Pukul lima sore di Sangkala adalah waktu kota menelan dirinya sendiri.
Seluruh jalan arteri berubah jadi sungai logam yang tidak mengalir. Klakson bersahutan tanpa guna, asap knalpot menggantung di udara panas, dan ribuan orang yang ingin pulang terjebak di antara satu sama lain. Di tengah semua itu, di Tikungan Pramuka—simpang tempat tiga jalan bertemu dan tak satu pun bisa bergerak—terjadi tabrakan beruntun. Sebuah mobil bak menghantam dua motor, lalu mobil di belakangnya menghantam mobil bak itu.
Panggilan masuk saat Ranu dan krunya baru selesai mengisi oksigen di pos.
"Korban beberapa orang," suara Bu Harni cepat. "Tapi yang paling parah satu, laki-laki, terjepit, dada kena setir mobil bak. Sesak berat. Pelapor bilang dia susah napas, bibirnya mulai biru."
Ranu sudah hafal artinya. Trauma dada berat di tengah jam macet paling parah. Itu kombinasi terburuk—pasien yang butuh dibawa secepat mungkin, di waktu ketika kota sama sekali tidak bisa dilewati.
"Pak Sulas, kamu yang nyetir. Kamu lebih tahu celah dari siapa pun," kata Ranu. Sopir tua itu mengangguk, matanya menyala—ini medan perangnya. "Cempaka, Gevira, ikut belakang."
Pak Sulastomo membawa Sangkala Satu seperti orang menari di antara pisau. Naik ke trotoar saat trotoar kosong, turun lagi, masuk ke jalur berlawanan saat ada celah sedetik, membaca arus seperti membaca wajah istrinya sendiri. "Empat puluh tahun saya di jalan ini," ia bergumam di balik kemudi, "kota ini boleh berubah, tapi macetnya tetap punya pola. Kamu cuma harus tahu di mana napasnya."
Mereka sampai ke lokasi dalam waktu yang nyaris mustahil. Kekacauan menyambut: pecahan kaca, ceceran oli, kerumunan yang malah menambah sesak. Ranu melompat turun, matanya menyapu cepat—triase di tempat. Dua pengendara motor: satu sadar, mengeluh kaki, tidak mengancam nyawa; satu lecet-lecet, syok ringan. Penumpang mobil belakang: pusing, kemungkinan benturan kepala ringan. Dan korban utama—lelaki di kursi mobil bak, badannya terhimpit antara jok dan setir yang penyok, napasnya cepat dan dangkal, bibir membiru.
"Cempaka, urus yang ringan dengan Gevira. Aku ke yang dada."
Ia naik ke kabin mobil bak yang ringsek. Lelaki itu—mungkin tiga puluhan, sopir bak—menatapnya dengan mata penuh teror orang yang merasa dirinya kehabisan udara. "Pak, saya Ranu, saya bantu. Coba tarik napas pelan." Ranu meletakkan tangan di dada lelaki itu, merasakan, mendengarkan dengan telinga didekatkan. Sisi kanan dada hampir tidak bergerak. Saat ia mengetuk, suaranya bergaung kosong, dan napas di sisi itu nyaris hilang.
Udara terjebak. Setiap kali lelaki ini menarik napas, udara masuk ke rongga dadanya tapi tak bisa keluar, menumpuk, menekan paru-paru sampai gepeng, dan—kalau dibiarkan—akan menekan jantung sampai berhenti. Ranu tahu kondisi ini. Ia juga tahu ini salah satu dari sedikit hal yang, kalau benar dikerjakan di tempat, bisa menyelamatkan nyawa dalam hitungan detik; kalau salah baca, bisa membunuh.
"Cempaka!" Ranu memanggil, suaranya tegas tapi tidak panik. "Aku perlu kamu konfirmasi. Sisi kanan, suara napas hilang, hipersonor, dia makin sesak."
Cempaka memanjat, memeriksa dengan cepat, mendengarkan. Wajahnya mengeras. "Sepakat. Tekanan di rongga dada. Dia nggak akan sampai rumah sakit kalau nggak dilepas tekanannya."
Ini keputusan beberapa detik dengan informasi setengah—persis seperti yang selalu jadi pekerjaan Ranu. Ia tidak boleh mendiagnosis akhir; ia bukan dokter. Tapi ia adalah satu-satunya orang antara lelaki ini dan kematian dalam dua menit ke depan. Protokol mengizinkannya melepas tekanan udara itu di lapangan. Ia menyiapkan alat, menemukan titik di antara iga, membersihkan kulit, dan—dengan tangan yang, seperti biasa, tidak gemetar—menusukkannya tepat.
Desis. Udara yang terjebak keluar. Dan di depan matanya, perubahan itu terjadi: dada lelaki itu yang tadi seperti dipenjara mulai bergerak lebih lega, warna birunya pelan-pelan surut, matanya yang penuh teror mulai melunak saat udara akhirnya masuk ke paru-parunya. Ia menarik napas dalam—napas pertama yang benar-benar napas.
"Sekarang kita keluarkan dia," kata Ranu. "Pelan. Jaga lehernya."
Mengeluarkan lelaki itu dari kabin ringsek butuh tenaga semua orang—warga membantu menahan pintu yang macet, mengganjal, mengangkat. Mereka memasangkan penyangga leher, papan, lalu memindahkannya ke brankar dan ke dalam ambulans. Korban-korban lain ditangani bergiliran; yang ringan dipersilakan dibawa keluarga atau menunggu unit lain, sementara Sangkala Satu mengambil yang paling kritis.
Lalu dimulailah bagian yang Ranu benci: keluar dari sini.
Macet sudah menebal jadi tembok. Ke arah rumah sakit terdekat yang siap—Karyahusada lagi—jalan utama benar-benar mati. Pak Sulastomo menggeram di kursi sopir. "Jalan besar nggak bisa. Kita lewat dalam." Ia membelokkan ambulans ke gang kampung, jalur yang tak akan pernah dipilih sopir waras, lewat di belakang deretan rumah, menyerempet pagar, sirene menjerit memohon jalan dari warga yang menyingkir kaget. Trotoar, gang, lalu jalan tembus yang cuma diketahui orang yang sudah empat puluh tahun di kota ini.
Di belakang, Cempaka menjaga lelaki itu, memantau napasnya yang kini stabil. Gevira memegang infus, matanya tak lepas dari monitor. Ambulans terguncang-guncang di jalan gang yang buruk, tapi ia bergerak—dan bergerak, di jam ini, adalah kemenangan.
Ranu menatap punggung kota dari kursi penumpang depan: gang-gang sempit, kabel kusut, rumah-rumah yang menempel satu sama lain. Kota ini, pikirnya, adalah pasien terbesarku. Sakit, sesak, tumbuh terlalu cepat sampai tak bisa bernapas sendiri. Dan setiap hari kami berusaha menusukkan jarum kecil ke dadanya, melepas sedikit tekanan, satu nyawa pada satu waktu, tahu betul bahwa besok ia akan sesak lagi.
Mereka sampai di Karyahusada. Lelaki itu hidup. Untuk hari ini, di tikungan seribu klakson, mereka mengalahkan kota.
Tapi Ranu tahu kota tidak pernah benar-benar kalah. Ia cuma menunggu.