Pagi ketiga tanpa seragam, Ranu belajar bahwa waktu bisa terasa seperti benda yang menolak diangkat. Ia jongkok di depan rumah petak Bu Sri, membetulkan engsel pintu yang sudah dua tahun ia janjikan akan diperbaiki, sementara di dalam ibunya menanak nasi seolah tidak ada yang berubah pada anaknya. Tangannya sibuk pada obeng, tetapi kepalanya berada di tempat lain—di kabin Ambulans Sangkala Satu, di suara Bu Harni yang biasa memanggil nomornya lewat radio.
Teriakan itu datang dari mulut gang.
Pak Kirman, tukang becak yang saban pagi mangkal di ujung Kelurahan Tambaksari, tergeletak di aspal. Becaknya miring, roda depan masih berputar pelan seperti tak tahu tuannya sudah roboh. Ranu berlari sebelum ia sempat mengingat bahwa ia sedang diskors, bahwa tangannya kini tangan warga biasa, bukan tangan yang boleh menyentuh nyawa orang atas nama negara.
Ia berlutut. Menempelkan dua jari ke leher. Menunduk ke dekat mulut yang membiru. Tidak ada napas. Tidak ada denyut. Dada itu diam seperti papan.
"Panggil ambulans!" Suaranya keluar begitu saja, terlatih, tak butuh izin. "Telepon Pos Sangkala. Sekarang."
Lalu ia menumpukan pangkal telapak di tengah dada Pak Kirman dan menekan. Satu, dua, tiga—ia menghitung dalam hati, mengejar irama yang sudah ratusan kali ia jalankan. Hanya kali ini tidak ada monitor jantung yang memberitahunya apa yang terjadi di bawah tulang itu. Tidak ada sungkup oksigen. Tidak ada tas trauma di sisinya. Tidak ada Cempaka yang mengambil alih saat lengannya lelah. Hanya dua telapak tangan dan aspal yang panas menembus lutut celananya.
Menit emas, pikirnya. Detik-detik ini yang menentukan. Kalau darah tetap mengalir ke otak, kalau seseorang datang membawa alat kejut sebelum semuanya terlambat—
Kerumunan tumbuh di sekelilingnya. Seseorang menyodorkan telepon ke telinganya. Ia kenal suara di ujung sana.
"Pos Sangkala, ini Bu Harni."
"Bu Harni, ini Ranu." Ia tidak berhenti menekan, kata-katanya terputus mengikuti gerak lengannya. "Henti jantung. Laki-laki, sekitar lima puluh. Mulut gang Tambaksari. Sudah saya kompresi. Kirim unit."
Ada jeda sepersekian detik, jeda yang Ranu pahami betul. Sangkala Satu sedang di luar—Gilang membawanya, terjebak di antrean di Simpang Arteri Wanaraja. Unit kedua jauh. Bu Harni menyebut angka, empat belas menit, mungkin lebih, dan suaranya menahan sesuatu yang tidak boleh keluar lewat radio.
Empat belas menit. Ranu menelan angka itu dan terus menekan.
Ia menekan sampai keringat menetes dari ujung hidungnya ke kemeja Pak Kirman. Ia menekan sampai lengannya berubah menjadi besi yang membara. Seorang ibu di sampingnya menangis; seorang anak muda mencoba menggantikan tapi tak tahu iramanya, dan Ranu menepis tangannya, "Biar saya," karena ia tak sanggup menyerahkan satu nyawa lagi kepada ketidaktahuan.
Ambulans datang. Bukan Sangkala Satu—unit lain, dengan dua petugas muda yang ia kenal wajahnya tapi tidak namanya. Mereka membawa brankar, memasang sungkup, menempelkan tempelan monitor. Garis di layar bergetar samar. Masih ada sesuatu di sana. Masih ada pintu yang belum tertutup.
"RS Sentana paling dekat," kata salah satu petugas.
Ranu ikut naik. Tidak ada yang melarangnya; ia hanya warga yang menolong, dan itulah persis yang membuat dadanya dingin. Di kabin ia memandu mereka dengan suara yang ditahan, tidak memerintah, hanya menyarankan, karena ia tahu ia tidak berhak lagi memerintah apa pun.
Di gerbang RS Sentana, semuanya berhenti.
Petugas jaga menahan brankar di ambang pintu. Kata-katanya sudah Ranu hafal luar-kepala: ranjang penuh, harus lapor administrasi dulu, keluarganya mana, deposit bagaimana. Dua petugas muda itu ragu, menunduk, menunggu. Mereka tidak dilatih untuk melawan. Mereka dilatih untuk patuh.
Ranu maju. "Ini henti jantung. Dia butuh masuk sekarang, bukan nanti. Setiap menit—"
"Bapak siapa?" Petugas jaga menatapnya, mengukur kemeja lusuh dan celana kerja yang belepotan aspal. "Keluarga?"
Ranu membuka mulut. Lalu menutupnya kembali. Ia bukan paramedis yang bertugas. Ia bukan keluarga. Ia bukan siapa-siapa yang bisa disebut di formulir. Dua tahun ia melatih dirinya untuk berdiri tepat di titik ini dan menolak beranjak, dan sekarang, di titik yang sama, seluruh bobotnya lenyap. Ia hanya seorang lelaki basah keringat yang tidak berhak.
Ia melihat garis di layar monitor kecil itu melandai. Melandai. Lalu mendatar.
Mereka membawa Pak Kirman masuk akhirnya—terlambat, ketika masuk sudah tidak lagi berarti apa-apa. Seorang dokter jaga keluar beberapa menit kemudian, melepas sarung tangan, dan menggeleng pelan kepada tak seorang pun secara khusus.
Ranu berdiri di lorong itu, di lantai yang berbau disinfektan, dan tidak bergerak untuk waktu yang lama. Ia tahu—dengan kepastian yang menusuk lebih dalam daripada duka—bahwa seandainya ia masih bertugas, seandainya di dadanya masih tersemat namanya dan di tangannya masih ada wewenang itu, ia akan sudah mendorong brankar itu melewati petugas jaga sebelum kalimat kedua selesai diucapkan. Ia akan berteriak, ia akan memaksa, ia akan menaruh tubuhnya sendiri di antara pintu dan kematian. Dan mungkin, mungkin saja, Pak Kirman masih akan mangkal di mulut gang besok pagi.
Bukan tangannya yang gagal. Kompresinya benar. Iramanya benar. Yang gagal adalah pintu, dan yang membuat pintu itu menang adalah ketiadaan dirinya di tempat ia seharusnya berada.
Ia ingat wajah lain di kabin lain, dua tahun lalu. Wira. Ia ingat bagaimana ia bersumpah tidak akan lagi berdiri diam menyaksikan seseorang mati di ambang pintu yang menolak membuka. Dan hari ini ia berdiri diam, karena selembar surat skors telah mengambil satu-satunya hal yang membuatnya berarti di depan pintu itu.
Di luar, langit Kota Sangkala mendung tanpa hujan. Ranu berjalan pulang menyusuri gang, melewati becak Pak Kirman yang masih miring di tempatnya, roda depannya kini diam. Rasa bersalah itu tidak lagi terasa seperti luka yang berdarah. Ia terasa seperti sesuatu yang mengeras, mendingin, mengambil bentuk yang tetap di dalam dadanya.
Ia tidak akan menunggu peninjauan itu dengan tangan terlipat. Skors bisa mengambil seragamnya. Ia tidak akan membiarkannya mengambil yang lain.