Panggilan itu masuk saat matahari belum benar-benar naik, ketika Ranu baru saja menuang kopi kedua di dapur sempit Pos Sangkala. Bu Harni menyebutkan alamat sebuah kontrakan di belakang pasar—laki-laki tua, sesak berat, bibir mulai membiru. Ranu meletakkan gelasnya tanpa sempat diminum.
Gilang sudah menyalakan mesin Ambulans Sangkala Satu sebelum Ranu selesai mengancingkan seragam. Anak muda itu mengemudi cepat, terlalu cepat, membelah jalanan subuh yang masih lengang menuju simpang. Ranu tidak menegurnya soal kecepatan. Ada hal-hal yang lebih penting untuk diajarkan hari ini.
Mereka menemukan pasien duduk membungkuk di tepi ranjang, kedua tangan menahan lutut, dada naik-turun seperti ikan dilempar ke darat. Setiap tarikan napasnya berbunyi seperti gesekan besi. Istrinya berdiri di pojok, meremas ujung daster, matanya bertanya-tanya kepada dua orang berseragam yang baru masuk.
"Napasnya sudah begini dari tengah malam," kata perempuan itu. "Obat semprotnya habis."
Ranu berlutut, menatap wajah lelaki itu—pucat, keringat dingin, mata setengah terpejam. "Bapak dengar saya? Tenang, kami bantu napasnya sekarang."
"Sungkup," katanya kepada Gilang, tanpa menoleh. "Pasang oksigen, arus tinggi. Aku siapkan yang lain."
Gilang bergerak cepat. Ranu mendengar tabung dibuka, mendengar desis gas, mendengar suara plastik sungkup ditarik dari kemasannya. Ia sendiri sibuk membuka tas trauma, mencari monitor jantung dan alat ukur saturasi, menempelkan penjepit kecil ke ujung jari pasien. Angka di layar melompat-lompat, lalu turun. Delapan puluh delapan. Delapan puluh lima.
"Gilang, arusnya berapa?"
"Sudah maksimal, Mas." Suara Gilang mantap, terlalu mantap.
Ranu melirik. Sungkup itu menempel di wajah lelaki tua, karet pengikatnya melingkar di belakang kepala, tabung menyala. Semuanya tampak benar. Tapi angka di layar terus merosot. Delapan puluh dua. Bibir pasien makin gelap, dan napasnya kini bukan lagi gesekan besi melainkan sesuatu yang dangkal, cepat, panik.
Sesuatu tidak beres.
Ranu menunduk lebih dekat, mendekatkan telinganya ke sungkup. Tidak ada aliran. Kantong oksigen di bawah sungkup—kantong yang seharusnya menggembung penuh sebelum dipasangkan—kempis, terlipat, hampa. Gilang memasang sungkup berkantong, tapi lupa menutup katup yang membuat kantong itu terisi lebih dulu. Oksigen mengalir ke tabung, tapi tidak sampai ke paru-paru lelaki itu. Selama hampir semenit, pasien ini bernapas dari kantong kosong.
"Lepas." Suara Ranu datar, keras, tak memberi ruang bertanya. Ia menarik sungkup itu sendiri, memutar katup dengan ibu jari, menekan kantong sampai menggembung, lalu menekapkannya kembali ke wajah pasien dengan segel yang rapat. "Tekan dagunya, angkat. Buka jalan napasnya. Jangan cuma ditempel."
Ia memijat kantong perlahan, mengikuti irama dada lelaki tua yang megap-megap. Beberapa detik yang terasa panjang. Lalu angka di layar berhenti turun. Delapan puluh empat. Delapan puluh tujuh. Sembilan puluh. Warna merambat kembali ke bibir pasien, samar, tapi ada.
Ranu tidak berbicara sepanjang perjalanan ke RS Karyahusada. Ia memegang sungkup itu sendiri, membiarkan Gilang mengemudi. Di kaca spion, ia bisa melihat rahang anak muda itu mengeras, pandangannya lurus ke jalan, tangannya terlalu erat di kemudi. Gilang tahu. Ia tidak perlu diberi tahu bahwa ia hampir membunuh seseorang subuh ini.
Setelah pasien diserahkan kepada perawat IGD dan angka saturasinya stabil di atas sembilan puluh lima, Ranu menarik Gilang ke sisi ambulans, jauh dari orang lain. Cempaka, yang menyusul dengan motor untuk mengantar berkas, berdiri agak jauh, tidak ikut campur, tapi tidak juga pergi.
"Kau tahu apa yang salah tadi," kata Ranu. Bukan pertanyaan.
Gilang menelan ludah. "Kantongnya. Saya tidak isi dulu. Saya kira asal oksigen mengalir sudah—"
"Kau kira." Ranu memotong, suaranya rendah tapi setiap kata jatuh seperti batu. "Di jalanan ini tidak ada 'kira'. Ada napas atau tidak ada napas. Kau memasang alat yang benar dengan cara yang salah, dan selama hampir satu menit lelaki itu tidak dapat apa-apa dari kita. Kau tahu berapa harga satu menit, Gilang?"
Anak muda itu menunduk. Matanya basah, tapi ia tidak menangis. "Tahu, Mas."
"Tidak. Kau belum benar-benar tahu." Ranu menghela napas, dan sesuatu dalam nadanya melunak, sedikit. Ia teringat tangannya sendiri yang dulu gemetar, dua tahun lalu, di kabin yang lain, atas tubuh yang tidak sempat ia selamatkan. Ia tahu betul rasa dingin yang sekarang menjalar di dada anak ini. "Aku tidak marah karena kau bodoh. Kau tidak bodoh. Aku marah karena kau bilang 'sudah maksimal' padahal kau tidak memeriksa. Di ambulans ini kita tidak pernah menjawab dengan menebak. Kita lihat. Kita dengar. Kita pastikan. Kalau kau tidak yakin, kau bilang tidak yakin—itu bukan aib."
Gilang mengangkat wajahnya. "Maaf, Mas. Saya—"
"Jangan minta maaf padaku." Ranu menunjuk pintu IGD dengan dagunya. "Orang itu masih bernapas karena kita beruntung layar sempat memberi tahu sebelum terlambat. Lain kali mungkin tidak ada keberuntungan. Ingat rasa yang sekarang di dadamu. Bawa itu tiap kali kau pegang sungkup."
Hening sebentar. Angin subuh membawa bau got dan gorengan dari pasar seberang. Lalu Cempaka melangkah mendekat, menepuk bahu Gilang dengan cara yang tidak menghakimi.
"Aku pernah salah pasang collar di tahun pertama," katanya enteng. "Ranu memarahiku sampai aku nangis di toilet Pos. Sekarang lihat, aku masih di sini. Yang tidak bertahan itu yang tidak mau belajar."
Gilang tertawa kecil, patah, tapi ada. Ranu tidak ikut tersenyum, belum. Ia hanya membuka pintu belakang ambulans dan mulai membereskan sungkup yang tadi, memeriksa katup satu per satu, memutarnya, memasangnya kembali.
"Sini," katanya kepada Gilang. "Sebelum kita balik ke Pos, kau pasang ini sepuluh kali di depanku. Sampai tanganmu hafal, bukan kepalamu." Ia menyerahkan sungkup itu. "Menit emas tidak menunggu kau ingat teori."
Dan Gilang, dengan tangan yang masih sedikit gemetar, mengambilnya.