Pasar Wanaraja pukul sebelas siang adalah neraka yang hidup.
Lapak tumpah ke jalan, motor parkir sembarangan, becak menyumbat gang, dan ribuan manusia berdesakan di antara bau ikan, sayur busuk, dan keringat. Ambulans tidak akan bisa masuk. Ranu tahu itu sebelum sampai. Ia menghentikan Sangkala Satu di mulut pasar, di pinggir jalan yang sudah mengular.
"Pak Sulas nggak ikut, kita angkut sendiri," katanya cepat. "Cempaka, tas persalinan. Gevira, bawa oksigen kecil dan tandu lipat. Kita jalan kaki dari sini."
Mereka membelah kerumunan, dan kerumunan—seperti biasa di Indonesia—membuka jalan begitu melihat seragam dan tas medis. "Permisi! Permisi, ada darurat!" Cempaka berteriak. Pedagang menunjuk arah. "Di lapak Bu Tijah! Yang jual cabe! Sebelah sana!"
Mereka menemukan ibu muda itu tergeletak di alas terpal di belakang lapak cabai, dikelilingi para pedagang perempuan yang panik tapi tetap menolong dengan caranya sendiri—satu mengipasi, satu memegang tangan, satu menyiapkan kain. Ibu itu mengerang, wajahnya basah keringat, perutnya besar dan menegang.
Ranu berlutut. "Bu, saya Ranu dari ambulans. Tenang, kami bantu. Sudah berapa kali kontraksi?"
"Deket... dekat sekali, Mas..." suaranya terputus erangan. "Saya... saya nggak nyangka secepat ini..."
Cempaka, yang lebih berpengalaman dengan persalinan, mengambil alih sisi bawah. Tangannya cekatan memeriksa. Wajahnya berubah sedikit—perubahan tipis yang hanya bisa dibaca Ranu setelah dua tahun. "Kepala bayi sudah kelihatan. Bukaan lengkap. Bu, kita nggak akan sempat ke mana-mana. Bayinya keluar di sini."
"Di sini?" Gevira tercekat. "Di pasar?"
"Bayi nggak baca tempat, nggak baca jam," Cempaka menyahut tanpa menoleh. "Gevira, buka alas steril, sebisanya. Ranu, pegang bahu Bu-nya, bantu dia setengah duduk. Bu, dengar saya. Pas kontraksi berikutnya, ngeden. Ikuti badan. Jangan dilawan."
Para pedagang membentuk dinding manusia, menutupi dengan terpal dan kain agar ibu itu punya sedikit kehormatan di tengah keramaian. Seseorang menyalakan kipas angin lapak ke arah mereka. Ada yang menyiapkan air panas dari termos pedagang teh. Pasar yang ribut itu, untuk sesaat, berubah jadi ruang bersalin darurat yang dijaga sekampung.
Kontraksi datang. Ibu itu mengeden, mengerang, tangannya mencengkeram lengan Ranu sampai kuku menancap. Ranu tidak melepas. "Bagus, Bu. Lagi. Kamu kuat."
Kepala bayi keluar. Lalu Cempaka berhenti, dan Ranu melihatnya—wajah partnernya mengeras. "Tali pusat," kata Cempaka pelan, hanya untuk Ranu. "Melilit leher. Satu lilitan."
Untuk orang lain, kalimat itu tak berarti apa-apa. Untuk Ranu, itu alarm. Tali pusat yang melilit leher bisa mencekik bayi saat ia keluar, atau memutus pasokannya. Detik-detik ini menentukan apakah bayi ini menangis atau diam selamanya.
Cempaka bekerja cepat dan tenang, jarinya menyelip, menggeser lilitan tali pusat dengan kehati-hatian yang tak boleh salah satu milimeter pun. "Bu, tahan dulu, jangan ngeden dulu. Tarik napas pendek-pendek." Ibu itu menahan—usaha yang luar biasa di puncak kontraksi. Cempaka melonggarkan lilitan, menariknya melewati kepala bayi. "Lepas. Aman. Bu, sekarang ngeden lagi, sekuatnya!"
Bahu bayi keluar, lalu seluruh tubuh kecil itu meluncur ke tangan Cempaka. Sesaat—sesaat yang terasa panjang—bayi itu diam. Ungu, lemas, tak bersuara. Cempaka membalik tubuhnya, mengusap punggungnya kasar dengan kain, membersihkan mulut dan hidung. "Ayo. Ayo, Nak. Nangis."
Ranu sudah memegang oksigen kecil, siap. Gevira menahan napas. Para pedagang membisu. Seluruh pasar, untuk satu detik mustahil, ikut menahan napas.
Lalu suara itu pecah. Tangis tipis, lalu keras, lalu marah—suara paling indah yang bisa didengar siapa pun di pasar itu. Tubuh bayi memerah, lengannya bergerak, mulutnya melebar protes pada dunia yang baru saja menyambutnya dengan terlalu kasar. Kerumunan meledak dalam sorak dan tawa lega. Ada yang menangis. Ada yang mengucap syukur keras-keras.
Ranu merasakan dadanya hangat—kemenangan kecil yang langka, jenis yang membuatnya ingat kenapa ia bertahan di pekerjaan ini. Cempaka menyerahkan bayi ke pelukan ibunya, dan wajah perempuan itu—lelah, basah, bersinar—adalah hal terbaik yang Ranu lihat dalam berhari-hari.
"Laki-laki, Bu. Sehat. Suaranya kencang, kayak yang punya pasar," Cempaka tersenyum, hal langka darinya.
Tapi pekerjaan belum selesai. Ibu dan bayi harus dibawa ke fasilitas yang benar—plasenta harus dipastikan keluar utuh, ada pendarahan yang harus dipantau. Mereka membawa keduanya keluar pasar dengan tandu, kerumunan membuka jalan dengan hormat seolah mengantar sesuatu yang suci.
Di ambulans, Ranu menghubungi dispatch. "Bu Harni, kami bawa ibu dan bayi baru lahir dari Pasar Wanaraja. Persalinan di tempat, ada lilitan tali pusat tapi teratasi. Keduanya stabil. Butuh RS yang ada fasilitas bersalin. Tolong dikabari dulu."
"Diterima. Aku coba RS Bunda Sangkala, paling dekat."
Mereka melaju. Tapi di gerbang RS Bunda, ambulans tertahan. Petugas administrasi keluar, memegang papan jepit. "Maaf, Pak, ibunya peserta BPJS? Ada kartu? Soalnya kalau lahir di luar, prosedurnya beda, harus daftar dulu, antri—"
Ranu turun, menahan amarahnya. "Mbak. Ibu ini baru melahirkan setengah jam lalu di lantai pasar. Bayinya baru lahir. Yang saya butuhkan sekarang petugas medis, bukan formulir. Pendarahannya harus dipantau. Daftar bisa belakangan."
Petugas itu ragu, melirik ke dalam, menelepon seseorang. Menit-menit berlalu. Menit yang seharusnya tidak ada—menit di mana seorang ibu menunggu di pintu rumah sakit sambil mendekap bayinya, hanya karena selembar kartu belum lengkap.
Akhirnya, setelah Bu Harni menelepon dari pos dan Ranu menaikkan suaranya satu tingkat, perawat keluar dengan kursi roda. Ibu dan bayi diterima.
Ranu kembali ke ambulans, rahangnya menegang. Cempaka memandangnya. "Lima belas menit cuma buat lewat pintu. Kalau tadi dia pendarahan hebat, lima belas menit itu nyawa."
"Aku tahu," kata Ranu pelan. Ia menatap gedung rumah sakit itu, dan untuk pertama kalinya hari ini, hangat di dadanya berganti dengan sesuatu yang lebih dingin, lebih lama. Sesuatu yang sudah lama bersarang di sana. "Aku tahu betul."