Setelah kejadian kemarin. Sekarang dirinya berada dalam perangkap Deigo. Dia Tidak melepaskannya. Membaut Bianca harus memberikan manajernya kesempatan berdua. Dia bilang pada manajernya agar tidak ada media yang lihat jika mereka pergi berdua.
"Kamu di rumah sendiri?" tanya Diego. Melirik sekelilingnya. Dia Tidak berhenti terus menggoda Bianca. Apalagi saat Bianca sudah terlihat mulai ada rasa dengannya dari sifatnya. Dia bahkan terlihat begitu posesif dengannya. Membaut Dia tidak bisa apa-apa lagi. Bianca juga merasa dirinya tidak bisa terus seperi ini. Dia ingin menemukan laki-laki yang tepat bersama dengan siapa nantinya.
Diego berhasil masuk ke dalam apartemen Bianca. Sementara Angel sedang keluar dengan Giandra. Entah kemana!
Diego menarik tubuh Bianca masuk ke dalam palukannya.
Bianca terkejut. Kedua tangannya masih memegang tas kecil yang belum sempat dia letakkan. Wajahnya menempel di dada Diego. Wangi parfum laki-laki itu masuk begitu saja ke hidungnya. Jantungnya berdetak terlalu cepat sampai dia takut Diego mendengarnya.
"Lepas!" ucap Bianca. Dia mendorong dada Diego dengan sikunya.
"Sebentar saja," ucap Diego. Dia tidak melepaskan. Malah mengeratkan tangannya di punggung Bianca.
"Diego, aku capek. Aku mau mandi."
"Mandi nanti. Aku sudah menunggu kamu dari sore di lobi. Manajermu itu galak sekali. Aku sampai harus bohong bilang aku kurir."
Bianca menahan tawanya. Dia menggigit bibir bawahnya agar tidak terdengar. Tapi bahunya bergetar dan Diego merasakannya.
"Kamu ketawa," ucap Diego.
"Enggak."
"Ketawa. Aku rasa dari sini." Diego melepaskan pelukannya. Dia menunduk, menatap wajah Bianca yang memerah sampai ke telinga. Bianca langsung memalingkan wajahnya ke arah dapur.
"Ganti baju," ucap Diego.
"Kenapa?"
"Ganti baju yang bagus. Kita keluar."
"Aku baru pulang!" pekik Bianca. Dia menunjuk sepatunya yang masih dipakai. "Kakiku sakit seharian berdiri buat pemotretan. Dan kamu suruh aku keluar lagi?"
"Aku sudah pesan tempat. Kalau kamu tidak datang, aku rugi." Diego mengangkat bahunya santai. "Dan kalau aku rugi, aku akan cerita ke Angel bahwa kamu tega."
Bianca melotot. "Kamu curang."
"Aku tidak curang. Aku cuma tahu kelemahan kamu."
Akhirnya Bianca masuk ke kamarnya sambil menghentakkan kaki. Diego duduk di sofa, tersenyum sendiri sambil melihat foto-foto kecil yang ditempel Bianca di dinding. Kebanyakan foto Bianca dengan Angel. Ada yang di depan gedung kampus, ada yang di depan warung mi, ada yang wajah mereka berdua tertawa sampai matanya hilang. Diego menatap foto itu lama.
Bianca keluar dengan dress warna gelap dan rambut yang dia ikat asal. Diego berdiri, membenarkan letak jaketnya sendiri.
"Kenapa lihat-lihat begitu?" tanya Bianca.
"Tidak apa-apa. Cuma mikir, kenapa orang secantik ini galaknya minta ampun."
"Diego!"
Mereka turun lewat pintu belakang. Diego yang mengatur semuanya. Dia sudah menyuruh mobilnya menunggu di sisi gedung yang gelap, jauh dari pintu utama tempat wartawan biasa berdiri. Bianca menunduk masuk ke mobil sambil menutup setengah wajahnya dengan tangan.
"Tenang. Tidak ada yang lihat," ucap Diego.
"Kamu tidak tahu mereka. Mereka bisa muncul dari mana saja."
"Makanya aku pilih tempat yang tidak bisa mereka masuki."
Mobil berhenti di sebuah gedung tua di pinggir kota. Bianca mengerutkan keningnya. Tidak ada papan nama. Tidak ada lampu terang. Hanya satu pintu kayu dan seorang penjaga yang mengangguk pada Diego.
"Kamu mau membunuhku di sini ya?" tanya Bianca curiga.
"Kalau iya, aku tidak perlu repot-repot pesan makanan dulu."
Mereka naik lift kecil sampai ke lantai paling atas. Begitu pintu terbuka, Bianca menghentikan langkahnya. Napasnya tertahan.
Atap gedung itu terbuka. Lampu-lampu kecil digantung berjajar dari satu sisi ke sisi lain, berkedip pelan seperti bintang yang turun. Di tengahnya ada satu meja. Hanya satu. Dengan dua kursi, lilin, dan bunga putih di vas kaca. Di belakangnya, seluruh kota terlihat menyala.
Bianca menoleh ke arah Diego. Laki-laki itu memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Berlagak biasa saja, padahal ujung telinganya memerah.
"Ini kamu yang siapkan?" tanya Bianca pelan.
"Bukan aku. Ini memang sudah ada dari dulu," jawab Diego bohong.
"Diego."
"Iya, aku. Sudah, jangan banyak tanya. Duduk. Makanannya keburu dingin."
Bianca duduk. Tangannya masih gemetar sedikit dan dia menyembunyikannya di bawah meja. Pelayan datang membawa piring, lalu pergi lagi tanpa suara. Tidak ada orang lain di sana. Hanya mereka berdua dan angin malam.
"Kenapa kamu lakukan ini?" tanya Bianca. Suaranya lebih kecil dari yang dia mau.
"Karena kamu tidak bisa makan di tempat umum tanpa dilihat orang," jawab Diego. Dia mulai memotong dagingnya. "Setiap kali kita makan, kamu selalu duduk membelakangi pintu. Kamu selalu lihat ke kaca dulu sebelum ketawa. Kamu tidak pernah benar-benar makan, Bianca. Kamu cuma pura-pura makan sambil menjaga wajahmu."
Bianca terdiam. Garpu di tangannya berhenti di udara.
"Jadi malam ini tidak ada kaca. Tidak ada pintu. Tidak ada orang. Ketawa sekeras yang kamu mau. Makan sebanyak yang kamu mau," ucap Diego. Dia mengangkat kepalanya. "Aku tidak akan bilang siapa-siapa."
Bianca menunduk. Matanya panas. Dia buru-buru menyuap makanannya supaya Diego tidak melihat.
"Enak?" tanya Diego.
"Lumayan," jawab Bianca dengan mulut penuh.
"Cuma lumayan?"
"Enak," ralat Bianca cepat. Diego tertawa. Suara tawanya pecah di atap yang sepi itu, dan Bianca sadar dia ikut tertawa tanpa sengaja.
Mereka makan lama sekali. Diego bercerita tentang Damar yang jatuh dari motornya sendiri padahal mesinnya bahkan belum menyala. Bianca tertawa sampai harus menutup mulutnya dengan serbet. Lalu obrolan itu pelan-pelan berubah. Angin bertiup lebih dingin. Lilin di meja bergoyang.
"Angel sekarang sudah jarang menangis," ucap Bianca tiba-tiba.
Diego meletakkan gelasnya. "Aku dengar."
"Dia bahkan sudah mau makan lagi. Kemarin dia masak sup dan memaksaku mencicipi. Asinnya minta ampun, tapi aku bilang enak." Bianca tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. "Giandra yang membuatnya jadi begitu."
"Dan kamu?"
Bianca mengangkat wajahnya. "Aku apa?"
"Kamu bagaimana?" tanya Diego. Kali ini nadanya tidak menggoda sama sekali.
Bianca membuka mulutnya, lalu menutupnya lagi. Dia memutar gelasnya di atas meja. Cahaya lilin berkedip di permukaan air.
"Aku baik," jawabnya.
"Bohong."
"Diego, sudah."
"Kamu selalu bilang begitu setiap orang tanya. Persis seperti kamu duduk membelakangi pintu." Diego bersandar di kursinya. "Aku tidak akan memaksa kamu cerita. Aku cuma mau kamu tahu, aku tidak percaya kata baik yang keluar dari mulut kamu."
Bianca menatapnya lama. Ada sesuatu yang naik ke tenggorokannya dan dia menelannya susah payah. Selama ini semua orang percaya begitu saja. Manajernya percaya. Angel percaya. Bahkan dia sendiri hampir percaya.
Hanya laki-laki menyebalkan di depannya ini yang tidak.
"Kenapa kamu peduli?" tanya Bianca. Suaranya serak.
Diego tidak langsung menjawab. Dia menatap kota di bawah mereka, lalu kembali menatap Bianca.
"Karena aku tidak suka melihat kamu berdiri di belakang orang lain, padahal kamu yang paling ingin ada di depan," jawabnya.
Bianca menunduk cepat. Air matanya jatuh satu, dan dia mengusapnya kasar dengan punggung tangan.
"Sialan kamu, Diego. Aku sudah dandan susah payah."
"Riasan kamu masih bagus kok." Diego mencondongkan badannya, mengulurkan serbet. "Cuma agak berantakan sedikit. Seperti orangnya."
Bianca merebut serbet itu dan melemparkannya ke wajah Diego. Diego tertawa lagi. Bianca ikut tertawa, dengan mata yang masih basah, dan untuk pertama kalinya sejak lama dia tidak sibuk menghitung siapa yang sedang melihatnya.
Pelayan datang lagi membawa dua piring kecil berisi kue cokelat hangat. Bianca langsung mengambil sendok tanpa menunggu.
"Punyaku jangan disentuh," ucap Bianca sambil menarik piringnya mendekat.
"Aku belum pegang apa-apa."
"Matamu sudah pegang." Bianca menutupi piringnya dengan telapak tangan.
Diego menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia menopang dagu, memperhatikan Bianca makan dengan mulut penuh dan mata yang berbinar seperti anak kecil. Tidak ada lagi sisa air mata di sana. Diego menyimpan pemandangan itu baik-baik di kepalanya. Dia berjanji dalam hati akan membuat wajah itu bertahan lebih lama dari malam ini.
Saat mereka turun lagi ke mobil, langit sudah benar-benar gelap. Bianca memeluk tasnya di pangkuan. Diego menyalakan mesin, tapi tidak langsung menjalankan mobilnya.
"Bianca."
"Hm?"
"Minggu depan jadwal kamu kosong, kan? Manajermu sudah aku tanya."
Bianca menoleh cepat. "Kamu tanya manajerku di belakangku?"
"Aku tanya baik-baik. Dia sendiri yang bilang kamu memang harus istirahat." Diego memegang kemudi, matanya lurus ke depan. "Ikut aku. Satu minggu. Jauh dari kota, jauh dari kamera, jauh dari semua orang yang harus kamu bohongi tiap hari."
"Satu minggu?" ulang Bianca.
"Satu minggu," ucap Diego. "Angel juga sudah aku bilang. Dia yang paling semangat menyuruh kamu pergi."
Bianca membuka mulutnya untuk menolak. Dia sudah menyiapkan semua alasannya. Pekerjaan, media, Angel, semuanya. Tapi tidak satu pun keluar dari mulutnya.
"Aku pikirkan dulu," ucap Bianca akhirnya.
Diego tersenyum. Dia sudah tahu jawabannya.