*****
Wawondula - Sulawesi Selatan, pertengahan tahun 2008
-Lathifah pov-
Ngiiung...ngiiuung....ngiiuuungg...
Plak!
Aku menepuk lengan kiriku -lebih tepatnya nyamuk gendut yang tengah asyik menyedot darah di atas lenganku- kasar, lalu menarik seprei besar -yang kugunakan sebagai selimut- hingga menutup seluruh tubuhku.
Ddrrrrttt...
Ddrrrrttt...
'Kukkuruyyuuukkk! Kukkuruyyuuukk! Kukkuruyyuuukk!'
"Haaaahhh!" Aku mendesah kesal di balik sprei besar berwarna merah marun itu, baru saja aku akan melanjutkan mimpi indahku kemping di atas bukit Teletubbies tadi, alarm dari ponsel 'tulalit' Bapak sudah berdering panjang, memaksaku bangkit ke ruang tengah, mengangkat baskom stainless di depan TV kemudian mematikan alarm menyebalkan itu kesal.
Bapak memang sengaja meletakkan ponsel Beliau di bawah baskom stainless agar bunyi alarm semakin nyaring.
Aku mengucek mata kiriku sambil menguap lebar.
Huh, sepertinya aku baru saja tertidur beberapa menit lalu, kenapa jam sudah menunjukkan pukul 03.00 dini hari?!
Aku kembali menyeret langkahku -malas- menuju kamar tidurku.
Apa aku akan melanjutkan mimpi indahku tadi? Tentu saja tidak!
Aku mengambil handuk biru yang tergantung di belakang pintu kamar, kemudian berjalan ke pintu belakang rumah tanpa menyalakan satu pun lampu di rumah sederhana kami. Aku membuka pintu kayu tua dihadapanku pelan, takut membangunkan orang lain karena berisik.
Meskipun dibangun menempel pada dapur, kamar mandi keluarga kami secara teknis terpisah dari rumah utama, jadi kami harus keluar rumah jika ingin menggunakan kamar mandi.
Aku berhenti sejenak sebelum memasuki kamar mandi gelap di depanku. Uh, kapan lampunya akan dipasang?
Setelah membaca doa, aku mengarahkan kaki kiriku ke dalam kamar mandi itu, menarik napas dalam-dalam, kemudian mandi dengan cepat, tubuh kecilku menggigil karena cuaca dan air yang begitu dingin.
Aku mengatupkan bibirku keras, menahan suara gemetaran dari deretan gigiku akibat kedinginan.
Aku meraih handukku secepat kilat setelah selesai mandi dan berwudhu, kemudian berlari sambil berjinjit menuju kamar tidurku, mengeluarkan seragam sekolahku lalu memakainya cepat setelah mengoleskan minyak kayu putih ke perut dan punggungku sebelumnya.
Selesai!
'Ctak!'
Aku menyalakan lampu ruang tengah, membangunkan Bapak kemudian mengambil mukenah dari lemari triplek buatan bapak di sudut ruangan, lalu memakainya gesit.
Bapak bagun dengan cepat, membangunkan semua orang di rumah kemudian menuju kamar mandi, sementara aku kembali ke kamar untuk sholat tahajjud.
Begitulah aku memulai hari sejak usiaku menginjak 8 tahun, biasanya Bapak adalah orang pertama yang akan bangun setiap hari, kemudian berkeliling rumah membangunkan kami semua untuk sholat tahajjud, tapi karena setelah subuh nanti kami masih memiliki jadwal tanpa tolerir, aku akhirnya memaksakan diri untuk bangun dan mandi sebelum subuh, setiap hari, kecuali haru Minggu.
Ah, baiklah, sebenarnya alasan utamanya karena Bapak memujiku habis-habisan di depan Kak Sima dan Fadhilah ketika aku bangun lebih dulu dari semuanya tanpa sengaja ketika itu, jadilah aku melanjutkan rutinitasku seperti itu selama bertahun-tahun setelahnya. Well, Bapak sangat jarang memuji, tentu saja kami harus berusaha keras untuk mendapatkannya.
*****
Kami duduk membentuk halaqoh (lingkaran) setelah sholat subuh berjama'ah. Membuka mushaf dan mulai membaca surat Yasin, Ar-Rahman, dan Al-Waqi'ah bersama-sama.
Kak Sima dan Fadhilah membaca dengan serius, berbeda denganku yang enggan membuka mushaf, membaca tulisan Arab yang tak kumengerti artinya itu membuatku semakin mengantuk, jadilah aku membacanya dengan hafalanku.
Kami semua memang sudah menghafal surat-surat di atas sejak TK, karena terbiasa membacanya setiap hari.
Ah, aku hampir lupa memperkenalkan diri, namaku Lathifatul Qalby, usiaku 9 tahun saat ini, karena aku lahir di akhir tahun.
Aku anak ke-3 dari 4 bersaudara -untuk saat ini- , kakak pertamaku bernama Mu'tasimah Billah berusia 3 tahun lebih tua dariku, ia cantik, feminim, pintar, dan penyayang. Kakak kedua ku bernama Muhammad Abu Bakar, berusia setahun lebih tua dariku, aku akan menceritakan segala hal tentangnya secara perlahan, ah, mungkin aku harus membuat season lain untuknya, cerita tentangnya sangat panjang, yang jelas, saat ini aku membencinya! Adik bungsuku bernama Fadhilah Alhaafidzah, kami terpaut usia 2 tahun, karenanya kami sangat dekat, Fadhilah sangat cantik, ia memiliki kulit putih tanpa cela, rambut sehalus sutera dan tubuh semampai, dia juga sangat cerdas di sekolah.
Mengenaiku, tidak ada yang spesial, aku hanya bocah perempuan berusia 9 tahun dengan tubuh pendek dan sedikit berisi, juga rambut ikal sepinggang berwarna kemerahan -karena terik matahari- yang selalu kuikat tinggi-tinggi karena kepanasan.
***
Cetak!
Aku mengerjapkan mataku beberapa kali -kaget-
'Wa ani' buduunii...haadzaa shiraathum mustaqiim...'
Samar-samar, kudengar lantunan surat Ya-Sin yang dibaca secara Tartil oleh orang-orang di sekelilingku, aku melirik Kak Sima dan Fadhilah yang membaca mushaf di atas pangkuan mereka serius, kemudian menggerakkan bibirku cepat, mengikuti bacaan mereka sambil menunduk, menghindari tatapan tegas Bapak yang duduk -dengan tasbih berwarna putih gading yang tadi digunakannya untuk 'membangunkanku'- di hadapanku.
Well, membaca beberapa surat dalam Al-Qur'an secara tartil -perlahan-lahan- di waktu subuh memang cukup berat untuk anak seusia kami, apalagi jika kalian bangun 2 atau 3 jam sebelum adzan subuh dikumandangkan.
Dan aku adalah orang yang paling sering ditegur Bapak karena tertidur di tengah rutinitas setelah subuh kami.
Kami selesai membaca surat-surat tersebut 30 menit kemudian.
Mamak bergegas ke dapur, menghidupkan dua tungku di atas meja, mulai menanak nasi, sementara aku dan kedua saudariku berpencar di ruang tamu, duduk asal di pojok-pojok ruangan dengan mushaf di pangkuan masing-masing, mulai menghafal ayat per ayat di lembaran mushaf lusuh tersebut untuk nanti disetorkan ke Bapak sebelum sarapan dan berangkat ke sekolah.
Bapak tetap duduk di atas sajadahnya, membaca Al-Quran sambil menunggu kami setoran.
Jika kalian bertanya dimana kakak lelakiku, dia tidak tinggal bersama kami sejak bayi karena suatu alasan. Jadi, hanya kami bertiga -setidaknya untuk saat ini- yang tumbuh dengan segala aturan ketat Bapak di rumah.
Kak Sima adalah yang pertama maju untuk setoran pagi ini, dia menyerahkan mushafnya pada Bapak kemudian duduk memejamkan matanya sambil mulai melafalkan ta'awudz dan ayat-ayat setelahnya.
Setoran hafalan di pagi hari adalah sesuatu yang paling menyebalkan menurutku, Bapak adalah tipe perfeksionis mengenai tajwid dan segala hal mengenai bacaan Al-Quran, karenanya, selain harus sangat memperhatikan tanda baca dan hukum tajwid ketika kami menyetorkan hafalan kepada Beliau, pengaturan nafas dan nada bacaan juga harus sesuai standar nasional.
Sejak Bapak muda, Beliau sudah mengikuti berbagai kegiatan lomba mengaji dan menghafal Al-Quran, kami menyebutnya MTQ -Musabaqoh Tilawatil Quran- dan karena suatu kebetulan yang menjengkelkan, Bapak tiba-tiba memutuskan untuk melatih kami semua untuk mengikuti jejak Beliau. Karenanya, kehidupan kami di rumah sebenarnya lebih ketat dari pondok pesantren manapun. Sejujurnya, kehidupan masa kecilku cukup membosankan, tapi tidak ada pilihan lain bagi kami selain berbakti kepada kedua orang tua dengan merealisasikan harapannya tersebut.
Kak Sima selesai dengan setorannya 15 menit kemudian, dilanjutkan dengan Fadhilah yang juga menyelesaikan setorannya 2 menit lebih cepat, sementara aku mengetuk-ngetuk keningku kesal,
'ah, kenapa ayat ini sangat sulit dihafal?!'
Fadhilah melirikku dengan ekor matanya, menginstruksikanku untuk segera maju karena tak mau telat seperti kemarin.
Desa kami memang desa dengan mayoritas warga muslim, namun, beberapa tetangga dengan keyakinan berbeda di lingkungan kami melihara cukup banyak anjing yang dibiarkan bebas berkeliaran, karenanya aku selalu takut berangkat sekolah sendrian dan memohon pada Fadhilah untuk terus berangkat bersamaku sampai hari kelulusan, meskipun sekolah kami hanya berjarak 100 meter dari rumah.
Aku menyeret langkahku menuju tempat duduk Bapak, meletakkan mushafku di atas rehal -bangku kecil tempat meletakkan mushaf- di hadapan Beliau, kemudian mulai menyetorkan hafalanku.
Ayat pertama dan kedua kulalui dengan sempurna, Bapak masih memejamkan matanya sambil mendengarkan.
'Ah, bagaimana ini?! Aku bahkan hanya bisa menghafal 2 ayat pagi ini karena tidak konsen'
pikiranku berkecamuk.
"Waidzaa tawallaa sa'aa fil ardho.."
Tak!
Bapak mengetuk meja dengan telunjuknya, cara khas Beliau ketika menegur kesalahan bacaan kami.
Aku mengerutkan kening, berpikir keras.
"Waidzaa tawallaa sa'aa fil ardhi liyufsidaka..."
Tak!
Bapak membuka mata, menatapku -yang semakin menunduk- datar.
"Waidzaa tawallaa sa'aa fil ardhi liyufsida fiihaa..." Bapak membetulkan.
Aku menarik nafas, kemudian mengulang bacaanku.
"Waidzaa tawallaa sa'aa fil ardhi liyufsida fiihaal 'hartsa..."
Tak!
Bapak menutup mushafku kasar.
"Ini kan dari kemarin, masa' sampe sekarang belum lancar-lancar?!" Omel Bapak kesal.
Aku menunduk semakin dalam, omelan Bapak tidak pernah singkat. Ah, Fadhilah pasti akan mengomel sepanjang jalan nanti karena kembali terlambat.
"Yang serius makanya kalo menghafal! Orang itu kalo mengantuk subuh-subuh, berarti dikencingi matanya sama setan! Masa' dikalah ko sama adekmu, dia saja bisa na hafal ini halaman, na sama ji setoranmu dua orang!"
(Yang serius makanya kalo ngafal! Orang kalo subuh masih ngantuk tuh, berarti matanya dipipisin setan! Masa kalah sama adek sendiri, dia aja bisa hafal halaman ini, kalian kan sama setorannya..). Ujar Bapak melanjutkan omelannya.
"Kan sudah sering Bapak bilangi ko, konsentrasi itu kalo mau mulai menghafal, jangan sedikit-sedikit ngantuk, sedikit-sedikit cerita, kapan pale' selesai itu hafalanmu kalo begitu caramu?"
(Kan Bapak udah sering bilang, konsentrasi pas kamu mau mulai ngafal, jangan dikit-dikit ngantuk, dikit-dikit ngobrol, kalo kayak gitu terus, kapan mau selesai hafalannya?). Lanjut Bapak, menaikkan nada suaranya.
Aku memainkan jari-jariku dibalik mukenah parasut berwarna biru, jengah mendengar ceramah Bapak yang selalu sama.
Mamak tiba-tiba datang, mengantar segelas teh hangat dan sepiring pisang goreng.
"Sudah jam 7 mi," ucapnya pelan, tapi masih terdengar oleh Bapak.
Mamak kembali ke dapur, sementara Bapak menghela nafas kesal. Beliau menyeruput teh hangatnya pelan, kemudian menyuruhku sarapan dan bergegas ke sekolah.
Aku bagkit secepat kilat, mengambil mushafku lalu mencium punggung tangan kanan Bapak -tradisi kami setelah setoran- kemudian berjalan tergesa ke dapur.
*****