akhirnya masakan sederhana sudah tersaji diatas meja, semur daging, sayur capcay udang, tempe goreng dan tentu saja tidak lupa kerupuk sebagai pelengkap makan. jam menunjukan pukul 09.50 WIB Zahra bergegas pergi mandi, sekitar pukul 10.30 WIB dia sudah selesai berdandan. tidak ada make up diwajahnya hanya sedikit memakai liptint warna pink supaya wajahnya terlihat segar. gamis berwarna mustard jilbab hitam dengan bros bunga menjadi pilihannya.
"assalamualaikum" suara samar terdengar dari luar rumah.
Zahra terkejut dan menghentikan kegiatannya "apa dia sudah datang? aduh gimana ini"
"assalamualaikum" sekali lagi suara itu terdengar
"Zahra tolong buka pintunya, bunda belum bersiap siap" ucap Aminah yang baru selesai mandi dan masuk kamar. Zahra hendak keluar tapi tiba tiba dia berhenti dan memegang dadanya yang berdebar tak karuan. dia mencoba tenang dengan mengambil nafas sedalam mungkin "bismillah Zahra" kemudian segera menghampiri asal suara
"assalamualaikum" 3x sudah mengucap salam
Zahra pun bergegas membukakan pintu "waalaikumsallam, bu Romlah, ada apa bu?" Zahra terkejut tetapi merasa tenang secara bersamaan. ternyata yang datang adalah bu Romlah.
"maaf Zahra, ibu mau mengambil kue pesanan ibu"
"bukannya nanti acaranya jam 1 bu?" tanya Zahra memastikan
"iya, mumpung lewat sini sekalian aja ibu bawa sekarang. biar gak ngerepotin kamu"
"ya sudah bu saya hias dulu sebentar, ibu mau menunggu?"
"iya boleh, saya tunggu saja"
"mari bu, lewat sini" Zahra mengajak bu Romlah ke belakang
*****
mobil sport hitam tiba didepan rumah, kebetulan Aminah sedang menyiapkan kue dan cemilan di meja ruang tamu. dia melihat dari kaca jendela bahwa tamunya sudah datang. Nuri keluar dari mobil dengan membawa parsel buah ditangannya, Riko keluar dengan melepas kaca hitamnya sedangkan Abi dia menggendong Reno yang tertidur. Aminah bergegas membuka pintu untuk menyambut mereka.
"Assalamualaikum", Nuri mencium punggung tangan Aminah
"Wa'alaikum sallam, ini pasti Nuri ya?" tebaknya
"iya tante" jawab Nuri
"panggil saja Bunda" perintahnya
"iya bunda" ulang Nuri
"seingat bunda dulu kamu sekecil ini" mengusap kepala Reno yang masih tertidur digendongan Abi. "siapa ini?" lanjutnya
"ini Reno bunda, putra Nuri"
"saya Riko bun, suaminya Nuri" Riko mencium punggung tangan Aminah
"saya.. Abi, Bunda" Abi memperkenalkan diri dan mencium punggung tangan Aminah
"iya nak, mari masuk" ajak Aminah. "silahkan duduk." lanjutnya. "nak Abi lebih baik tidurkan saja Reno dikamar, kasihan" Aminah memberi saran.
"iya bi, tidurin aja dikamar, kasihan kamu pasti pegel juga" titah Riko
"kecapean kayaknya bun, tadi dijalan antusias banget liat banyak mobil lewat". Nuri menambahkan sambil menyimpan parsel buah diatas meja.
"mari bunda antar kekamar, sekalian bunda mau ambil air, nak Riko mau kopi?" tawar Aminah.
"boleh bun, kopi hitam saja bun" jawabnya nyengir
"ih pipih, malu tau" Nuri menepuk paha suaminya
"kan ditawarin, ya kan bun?" elaknya
"iya gak apa apa, Nuri mau kopi juga?"
"gak bun, Nuri gak ngopi"
"ya sudah bunda ke belakang ya? mari nak Abi"
"iya bun" Abi mengikuti dari belakang
Aminah membuka kamar yang paling dekat dengan ruang tamu,
"silahkan nak Abi tidurkan Reno disini saja, bunda mau ke belakang"
"iya bun makasih" Abi masuk kekamar, pandangan pertama yang dia lihat adalah sebuah kamar dengan dominan warna nude. kamar yang tidak terlalu besar, kasur no 3 terletak disisi kiri, kemudian meja rias terletak disisi kanan dan sebuah nakas kecil yang menghubungkannya. Abi menidurkan Reno dan melihat sebuah foto diatas nakas, terlihat Aminah dan seorang laki laki dengan gadis kecil yang sedang memeluk boneka teddy bear besar. Abi melihat ke atas kasur. itu boneka yang sama. dia berpikir gadis ini yang dipinta papah untuk menikahinya. Abi melihat keseliling tidak ada foto apapun di dinding kamar, dia semakin penasaran dengan gadis yang akan dia nikahi.
"heh,, lama banget nidurin Reno" Nuri negur dari luar kamar, dia penasaran apa yang dilakukan Abi sampai lama di kamar. Abi keluar kamar dan sampai didepan Nuri, dia mendengus tanpa menjawab apapun
"dasar bocah" timpal Nuri, mereka kembali ke ruang tamu.
*****
Aminah sedang membuat kopi didapur, Hartati masuk dan mengambil buah buahan dari lemari es
"Zahra ada dibelakang?" tanya Aminah
"ada bulik, sedang menghias kuenya bu Romlah, kenapa??"
"masih lama?" lanjutnya
"enggak sih, ini tinggal menata buah buahannnya aja" jawab Hartati
"kalau sudah selesai suruh kedalam ya" perintah aminah
"iya" (dia celingak celinguk ke depan) "ada tamu ya bulik" tanya nya penasaran. Aminah hanya mengangguk. "sudah cepat sana"
"iya" dia berlalu
*****
"Zahra, nanti kalau sudah selesai segera masuk" titah Hartati yang menyimpan buah buahan tadi dimeja tempat Zahra menghias kue
"kenapa?" tanya Zahra
"bulik nyuruh" jawabnya sedikit berbisik
Zahra melanjutkan menghias kue, tidak lama kue ulang tahun pun selesai dihias bentuknya sangat cantik dengan hiasan buah buahan segar diatasnya. Bu Romlah pun sampai memujinya.
"kamu bener bener pinter Zahra,, kuenya cantik"
"makasih bu" ucap Zahra dia tersenyum
"ya sudah saya pulang ya Zahra" pamitnya, tidak lupa sembari membayar kue.
"makasih bu,, hati hati dijalan ya bu" ujar Zahra
*****
"bagaimana kondisi pak Haryanto" Aminah bertanya sesaat setelah ia menaruh kopi dan beberapa air mineral botol diatas meja.
"terimakasih bun"jawab Riko yang langsung menerima kopi yang masih panas itu
"sama sama nak Riko" jawab Aminah
"papah.. masih kritis bun" Nuri menimpali
"semoga beliau segera sembuh ya" doa Aminah dengan tulus. diapun duduk dikursi tunggal yang ada disana
"aamiin" jawab mereka serempak
"bun,, mana calon adik ipar" Nuri bertanya yang langsung dipelototin Abi
"dia masih dibelakang menyiapkan kue pesanan" jawabnya
"dia bisa bikin kue?" tanyanya tak percaya
"ini semua buatan Zahra" menunjuk semua jenis kue diatas meja. Abi sedikit mengangguk selain dia tahu bahwa namanya adalah Zahra, dia juga tahu ternyata gadis ini pandai membuat kue. tidak lama kemudian seorang gadis datang dari dalam rumah dia mengucap salam dan dijawab langsung oleh mereka yang ada disana. Abi sedikit tertegun gadis berhijab dengan pipi chubby dan bulu bata yang lentik alami menyalami Nuri. mereka berpelukan terdengar Nuri sedikit menggodanya dan hanya ditimpali dengan senyuman, lagi lagi gingsulnya terlihat menambah manis diwajahnya. dia menyalamai Riko dari jauh dan kemudian mata mereka saling beradu Zahra tersenyum menggangguk menyalaminya dan dibalas Abi dengan senyum sambil mengangguk juga.
"maaf, tadi tiba tiba saja ada orang yang mengambil pesanan. jadi saya harus mendahulukannya dulu" Zahra meminta maaf.
"gak apa Zahra, kami juga baru sampai" Riko menjawab
"udah lama kamu buka usaha bikin kue" tanya Nuri "sini dong duduk disini" Nuri menarik Zahra untuk duduk disampingnya
"lumayan mba, saya mulai dari sejak duduk dikelas 3 SMA" jawabnya
"panggil aja kakak jangan mba, terus gak usah pake bahasa baku" protesnya
"iya kak" jawab Zahra tersenyum
"tapi hebat kamu ya kelas 3 SMA udah bisa bikin kue"
"iya awalnya Zahra bikin buat jenguk teman sakit kayak gitu, tapi lama lama malah jadi banyak yang pesan dan ya Zahra juga liat peluang sekalian aja buka usaha" celotehnya
"belajar darimana kamu bikin kue? oh pasti bunda yang ngajarinkan?"
"mulai ratu kepo" Abi bergumam dari tempat duduknya
"kamu kan tau kakak kamu kalau dia penasaran sama satu hal pasti semuanya ditanyain" timpal Riko pun sambil berbisik
"iya makanya dia tuh ratu kepo" sungut Abi
"hey kalian berdua aku denger ya" Nuri menanggapinya dengan kesal.
"bunda gak bisa bikin kue" jawab Aminah dengan senyum yang masih mengembang akibat ulah tamu tamunya.
"maaf ya bun, kita memang seperti ini" Riko merasa malu karena kelakuan mereka bertiga
"gak apa apa nak Riko, bunda malah seneng kalian gak merasa sungkan disini" timpal Aminah.
"bakat Zahra diturunkan dari ayahnya, segala jenis makanan ayahnya paling jago kalau bikin, beda sama bunda yang cuman sekedar bisa" kekeh Aminah.
"waah,, jarang banget loh bun laki laki jago masak, biasanya kan laki laki itu kebanyakan maunya dilayanin aja" Nuri menimpali tapi matanya melirik lirik ke arah Riko
Aminah tertatawa melihat Nuri, dia mengerti maksud Nuri yang menyindir Riko. "sudahlah kalian pasti laparkan? mari kita makan bersama" ajak Aminah yang mulai berdiri
"aduh bun, kok repot repot sih kita jadi gak enak" jawab Riko.
"gak apa apa memuliakan tamu kan wajib hukumnya, ayo kita ke meja makan" ajak Aminah sekali lagi, yang langsung disusul semua orang berdiri dari kursinya..