Cahaya Matahari terasa hangat pagi itu, terlihat beberapa orang sedang berjemur ditaman Rumah Sakit, tampak juga beberapa anak sangat ceria bermain dibawah sinar mentari. tapi tidak dengan pemuda satu ini dia tidak terlihat hangat, tangannya dia tautkan satu sama lain duduk membungkuk dengan kaki yang tidak hentinya dia hentak hentakkan ke lantai rumah sakit matanya menatap tajam ke arah depan dengan tatapan kosong, sesekali mengadah keatas membuang nafas dengan kasar.
flasback on
seorang lelaki paruh baya terbaring di ranjang rumah sakit dengan alat yang banyak menempel dibadannya, dia hanya ditemani seorang pemuda diruangan itu
"Abi, papah ingin mengatakan sesuatu" laki laki paruh baya itu mengambil nafas panjang sebelum melanjutkan. "dulu papah memiliki seorang sahabat, dia adalah sahabat papah yang paling baik, dia selalu membantu papah, saat papah mengalami kesusahan" dia tersenyum mengingat sahabatnya, dan membuang pandangannya ke atap ruangan. "dia telah meninggal karena kecelakaan 10 tahun yang lalu. dia memiliki seorang putri usianya 6 tahun lebih muda dari kamu, karena Rasyid tidak langsung diberikan kepercayaan setelah menikah jadi usia anaknya berbeda dengan anak anak papah walaupun kami menikah ditahun yang sama" terdengar kembali suara tarikan nafas sebelum melanjutkan "sebenarnya papah dan dia pernah terpikir sesuatu Abi,, karena kami tidak ingin hubungan diantara kami terputus, kami berpikir ingin menjadi besan" Haryanto kembali memandang Abimanyu
sontak itu membuat Abimanyu terkejut pasalnya dia hanya 2 bersaudara, sedangkan kakanya seorang perempuan, itu berarti yang dimaksud papahnya adalah dirinya
"tapi gak jadi kan pah?" tanya Abimanyu berharap
papahnya tersenyum "saat papah ingin mengatakan ini padamu, kamu malah mengenalkan Riana"
"syukurlah" Abimanyu bernafas lega
"tapi ketika papah tanya kapan Riana siap dilamar dia bilang dia belum siap jika belum lulus S2. kemudian setelah lulus S2 dia bilang, dia ingin berkarir dulu" sindir pak Haryanto. Abimanyu langsung menunduk. pasalnya Riana memang selalu bilang belum siap menikah padahal usia nya sudah menginjak 27 tahun dan Abi sudah 28 tahun.
"nanti akan ada waktunya Riana siap untuk menikah pah" bela Abimanyu
"kamu tahu Abi dengan penyakit papah yang semakin parah rasanya gak mungkin papah bertahan lebih lama lagi" Haryanto terkena penyakit pembengkakan jantung sejak 5 tahun lalu dan saat ini dokter bilang penyakitnya sudah parah
"papah jangan bicara kayak gitu" cegah Abi tidak suka papahnya bicara seperti itu.
"papah ingin menikahkan kamu dengan putri sahabat papah" ucapnya to the point
"pah Abi kan punya pacar pah" tolak Abi
"papah gak mau apa apa selain itu Abi, papah pernah bertemu dengannya, dia adalah gadis yang baik, tutur bahasanya sangat lembut walau pun bukan seorang mahasiswi dari universitas ternama tapi itu bukanlah standar kepintaran seseorang" ucap papahnya menceritakan gadis itu
"pah Abi gak tahu harus kayak gimana, Abi sayang sama Riana pah, Abi gak mungkin ninggalin dia dan menikah dengan orang lain" Abi tetap menolak
tidak ada jawaban dari Haryanto dia hanya diam dan melihat langit langit kamar, hanya suara nafas nya yang terdengar
flashback off
Abi mengusap kasar wajahnya mencerna semua kata yang papahnya ucapkan di UGD tadi.
"Abiii" teriak wanita paruh baya dari ujung koridor dia terlihat menangis, wajahnya pucat pasi
"ada apa mah?" tanya Abi yang tentu saja jadi panik melihat mamahnya.
"papah.. Abi, dokter bilang papah tiba tiba drop bagaimana ini Abi" tangisnya pecah dipelukan sang anak. Abi diam seribu bahasa, dia hanya memeluk ibu nya mencoba menenangkannya walaupun sebenarnya hatinya juga ikut takut terjadi sesuatu pada papahnya. Abi dan mamahnya menunggu didepan UGD untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya karena dokter sedang memeriksa didalam
"mamah, Abi.. bagaimana keadaan papah?" seorang perempuan disusul laki laki yang menggendong seorang anak berumur 2 tahun datang menghampiri dengan tergesa gesa. dia adalah Nuri kakak Abimanyu dan suaminya Riko. mereka langsung terbang dari Riau setelah mendengar kabar papahnya dirawat di Rumah Sakit. suaminya pekerja kontruksi yang sedang bertugas di Riau.
"papah ngedrop kak" jawab Abi dengan menunduk. sebenarnya dia berpikir apa karena penolakannya yang membuat papahnya drop.
"ya allah papah" Nuri menangis sambil memeluk mamahnya yang sedang menangis sedari tadi.
tidak lama pintupun terbuka "bagaimana keadaan papah saya dok?" tanya Nuri
dokter terlihat menarik nafas dengan berat "detak jantung pasien semakin lemah, kami sudah berusaha sebaik mungkin selebihnya serahkan pada yang maha kuasa." dokterpun berlalu meninggalkan mereka
*****
Haryanto terlihat sangat lemah dia hanya tersenyum melihat seluruh keluarganya berkumpul disana
"maaf..kan.. papah.. kalau... papah... ada... salah.. " ucapnya terbata bata
"gak pah, papah gak ada salah" jawab Aryanti istrinya dia menggenggam tangan suaminya
"pah cepet sembuh, Nuri mohon" susul Nuri yang ikut memegang tangan papahnya. Riko mengambil tangan Reno yang kecil dan ikut memegang tangan Haryanto. "kakek harus sembuh ya kek" ucap Riko. Haryanto semakin terharu. melihat dorongan semangat dari keluarganya. hening sejenak...
"Abi mau menikah dengan gadis itu pah" kalimat Abi membuat semua orang terkejut. tak terkecuali papahnya. dia pun tersenyum "terima...kasih.. Abi..., terima... kasih.." tidak bisa dipungkiri papahnya terlihat begitu bahagia mendengar itu. Abi hanya ingin melihat papahnya bahagia dia merasa selama ini belum bisa membuat orang tuanya bahagia, mungkin dengan sedikit pengorbanan bisa membuat orang tuanya bahagia.
"Riana maafkan aku" batinnya