Panggilan itu masuk saat langit masih bimbang antara jingga dan kelabu. Bu Harni menyebut angkanya dua kali lewat radio, seolah ingin memastikan Ranu tak salah dengar: sebuah pabrik pelapisan logam di pinggir Kota Sangkala, kebocoran zat kimia, banyak buruh terluka sekaligus. Ranu menyambar tas trauma sebelum Bu Harni selesai bicara. Cempaka sudah di kursi kanan, Gilang di kemudi, dan Ambulans Sangkala Satu meluncur membelah jalanan pagi yang belum benar-benar bangun.
Bau itu menyapa mereka dari seratus meter sebelum gerbang. Menyengat, asam, menggigit selaput lendir seperti jarum halus. Ranu menutup hidung dengan lengan dan merasakan matanya sendiri mulai berair. Di halaman pabrik, orang-orang berhamburan keluar sambil terbatuk, sebagian merangkak, sebagian dipapah rekannya. Uap keputihan masih menggantung rendah di dekat sebuah tangki yang tutupnya terlepas.
"Jangan masuk ke uapnya," Ranu berteriak pada Gilang yang nyaris melompat turun tergesa. "Kita tarik korban ke sini, ke tempat berangin. Jangan sampai kita ikut jadi pasien."
Mereka bekerja cepat. Seorang mandor menuntun buruh-buruh yang masih bisa berjalan ke bawah pohon, sementara Ranu, Cempaka, dan Gilang menyeret yang tak sanggup lagi. Ranu menghitung dengan mata terlatih: belasan orang, mungkin lebih. Beberapa memegangi mata yang memerah dan membengkak. Satu lelaki paruh baya mengejang napasnya, dada naik-turun terlalu cepat, bibirnya membiru. Di lengan dan lehernya, kulit melepuh, mengelupas, basah oleh cairan yang bukan keringat.
"Uapnya membakar dari dalam," gumam Cempaka. "Bukan cuma kulit. Saluran napas juga."
Ranu mengangguk. Ia sudah pernah membaca soal ini, tapi membacanya di kertas dan menghadapinya di halaman berdebu adalah dua dunia yang berbeda. "Bilas mata yang kena, terus-menerus, air bersih. Gilang, keluarkan semua botol infus dan air minum yang kita punya. Siapa pun yang matanya perih, guyur, jangan berhenti."
Ia berlutut di sisi lelaki yang membiru. Sungkup oksigen ia pasangkan, katup ia buka penuh. Napas si buruh berbunyi seperti gergaji tumpul menggesek kayu basah. Ranu tahu tenggorokan itu sedang membengkak dari dalam, menyempit menit demi menit. Ini pasien yang tak boleh menunggu.
"Cempaka, pasang monitor. Aku mau lihat jantungnya."
Cempaka menarik monitor jantung cadangan dari tas—yang utama tengah diperbaiki sejak minggu lalu. Ia menempelkan elektrode, menekan tombol. Layar menyala sekejap, berkedip, lalu padam. Ia menekan lagi. Garis di layar melompat kacau, penuh derau, membentuk gelombang palsu yang tak berarti apa-apa, lalu mati total.
"Ranu." Suara Cempaka datar, tapi Ranu mengenali ketegangan yang ditahan di baliknya. "Yang cadangan ini rusak. Kabelnya, atau sensornya. Aku tak dapat gambar apa-apa."
Sesaat Ranu merasa lantai seolah miring. Dua alat, satu di bengkel, satu di tangannya kini cuma kotak mati. Ia menoleh ke arah tangki yang masih mengepul, ke belasan orang yang mengerang, ke satu lelaki yang saluran napasnya menutup pelan-pelan. Amarah pada keadaan menyalak sebentar di dadanya, lalu ia telan. Marah tak menyelamatkan siapa pun.
"Sudah," katanya, lebih untuk dirinya sendiri. "Kita punya tangan. Kita punya mata."
Ia menekankan tiga jarinya ke leher si buruh, mencari nadi karotis, menghitung dalam hati bersama detik yang berjalan di arlojinya. Cepat, tapi masih ada. Ia meletakkan telapak di dada yang naik-turun, merasakan iramanya, membaca warna bibir dan ujung kuku yang membiru sebagai ganti angka yang seharusnya muncul di layar. "Nadinya seratus dua puluh lebih, tak teratur. Kita jaga dia bernapas dulu. Monitor cuma memberi tahu, bukan menyembuhkan. Kita masih bisa bekerja tanpa dia."
Gilang berpindah dari satu korban ke korban lain dengan botol air, tangannya gemetar tapi tak berhenti. "Bang Ranu, yang di sebelah sana kejang matanya, katanya tak bisa lihat sama sekali."
"Guyur terus, jangan berhenti sampai perih berkurang. Waktu adalah mata mereka." Ranu meninggikan suara agar terdengar mandor. "Pak, ada yang tahu zat apa yang bocor? Nama di drumnya, tulisan apa pun. Rumah sakit perlu tahu."
Mandor itu berlari mengambil selembar label yang basah. Ranu menyerahkannya pada Cempaka untuk dicatat, lalu meraih radio. "Pos Sangkala, ini Sangkala Satu. Korban banyak, terpapar zat kimia, minimal satu gangguan napas berat. Kami butuh rumah sakit yang siap terima sekarang, dengan penanganan luka bakar dan mata. Tolong siapkan jalur, Bu Harni."
Suara Bu Harni membalas tenang, tapi Ranu bisa mendengar keraguan yang menyelinap: RS Sentana yang terdekat. Ranu mengatupkan rahang. Ia sudah tahu bagaimana pintu itu bekerja. "Coba Sentana dulu, Bu. Kalau menahan, langsung Karyahusada. Jangan buang menit."
Ia kembali ke lelaki yang membiru, memasang collar sekadar penopang saat mereka mengangkatnya ke papan spinal—bukan karena leher, tapi agar kepala tetap tegak dan jalan napas terbuka. Napas si buruh masih bergesek, tapi belum menutup. Belum. Ranu menempelkan telinganya sekali lagi ke dada itu, mendengar apa yang tak bisa lagi dibaca layar mana pun, dan menemukan bahwa telinga dan jari yang terlatih ternyata masih setia ketika mesin mengkhianati.
"Kita bawa yang paling berat dulu," ujarnya. "Cempaka, ikut di kabin, pegang sungkupnya, catat napas tiap menit pakai arloji. Gilang, atur yang ringan menyusul dengan angkutan pabrik, dampingi. Jangan ada yang ditinggal tanpa air di matanya."
Saat brankar didorong masuk, radio berderak lagi. Bu Harni: Sentana menahan, alasan administrasi. Karyahusada bersedia menerima. Ranu memejam sesaat, menelan sesuatu yang pahit dan sudah terlalu sering ia telan, lalu menutup pintu ambulans.
"Karyahusada," katanya pada Gilang. "Injak, tapi jangan mati-matian. Dia butuh kita sampai, bukan kita terguling."
Ambulans melaju menjauhi uap yang masih mengepul lambat di halaman. Di kabin, Cempaka menyebut angka napas dengan suara pelan dan mantap, menggantikan bunyi bip yang seharusnya ada. Ranu menahan sungkup di wajah lelaki itu, jarinya di nadi, matanya di bibir yang perlahan—perlahan sekali—mulai kehilangan warna birunya. Tanpa layar, tanpa mesin, hanya dengan tangan dan mata dan menit-menit yang ia rebut satu per satu, ia menjaga satu napas tetap menyala di sepanjang jalan menuju pintu yang, kali ini, mau terbuka.