Radio di dasbor berderak sebelum tengah malam, dan suara Bu Harni sudah lelah sebelum panggilan itu benar-benar dimulai. Ambulans Sangkala Satu meluncur keluar dari Pos Sangkala dengan lampu yang menyapu tembok-tembok gang, membelah Kota Sangkala yang basah oleh gerimis tipis. Ranu memegang kemudi. Di kaca spion tengah ia bisa melihat Cempaka menunduk di atas brankar, dua tangannya memompa balon sungkup oksigen dengan irama yang ia hafal seperti degup jantung sendiri.
Pasiennya laki-laki muda, mungkin dua puluh tahun, buruh cuci motor dari arah Tambaksari. Serangan asma yang menolak reda. Dadanya naik-turun terlalu cepat, lalu terlalu lambat, dan setiap kali Ranu mencuri pandang ke belakang, bibir anak itu tampak lebih kelabu dari sebelumnya.
"Sentana lima menit," kata Ranu tanpa menoleh. "Mereka punya ICU."
Cempaka tidak menjawab. Ia sedang menghitung, matanya menempel pada monitor jantung yang berkedip di sudut kabin.
Suara Bu Harni kembali di radio, pelan, seperti orang yang sudah tahu jawabannya sebelum bertanya. "Sangkala Satu, Sentana bilang penuh. Tidak ada ranjang ventilator. Mereka minta kalian cari yang lain."
Ranu menekan rem lebih keras dari yang ia perlu. Cahaya papan nama RS Sentana melintas di sisi kanan, terang dan angkuh di balik gerbang yang tetap tertutup. Ia tidak memperlambat laju. Ia sudah pernah berdiri di depan pintu itu, dan ia tahu berdiri di sana malam ini hanya akan memakan menit yang tidak dimiliki anak di belakangnya.
"Karyahusada," kata Cempaka dari belakang. Suaranya datar, terlatih untuk tidak gemetar. "Saturasinya turun, Ranu. Delapan puluh empat."
"Bu Harni, minta Karyahusada."
Jeda. Gerimis berubah jadi hujan. Wiper mengeluh di kaca depan.
"Karyahusada penuh IGD-nya," Bu Harni akhirnya berkata. "Mereka lagi tangani kecelakaan beruntun. Suruh coba Wanaraja Medika."
Ranu membanting setir ke arah Simpang Arteri Wanaraja. Jalanan malam itu nyaris kosong, tapi kekosongan tidak berarti cepat; berarti jauh. Rumah sakit swasta di seberang simpang menyala terang seperti mal, dan ia sudah bisa menebak lagu yang akan mereka nyanyikan.
Tebakannya benar. Petugas jaga di ujung radio menanyakan penjamin sebelum menanyakan pasien. Deposit. Kartu. Ranu mendengar Bu Harni menahan diri, menerjemahkan penolakan itu jadi kalimat yang sopan, dan gagal menyembunyikan lelah di ujung suaranya.
"Tolak," kata Bu Harni. "Tiga."
Tiga. Ranu menghitung dalam diam, dan hitungan itu membuka pintu yang selalu ia coba kunci.
Dua tahun lalu ia juga menghitung. Satu, dua, tiga rumah sakit, sementara di belakangnya seorang remaja bernama Wira berhenti bernapas di atas brankar yang sama ini, di kabin yang sama ini, di kota yang sama ini. Anak dari Gang Kenanga Tiga. Ranu masih ingat bagaimana alamat itu diucapkan lewat radio, dan bagaimana ada jeda kecil setiap kali seseorang mendengarnya—jeda yang tidak pernah tercatat di formulir mana pun, tapi cukup panjang untuk membunuh. Ia ingat tangannya sendiri di kemudi, gemetar seperti sekarang, dan cara ia terus berkata pada diri sendiri bahwa rumah sakit berikutnya pasti membuka pintu.
"Ranu." Suara Cempaka menariknya kembali. "Kamu masih di jalur?"
"Masih." Ia meluruskan setir yang tanpa sadar telah menepi. Hujan menghapus garis jalan. Napasnya sendiri terasa pendek. "Masih di jalur."
Di belakang, sungkup oksigen mengembun oleh napas yang berjuang. Cempaka mengganti posisi tangannya, menekan lebih dekat, berbicara pada anak itu dengan suara rendah yang tidak ia tujukan untuk didengar Ranu. Bertahan. Sedikit lagi. Kita cari pintu. Kata-kata yang dulu pernah Ranu bisikkan pada Wira, dan yang tidak menyelamatkannya.
"Bu Harni." Suara Ranu keluar lebih keras dari yang ia niatkan. "Yang keempat. Cepat."
"Aku lagi coba Bhakti Medika di jalur utara," jawab Bu Harni. Ranu mendengar gemerisik kertas, log dispatch yang ia tahu perempuan itu simpan seperti kitab. "Ranu, jaraknya jauh. Dua belas kilometer. Kamu yakin pasiennya kuat?"
Ia tidak yakin. Itu masalahnya. Ia tidak pernah yakin, dan ketidakyakinan itulah yang membuat kakinya menekan pedal lebih dalam, membuat sirene meraung lebih tinggi di atas kota yang tidur. Menit emas, kata ayahnya dulu—seorang mantri yang menempuh jalan tanah untuk pasien yang tak mampu membayar—menit emas itu milik pasien, bukan milik meja administrasi. Setiap detik yang dicuri sistem adalah detik yang dicuri dari napas seseorang.
"Bhakti Medika menolak," Bu Harni berkata. Kali ini suaranya nyaris berbisik. "Katanya bukan rujukan mereka. Empat, Ranu. Sudah empat."
Empat penolakan. Angka itu menggantung di kabin seperti bau logam. Ranu menatap lurus ke depan, ke jalan yang berkilau hitam, dan untuk sesaat ia tidak melihat aspal Wanaraja melainkan lorong sempit Gang Kenanga, wajah Wira yang membiru, dan tangannya sendiri yang terlambat.
Lalu monitor di belakang berbunyi—alarm pelan, bukan garis datar, belum, tapi peringatan yang cukup untuk mengembalikan Ranu pada tubuhnya sendiri.
"Saturasi delapan puluh," kata Cempaka. Untuk pertama kalinya suaranya retak. "Ranu, kita harus sampai ke mana pun. Sekarang."
Ranu meraih radio, dan sesuatu di dalam dirinya mengeras jadi keputusan. "Bu Harni, hubungi Karyahusada lagi. Bilang kami tetap datang. Bilang pasien gagal napas, dan kalau perlu aku bawa dia lewat pintu IGD dengan kaki sendiri. Mereka tidak perlu menerima. Mereka cuma perlu membuka pintu."
Hening di radio. Lalu, pelan, hampir seperti doa, Bu Harni menjawab, "Aku sampaikan. Belok kiri di depan, potong lewat pasar. Aku pandu kamu."
Ranu membanting setir ke kiri. Hujan menghantam kaca, sirene menyayat malam, dan di belakangnya napas seorang anak muda menggantung di antara satu tarikan dan tarikan berikutnya. Ia menjejak pedal, matanya perih, dan untuk kali ini ia menolak membiarkan hitungan berakhir seperti dulu. Bukan malam ini. Bukan anak ini. Ambulans Sangkala Satu melesat memotong pasar yang gelap, menuju satu pintu yang mungkin—hanya mungkin—akan terbuka.