Gang Mawar Dalam tidak ada di peta resmi mana pun.
Itu labirin di belakang perkampungan padat Tambaksari—gang selebar satu setengah meter, beratap kabel listrik kusut, berlantai paving yang sebagian sudah amblas. Ambulans tidak akan masuk. Bahkan motor harus mengalah berpapasan. Ranu menghentikan Sangkala Satu di mulut gang, di samping warung yang penjualnya menunjuk ke dalam dengan wajah panik.
"Bapaknya, Mas! Tadi lagi makan, tiba-tiba megang dada, terus jatuh! Sekarang nggak gerak!"
"Berapa jauh ke rumahnya?"
"Jauh ke dalam, Mas! Belok-belok!"
Ranu sudah menghitung. Ini jenis panggilan yang ia takuti—bukan karena pasiennya, tapi karena medannya. Serangan jantung berarti waktu adalah segalanya. Setiap menit tanpa aliran darah ke otak, peluang hidup turun curam. Dan di antara dia dan pasien itu ada labirin yang tak bisa dimasuki alat apa pun selain kaki manusia.
"Cempaka, defibrilator portabel, tas RJP, oksigen kecil. Pak Sulas, jaga ambulans, putar arah biar siap berangkat. Gevira, ikut, bawa papan."
Mereka berlari masuk gang, memikul alat di pundak. Belok kiri, belok kanan, menunduk di bawah jemuran, melompati selokan terbuka. Ranu menghafal jalannya mundur—ia harus tahu jalan keluar saat membawa pasien nanti. Gang itu seperti usus, sempit dan berkelok, dan setiap detik di dalamnya adalah detik yang dicuri dari menit emas pasien.
Mereka tiba di rumah petak berdinding tripleks. Seorang bapak setengah baya tergeletak di lantai semen ruang tamu yang sempit, mukanya kelabu, tak bergerak. Seorang perempuan—istrinya—menangis di pojok, anak-anak kecil ketakutan di belakangnya.
Ranu langsung berlutut. Cek respons—tepuk bahu, panggil. Tidak ada. Cek napas—lihat dada, dengar, rasa di pipi. Tidak ada napas normal, hanya sentakan tersengal yang menipu. Raba nadi di leher. Tidak ada.
"Henti jantung," kata Ranu singkat. "Mulai kompresi. Cempaka, siapkan AED. Gevira, oksigen."
Ia menumpukan tangan di tengah dada bapak itu dan mulai menekan. Keras, cepat, dalam. Tubuhnya bekerja seperti mesin yang sudah ratusan kali ia hidupkan—tekan, tekan, tekan, hitung dalam hati. Ruang tamu yang sempit itu membuat posisinya canggung; ia setengah berlutut di antara meja dan dinding, sikunya hampir menyentuh tripleks. Tapi tangannya tidak berhenti.
"Bu, tolong bawa anak-anak ke belakang dulu," Cempaka mengarahkan istri pasien dengan tegas tapi lembut. Ruang harus kosong. Kepanikan harus dijauhkan.
AED menyala. Cempaka menempelkan bantalannya ke dada pasien sambil Ranu terus menekan. Suara mesin: menganalisis. "Semua menjauh," Cempaka menahan Ranu. "Disarankan kejut." Tombol ditekan. Tubuh bapak itu menyentak. Ranu langsung kembali menekan tanpa jeda. Tekan, tekan, tekan.
Dua siklus. Tiga. Keringat menetes dari dagu Ranu ke lantai. Tangannya mulai lelah tapi ritmenya tidak boleh kendur. "Gevira, gantian. Tahu caranya? Tunjukkan." Anak itu mengambil alih, tangannya gemetar di awal tapi ritmenya benar. Ranu mengawasi kedalaman tekanannya. "Lebih dalam. Bagus. Jangan berhenti."
AED menganalisis lagi. Kejut kedua. Lalu Ranu kembali, jarinya di leher pasien sambil menekan. Dan di siklus berikutnya—di bawah jarinya—ia merasakannya. Denyut. Tipis, ragu, lalu kembali. Dada bapak itu naik dengan napasnya sendiri, satu tarikan, lalu lagi.
"Ada nadi," Ranu menahan napasnya sendiri. "Dia balik. Pasang oksigen, monitor. Cepat, kita harus bawa sebelum dia berhenti lagi."
Kemenangan ini rapuh. Jantung yang baru saja berhenti bisa berhenti lagi kapan saja. Mereka harus membawanya ke rumah sakit secepat mungkin, melewati labirin yang sama yang baru saja mereka lewati. Mengangkat pasien di gang selebar satu meter bukan perkara sepele—tandu kaku tidak akan muat di tikungan. Mereka memakai kain dan tenaga manusia, menggotong bapak itu di antara empat tangan, menunduk di bawah jemuran, melangkah hati-hati di paving yang amblas, sementara Cempaka berjalan mundur memompa oksigen.
Warga gang membantu—ada yang menyingkirkan motor, ada yang menahan jemuran, ada yang menerangi dengan senter ponsel. Sangkala bukan cuma kota yang melawan; kadang ia juga kota yang menolong, satu pasang tangan tetangga pada satu waktu.
Mereka sampai ke ambulans. Pak Sulastomo sudah memutar arah, mesin menyala. Pasien dimasukkan, monitor dipasang, dan angka-angka muncul—rapuh, tapi ada. Ranu menghubungi dispatch sambil memasang infus.
"Bu Harni, kami bawa satu, henti jantung yang berhasil dikembalikan. Butuh ICU dan tindakan jantung, secepatnya. RS mana yang siap?"
Jeda. Lalu Bu Harni. "Aku coba Sentana, mereka punya tindakan jantung." Hening sebentar, suara telepon di latar. Lalu Bu Harni kembali, dan nadanya berubah. "Ranu... Sentana bilang ICU penuh. Mereka nolak."
Ranu menutup matanya sedetik. "ICU penuh," ulangnya. "Atau penuh buat kita?"
"Aku coba yang lain. Tahan dulu."
Mereka melaju ke arah pusat kota tanpa tujuan pasti, ambulans bergerak sementara di belakangnya seorang bapak yang baru saja kembali dari kematian bergantung pada apakah ada satu pintu rumah sakit yang mau terbuka. Cempaka menatap Ranu dari kursi belakang. Tidak ada yang bicara. Tapi keduanya tahu—ini bukan pertama kalinya. Ini bentuk lain dari menit emas: bukan tubuh yang melawan, bukan medan yang melawan, tapi sistem yang menutup pintu sambil pasien menunggu di belakang.
"Karyahusada terima," suara Bu Harni akhirnya. "Tapi jauh. Lewat jembatan tua. Sekarang jam pulang sekolah, mungkin macet."
Ranu menatap jalan di depannya, lalu spion ke pasien di belakang. Monitor masih berbunyi. Belum datar. Tapi jarak ke Karyahusada dan jam macet yang menanti adalah musuh yang ia kenal terlalu baik.
"Diterima," katanya, dan menginjak gas.