Surat itu tidak datang lewat pos. Pak Damar sendiri yang meletakkannya di meja Ranu, di sudut ruang ganti Pos Sangkala yang bau kopi dan disinfektan, lalu berdiri di sana lebih lama daripada yang diperlukan seseorang yang sekadar mengantar kertas.
"Baca di rumah saja," kata Pak Damar. Suaranya tidak setegas biasanya. "Tapi kau harus tahu isinya sebelum shift dimulai."
Ranu tidak menunggu sampai rumah. Ia membuka amplop itu di tempat, jari-jarinya yang biasa memasang collar dengan cekatan kini terasa kaku pada lipatan kertas. Kata-katanya resmi, dingin, disusun oleh orang yang tak pernah mencium bau darah di aspal. Diberhentikan sementara dari tugas. Menunggu peninjauan. Terhitung mulai hari ini.
"Aduan dr. Prayoga," kata Ranu. Bukan pertanyaan.
"Termasuk soal Bu Ipah." Pak Damar menatap lantai. "Dan tiga insiden lain yang mereka sebut pelanggaran protokol. Ranu, aku sudah coba menahannya di mejaku selama mungkin. Sungguh."
Ranu tidak marah. Itu yang membuat Pak Damar tampak lebih tersiksa—kalau Ranu meledak, mungkin lebih mudah. Tapi Ranu hanya melipat surat itu kembali, rapi, seperti melipat kain kafan yang tak jadi dipakai.
Di luar, ambulans Sangkala Satu terparkir dengan pintu belakang menganga. Cempaka sedang memeriksa isi tas trauma, menghitung ampul, mengganti sungkup oksigen yang penyekatnya mulai getas. Ia mengangkat kepala saat Ranu keluar, dan sesuatu di wajah Ranu membuat tangannya berhenti di tengah gerakan.
"Berapa lama?" tanya Cempaka.
"Sampai peninjauan selesai. Bisa dua minggu. Bisa dua bulan."
Cempaka meletakkan tas itu. Ia tidak mengucapkan hal-hal yang biasa diucapkan orang—tidak ada _pasti beres_, tidak ada _mereka salah, kau benar_. Cempaka bukan tipe yang menghibur dengan kata-kata kosong. Ia hanya berkata, "Siapa yang jadi partner Gilang?"
"Belum diatur."
"Berarti aku." Cempaka mengambil kembali tas trauma, menyandangnya di bahu. "Gilang belum cukup jam terbang untuk pegang kendali sendirian. Aku yang pimpin. Dia yang nyetir."
Gilang berdiri agak jauh di dekat kabin, tangannya menggenggam kunci ambulans seolah takut benda itu terlepas. Ia masih muda, wajahnya belum kehilangan keterkejutan pemula setiap kali dunia ternyata tidak adil. "Bang Ranu," katanya, dan berhenti, karena tidak tahu kalimat apa yang pantas menyusul.
"Panduan yang kuberikan tetap berlaku," kata Ranu. "Menit emas itu nyata, Gilang. Setiap detik yang kaubuang di simpang tak akan kembali. Kalau ragu soal collar, pasang. Kalau ragu soal papan spinal, pakai. Lebih baik salah karena hati-hati."
"Bang Ranu ngomong kayak mau pergi lama."
Ranu tidak menjawab. Ia menepuk bahu Gilang sekali, lalu menyerahkan senter kecil yang selama ini tergantung di saku dadanya—senter yang dipakainya memeriksa pupil ratusan pasien. Gilang menerimanya seperti menerima sesuatu yang jauh lebih berat dari plastik dan baterai.
Radio dispatch berderak. Suara Bu Harni memenuhi ruang parkir, tenang seperti biasa, tapi Ranu yang telah bekerja bersamanya bertahun-tahun menangkap ada yang berbeda. "Sangkala Satu, panggilan di Jalan Melati. Lansia jatuh, dugaan patah panggul. Berangkat."
Cempaka dan Gilang bergerak. Mesin menyala, sirene meraung, dan untuk pertama kalinya dalam sekian lama Ranu berdiri diam sementara ambulans itu melaju tanpa dirinya. Ia menonton lampu birunya menghilang di tikungan, dan rasanya seperti menonton bagian dari tubuhnya sendiri dibawa pergi.
Ia masuk ke Pos, ke ruang dispatch yang sempit dan penuh kabel. Bu Harni tidak mengangkat wajah dari layar, tapi tangannya menggeser secangkir teh yang masih mengepul ke arah kursi kosong di sebelahnya. Isyarat agar Ranu duduk.
"Aku tahu kau ke sini bukan mau pamit," kata Bu Harni.
Di meja perempuan itu, di samping mikrofon dan buku log resmi bersampul hijau lusuh, ada tumpukan map baru. Ranu mengenali angka-angka di sampulnya: tanggal, nomor panggilan, waktu keberangkatan, waktu penolakan. Salinan-salinan yang selama ini mereka rapikan diam-diam.
"Bu Harni, kalau ketahuan Bu—"
"Log ini milik negara. Aku yang menjaganya tiga puluh tahun." Bu Harni akhirnya menoleh, dan matanya keras seperti besi tua yang tak bisa lagi ditekuk. "Tak ada satu pun huruf di sini yang kupalsukan. Kalau mereka mau memberhentikanmu, biar mereka lakukan dengan menatap angka-angka ini. Setiap menit yang hilang. Setiap pintu yang ditutup. Termasuk pintu yang ditutup untuk Bu Ipah."
Ranu menelan sesuatu yang mengganjal di kerongkongannya. "Bu bisa kena imbas. Pensiun Bu tinggal—"
"Aku tahu berapa lama lagi pensiunku." Bu Harni menggeser cangkir teh lebih dekat, memaksa. "Minum. Kau kelihatan seperti pasienmu sendiri."
Ranu minum. Teh itu terlalu manis, cara Bu Harni membuat teh untuk orang yang menurutnya butuh dikuatkan. Di luar jendela, langit Kota Sangkala kelabu, mendung yang menggantung terlalu rendah untuk bulan ini. Radio berderak lagi—panggilan lain, di ujung kota lain, dan Ranu secara refleks mencondongkan badan sebelum sadar bahwa itu bukan lagi urusannya. Setidaknya bukan hari ini.
"Mereka pikir dengan menyingkirkanku, semuanya diam," kata Ranu pelan.
Bu Harni menandai sesuatu di buku hijaunya dengan pensil yang sudah tumpul. "Mereka salah menilai siapa yang mereka singkirkan," katanya. "Dan mereka lupa siapa yang memegang catatannya."
Ranu memandang tumpukan map itu—tumpukan yang tumbuh, halaman demi halaman, nama demi nama yang tak sempat tercatat di tempat lain. Ia belum tahu bahwa suatu hari tumpukan itu akan berbicara di ruang yang jauh lebih besar dari pos sempit ini. Ia hanya tahu, untuk sekarang, bahwa ia dijatuhkan tapi tidak sendirian. Di suatu tempat di jalan Kota Sangkala, sirene Cempaka dan Gilang meraung. Dan di meja ini, tangan Bu Harni terus menulis.