Panggilan itu masuk lewat suara Bu Harni yang datar tapi cepat: keracunan massal, sebuah warung di gang belakang Pasar Tambaksari, korban remaja, jumlah belum pasti. Ranu mencatat alamatnya sambil menaikkan tas trauma ke pundak. Gilang sudah di kursi kanan, tangannya menepuk setir seperti biasa ketika gugup.
"Berapa orang?" tanya Gilang, membelokkan Ambulans Sangkala Satu ke jalur sempit yang bahkan tak muat dua motor berdampingan.
"Bu Harni bilang 'beberapa'. Artinya belum ada yang berani menghitung." Ranu menatap deretan seng dan tembok yang basah oleh air cucian. "Pelan-pelan. Anak-anak di sini tidak akan lari mendekat. Mereka lari menjauh."
Ia tahu gang seperti ini. Bukan Gang Kenanga, tapi saudaranya—gang yang namanya membuat operator di ujung telepon menghela napas sebelum menjawab.
Warung itu tak lebih dari meja panjang di bawah terpal. Bau tajam menyerbu begitu Ranu turun: campuran muntah, minyak jelantah, dan sesuatu yang manis-masam seperti tapai yang keliru. Empat remaja tergolek. Satu di kursi plastik, kepala menunduk ke antara lutut. Dua di lantai semen, memeluk perut. Yang keempat, paling kecil, bersandar di tiang, bibirnya kebiruan.
"Kami nggak minta ambulans," kata seorang remaja lelaki yang berdiri, tangannya masih agak gemetar tapi dadanya dibusungkan. Rambutnya diwarnai pirang murah yang tumbuh hitam di akar. "Nggak ada yang telepon. Kami nggak punya uang buat rumah sakit, Bang."
"Aku bukan penagih." Ranu berlutut di depan yang bibirnya biru, membuka tas. "Namaku Ranu. Ini Gilang. Kami cuma mau kalian bisa bangun besok pagi. Itu saja."
Remaja pirang itu—yang tampaknya paling dituakan—tidak beranjak. Ranu mengenali sikap itu: bukan sombong, melainkan tameng. Anak-anak yang terlalu sering diusir belajar menolak lebih dulu sebelum ditolak.
"Minum apa kalian tadi?" Ranu memasang sungkup oksigen ke wajah yang biru, membuka aliran pelan. Kulit anak itu dingin dan lembap.
"Oplosan." Suara itu datang lirih dari yang memeluk perut. "Cuma sedikit. Buat senang-senang. Bukan—bukan yang aneh-aneh, Bang. Sumpah."
"Aku nggak tanya buat lapor polisi." Ranu menekan dua jarinya di pergelangan tangan si biru, menghitung. Cepat, tipis, tak beraturan. "Aku tanya biar tahu berapa lama waktu kita. Gilang, yang ini duluan. Dia paling parah. Siapkan brankar."
Gilang mengangguk, tapi Ranu melihat matanya menyapu para remaja dengan sedikit ragu—keraguan yang tak sepenuhnya salah Gilang, karena itulah yang diajarkan seluruh kota kepada mereka semua. Ranu menahan diri untuk tidak menegurnya di depan pasien.
"Gilang," katanya pelan, cukup keras hanya untuk mereka berdua. "Kalau ini anak pejabat pingsan di kafe, kau akan ragu?"
Gilang terdiam sejenak. Lalu ia menunduk dan mendorong brankar lebih dekat, tangannya kini mantap.
Si pirang akhirnya berjongkok di sisi Ranu. "Dia adikku sepupu. Namanya Beno. Dia yang paling sedikit minumnya, kok. Kenapa malah dia yang—"
"Karena tubuh tiap orang beda. Bukan soal banyak atau sedikit." Ranu memasang monitor jantung, menempelkan elektrode ke dada Beno yang tipis. Garis di layar melonjak liar lalu melandai. "Metanol. Kalau benar oplosan, ini bukan mabuk biasa. Ini racun. Kita harus bawa mereka sekarang, semua."
"Semua nggak bakal diterima." Suara si pirang jatuh, tak lagi menantang. "Waktu Rasyid kejang bulan lalu, dibawa ke Sentana, ditanya KTP dulu, ditanya bapaknya kerja apa. Keburu—" Ia tak menyelesaikan kalimatnya.
Ranu berhenti sepersekian detik. Bukan karena kaget—ia sudah mendengar cerita seperti ini puluhan kali—melainkan karena betapa persisnya cerita itu berulang, hanya berganti nama. Sentana. KTP. Bapaknya kerja apa. Pertanyaan-pertanyaan yang tak pernah ditanyakan kepada mereka yang datang dengan mobil bagus.
"Kali ini beda," kata Ranu, meski ia tak sepenuhnya yakin. "Kali ini ada aku yang mengetuk pintunya."
Ia meraih radio. "Sangkala Satu ke Pos. Bu Harni, empat korban dugaan keracunan metanol, satu kritis penurunan kesadaran. Aku butuh IGD yang mau terima empat sekaligus. Coba Karyahusada, cari dr. Saraswati kalau ada."
Jeda. Lalu suara Bu Harni, tenang seperti selalu, tapi Ranu bisa mendengar catatan waspada di baliknya. "Karyahusada penuh, Ranu. Mereka sarankan Sentana."
"Sentana akan tanya alamat." Ranu menatap gang sempit itu, terpal yang menetes, papan warung yang miring. Alamat ini sudah cukup jadi vonis. "Bu Harni, tolong. Tanyakan Karyahusada lagi. Bilang keracunan metanol, bilang ada yang menuju henti napas. Sebut menit emas kalau perlu."
"Kucoba."
Sementara menunggu, Ranu memasang jalur pada Beno, tangannya bergerak dari hafalan. Yang memeluk perut mulai muntah lagi; Gilang memiringkan tubuhnya agar tak tersedak, kali ini tanpa disuruh. Si pirang memegangi tangan Beno, dan Ranu melihat air matanya turun diam-diam meski wajahnya masih keras.
"Namamu siapa?" tanya Ranu.
"Deni."
"Deni, bantu aku. Bicara terus ke Beno. Sebut namanya. Suruh dia bertahan." Bukan karena suara Deni akan mengubah kadar racun dalam darah Beno—tapi karena anak-anak yang dibiarkan sendiri belajar bahwa nyawa mereka tak berharga, dan Ranu menolak menambah satu bukti lagi ke keyakinan itu.
Radio berderak. "Karyahusada mau terima," kata Bu Harni. "Satu kritis dulu. Sisanya menyusul kalau ranjang kosong. dr. Saraswati yang jaga."
Ranu memejamkan mata sekejap. Satu. Selalu tawar-menawar untuk satu, seolah tiga lainnya bisa menunggu giliran seperti antre beras.
"Kita bawa semua," kata Ranu pada Gilang. "Yang tiga kita jejalkan di kabin. Aku tanggung."
Mereka mengangkat Beno ke brankar. Deni ikut memapah salah satu, dan untuk pertama kalinya remaja itu tak lagi menolak bantuan, melainkan menjadi bagian darinya. Di kabin yang sesak, di antara sungkup dan selang dan bau muntah, Ranu memandu tangan-tangan muda yang gemetar itu untuk saling menahan tubuh temannya.
Ambulans melaju. Ranu menatap monitor Beno, garis yang masih di sana, masih berjuang.
Ia sudah lama tahu Sentana memasang pintu bagi yang miskin. Tapi malam ini, di gang tanpa nama yang jelas, ia mengerti sesuatu yang lebih dingin: penolakan itu tak berhenti di satu pintu rumah sakit. Ia sudah bersarang lebih dulu di dada anak-anak ini, mengajari mereka menolak diri sendiri sebelum ada yang sempat menolak mereka. Alamat menentukan siapa yang cepat ditolong. Dan alamat, Ranu tahu, tak pernah bisa diganti secepat sirene.