sesuai keinginan Abimanyu dia ingin bertemu lebih dulu dengan gadis yang akan dia nikahi. setelah mendapat alamat dari papahnya akhirnya dia pergi kerumah gadis itu diantar kakak dan kakak iparnya. Abi duduk dijok belakang dengan memeluk Reno yang tertidur disampingnya, tangan lainnya sibuk memegang ponsel. sosok wanita cantik dengan rambut sebahu memakai kacamata terlihat menjadi wallpaper ponselnya "Riana aku tidak tahu bagaimana caraku menjelaskannya padamu, aku terpaksa menerima permintaan papah. kuharap kamu mau memaafkanku. aku mencintaimu, selalu, dalam hidupku" .
Nuri hanya sesekali menatapnya dari kaca depan, dia tahu apa yang membuat adiknya galau seperti itu. tapi memang tidak dipungkiri dia lebih setuju dengan papahnya, Riana hanya mementingkan cita citanya, mimpinya. dia selalu bilang perempuan juga harus sukses. padahal hubungannya dengan Abi sudah selama 5 tahun tapi tetap saja dia bilang belum siap untuk menikah.
perjalanan ketempat tujuan memakan waktu sekitar 4 jam. mobil sport hitam itu tiba dihalaman yang cukup luas, rumah sederhana bercat hijau dengan banyaknya tanaman bunga yang sepertinya dirawat dengan baik oleh pemilik rumah. entah kenapa Abimanyu tiba tiba saja merasa gugup, jantung yang tadinya tenang tiba tiba saja berdetak dengan cepat "haruskah aku benar benar melakukan ini?"
*****
04.30 WIB
seorang gadis terlihat sedang melipat mukena setelah menunaikan shalat subuh. diluar bahkan masih gelap tapi suara ayam terdengar saling menyaut satu sama lain seakan menantang datangnya fajar. diluar pintu, seorang wanita paruh baya dengan mukena yang masih dia pakai terlihat memasuki kamar.
"Zahra.."
"iya bun" gadis itu menengok dengan tangan yang sibuk memasang bros untuk membuat jilbabnya terlihat sempurna
"bunda mau bicara sesuatu" dia melangkah masuk kamar dan duduk ditepi ranjang
"bicara apa bun?" Zahra ikut duduk menghadap bundanya
terdengar Aminah mengambil nafas dalam dalam sebelum menjawab putrinya, ditatap putrinya, dibelainya kepala yang sudah tertutup dengan jilbab warna mint itu, sambil tersenyum dia berkata "putri bunda sudah dewasa ya, sudah mandiri, dan sangat cantik" pujinya
Zahra menyatukankan kedua alisnya, heran "bunda kenapa? kok tiba tiba muji Zahra, kan emang cantik dari dulu juga" dia menjawab sambil tersenyum, gigi gingsul membuatnya tambah lebih manis. Aminah tersenyum dan menggenggam kedua tangan putrinya
"kamu ingat? seorang lelaki yang memesan banyak kue saat maulid nabi kemarin?" (disusul anggukan kecil Zahra) "dia adalah sahabat ayah." (diam sejenak) "ayah dan sahabatnya dulu pernah berencana untuk menjodohkan anak anak mereka" (ditatap putrinya yang masih terlihat kebingungan) "awalnya bunda kira setelah ayahmu meninggal perjodohkan ini tidak diteruskan, tapi... semalam ibu Aryanti menelepon Bunda dia mengatakan bahwa pak Haryanto meminta putranya untuk menikah denganmu dan... dia bersedia" tangannya membelai wajah Zahra, dia tidak menyangka putrinya sekarang sudah tumbuh menjadi gadis dewasa dan mungkin sebentar lagi akan menjadi seorang istri.
"bunda serius?" Zahra sedikit tidak percaya pada pendengarannya. "maksudnya Zahra akan segera menikah begitu?" sebuah anggukan menjawab pertanyaan Zahra
"tapi bun, kok bisa? bahkan kita belum pernah bertemu loh. kok bunda tiba tiba mau menikahkan Zahra"
"maaf Zahra, bunda juga gak tau bakal seperti ini. semalam bunda dengar pak Haryanto sedang sakit. dokter bilang penyakitnya sudah parah dan kamu tahu? dia ingin mengabulkan keinginannya dengan ayah kamu yang belum terwujud yaitu menikahkan anak mereka" Aminah tidak berhenti membelai kepala Zahra, mencurahkan kasih sayangnya yang sangat besar. "dan insya Allah putra pak Haryanto adalah seorang laki laki yang baik, bertanggung jawab dan bisa menjaga kamu nanti" Zahra menatap bundanya sedikit khawatir
"apa kamu tidak bersedia?" tebaknya.
"bukan itu bun... Zahra gak akan ragu jika ayah dan bunda yakin bahwa putra dari pak Haryanto adalah orang yang baik. tapi..." Zahra menghentikan kalimatnya dan menatap bundanya dengan tatapan sendu
"bagaimana dengan bunda kalau nanti Zahra menikah" Aminah hanya tersenyum "nanti bunda sendiri disini" kekhawatiran terbesar Zahra adalah meninggalkan bundanya, setelah nanti menikah dia pasti akan ikut ke kerumah suaminya lalu bundanya? pasti akan tinggal sendiri disini, di rumah ini. Zahra adalah putri satu satunya. Aminah tidak pernah mau menikah lagi setelah kematian ayahnya, baginya menikah itu hanya untuk sekali seumur hidup.
"kan ada bude, bude setiap hari main kesini. jadi bunda gak akan kesepian" hibur Aminah untuk membuat putrinya sedikit tenang
"tetap saja bun itu berbeda, bunda akan benar benar sendirian setelah bude pulang, iya kan?" Zahra tetap tidak tega
"terus? kamu mau deket sama bunda terus gitu? kalau kayak gitu kapan bunda punya cucu dong"
"bunda iiih seriuss" rengek Zahra. Aminah tertawa melihat putrinya merajuk.
"bunda juga serius Zahra, hidup itu harus tetap berjalan raihlah kebahagiaanmu sendiri, berumah tangga menjadi seorang istri, menjadi seorang ibu, hmm.." jawabnya seraya memegang wajah putrinya. Zahra menunduk, ada raut kesedihan diwajahnya, tapi dia juga membenarkan ucapan bundanya.
"siapa nama pria itu bunda?" tanyanya penasaran
"nanti kamu juga tahu, hari ini dia akan berkunjung kemari, mungkin akan sampai sekitar pukul 11.00" jawab bunda sambil menerka nerka seraya pergi meninggalkan Zahra yang masih duduk ditepi ranjang dengan mata yang membulat.
"Bunda" suaranya sedikit keras, dia segera berdiri dan mengejar bundanya
"kenapa?"
"kenapa dadakan bunda?"
"memangnya kenapa?" Aminah melepas mukena dan melipatnya
"hari ini kan Zahra ada pesanan kue ulang tahun, ini Zahra udah siap-siap mau ke pasar beli buah buahan untuk topping" Zahra mengeluh tentang kesibukannya "belum lagi pesanan brownies yang masuk list pagi ini, tapi mintanya dikirim sore nanti, membludak bunda, terus lagi.."
"alhamdulillah dong" potong bunda
"ya, alhamdulillah tapi Zahra sibuk bun" wajahnya memelas
"kamu panik karena banyak pesanan, atau karena tahu calon suami pengen ketemu?" goda bunda
"bundaa" bibirnya mengerucut
Aminah hanya tertawa memperlihatkan giginya yang masih kokoh dan rapi. "gak usah dramatis, biasanya juga dibantuin Bude sama Hartati kan? kamu kan cuman tinggal nyiapin bahan terus Hartati sama bude yang bikin, hayooh"
Zahra hanya menggigit bibirnya dan sedikit memonyongkannya.
"mending sekarang kamu ke pasar, beli apa tadi??...." Zahra hendak menjawab tapi dilanjut kembali oleh Aminah "buah buahan untuk topping kue ulangtahun, sama beli juga sayuran, ayam juga, bumbu bumbu dapur jangan lupa, Oh ya udang juga. denger denger sih anaknya pak Haryanto itu suka banget sama semur ayam dan sayur capcay yang pake udang" ucap bundanya tersenyum menggoda sambil memicingkan mata.
"bilang aja to the ponit bunda, 'Zahra nanti masak semur daging sama sayur capcay ya' gitu" Aminah hanya tersenyum dan berlalu ke belakang. tapi Zahra masih saja mengikutinya
"bunda mau ngapain??"
"nyuci" mengeluarkan pakaian dari keranjang
"jangan bun" cegah Zahra
"kenapa?" tanya Aminah heran, aktfitasnya langsung terhenti seketika
"nanti kalau tamunya datang terus liat dalaman yang dijemur gimana bunda?"
"astaghfirullah Zahra, sempat sempatnya berpikir seperti itu" Aminah terkejut mendengar alasan Zahra.
"kan bener bunda,, emang bunda gak malu."
"terus kalau nanti dia izin ke kamar kecil dan melihat ada pakaian yang belum dicuci, kamu gak malu nanti dia pikir ada anak gadis dirumah kok cucian dibiarin kotor, udah ibu mau nyuci" Aminah tidak menghiraukan putrinya. "sudah sana cepat ke pasar ini sudah jam 6 lewat nanti gak kebagian sayuran segar"
"iya deh Zahra pergi dulu ya bun, Assalamualaikum" Zahra pamit Seraya mencium tangan bundanya. sudah menjadi kebiasaan bagi Zahra mencium tangan bunda walau hanya untuk pergi ke pasar.
Zahra pergi dengan motor matic nya, selang beberapa menit dia kembali dengan membawa semua belanjaan yang sudah dibelinya. Hartati dan bude pun juga sudah datang untuk membantu Zahra membuat kue. mereka pergi kedapur belakang untuk mulai bekerja. tidak lupa Zahra langsung mencium tangan bundanya yang sedang menjemur pakaian dibelakang rumah. seperti biasa, Zahra hanya menyiapkan bahan-bahan, selanjutnya dikerjakan Hartati dan bude. oh ya Hartati adalah sepupunya Zahra, dia merupakan anak bungsu dari bude Ira. mereka sering membantu Zahra, karena pesanan kue yang Alhamdulillah selalu ramai.
setelah menyiapkan bahan kue didapur belakang, Zahra langsung pergi kedapur dalam untuk memasak. ya Zahra sengaja membuat dapur diluar rumah khusus untuk membuat kue agar bisa lebih leluasa dan yang lebih penting agar lebih rapi saja. Zahra mengeluarkan semua barang belanjaannya dari kantong, buah buahan yang mau dipakai untuk kue dia masukkan kedalam lemari es.
"aku masak seberapa banyak ya?" kebingungan
"bunda bantuin masak ya?" Aminah baru masuk dan menyimpan ember ke tempatnya semula
"Zahra masaknya seberapa banyak bun? tamunya datang berapa orang nanti?"
"bunda juga gak tau" jawab Aminah jujur, karena memang Aryanti tidak mengatakan apa apa selain bilang bahwa putranya ingin bertemu.
"terus Zahra masak seberapa banyak?" masih tetap bingung
"ya udah agak banyak aja, kalaupun nanti kebanyakan bisa kita kasih ke tetangga".
"oh iya, oke" Zahra langsung melanjutkan pekerjaannya mulai dari membersih kan ayam, membersihkan udang. Aminah pun terlihat sedang mengupas wortel dilanjut merendam brokoli dengan air garam. Bude Ira masuk dan terkejut melihat bahan masakan yang lumayan banyak itu
"apa akan ada tamu? sampai masak sebanyak itu?" tanya nya heran. Aminah hendak menjawab tapi langsung didahului Zahra.
"iya bude, anak sahabatnya ayah datang untuk silaturahmi, jadi Zahra masak deh" dia tersenyum memperlihatkan gingsulnya . "oh ya ada apa bude?"
"itu untuk kue ulang tahun bu Romlah mau yang bentuk kotak atau bulat?" akhirnya bude Ira ingat tujuannya mencari Zahra
"kotak aja bude, biar terlihat besar"
"ini bude gak perlu bantu masak?" menawarkan diri
"gak perlu mba, ada aku yang bantu Zahra mba bikin kue aja kasian Hartati kalau ditinggal sendiri" Aminah menimpali
"iya juga sih, ya udah mba aku ke belakang lagi ya mau lanjut"
"iya" jawab Aminah
"iya bude" Zahra ikut menimpali
merekapun melanjutkan kegiatan memasak, Zahra sangat telaten. Aminah hanya tersenyum melihat putrinya memainkan pisau dengan sangat lincah, dia seperti melihat almarhum Rasyid yang sedang memasak. kepintaran Zahra dalam membuat makanan diturunkan dari Rasyid.