RS Sentana adalah rumah sakit paling dekat dari Simpang Arteri Wanaraja, dan itu satu-satunya alasan Ranu membawa lelaki itu ke sana.
Di belakang, di atas brankar, seorang tukang becak berusia sekitar lima puluh lima tahun terbaring dengan wajah sepucat kertas. Ia disenggol truk boks saat menyeberang dengan muatan, jatuh, dan perutnya membentur trotoar. Tak ada luka besar di luar—justru itu yang membuat Ranu waspada. Yang membunuh sering kali yang tak terlihat. Perut lelaki itu keras saat Ranu menekannya tadi, tegang seperti gendang, dan tekanan darahnya terus merosot sejak menit pertama. Perdarahan dalam. Ia butuh meja operasi, bukan sekadar pintu.
"Tekanan tujuh puluh per empat puluh," Cempaka melapor dari sisi brankar, jarinya menahan kantong infus agar mengalir lebih deras. Monitor jantung tua itu memekik cepat dan tipis. "Turun lagi, Ranu."
"Bu Harni sudah telepon duluan. Katanya Sentana terima." Ranu membanting pintu ambulans, dua kali seperti biasa, lalu mendorong brankar menuju pintu IGD. Sungkup oksigen menempel di wajah pasien, desisnya makin lirih—tabung itu, seperti selalu, cuma sahabat sementara.
Petugas di meja depan menahan langkah mereka sebelum brankar melewati garis. Seorang perempuan muda berseragam, matanya melompat dari wajah pasien ke sepatu Ranu yang berlumpur, lalu ke plat kain lusuh yang menutupi kaki lelaki itu. "Sebentar, Pak. Keluarganya mana? Pasien ini pakai jaminan apa?"
"Belum ada keluarga, menyusul. Dia gawat, Bu. Perdarahan dalam, tekanan drop. Menit-menit begini yang menentukan." Ranu menahan suaranya tetap datar, meski dadanya sudah berdenyut. "Bu Harni dari Pos Sangkala sudah menelepon tadi. Katanya siap terima."
Perempuan itu tak menjawab. Ia menekan gagang telepon, bicara pelan, memandang mereka seolah menunggu izin dari suatu tempat yang lebih tinggi. Di brankar, kelopak mata pasien bergetar. Waktu, pikir Ranu. Waktu sedang mengalir keluar dari perut lelaki ini dan tak ada yang bisa ia lakukan selain berdiri di lantai keramik yang dingin.
Lalu pintu kaca di ujung koridor terbuka, dan seorang lelaki bertubuh tegap keluar dengan langkah tak tergesa. Jas putihnya rapi, bebas noda, batik di baliknya berkilau halus. Ia tak berlari, tak menunduk ke pasien, tak menyentuh apa pun. Ia hanya berhenti sejauh dua langkah dari brankar, seakan ada garis yang tak ia niatkan lewati.
"Saya dr. Prayoga, direktur di sini." Suaranya tenang, terlatih, suara orang yang biasa didengar tanpa harus mengeraskannya. "Ada apa ini?"
"Pasien trauma perut, dokter. Dugaan perdarahan dalam. Tekanan tujuh puluh per empat puluh dan terus turun. Dia butuh ruang operasi sekarang." Ranu mendorong brankar setengah langkah lebih dekat, seolah jarak fisik bisa memindahkan urusan ini ke tangan yang benar. "Pos Sangkala sudah telepon, Pak. Katanya siap."
dr. Prayoga melirik pasien—sekilas, seperti orang menaksir harga barang di etalase. Lalu ia menoleh ke petugas mejanya. "Ranjang bedah kita?"
"Penuh, dok. ICU juga."
"Nah." Dokter itu kembali menghadap Ranu, dan di wajahnya tak ada kemarahan, tak ada kekejaman yang bisa dituding—hanya ketenangan yang jauh lebih dingin dari keduanya. "Kami tidak punya ranjang, Mas. Membawa pasien masuk tanpa tempat itu bukan menolong, itu menumpuk masalah. Dan"—matanya sekali lagi turun ke plat kain lusuh itu—"prosedur kami mensyaratkan deposit awal untuk kasus bedah darurat. Kalau keluarga belum ada, belum ada jaminan, kami tidak bisa mulai tindakan. Itu aturan, bukan saya yang bikin."
"Aturan?" Ranu mendengar suaranya sendiri mengeras. "Pak, orang ini akan mati sebelum keluarganya sampai. Tidak ada ranjang bisa diakali. Deposit bisa diurus belakangan. Yang tidak bisa diurus belakangan adalah waktu."
"Justru karena tidak bisa diakali, saya jujur pada Anda." dr. Prayoga menautkan tangan di depan perut, sabar seperti guru menghadapi murid yang lambat. "Kalau saya terima dan dia meninggal di lorong karena tak ada meja, siapa yang disalahkan? Rumah sakit ini. Bawa dia ke fasilitas yang siap. Karyahusada, mungkin. Saya bantu carikan rujukan yang benar."
Rujukan yang benar. Ranu tahu apa arti kata-kata itu: pintu ini tertutup, dan tertutup dengan rapi, dengan bahasa yang tak bisa ia lawan di lantai keramik ini. Ia melihat ke bawah, ke wajah tukang becak yang napasnya kian pendek di balik sungkup, dan sesuatu yang lama dan busuk bangkit di dasar perutnya sendiri—gang yang gelap, ambulans yang berputar, sebuah nama yang tak pernah ia ucapkan. Ia menekannya kembali ke tempatnya.
"Ranu." Cempaka menyentuh sikunya, pelan tapi tegas. Tekanan di monitor, katanya lewat mata saja. Kita kehilangan dia di sini kalau kita bertahan berdebat.
dr. Prayoga sudah setengah berbalik, urusannya selesai. "Petugas saya akan bantu telepon Karyahusada. Saya sarankan segera. Menyetir cepat, ya, Mas." Nada terakhirnya nyaris ramah, dan justru itu yang paling menusuk—kepedulian yang berhenti tepat di garis yang tak ia langkahi.
Ranu tidak menjawab. Ia menarik brankar berbalik, roda-rodanya berderit di keramik yang bersih itu, keluar dari cahaya IGD yang terang benderang dan hangat, kembali ke gerimis di halaman. Cempaka sudah lebih dulu membuka pintu belakang.
"Sangkala Satu ke Pos," Ranu menekan tombol radio, suaranya rata meski tangannya gemetar tipis. "Bu Harni, Sentana tolak. Tidak ada ranjang, minta deposit. Tolong telepon Karyahusada, cari dr. Saraswati kalau dia jaga. Kami meluncur sekarang."
Jeda sesaat di radio. Lalu suara Bu Harni, tenang seperti biasa, tapi Ranu menangkap sesuatu yang berat di baliknya. "Diterima, Ranu. Aku catat jamnya. Menit demi menit, semua aku catat."
Ranu memutar kunci. Mesin batuk sekali, lalu menyala. Di belakang, monitor masih berbunyi—cepat, tipis, tapi belum datar. Ia menginjak pedal dan membawa lelaki itu menembus hujan, meninggalkan pintu yang tetap bercahaya di spion, pintu yang menolak tanpa menaikkan suara.