*****
Di dapur Fadhilah meletakkan piring kotornya sambil merengut, aku melayangkan tatapan sok sedihku padanya, yang dibalas dengan lirikan tajam.
"Kutinggalkan ko itu kalo lama!"
(Kalo lama aku tinggal!).
Ancamnya sambil berjalan menuju kamar tidur kami.
"Jangaaaannn!" rengekku sambil memasukkan sesuap besar nasi k mulutku.
"Mak, ndak kuhabiskan nasiku' lee', na tinggalkan ka' nanti Fadhilaaah ...."
(Ma, makanannya gk aku habisin ya, ntar Fadhilah ninggalin akuu).
Ucapku setelah suapan kedua.
"Kelaparan ko nanti di sekolah, bawa bekal saja' lee'?"
(Ntar kelaperan loh, di sekolah. Bawa bekal aja ya?) Mamak bertanya khawatir dari dapur.
"Bawa pisang goreng bammi saja' pale'...."
(Bawa pisang goreng aja kalo gitu). Jawabku sambil mengambil tas di kamar.
-Lathifah pov end-
"Kakak Lathiiii?! Cepat koo!"
(Kak Lathii, cepetan!).
Fadhilah berteriak memanggil Lathifah dari depan rumah 5 menit kemudian.
"Sebentaaar!" sahut Lathifah sambil menyerahkan sisir ikat rambut berwarna biru langit pada Mamak.
Ia memang belum bisa mengikat rambutnya dengan rapi, jadi Mamaklah yang setiap pagi mengikatkan rambutnya sebelum berangkat ke sekolah.
"Sudah, hati-hati ...." ucap Mamak setelah selesai mengikat rambut Lathifah.
"Iyee', assalamu'alaikum..." pamit Lathifah mengecup punggung tangan kanan Mamak, kemudian berlari ke luar rumah.
Mamak turut mengantar ke depan rumah.
Di depan rumah, Fadhilah menunggu di atas motor dengan wajah masam. Hari itu, Bapak mengantar mereka ke sekolah.
Lathifah sekali lagi mengucap salam, kemudian duduk di belakang Bapak.
Motor tua berwarna hitam itu melaju sedang di jalan kampung yang mulai sepi.
"Terlambat mi ki' itu..."
(Telat kan kita,). Fadhilah mengomel di tempat duduknya.
Lathifah hanya diam mendengarkan.
"Ndak mau ka' tunggui ko lagi hari Senin pokoknya,"
(Aku gak mau tungguin kamu lagi hari Senin pokoknya,) lanjutnya kesal.
Mereka tiba 2 menit kemudian, gerbang sekolah memang belum ditutup, tapi para siswa sudah berbaris rapi di depan kelas masing-masing.
Lathifah meloncat turun, menyalami Bapak kemudian menyusul Fadhilah yang sudah berlari duluan memasuki gerbang sekolah.
'syukurlah hari ini mereka tidak terlambat lagi'.
*****
"Ciee, ndak terlambat toda' ..."
(Ciee, gak telat....) goda Indah begitu Lathifah mengambil antrian di belakangnya.
Lathifah memukul bahu sahabatnya itu pelan, pura-pura kesal, keduanya tertawa.
Lathifah memang sering terlambat akhir-akhir ini, apa lagi kalau bukan sistem setoran hafalan tiap pagi itu penyebabnya.
Di malam hari, dirinya harus memuroja'ah -mengulang- hafalan lamanya sedikitnya 1/2 juz, tidak ada belajar malam kecuali untuk mengerjakan PR di rumahnya, menghafal hafalan baru dimulai keesokan paginya, dan karena dirinya sulit berkonsentrasi, ditambah sikap perfeksionis Bapak ketika menerima setoran mereka, kata terlambat ke sekolah tidak bisa terelakkan.
Sedikit kejam memang, tapi di masa depan, hari-hari itulah yang selalu disyukuri Lathifah dan saudara-saudaranya.
Beruntung sekolah di daerahnya pada masa itu tidak begitu ketat terhadap keterlambatan, jika tidak, mungkin dirinya sudah diberi SP 2 sejak dulu.
*****
Siang harinya, sepulang dari sekolah dan mengganti pakaian, ketiga bersaudara itu makan bersama di depan televisi.
Menonton kartun di salah satu saluran TV favorit mereka.
"Mu liat ka pohon manik-manik di dekat pasar?"
(Kamu liat pohon manik-manik di Deket pasar gak?) Sima bertanya pada Lathifah tiba-tiba.
Bocah dengan kuncir kuda itu mengangguk tanpa menoleh, masih serius menonton film kartun Snow white yang sejak kemarin ditunggunya.
"Kalo pergi ko ke pasar hari Sabtu, ambilkan ka' itu manik-manik lee' ...."
(Kalo hari Sabtu kamu ke pasar, ambilin manik-manik itu ya, buat aku ....) pinta Sima, Lathifah memandangnya dengan sebelah alis terangkat.
"Mo ko bikin apa?"
(Mau bikin apa?) tanyanya.
"Mo ka' berbisnis ...."
(Aku mau bisnis) jawab Sima tanpa ragu.
Lathifah menepuk jidatnya tak habis pikir.
'Hmm, kakaknya itu memang suka berkreasi, meski semua usahanya sejauh ini selalu tanpa hasil...'.
*****
Bapak dan Mamak selalu mengajarkan untuk berhati-hati terhadap barang-barang yang tidak jelas pemiliknya. Sejak kecil, mereka selalu diceritakan pedihnya siksa neraka dan betapa menakjubkannya kehidupan di surga, serta bagaimana bersikap sebagai seorang muslim yang taat.
"Bukan ji ka punyanya orang itu manik-manik?"
(Manik-manik itu bukan punya orang emang?) tanya Lathifah beberapa detik kemudian.
Sima menggelengkan kepalanya yakin.
"Tumbuh liar itu, na kasi tau ka' temanku', ndak papa ji katanya diambil, karena dibabat terus ji ....".
(Kata temen aku, itu tumbuhan liar, gapapa diambil, soalnya selalu dibabat dan dibuang). Jelasnya, Lathifah manggut-manggut mengerti.
Mereka selesai menonton kartun Snow White 15 menit kemudian. Ketiganya bergegas mencuci piring kotor mereka, lalu ke kamar untuk tidur siang.
"Ndak libur ka nanti anak mengaji?"
(Ntar anak TPA -Taman Pendidikan Al-Quran- gak libur?) tanya Lathifah sambil naik ke atas tempat tidur.
"Ndak kayaknya, pulang ji nanti sore Mamak sama Bapak".
(Gak kayaknya, ntar sore Mamak sama Bapak juga bakal balik). Sima yang tidur di ranjang di sebelahnya menjawab dengan mata terpejam.
"Ish ..." Lathifah menggerutu pelan, dia benci mengajar anak-anak sebayanya mengaji.
Di keluarga mereka, Bapak menanamkan pendidikan qurani sejak dini, mereka semua mulai belajar membaca iqra' di usia 2 tahun, tidak mengherankan jika sebelum menyelesaikan pendidikan di taman kanak-kanak, ketiganya telah fasih membaca Al-Quran dengan pengaturan pernafasan dan irama yang baik. Karena itulah setiap sore mereka turut membantu Bapak dan Mamak mengajar ratusan anak yang dikirim orang tua masing-masing untuk belajar membaca Al-Quran di rumah mereka. Dan well, untuk anak seusia Lathifah, mengajar anak-anak lain tentu saja bukan hal yang menyenangkan.
Lathifah melirik Fadhilah yang sudah terlelap di sebelahnya, kemudian turut memejamkan matanya. Biasanya, mereka berdua akan kabur melalui jendela kamar di waktu tidur siang -demi menghindar dari kewajiban mengajar- dan akan kembali sore hari ketika anak-anak TPA sudah pulang, tapi karena Fadhilah sudah tidur, Lathifah jadi mengurungkan niatnya untuk bermain bola siang ini bersama para bocah laki-laki di lapangan sepakbola desa seperti yang kerap kali mereka lakukan ketika kabur.
Yeah, kabur sendiri tentu tidak seseru saat bersama teman.
*****
"Lathifah? Banguun! Sudah adzan mii...".
(Lathifah? Bangun! Udah adzan..) panggil Sima, menggoyang-goyangkan lengan Lathifah.
"Sholat ashar! Banyak mi anak mengaji di luar, cepat ko!".
(Buruan sholat ashar! Di luar udah banyak anak-anak) ucap Sima sambil menarik kedua tangan adiknya itu sampai terduduk di atas ranjang, bocah itu masih memejamkan matanya.
Fadhilah masuk kamar dengan mukenah di tangan kanannya.
"Kakak Lathiii, cepat ko banguun! Ndak jadi ki' ka nanti main karet?"
(Kakak Lathiii, cepetan banguun! Ntar kita gak jadi main karet?) tanyanya sambil mengenakan mukenah, bersiap untuk sholat.
Lathifah membuka matanya enggan, sebenernya ia ingin berpura-pura tak mendengar dan melanjutkan tidur siangnya, tapi jika begitu, dia tidak akan bisa bermain karet bersama teman-temannya sore ini.
Bocah 9 tahun itu menyeret langkahnya ke jendela kamar, menatap malas anak-anak rajin yang selalu datang sebelum adzan ashar dikumandangkan.
*****
Ruang tamu berukuran sedang itu kini dipenuhi anak-anak berusia 6-13 tahun yang tengah mengantri untuk belajar mengaji.
Dua kipas angin di pojok ruangan tampaknya tidak berpengaruh sama sekali terhadap mereka, pertengahan tahun ini hujan jarang sekali turun, membuat beberapa daerah di Sulawesi Selatan dilanda kekeringan. Beruntung desa mereka berada di kawasan pengunungan, meskipun cuaca terik tak dapat dihindari, air masih melimpah ruah disana.
Tek! Tek! Tek!
Sima berdiri sambil mengetuk papan tulis putih dengan spidol, meredakan suasana bising sesaat.
"Kalo sudah selesai, langsung keluar lee' ... Biar ndak sempit sekali disini.".
(Kalo udah selesai langsung keluar ya, biar gak sempit banget....) pintanya.
"Iyeee'...."
(Iyaaa) anak-anak menjawab serentak.
Lathifah melemparkan pandangannya pada jam dinding berwarna putih gading di ruang tengah, sudah hampir pukul 17.00, Bapak dan Mamak belum juga kembali, di depannya antrian anak-anak yang menunggu giliran mereka masih sangat panjang, bocah itu menghela nafas pelan, pupuslah harapannya untuk bermain karet sore ini.
*****
45 Menit kemudian, rumah dengan cat krem itu tampak sepi, hanya ada 2 bocah laki-laki yang tengah diajar oleh Sima dan Lathifah, sementara Fadhilah sudah lebih dulu berlari ke tanah lapang di pekarangan posyandu di samping rumah mereka setelah menyelesaikan 'tugasnya'.
Saat kedua bocah itu mengucap kalimat tashdiq (Shodaqollaahul 'adziim), seseorang tiba-tiba masuk tanpa salam.
"Astagfirullaaahal'adziiiimm! Darimana bang ko itu kau Pami?"
(Astagfirullaaahal'adziiiimm, dari mana aja kamu Pami?) Sima bertanya kesal, yang ditanya malah cengengesan, bergerak santai membuka iqra'.
Itu Fahmi, anak-anak sering memanggilnya Pami, karena mayoritas penduduk desa menganggap huruf 'F' sedikit sulit diucapkan, beberapa orang dengan huruf tersebut di namanya selalu dipelesetkan sedikit menjadi huruf 'P' seperti Fadhilah menjadi Padhilah, Lathifah menjadi Lathipah, dan lain sebagainya.
Lathifah menyusun rehal yang tergeletak sembarangan, berusaha tak peduli pada Pami.
Mereka teman sekelas tahun lalu, tapi karena Pami nakal, dia beberapa kali ketinggalan kelas dan menjadi semakin tak terkendali.
Terakhir, ketika mereka sekelas, Lathifah harus turut ke ruang guru untuk menjadi saksi perkelahian di kelasnya karena Pami menusuk lengan teman sekelas mereka yang mengejeknya bodoh dengan pulpen pilot miliknya -Lathifah- hingga berdarah dan tampak tidak menyesal sedikitpun.
Sejak hari itu, Lathifah selalu berusaha menghindar dari bocah yang dua tahun lebih tua darinya itu.
*****