Pos Sangkala paling sunyi pada jam-jam ganjil, di antara panggilan yang sudah usai dan panggilan yang belum lahir. Ranu duduk di meja belakang, di bawah lampu neon yang satu ujungnya berkedip seperti napas yang tersendat. Di depannya bertumpuk run sheet dari shift malam: lembar-lembar tipis berisi tanda tangan, jam berangkat, jam tiba, nama pasien yang kadang cuma ditulis "L, ±50 th" karena tak sempat ditanyakan. Ia meraih satu lembar, membacanya pelan, lalu menyalin sesuatu ke buku tulis bersampul cokelat yang ia beli sendiri di warung fotokopi seberang.
Bukan seluruh isi lembar itu yang ia salin. Hanya tiga hal. Alamat asal panggilan. Nama rumah sakit yang dituju. Dan selisih menit—selisih antara ambulans tiba di gerbang dan pasien akhirnya diterima. Kolom terakhir itu yang membuat tangannya melambat. Untuk pasien jatuh dari perancah di Simpang Arteri Wanaraja tempo hari, ia menulis: RS Sentana, tertahan 41 menit, alasan administrasi. Angka empat puluh satu itu terasa lebih berat daripada seluruh berat brankar yang pernah ia dorong.
Ia membalik lembar berikutnya. Pasien stroke pekan lalu. Dioper dari satu meja ke meja lain sampai jendela menit emas tertutup rapat, dan lelaki itu kini menyeret separuh badannya. Ranu menahan diri untuk tidak menuliskan apa yang ia rasakan; ia hanya mencatat waktu, seolah waktu bisa diadili tanpa perlu kemarahan. Kemarahan tidak masuk ke buku cokelat. Yang masuk hanya angka. Angka lebih sulit dibantah daripada suara paramedis yang capek.
Di luar, hujan gerimis mengetuk seng. Gilang sudah pulang, Cempaka libur, ambulans terparkir dengan pintu belakang menganga menampakkan tas trauma yang belum sempat ia isi ulang. Ranu pikir ia sendirian sampai ia mendengar kursi berderit di ruang dispatch.
"Sudah tiga malam kamu di situ, Ranu."
Suara Bu Harni. Ranu refleks menutup buku dengan telapak tangan, gerakan yang justru terlampau cepat, terlampau bersalah. Bu Harni berdiri di ambang, mug tehnya mengepul, kacamata baca melorot ke ujung hidung. Perempuan itu sudah dua puluh tahun lebih menjaga meja dispatch Pos Sangkala; ia hafal derit setiap kursi, hafal siapa yang gelisah dari cara orang itu duduk.
"Cuma merapikan laporan," kata Ranu.
"Laporan Pos ditulis di formulir Pos." Bu Harni melangkah masuk, matanya turun ke buku cokelat, ke pena di tangan Ranu, ke tumpukan run sheet yang seharusnya sudah masuk lemari arsip sejam yang lalu. "Itu bukan formulir Pos."
Ranu tidak menjawab. Ia sudah menyiapkan beberapa dalih sepanjang minggu ini, tapi di depan Bu Harni semua dalih terasa seperti collar yang dipasang miring—tampak menahan, padahal tidak menahan apa-apa. Bu Harni menaruh mugnya di meja, menarik kursi, dan duduk tanpa diminta. Ia mengulurkan tangan. Ranu ragu sebentar, lalu menyerahkan buku itu.
Perempuan tua itu membaca dalam diam. Halaman demi halaman. Jarinya berhenti di baris Simpang Arteri Wanaraja, lalu di baris stroke, lalu di baris seorang perempuan tua dari Kelurahan Tambaksari yang ditolak dua rumah sakit dalam satu malam. Ranu menunggu teguran. Menunggu kalimat bahwa log adalah milik negara, bahwa ia sedang bermain api, bahwa Pak Damar bisa mencium ini dan menjadikannya alasan. Semua itu benar, dan Ranu tahu Bu Harni tahu.
Namun Bu Harni tidak berkata begitu. Ia menutup buku, meletakkannya di pangkuan, dan menatap lampu neon yang berkedip.
"Waktu penolakan yang kamu tulis ini," ujarnya akhirnya, "dari mana kamu ambil?"
"Dari ingatan. Dari jam di ponsel." Ranu menelan ludah. "Kadang saya cuma menaksir."
"Taksiran bisa dipatahkan orang yang tak mau percaya." Bu Harni membuka kacamatanya, menggosok pangkal hidung yang berbekas merah. "Di log dispatch ada jam masuk panggilan, jam ambulans dilepas, jam kamu lapor tiba. Itu tercatat resmi, ada capnya, ada nomor serinya. Kalau angkamu ditempel ke angka log, orang tak bisa bilang kamu mengarang."
Ranu memandangnya, tak yakin ia mendengar dengan benar. "Bu Harni—log itu—"
"Saya tahu log itu apa." Ada sesuatu yang dingin sekaligus lelah dalam nada perempuan itu. "Saya yang mengetiknya dua puluh tahun. Saya yang paling tahu berapa banyak nama di dalamnya yang tak sampai ke pagi." Ia diam sejenak, dan Ranu merasa nama Wira melintas di ruang itu tanpa diucapkan, seperti angin yang lewat di gang sempit. "Kalau kamu memang mau membuat ini, buat yang benar. Jangan setengah. Setengah cuma bikin kamu diskors, dan tak ada satu nyawa pun tertolong dari kamu diskors."
Ia bangkit, mengambil satu tumpuk run sheet, dan menyusun ulang lembar-lembar itu berdasarkan tanggal dengan gerakan cekatan seorang yang tangannya sudah menghafal kertas. Ia menyisihkan tiga lembar. "Yang ini jamnya tidak cocok dengan log. Besok saya cek printout-nya. Yang ini," ia mengetuk satu lembar, "kamu lupa tulis alasan penolakannya. Tanpa alasan, orang atas bilang mungkin memang penuh."
"Kenapa Bu Harni mau?"
Perempuan itu berhenti. Untuk sesaat wajahnya tampak jauh lebih tua dari usianya, dan jauh lebih muda—seperti seseorang yang pernah menyimpan pertanyaan yang sama bertahun-tahun lalu dan tak pernah berani menuliskannya.
"Karena saya sudah terlalu lama cuma mencatat," katanya lirih. "Mencatat itu kerjaan saya. Tapi mencatat saja tidak menyelamatkan siapa-siapa." Ia menaruh ketiga lembar tadi di dalam buku cokelat, menutupnya rapi, dan menyodorkannya kembali ke Ranu. "Simpan ini di rumah. Jangan di loker. Jangan bawa saat shift. Dan jangan pernah tulis nama saya di dalamnya."
Ranu menerima buku itu. Terasa lebih berat sekarang, bukan karena tiga lembar tambahan, melainkan karena sekarang ia tak lagi memikulnya sendirian. Ia mengangguk.
Bu Harni mengambil mugnya, tehnya sudah dingin, dan berjalan kembali ke meja dispatch. Sebelum menghilang di ambang, ia berhenti tanpa menoleh.
"Besok bawa run sheet minggu lalu. Yang dari Gang Kenanga juga." Sedikit jeda. "Sekalian."
Lalu radio di ruang depan berderak, memanggil Ambulans Sangkala Satu ke suatu tempat di kota yang tak pernah tidur, dan Ranu menyelipkan buku cokelat itu ke balik jaketnya, dekat dada, tempat sesuatu di dalamnya baru saja mulai bergerak.