Malam turun perlahan di Pos Sangkala, membawa hening yang jarang. Ranu Anggara duduk di bangku panjang di belakang garasi, mengelap sisa lumpur dari roda brankar dengan kain yang sudah lebih cokelat daripada putih. Ambulans Sangkala Satu terparkir dengan pintu belakang menganga, lampu kabinnya menyorot pucat ke aspal. Dari dalam, terdengar suara halaman kertas dibalik, satu demi satu, tekun seperti orang menghitung.
Ia mendekat. Cempaka duduk bersila di lantai kabin, di antara tas trauma dan tabung oksigen cadangan, sebuah buku tebal terbuka di pangkuannya. Sampulnya lecek, sudut-sudutnya dilipat, dan di sana-sini garis penanda kuning menyembur dari tepi halaman seperti rumput liar. Ia tidak mendengar langkah Ranu; bibirnya bergerak tanpa suara, mengeja sesuatu.
"Fisiologi," kata Ranu, membaca punggung buku dari balik bahunya. "Kupikir kau sudah hafal isi kepala tiap pasien di kota ini."
Cempaka menoleh, sedikit terkejut, lalu menutup buku itu dengan telunjuk terselip di halamannya. "Beda," katanya. "Yang kutahu selama ini cuma tangan. Yang ini kepala." Ia mengetuk sampul buku. "Ujian keperawatan bulan depan. Tulis, bukan praktik. Aku lebih takut ini daripada kecelakaan enam motor di Simpang Arteri Wanaraja."
Ranu duduk di bibir kabin, membiarkan kakinya menggantung. Ia tahu Cempaka rajin, tahu ia sering membawa buku ke shift malam, tapi baru kali ini kata "ujian" itu diucapkan terang-terangan, seakan sebuah rencana yang selama ini disembunyikan di saku dalam.
"Kau serius mau pindah," katanya. Bukan pertanyaan.
"IGD." Cempaka menyebutnya pelan, seperti nama seseorang yang lama diam-diam disukai. "Yang sungguhan. Yang ada dindingnya, ada monitor jantung yang tidak rusak setengah jalan, ada dokter di ujung lorong, bukan cuma suara Bu Harni di radio yang bilang rumah sakit penuh." Ia tersenyum tipis, tapi matanya tidak. "Aku ingin berdiri di sisi pintu yang menerima, Ranu. Bukan yang mengantar lalu ditolak."
Ranu tidak langsung menjawab. Di luar, seekor kucing menyeberang halaman pos, berhenti di bawah lampu, lalu lenyap ke gelap. Ia memikirkan berapa kali ia dan Cempaka berdiri di depan pintu RS Sentana, membawa tubuh yang masih hangat, dan dijawab oleh formulir. Ia mengerti keinginan itu sampai ke tulang.
"Kenapa dulu kau memilih ini?" tanya Ranu. "Kalau yang kau mau memang ruang ber-AC dan monitor yang menyala benar. Kenapa ambulans dulu?"
Cempaka meletakkan bukunya di atas tas trauma. Ia diam sebentar, jari-jarinya menyentuh sungkup oksigen yang tergantung di dinding kabin, seolah benda itu bisa membantu menyusun kalimat.
"Kakakku," katanya akhirnya. "Umurnya sembilan waktu itu. Aku dua belas. Ia kejang di rumah, malam, hujan. Ibuku menggendongnya ke jalan besar, berteriak minta tolong ke setiap mobil yang lewat. Tidak ada yang berhenti. Waktu ambulans datang, entah dari mana, sudah lewat tiga puluh menit." Ia menarik napas, pelan dan terkendali, seperti orang yang sudah lama berlatih menceritakan ini tanpa runtuh. "Ia selamat. Tapi tidak pernah benar-benar pulang. Sampai sekarang ia mengenali wajahku separuh, tergantung harinya."
Ranu diam. Ia tahu tidak ada kalimat yang pantas menutup cerita seperti itu, maka ia tidak mencari.
"Orang bilang aku harusnya benci ambulans," lanjut Cempaka. "Karena datang terlambat. Tapi yang kupikir justru sebaliknya. Aku ingin jadi orang yang tidak terlambat. Yang berhenti waktu semua mobil lewat." Ia mengangkat bahu, seakan malu pada bobot kata-katanya sendiri. "Ternyata di ambulans pun kita sering datang tepat waktu, lalu ditahan di ambang pintu. Menit emas habis bukan di jalan, tapi di meja pendaftaran. Aku lelah, Ranu. Aku ingin ada di sisi meja itu dan berkata: masuk, sini, biar kutangani."
"Kau pikir dari dalam akan lebih mudah?" Ranu tidak bermaksud menantang, tapi kalimat itu keluar tajam. Ia melembutkannya. "Aku pernah lihat orang baik masuk ke sistem itu, lalu perlahan jadi bagian dari tembok. Bukan karena jahat. Karena capek."
"Aku tahu." Cempaka menatapnya lurus. "Makanya aku belajar sekarang, mumpung masih marah. Kalau sudah punya seragam dan gaji tetap, mungkin marahku sudah aus." Ia tersenyum kecil, kali ini sampai ke matanya. "Kau salah satu yang belum aus. Aku belajar itu darimu, tahu."
Ranu memalingkan muka, tidak nyaman dipuji. Ia meraih buku fisiologi itu, membolak-baliknya. Halaman tentang jantung penuh coretan tangan Cempaka: panah, tanda seru, catatan kecil dari kasus-kasus nyata yang mereka tangani bersama. Di margin satu halaman, ia menemukan tulisan: *pasien pasar, garis datar, Gilang panik — kompresi jalan terus.* Kejadian minggu lalu sudah menjadi bahan belajar.
"Bagian ini," Ranu menunjuk sebuah diagram konduksi listrik jantung, "kau tanya aku kalau mentok. Bapakku mantri desa. Ia mengajariku menggambar ini di pasir waktu aku kecil, sebelum aku tahu itu ada namanya."
Cempaka mengambil buku itu kembali, memeluknya ke dada. "Jadi kau tidak marah? Kalau aku pergi?"
Ranu memikirkannya jujur. Ada sesuatu yang mengencang di dadanya membayangkan kursi kanan itu kosong, membayangkan menyetir tanpa suara Cempaka mengomel soal jalan. Tapi ia sudah cukup lama kehilangan orang untuk tahu bahwa menahan bukanlah bentuk sayang.
"Aku akan marah," katanya, "kalau kau tidak lulus karena keburu kupanggil ke setiap sirene." Ia bangkit, mengetuk atap kabin dua kali. "Mulai malam ini, kalau sepi, kau belajar. Aku yang bersihkan alat. Anggap saja aku membayar utang menit emas yang pernah kita menangkan bareng."
Cempaka menatapnya lama, lalu mengangguk. Ia membuka bukunya lagi, dan Ranu kembali ke brankarnya, ke kain cokelat dan lumpur yang belum tuntas. Radio di pos berdesis pelan, belum memanggil. Untuk sekali ini, hening itu terasa seperti hadiah — waktu yang untuk sementara berpihak pada mereka, dan seorang perempuan di kabin yang sedang menyiapkan diri untuk berdiri di sisi pintu yang benar.