Rumah makan itu berdiri di ujung deretan ruko dekat Simpang Arteri Wanaraja, tanpa nama yang jelas selain spanduk kusam bertuliskan Masakan Sederhana. Ranu memarkir Ambulans Sangkala Satu di bahu jalan, setengah menghadap ke arah pos, agar mudah tancap gas bila radio berbunyi. Ia dan Cempaka baru menuntaskan panggilan pagi yang melelahkan, dan Gilang memaksa mereka berhenti dengan alasan yang sulit dibantah: sejak subuh belum ada yang menyentuh makanan.
"Sepuluh menit," kata Ranu, melepas rompi berpendarnya dan menyampirkannya di sandaran kursi plastik. "Radio nyala. Kalau berbunyi, kita tinggalkan piring."
"Kau selalu bilang begitu," Cempaka menyeret bangku, "dan kita memang selalu meninggalkan piring."
Gilang tertawa, menyerok nasi dengan lahap seorang yang tubuhnya masih muda dan tak tahu lelah. Di sudut ruangan, kipas angin berputar malas, mengaduk aroma gulai dan asap rokok pengunjung lain. Untuk sejenak Ranu membiarkan dirinya tidak menjadi paramedis. Ia menyeruput teh tawar hangat, memandang lalu lintas yang mulai padat di luar jendela, dan tidak memikirkan siapa pun yang mungkin ditolak di depan pintu rumah sakit hari ini.
Sejenak saja.
Sebab kemudian terdengar bunyi itu—bukan jeritan, bukan tangis, melainkan kursi yang terjungkal dan sebuah suara ibu yang pecah tanpa kata. Ranu sudah berdiri sebelum otaknya selesai menerjemahkan. Di meja seberang, seorang perempuan muda mengguncang balitanya, laki-laki mungkin dua tahun, yang wajahnya mulai membiru dengan mata melotot dan mulut ternganga tanpa suara. Tidak ada batuk. Tidak ada napas. Hanya tangan kecil yang mencengkeram udara.
"Tersedak," Ranu berkata, sudah di samping mereka. Suaranya datar, dilatih untuk tidak menularkan panik. "Bu, saya paramedis. Serahkan ke saya. Sekarang."
Perempuan itu menyerahkan anaknya dengan tubuh gemetar, matanya memohon pada orang asing yang belum ia kenal namanya. Ranu menelungkupkan tubuh balita itu di sepanjang lengan kirinya, kepala lebih rendah dari dada, rahang kecil ditopang jemarinya agar jalan napas tetap lurus. Lalu ia menghantam—lima tepukan mantap dengan pangkal telapak tangan di antara kedua tulang belikat, cukup keras untuk berarti, cukup terukur untuk tidak melukai.
Tidak keluar apa-apa. Bibir anak itu makin kelabu.
"Cempaka, catat waktu," ujarnya, dan ia sudah membalik tubuh mungil itu, kini telentang di lengan kanannya. Dua jari di tengah dada, tepat di bawah garis puting, ia menekan cepat lima kali ke dalam. Detik-detik terasa panjang dan curam. Di belakangnya ia mendengar Gilang menyingkirkan meja, membuka ruang, dan suara ibu yang terus mengulang satu nama—Bima, Bima—seolah nama itu sendiri bisa memaksa udara masuk.
Punggung lagi. Lima tepukan. Ranu merasakan sesuatu bergeser, ganjalan kecil yang tadinya mati kini bergoyang. Ia tidak berhenti. Dada lagi, dua jari, dorong.
Pada dorongan ketiga, sebutir bakso—tidak lebih besar dari kelereng—meluncur dari mulut balita itu dan jatuh ke lantai ubin. Lalu datang bunyi yang selalu ingin didengar Ranu di dunia ini: tarikan napas pertama yang parau, tersengal, disusul tangisan yang keras, marah, dan hidup. Warna kembali merambati wajah kecil itu seperti fajar yang naik terlalu cepat, dari biru ke merah jambu, dari diam ke raung.
Ranu menahannya sebentar di dada, merasakan dada mungil itu naik-turun tergesa di bawah telapaknya, jantung yang berdegup terlalu kencang tapi berdegup. Baru setelah itu ia menyerahkan Bima kembali ke pelukan ibunya.
"Sudah lewat," katanya pelan. "Dia bernapas. Peluk saja. Jangan diberi minum dulu."
Perempuan itu tidak menjawab. Ia menangis dengan cara yang membuat seisi rumah makan hening—bukan sedu-sedan, melainkan isak yang seolah keluar dari tempat yang selama beberapa detik tadi telah kehilangan segalanya lalu mendapatkannya kembali. Suaminya, yang sedari tadi berdiri membeku, akhirnya menemukan kakinya dan meraih tangan Ranu dengan kedua tangannya yang basah keringat, meremasnya, tak henti mengucapkan terima kasih dengan suara yang tercekat.
"Terima kasih, Pak. Terima kasih. Kalau tadi Bapak tidak ada—"
"Saya ada," potong Ranu, lembut. "Itu saja yang penting."
Cempaka sudah berlutut di sisi anak itu, memeriksa dengan lembut—warna kuku, tarikan napas, apakah masih ada yang mengganjal. "Bersih," katanya, mengangguk ke arah Ranu. "Suaranya lantang. Bagus." Ia mengusap kepala Bima dan tersenyum pada ibunya. "Bawa ke Puskesmas nanti untuk dilihat sebentar, ya, Bu. Cuma memastikan. Tapi dia baik-baik saja."
Gilang mengembalikan kursi ke tempatnya, dan tangannya sedikit gemetar—Ranu melihat itu, cara seorang pemula belajar bahwa jarak antara makan siang biasa dan sebuah nyawa hanya selebar satu butir bakso. "Cepat sekali tadi," bisik Gilang, setengah kagum setengah takjub pada dirinya sendiri yang sempat tak berdaya. "Hitungan detik."
"Selalu begitu," jawab Ranu. Ia memungut butir bakso dari lantai dengan tisu, membungkusnya, entah kenapa—mungkin kebiasaan mendokumentasikan, mungkin sekadar ingin memegang bukti bahwa maut sekecil itu memang nyata dan memang telah dikalahkan.
Mereka tidak jadi menghabiskan makan. Pemilik rumah makan menolak menerima bayaran, menepuk-nepuk bahu Ranu berulang kali seakan berkah bisa berpindah lewat sentuhan. Di luar, matahari sudah tinggi dan Simpang Arteri Wanaraja meraung seperti biasa, tak peduli.
Di dalam ambulans, sebelum menghidupkan mesin, Ranu duduk diam sejenak, memegang kemudi. Cempaka menatapnya.
"Kau tidak apa-apa?"
"Aku baik," katanya. Dan untuk sekali ini, ia tidak berbohong. Tidak ada rumah sakit yang menolak. Tidak ada meja yang menunda. Tidak ada alamat yang menentukan siapa yang boleh hidup. Hanya seorang anak yang tadinya membiru, kini menangis di pangkuan ibunya, dan tiga orang di dalam kabin ini yang tahu persis mengapa mereka masih bertahan.
Radio berderak, memanggil unit ke arah lain. Ranu menyalakan mesin. Beban yang selalu ia panggul terasa, untuk beberapa kilometer ke depan, sedikit lebih ringan di pundaknya.