Ranu tidak menunggu diantar. Ia melewati meja pendaftaran RS Sentana dengan langkah yang terlalu cepat untuk dihentikan dengan sopan, menyusuri koridor berbau pewangi lantai dan kecemasan, sampai seorang satpam setengah berlari mengejarnya. Dua hari sejak Simpang Arteri Wanaraja, dan bau anyir di seragamnya seolah belum juga tanggal. Dua pasien ditolak malam itu. Yang satu kini di RS Karyahusada dengan pinggul yang remuk; yang satu lagi ia tak tahu ke mana, dan justru ketidaktahuan itu yang menyeretnya ke tempat ini.
"Pak, ada janji?" satpam itu menahan sikunya.
"Saya paramedis. Saya cuma mau tanya satu hal ke direktur." Ranu tak berhenti.
Ia menemukan pintu berpelat kuningan itu setengah terbuka. dr. Prayoga sedang berdiri di balik meja lebar, jas putih rapi, kacamata terangkat di kepala. Ia tidak tampak terkejut. Barangkali ia sudah diberi tahu lewat telepon dari lantai bawah, atau barangkali orang seperti dr. Prayoga memang terbiasa menghadapi orang yang datang dengan wajah seperti wajah Ranu sekarang.
"Ambulans Sangkala," kata dr. Prayoga, tanpa menyuruhnya duduk. "Yang tabrakan motor kemarin."
"Enam korban. Bapak menolak dua." Ranu berusaha menahan suaranya tetap rata, tapi tangannya sudah mengepal di samping paha. "Yang satu tulang panggulnya patah terbuka. Saya sudah pasang collar, sudah papan spinal, sudah stabil. Yang Bapak perlu cuma buka pintu."
"Yang saya perlu," dr. Prayoga membetulkan, "adalah ranjang yang tidak ada, dan izin dari sistem yang tidak saya karang sendiri." Ia menarik satu map dari tumpukan, membukanya, memutarnya menghadap Ranu. Angka-angka. Kolom-kolom. "Kamu pikir saya tidak tahu bedanya nyawa dan formulir? Saya dokter tiga puluh tahun lebih dulu dari kamu memegang tas trauma itu."
Ranu tidak menunduk ke map itu. Ia menatap wajah lelaki di depannya, mencari kelalaian, kemalasan, kekejaman—sesuatu yang bisa ia benci dengan bersih. Tapi yang ia temukan hanya lelah.
"Duduk," kata dr. Prayoga akhirnya. Kali ini bukan perintah, lebih seperti keputusasaan. "Kamu tidak akan mengerti kalau tetap berdiri seperti mau memukul saya."
Ranu tidak duduk, tapi ia berhenti bergerak.
dr. Prayoga menunjuk kolom paling kanan. "Ini kuota kami untuk pasien tanpa jaminan. Sebulan. Kalau saya lewati, selisihnya tidak dibayar. Bukan cuma tidak dibayar—dana bulan berikutnya dipotong, karena hitungan mereka: rumah sakit yang boros berarti tidak efisien. Efisien." Ia mengucapkan kata itu seolah ada rasa pahit di lidahnya. "Setiap ranjang yang saya isi untuk orang yang tidak bisa bayar deposit, saya bayar dengan gaji perawat, dengan stok oksigen, dengan alat yang seharusnya saya perbaiki. Jadi jangan bawakan saya satu nyawa dan bilang saya pembunuh. Saya menghitung nyawa setiap hari, dan sistem memberi saya kalkulator, bukan hati."
Sesuatu di dada Ranu bergeser. Ia datang untuk bertengkar dengan seorang penjahat. Ia mendapati seorang petugas yang patuh pada aritmetika yang lebih besar dari dirinya.
"Jadi dua orang kemarin," kata Ranu pelan, "ditolak bukan karena Bapak lalai."
"Ditolak karena kalau saya terima, minggu depan saya menolak lima. Itu bukan alasan. Itu penjelasan." dr. Prayoga menutup map. "Kalau kamu mau membenci seseorang, Saudara Ranu, bencilah yang menaruh angka ini di meja saya. Bukan saya yang buat kuotanya. Saya cuma yang paling dekat dengan pintu, jadi saya yang kamu lihat."
Untuk sesaat ruangan itu sepi, hanya dengungan pendingin. Ranu memikirkan Bu Harni dan log-nya di Pos Sangkala, catatan-catatan yang selama ini ia kira memuat kesalahan orang. Ternyata bukan kesalahan. Ternyata kebijakan. Dan kebijakan tidak bisa dimarahi di depan pintu; ia harus dibongkar dari tempat ia lahir.
"Kalau begitu tolong tunjukkan," kata Ranu. "Aturannya. Siapa yang tanda tangan."
dr. Prayoga tertawa kecil, tanpa geli. "Kamu pikir saya akan kasih kamu tali untuk gantung saya."
"Saya pikir Bapak sudah lelah jadi wajah dari sesuatu yang bukan salah Bapak." Ranu menatapnya lurus. "Bapak bilang saya cuma lihat pintu. Ya. Karena selama ini yang mati juga cuma sampai di pintu."
Wajah dr. Prayoga mengeras kembali, tembok yang sempat retak menutup lagi. "Bawa pasienmu ke Karyahusada. Mereka masih punya sisa kuota bulan ini." Ia memakai kembali kacamatanya, menunduk ke berkas lain, mengakhiri percakapan tanpa mengakhirinya. "Dan tutup pintunya waktu keluar."
Ranu tidak membanting pintu. Ia menutupnya pelan-pelan, hampir hati-hati, seolah takut menumpahkan sesuatu yang baru saja ia dapat.
Di koridor, satpam tadi masih menunggu, siap mengusir. Tapi Ranu sudah tak butuh diusir. Ia berjalan ke luar, ke pelataran tempat Ambulans Sangkala Satu diparkir miring, tempat Cempaka bersandar di pintu kabin sambil melipat tangan.
"Gimana?" tanya Cempaka. "Kamu tonjok dia?"
"Enggak." Ranu berhenti, memandang gedung tinggi RS Sentana yang memantulkan langit sore. "Dia bukan lubangnya, Cempaka. Dia cuma penjaga lubangnya."
Cempaka menegakkan diri, membaca sesuatu yang lain di suara partnernya—bukan lagi kemarahan yang tumpul, melainkan kemarahan yang mulai punya bentuk, punya arah.
"Kuota," kata Ranu, lebih pada dirinya sendiri. "Mereka ditolak karena ada angka yang bilang cukup segini saja yang boleh hidup gratis bulan ini." Ia membuka pintu kabin, tapi tidak langsung naik. "Selama ini aku marah ke orang. Padahal yang harus dibongkar itu angkanya. Siapa yang bikin. Siapa yang untung."
"Itu jauh lebih besar dari kita berdua, Ran."
"Iya." Ranu akhirnya naik, menyalakan mesin, membiarkan getarnya merambat ke tulang-tulangnya yang lelah. "Tapi sekarang aku tahu harus melihat ke mana."
Sirene belum ia nyalakan. Ia hanya melajukan ambulans keluar dari pelataran RS Sentana, meninggalkan pintu kaca yang memantulkan wajahnya sendiri—dan untuk pertama kalinya sejak Gang Kenanga, ia tidak berpaling dari pantulan itu.