Kabar itu sampai ke Gang Kenanga Tiga lebih dulu daripada ke telinga Ranu sendiri. Ia baru tahu ketika Lastri mengetuk pintu kontrakannya di Kelurahan Tambaksari, sore hari, dengan map plastik lusuh dijepit di ketiak dan wajah yang terlalu serius untuk seorang gadis seumurnya.
"Bang," katanya, tanpa basa-basi. "Orang-orang mau ketemu. Malam ini. Di rumah Bu Ipah."
Ranu menahan daun pintu. Sudah tiga hari ia dirumahkan, dan tiga hari itu terasa seperti tiga tahun. Ia sudah terbiasa dengan raungan sirene dan bau antiseptik; sunyi justru membuatnya gelisah, seakan di suatu tempat di Kota Sangkala ada seseorang yang sedang menunggu ambulans yang tak akan datang tepat waktu karena ia tidak ada di kursi kanan.
"Ketemu buat apa, Lastri," ujarnya pelan. "Ini urusanku. Jangan diseret-seret."
Lastri menatapnya, dan dalam tatapan itu ada sesuatu yang mengingatkan Ranu pada Wira—bukan wajahnya, melainkan keras kepala yang sama. "Bang keliru," katanya. "Ini bukan cuma urusan Abang."
Malam itu Ranu datang juga. Rumah Bu Ipah yang sempit sudah penuh sebelum ia melangkah masuk. Kursi plastik dipinjam dari tetangga, tikar digelar sampai ke teras, dan orang-orang duduk berimpitan—tukang ojek, pedagang gorengan, ibu-ibu arisan, seorang guru mengaji, bahkan Pak RW yang biasanya enggan mencampuri perkara di luar iuran sampah. Bu Ipah, yang belum lama pulih dari sakitnya, duduk di kursi paling depan dengan selendang di bahu. Ia menyambut Ranu dengan anggukan yang membuat dada Ranu sesak.
"Nak Ranu," kata Bu Ipah. Suaranya rapuh tapi tenang. "Duduk sini."
Lastri berdiri di tengah ruangan, map plastiknya kini terbuka. Ranu melihat lembar-lembar bertulisan tangan—daftar nama, tanggal, keterangan. Gadis itu telah mengumpulkan sesuatu.
"Aku sudah tanya-tanya," kata Lastri kepada orang-orang, suaranya lebih mantap dari yang Ranu duga. "Bukan cuma Kak Wira. Anaknya Bu Minah dua tahun lalu, ditolak juga. Bapaknya Mas Yudi, kena serangan jantung, dioper sampai dua rumah sakit. Semua dari gang ini. Semua alamatnya sama."
Ruangan hening. Ranu merasakan darahnya dingin. Selama ini ia menyimpan salinan-salinan itu sendirian, run sheet dan jam penolakan, dilipat rapi seolah dosa pribadi yang tak boleh dibagi. Ia tidak pernah membayangkan bahwa kampung ini menyimpan daftarnya sendiri, dalam ingatan, dalam luka yang tak sempat sembuh.
"Bang Ranu ini," lanjut Lastri, menoleh ke arahnya, "satu-satunya orang yang tidak pernah nanya alamat kami dulu-dulu. Yang tidak pernah mundur di depan pintu itu. Sekarang dia yang dihukum. Karena apa? Karena dia menolong."
Seorang tukang ojek—Ranu mengenalnya samar, Kang Parjo—berdehem. "Terus kita mesti apa, Las? Kita orang kecil. Mana didengar."
"Kita bikin surat," kata Lastri cepat, seolah sudah menyiapkan jawabannya berhari-hari. "Surat dukungan. Ditandatangani sebanyak-banyaknya. Buat dikirim ke Pos Sangkala, ke Dinas, ke mana saja yang mau baca. Biar mereka tahu Bang Ranu tidak sendiri. Biar mereka tahu kalau menghukum dia, mereka menghukum kami semua."
Ranu ingin berdiri, ingin bilang jangan, ini bisa berbahaya, ini bisa membuat kalian jadi sasaran seperti aku. Tapi Bu Ipah lebih dulu bicara, dan seluruh ruangan diam untuk menghormatinya.
"Waktu Wira meninggal di ambulansnya Nak Ranu," kata perempuan itu perlahan, matanya menerawang, "aku sempat marah. Aku pikir, kenapa tidak lebih cepat. Kenapa tidak diselamatkan." Ia menarik napas. "Tapi baru belakangan aku ngerti. Yang lambat bukan Nak Ranu. Yang lambat itu pintu-pintu yang tak mau buka. Nak Ranu sudah lari sekencang-kencangnya, sampai sekarang dia masih lari." Bu Ipah menoleh, menatap Ranu lurus-lurus. "Sekarang giliran kami yang lari untuk dia."
Sesuatu di dalam diri Ranu retak, pelan, seperti bendungan yang sudah terlalu lama menahan. Ia menunduk supaya tak ada yang melihat matanya memanas. Dua tahun ia memikul kematian Wira seorang diri, meyakini bahwa gang ini pasti membencinya. Ternyata yang ia takutkan tak pernah ada. Yang ada justru ini: sebuah ruangan sesak penuh orang yang bersedia menandatangani namanya di atas kertas demi seseorang yang mereka anggap milik mereka.
Kertas mulai beredar. Pena tunggal dioper dari tangan ke tangan. Ada yang menandatangani dengan cepat, ada yang menuliskan namanya susah payah huruf demi huruf, ada yang cuma bisa cap jempol lalu diberi keterangan oleh Lastri di sampingnya. Guru mengaji itu menulis dua baris doa di bawah tanda tangannya. Anak-anak kecil menonton dari ambang pintu, tak paham betul, tapi ikut merasa bahwa malam itu penting.
"Ini tidak akan langsung mengubah apa pun," Ranu akhirnya bersuara, karena ia tak bisa membiarkan mereka berharap terlalu tinggi. Ia sudah cukup lama berhadapan dengan dr. Prayoga, dengan Pak Damar yang terjepit, dengan tembok yang tak retak hanya oleh amarah. "Kalian harus tahu itu. Orang-orang di atas sana tidak semudah itu."
"Kami tahu," sahut Lastri. "Tapi dulu tidak ada yang berani menulis apa pun sama sekali. Sekarang ada." Ia mengangkat map plastik itu, kini tebal oleh lembaran-lembaran yang penuh. "Itu sudah beda, kan, Bang?"
Ranu memandang deretan nama itu—nama-nama yang selama ini hanya muncul di run sheet-nya sebagai 'pasien', sebagai alamat yang ditolak, kini berdiri sendiri sebagai manusia yang memilih bersuara. Ia teringat kata-kata yang selalu diucapkan mendiang ayahnya, sang mantri desa: satu nyawa itu tidak pernah cuma satu. Selalu ada yang mencintainya, yang menunggunya pulang.
Untuk pertama kalinya beban itu tidak seluruhnya di pundaknya sendiri.
"Iya," katanya lirih, dan kali ini ia tidak menyembunyikan suaranya yang bergetar. "Sudah beda."
Di luar, hujan turun tipis-tipis, menetes dari genting Gang Kenanga Tiga. Ranu tidak tahu bahwa itu awal dari musim yang akan menenggelamkan mereka semua. Malam itu ia hanya tahu satu hal: perkaranya telah berhenti menjadi perkaranya sendiri. Dan itu, entah bagaimana, membuatnya sanggup menghadapi apa pun yang menunggu esok hari.