Hajatan pernikahan di Kampung Sukamulya seharusnya jadi hari paling bahagia.
Lalu, satu per satu, tamu mulai muntah.
Panggilan masuk sebagai "beberapa orang keracunan makanan", tapi saat Sangkala Satu sampai, angka itu sudah berlipat. Tenda hajatan berubah jadi pemandangan yang mengerikan: belasan orang—tua, muda, anak-anak—terkapar atau terduduk lemas, muntah, sebagian memegang perut kesakitan, beberapa mulai pucat dan dingin. Tuan rumah panik, tamu yang masih sehat berlarian tak tahu harus apa.
Ranu turun dan langsung menghitung. Ini bukan satu pasien; ini banyak pasien sekaligus dengan satu ambulans. Aturannya berubah. "Gevira," katanya tegas, "hari ini kamu belajar hal yang nggak diajarin di buku. Kalau pasien banyak dan tangan sedikit, kamu nggak nyelamatin yang paling dekat. Kamu pilih yang paling butuh, dan kamu tega sama yang lain. Itu namanya triase. Berat, tapi itu yang nyelamatin paling banyak nyawa."
Gevira menelan ludah, wajahnya pucat melihat lautan orang sakit. "Saya... mulai dari mana?"
"Dari yang diam." Ranu menunjuk. "Yang teriak-teriak, yang muntah keras-keras, itu jalan napasnya aman, dia masih kuat. Yang bahaya itu yang diam, yang lemas, yang nggak respons. Kita ke mereka dulu."
Mereka membagi tugas. Cempaka mengambil satu sisi tenda, Ranu sisi lain, Gevira mengikuti Ranu sambil belajar. Ranu bergerak cepat dari satu tubuh ke tubuh berikutnya, menilai dalam hitungan detik: yang ini sadar, kuat, beri cairan, tunggu; yang ini lemas tapi stabil, awasi; yang ini—seorang nenek—dingin, lemas, hampir tak respons, nadi cepat dan tipis. Tubuhnya kehilangan terlalu banyak cairan dari muntah dan diare hebat, mendekati syok.
"Ini prioritas," kata Ranu. "Gevira, pasang infus, cairan cepat. Aku ke yang lain dulu, kamu pegang yang ini."
Untuk pertama kali, Gevira ditinggal sendiri dengan pasien kritis. Ranu melihat dari sudut matanya—tangan anak itu gemetar, keringat di dahinya. Ia memasang torniket, mencari pembuluh di lengan nenek yang dingin dan kolaps. Tusukan pertama gagal. Kedua gagal. Pembuluh yang sudah ciut karena kekurangan cairan memang paling sulit, bahkan untuk yang berpengalaman. Tapi Gevira mulai panik, dan dalam paniknya ia membuat kesalahan: ia hendak memberi cairan lewat jalur yang belum benar-benar masuk pembuluh, terburu-buru.
Ranu melihatnya sepersekian detik sebelum terjadi. "Gevira, STOP."
Anak itu membeku.
Ranu mendekat, menurunkan suaranya. "Jalurmu belum masuk. Lihat, cairannya nggak lancar, ada bengkak kecil di sini—itu masuk ke bawah kulit, bukan ke pembuluh. Kalau kamu paksa, cairannya nggak sampai ke mana-mana, dan kamu kira dia sudah dapat cairan padahal belum. Itu yang bahaya—kamu merasa sudah menolong, padahal pasien tetap kosong." Ia tidak membentak. Nadanya tenang, seperti guru, bukan hakim. "Tarik. Kita ulang. Pelan."
Ia memegang lengan Gevira, menstabilkan tangannya yang gemetar seperti yang pernah ia lakukan di hari pertama. "Rasakan pembuluhnya dulu. Jangan lihat, rasakan. Tarik napas. Sekarang." Tusukan ketiga, dengan tangan Ranu sebagai jangkar di bawah tangan Gevira, masuk. Darah balik di selang—tanda benar. Cairan mengalir lancar.
Gevira mengembuskan napas yang ia tahan terlalu lama. Matanya berkaca, bukan karena takut lagi tapi karena beratnya kesadaran: ia hampir saja membuat kesalahan yang bisa membunuh.
"Hampir," bisik Gevira. "Saya hampir..."
"Tapi nggak," potong Ranu. "Itu bedanya. Kamu berhenti pas aku bilang berhenti. Itu yang bikin kamu bisa jadi orang lapangan. Yang nggak bisa diajar itu bukan teknik—teknik bisa dilatih. Yang nggak bisa diajar itu kemauan berhenti dan ngaku salah sebelum salahmu jadi nyawa."
Selama dua jam berikutnya, mereka bekerja tanpa henti. Sangkala Satu mengangkut pasien dalam beberapa gelombang—yang paling kritis lebih dulu, sisanya menunggu di tenda dengan infus dan pengawasan, beberapa diangkut kendaraan warga yang dikoordinasi Cempaka. Bu Harni di radio mengatur penyebaran ke beberapa fasilitas sekaligus, agar tidak menumpuk di satu pintu. Tidak ada yang mati. Nenek yang hampir syok itu pulih cukup untuk dirujuk dengan aman. Sebuah kemenangan yang dibayar dengan keringat dan tangan yang gemetar dan satu kesalahan yang ditebus tepat waktu.
Malam itu, kembali di pos, kru duduk kelelahan. Pak Sulastomo menyeduh kopi untuk semua. Gevira duduk di pojok, masih memutar ulang kejadian di kepalanya.
"Anak baru," panggil Pak Sulastomo. "Sini." Ia menyodorkan kopi. "Saya empat puluh tahun di jalan. Kamu tahu apa yang paling saya pelajari? Bukan cara nyetir. Tapi cara jaga orang di sebelah saya. Kru itu keluarga. Di luar sana semua lawan kita—macet, jarak, pintu rumah sakit yang ketutup. Yang kita punya cuma satu sama lain."
Cempaka, yang jarang melunak, ikut bicara. "Tadi kamu hampir salah. Tapi kamu nggak nutupin. Kamu nggak bohong, nggak pura-pura sudah benar. Itu yang bikin kami bisa percaya kamu. Orang lapangan yang nutupin kesalahan, itu yang bahaya. Bukan yang gemetar."
Ranu mendengarkan dari sudut, menyeruput kopinya. Ia memandang krunya—Cempaka yang tajam, Pak Sulastomo yang sebentar lagi pergi, Gevira yang baru mulai, Bu Harni yang suaranya menjaga mereka semua dari balik radio. Lalu ia teringat sebuah pertanyaan tua yang tak pernah punya jawaban. Mereka menjaga seluruh kota yang sekarat ini setiap hari. Tapi siapa yang menjaga mereka? Saat salah satu dari mereka roboh—dan suatu hari pasti ada yang roboh—siapa yang akan datang dengan sirene?
Ia menyimpan pertanyaan itu, seperti ia menyimpan banyak hal, dan ikut tertawa pada lelucon gelap yang dilempar Cempaka. Karena tawa, malam ini, adalah cara mereka menjaga satu sama lain.