Flashdisk itu tak lebih besar dari ruas ibu jari, tetapi sepanjang perjalanan ke warung kopi di ujung Jalan Wanaraja, Ranu merasa benda itu memberati saku dadanya seperti batu. Ia sudah memindahkan berkasnya tiga malam lalu: kolom-kolom waktu yang ia rapikan sendiri di dapur kontrakan, nama pasien diganti kode, alamat dipangkas jadi inisial kelurahan, hanya menyisakan angka-angka yang tak bisa disangkal. Jam panggilan. Jam tiba. Jam ditolak. Jam diterima di rumah sakit kedua, ketiga, kadang keempat. Selisih yang, bila dijumlahkan, adalah nyawa.
Wardah sudah menunggu di sudut paling belakang, membelakangi jalan, dua gelas kopi hitam mendingin di depannya. Ia tak menyapa dengan basa-basi. Perempuan itu hanya menggeser satu gelas ke arah Ranu dan menunggu, tangannya melipat di atas buku catatan yang belum dibuka.
"Kau yakin?" tanya Wardah pelan. "Sekali ini keluar dari tanganmu, aku tak bisa menariknya kembali. Dan aku tak bisa menjaminmu tak tersentuh."
Ranu memutar gelasnya tanpa meminum. Di kaca depan warung, lampu-lampu Kota Sangkala berpendar oleh gerimis tipis. Ia memikirkan pasien stroke yang kini menyeret separuh tubuhnya. Ia memikirkan pekerja bangunan yang menunggu di brankar sementara petugas administrasi RS Sentana membolak-balik map. Ia memikirkan hal yang tak ingin ia pikirkan, dan yang selalu datang tanpa diundang: kabin ambulans dua tahun lalu, monitor jantung yang meratakan garisnya, dan nama yang tak pernah lagi berani ia ucapkan keras-keras.
"Aku tidak yakin," kata Ranu akhirnya. "Tapi aku lebih tidak yakin bisa hidup kalau diam."
Ia meletakkan flashdisk di atas meja, di antara dua gelas, lalu menahannya sebentar dengan telunjuk seolah masih memberi dirinya satu kesempatan terakhir untuk menariknya pulang. Wardah tak buru-buru. Itu yang membuat Ranu percaya padanya; jurnalis itu tidak lapar pada kabar, ia lapar pada yang benar.
"Tidak ada nama orang di sini," kata Ranu. "Tidak ada nomor rekam medis. Cuma waktu. Kalau ada yang bocor, itu polanya, bukan pasiennya."
"Pola justru yang paling ditakuti mereka," jawab Wardah. Ia menggeser flashdisk itu masuk ke tasnya dengan gerakan biasa saja, seakan hanya menerima struk belanja. "Orang bisa berdebat soal satu kasus. Selalu ada alasan. Ranjang penuh, dokter jaga sedang operasi, keluarga terlambat. Tapi kalau angkanya berbaris, alasan itu jadi kebohongan yang kelihatan bentuknya."
Ranu mengangguk. Untuk pertama kalinya sejak masuk warung, ia meneguk kopinya. Pahit, sudah dingin. Ia menyukainya begitu.
Ia baru sampai di Pos Sangkala menjelang pukul sepuluh malam, saat sebagian besar lampu sudah diredupkan dan hanya meja dispatch yang masih menyala. Bu Harni ada di sana, seperti biasa, kacamata melorot di hidung, tangannya menyusun lembar-lembar log ke dalam map berwarna. Perempuan itu tak menoleh saat Ranu masuk, tetapi Ranu tahu ia sudah didengar sejak langkah pertama di teras.
"Kau dari mana, Ranu?"
"Beli kopi, Bu."
Bu Harni meletakkan penanya. Ia menatap Ranu lama, tatapan yang sudah dua puluh tahun lebih membaca suara di gagang telepon, membedakan panik sungguhan dari main-main, membedakan orang yang berbohong kecil dari orang yang sedang menyimpan sesuatu yang besar.
"Aku sudah tua," katanya. "Tapi aku belum bodoh." Ia menepuk tumpukan map di sisinya. "Log ini bukan milikmu. Bukan milikku. Ini milik negara. Setiap baris yang kau salin, setiap menit yang kau catat ulang di rumah—itu ada pemiliknya, dan pemiliknya bukan kita berdua."
Ranu berdiri diam di ambang cahaya lampu meja. Ia tidak berpura-pura tak mengerti. Bu Harni layak lebih dari itu.
"Saya tidak menyalin nama siapa-siapa, Bu."
"Aku tahu." Suara Bu Harni tak meninggi. Justru itu yang membuatnya lebih tajam. "Aku yang membantumu merapikan sebagian. Kau ingat? Jadi jangan berdiri di situ seolah aku baru menuduhmu." Ia menghela napas, dan untuk sekejap tampak lelah yang berlapis-lapis usia. "Yang aku ingatkan bukan soal salah atau benar, Ranu. Aku sudah lewat umur untuk mengajarimu mana yang benar. Yang aku ingatkan: begitu angka itu keluar dari pos ini, ia bisa dilacak balik ke pos ini. Ke meja ini. Ke tanganku, yang tinggal beberapa bulan lagi sebelum pensiun."
Kalimat itu menghantam Ranu lebih keras daripada ancaman mana pun. Ia belum sempat memikirkan sejauh itu. Ia hanya memikirkan pasien-pasiennya, karier sendiri yang siap ia pertaruhkan, dan tak terpikir bahwa taruhan itu bisa juga menyeret perempuan yang selama ini menutupi jejaknya diam-diam.
"Sudah saya berikan," kata Ranu akhirnya, karena berbohong pada Bu Harni sama saja mengkhianati satu-satunya orang yang belum pernah mengkhianatinya. "Tadi. Yang teranonim. Tidak ada yang bisa menuntun ke log asli. Saya rekonstruksi dari salinan pribadi saya sendiri, bukan dari map ini."
Bu Harni memejamkan mata sebentar. Ketika membukanya lagi, tak ada marah di sana. Ada sesuatu yang lebih berat: penerimaan.
"Kalau begitu, mulai malam ini kita berdua tidur dengan satu telinga terbuka," katanya. Ia meraih map, mendekapnya sejenak ke dada, lalu meletakkannya kembali ke laci dan menguncinya. Bunyi kunci itu terdengar begitu kecil di pos yang sunyi. "Aku tidak akan menghentikanmu, Ranu. Aku sudah terlalu banyak melihat orang mati di ujung gagang telepon ini gara-gara alamat mereka salah. Tapi aku minta satu hal."
"Apa, Bu?"
"Kalau nanti mereka datang mencari siapa yang membocorkan"—Bu Harni menatapnya lurus—"jangan kau lindungi aku dengan berbohong. Aku sudah cukup tua untuk menanggung namaku sendiri. Yang muda, yang punya jalan panjang di depan—Cempaka, Gilang, adik anak Gang Kenanga itu—mereka yang harus kau jaga. Jangan kau seret siapa-siapa turun bersamamu."
Ranu tak menemukan kata untuk membalas. Ia hanya mengangguk, sekali, dan menyandarkan punggungnya ke dinding yang dingin. Di luar, gerimis mulai menebal jadi hujan. Radio dispatch berderak sekali, lalu diam lagi, menunggu panggilan yang belum datang. Untuk malam ini, tak ada sirene. Hanya dua orang di bawah satu lampu meja, memikul rahasia yang mulai malam ini tak lagi sepenuhnya milik mereka.