekarat. Itu status yang saya urus. Kertasnya belakangan."
Kalimat itu jatuh di tengah keriuhan IGD seperti batu di kolam, dan Ranu merasakan sesuatu yang sudah lama tak ia rasakan di dalam gedung berpenyejuk udara: napas lega yang malu-malu. Ia dan Gilang memindahkan Pak Rustam ke bilik tiga. Tangan dr. Saraswati cekatan, tanpa gemetar, meski gerakannya punya ritme orang yang sudah berjaga entah jam berapa lamanya.
Ketika Pak Rustam sudah stabil menunggu bedah, dr. Saraswati keluar ke koridor, mencabut sarung tangan, dan menyandarkan punggung ke dinding. Ranu berdiri tak jauh, mengisi run sheet, sengaja memperlambat pena. Ia ingin mengukur perempuan ini.
"Dari mana tadi?" tanya dr. Saraswati, matanya masih terpejam.
"RS Sentana menolak. Katanya penuh."
Sudut bibir dokter itu bergerak, bukan senyum, lebih mirip luka lama yang tersenggol. "Penuh," ulangnya pelan. "Kata yang murah sekali di kota ini." Ia membuka mata dan menatap Ranu lurus-lurus, seolah baru sekarang benar-benar melihatnya. "Kamu bawa dia keliling berapa lama sebelum sampai sini?"
"Dua puluh menit. Lewat gang belakang."
"Dua puluh menit," gumam dr. Saraswati. Ia tahu arti angka itu sebaik Ranu. Setiap menit di menit emas adalah sekeping nyawa yang dijatuhkan atau ditangkap. "Kalau dia sampai lima belas menit lagi, mejanya sudah tak bisa saya selamatkan."
Ranu menutup pena. "Banyak dokter yang pura-pura tidak tahu itu, Dok."
"Banyak dokter yang capek," jawabnya, tapi tak ada nada membela di suaranya, hanya keterus-terangan orang yang tak punya tenaga tersisa untuk berbasa-basi. "Capek itu bukan alasan menyerahkan pasien tanpa alasan. Kalau saya tolak, saya harus tahu ke mana dia pergi, dan siapa yang menerima. Kalau tidak tahu, saya tidak tolak. Itu saja aturannya buat saya." Ia menggosok pelipis. "Aturan yang bikin saya sering dimarahi rapat manajemen."
Ranu memandangnya. Ia sudah terlalu sering ditolak sampai lupa bahwa di balik setiap pintu masih mungkin ada orang yang menahannya tetap terbuka dengan tubuhnya sendiri. Ada sesuatu yang ingin ia katakan—tentang catatan yang mulai ia simpan diam-diam, tentang pola alamat dan jam dan nama rumah sakit yang berulang—tetapi ia menahannya. Terlalu dini. Ia baru mengenal perempuan ini selama satu pasien.
"Ranu Anggara," katanya akhirnya, mengulurkan tangan. "Pos Sangkala."
"Saraswati." Genggamannya kering, kuat, tangan orang yang terbiasa menekan dada orang lain agar tetap berdetak. "Saya sudah sering dengar nama ambulansmu di radio. Yang suka ngotot itu, ya?"
"Yang suka ditolak," ralat Ranu.
Kali ini dr. Saraswati benar-benar tersenyum, tipis dan lelah. "Kalau nanti ada yang tak ada tempatnya, coba tanya saya dulu sebelum keliling kota. Tidak selalu bisa. Tapi ditanya dulu." Ia mendorong tubuhnya dari dinding, kembali menegak, seolah menabung tenaga barusan cuma untuk melangkah ke bilik berikutnya. "Ranjang di sini tidak lebih banyak dari di Sentana. Bedanya cuma satu: saya tidak berbohong soal jumlahnya."
Perawat memanggil dari ujung koridor. Dr. Saraswati mengangguk sekali ke arah Ranu, lalu berjalan pergi, jas putihnya berkibar pelan seperti bendera yang sudah lama bertahan di angin buruk.
Ranu berdiri sebentar di koridor yang riuh itu, run sheet setengah terisi di tangannya. Gilang mendekat, mendorong brankar kosong. "Sekutu, Mas?" tanyanya, setengah bercanda.
Ranu tidak langsung menjawab. Ia menatap pintu bilik tempat dr. Saraswati menghilang, lalu menuliskan satu baris kecil di sudut run sheet-nya, di luar kolom resmi, dengan huruf yang cuma ia sendiri yang paham: Karyahusada—Saraswati. Menerima. Tanya dulu.
"Belum," katanya pada Gilang, sambil mendorong brankar ke arah pintu keluar tempat siang masih menyeng. "Tapi mungkin, satu hari, kalau kota ini belum sempat membuatnya lelah sampai habis."
Sirene menyala lagi sebelum mereka sempat sampai ke ambulans. Panggilan berikutnya sudah menunggu, dan Ranu menaikkan langkah, membawa satu nama baru yang tersimpan di kepalanya seperti bara kecil yang enggan padam.