Ruangan itu tidak punya jendela. Hanya meja panjang, kipas yang berputar malas di langit-langit, dan seorang lelaki dari bagian kepatuhan yang namanya tak sempat Ranu hafal—cukup map cokelat di depannya, cukup pulpen yang diketuk-ketukkan ke tepi meja seperti detak yang sengaja dibuat mengganggu. Di sampingnya, Pak Damar duduk dengan punggung terlalu tegak, tangan terlipat, dan wajah yang berusaha keras tampak netral.
"Kami hanya ingin bicara, Ranu," kata lelaki itu. "Bukan pemeriksaan. Belum."
Kata *belum* itu bergantung di udara.
Ranu meletakkan kedua telapaknya di paha, di bawah meja, supaya tak terlihat kalau ada yang bergetar. Ia sudah menduga hari ini akan datang sejak artikel Wardah terbit dan riaknya sampai ke telinga dr. Prayoga. Angka-angka dalam tulisan itu terlalu rapi. Terlalu tahu. Seseorang di dalam pasti membocorkannya, begitu kesimpulan mereka, dan mereka tidak salah.
"Data waktu penerimaan itu," lelaki itu membuka map, "hanya bisa diambil dari log dispatch. Dari run sheet. Keduanya ada di Pos Sangkala." Ia mengangkat wajah. "Kau punya akses ke dua-duanya."
"Semua paramedis punya akses ke run sheet mereka sendiri," jawab Ranu. Suaranya rata. "Itu bagian dari tugas."
"Tapi tidak ke seluruh log. Log dispatch dipegang siapa?"
Sebuah nama muncul begitu saja di benak Ranu, nama perempuan yang tinggal dua tahun lagi menuju pensiun, yang tangannya sudah menua di atas radio dan buku catatan, yang diam-diam merapikan salinan bersamanya di malam-malam sepi. Bu Harni. Nama itu menekan di belakang giginya, minta keluar, dan Ranu menahannya.
"Saya," kata Ranu.
Pak Damar menoleh, cepat. Ranu tak balas menatapnya.
"Saya yang menyalin," Ranu meneruskan. "Bukan cuma run sheet saya. Saya minta yang lain. Saya catat waktu penolakan tiap kasus sejak beberapa bulan lalu. Kalau ada yang bocor, itu dari catatan saya."
Ketukan pulpen berhenti. "Kau menyimpan salinan log yang bukan wewenangmu."
"Ya."
"Dan menyerahkannya ke wartawan itu. Wardah."
Di sinilah tanahnya paling licin. Kalau ia mengiyakan mentah-mentah, Wardah bisa diseret; sumber pers memang dilindungi, tapi tekanan bisa membuat hidup seseorang tak nyaman dengan seribu cara lain. Ranu memilih kalimatnya seperti memilih pijakan di batu sungai.
"Saya tidak menyerahkan log. Saya menyusun angka sendiri—tanpa nama pasien, tanpa nama petugas. Kalau ada wartawan menulis soal itu, ia bisa dapat dari mana saja. Dari keluarga korban. Dari orang yang antre di IGD dan pulang tanpa ditolong." Ia menahan napas sejenak. "Yang saya lakukan sendiri. Tak ada yang menyuruh, tak ada yang membantu."
Kebohongan terakhir itu terasa asing di lidahnya, karena bukan sepenuhnya bohong dan bukan sepenuhnya benar. Bu Harni memang membantu. Tapi Bu Harni membantu karena percaya, bukan karena diperintah, dan Ranu tak sudi menukar kepercayaan itu dengan keselamatannya sendiri.
Lelaki itu menyandarkan diri. "Kau sadar apa artinya ini? Menyalin dokumen resmi tanpa izin bisa jadi pelanggaran serius. Bisa berujung skors. Lebih."
"Saya sadar."
"Kau bisa saja bilang tidak tahu apa-apa. Banyak yang begitu."
"Saya bukan banyak orang."
Pak Damar berdeham, gelisah. "Pak, boleh saya bicara sebentar dengan anak buah saya?"
Lelaki itu memandang mereka berdua bergantian, lalu mengumpulkan mapnya. "Lima menit. Di luar." Ia bangkit, kursinya menggores lantai, dan pintu tertutup dengan bunyi yang terlalu keras untuk ruangan sekecil itu.
Begitu mereka sendirian, Pak Damar mencondongkan badan. "Apa yang kaulakukan, Ranu."
"Menjawab pertanyaannya."
"Kau menaruh kepalamu sendiri di talenan." Suara Pak Damar rendah, tegang. "Aku tahu Bu Harni yang pegang log. Mereka juga akan tahu, cepat atau lambat. Kau tak perlu menutupinya."
"Bu Harni tinggal menghitung bulan sampai pensiun." Ranu akhirnya menoleh, menatap atasannya lurus-lurus. "Kalau namanya masuk berkas ini, hilang semuanya. Hak, kehormatan, semua yang ia bangun tiga puluh tahun di kursi radio itu. Untuk apa? Untuk membenarkan sesuatu yang memang benar?"
"Dan Wardah?"
"Wardah cuma menulis apa yang layak ditulis." Ranu menggeleng pelan. "Kalau mereka mau memburu seseorang, biar saya. Saya yang mulai. Saya yang tanggung."
Pak Damar memijat pangkal hidungnya. Di kerut wajahnya, Ranu melihat lelaki yang terjepit di antara perintah dari atas dan sesuatu yang masih tersisa di dadanya—sesuatu yang belum sepenuhnya padam. "Kau pikir kepahlawanan macam ini akan menyelamatkan siapa pun? Mereka akan tetap menang, Ranu. Berkasmu jadi tebal, kariermu jadi tipis, dan sistem yang kaubenci itu tidak bergeser seujung rambut pun."
"Mungkin," kata Ranu. "Tapi kalau saya biarkan Bu Harni yang jatuh, saya kehilangan alasan bertahan sama sekali."
Untuk beberapa saat hanya ada bunyi kipas. Lalu Pak Damar bersandar, lelah, seakan usia bertahun-tahun turun sekaligus ke bahunya. "Aku tidak bisa melindungimu dari ini."
"Saya tidak minta dilindungi. Saya cuma minta Bapak tidak menyeret nama yang tidak perlu."
Pak Damar tidak menjawab ya. Tapi ia juga tidak menjawab tidak, dan dalam diamnya itu Ranu menangkap sesuatu yang nyaris seperti persetujuan—janji rapuh yang tak berani diucapkan.
Pintu terbuka lagi. Lelaki dengan map cokelat itu masuk, duduk, mengetuk pulpennya sekali.
"Jadi," katanya, "kau bersedia menandatangani keterangan bahwa penyalinan itu tindakanmu sendiri, seorang diri?"
Ranu mengulurkan tangan meminta pulpen. Ujungnya dingin di jarinya. Ia menandatangani di bawah baris yang menyebut namanya—Ranu Anggara—dengan huruf yang lebih mantap dari perasaannya, lalu mendorong kertas itu kembali ke seberang meja.
Malam itu, di Pos Sangkala, Bu Harni menghampirinya di dekat radio yang sudah didiamkan. Ia tidak bertanya apa pun. Hanya menaruh secangkir teh panas di meja Ranu, memandangnya sebentar dengan mata yang tahu terlalu banyak, lalu berkata pelan, "Kau bodoh." Suaranya bergetar. "Tapi terima kasih." Dan Ranu, untuk pertama kalinya sejak pagi, membiarkan bahunya turun.