Setelah pulang dari makan romantis bersama dengan Deigo. Mereka semua menghabiskan waktunya selama satu minggu. Hal yang membaut dirinya sekarang merasa sangat sempurna nantinya berada di samping Cek.
Diego membawa Bianca ke pinggir pantai dan menyewa Vila disana untuk mereka berdua. Selama satu minggu dia ingin bersama dengan Bianca. Dia merasa ingin terus bersama dengannya. Karena ini kesempatan bagus baginya. Dia Tidak mau kehilangan kesempatan ini.
Bianca bahkan menurut kemana dia ajak pergi. Dia Akhirnya bis meluluhkan hati Bianca itu adalah hal yang luar biasa baginya.
"Bianca kamu didalam?" tanya Diego yang berdiri di depan pintu kamar mandi. Bianca yabg terasa snagat lelah seharian jalan berdua dengan Deigo. Dia membasuh tubuhnya di kamar mandi. Merasa tubuhnya begitu gerah jika air laut dan pasir masih menempel di kulitnya.
"Bianca!" panggil Diego lagi. Dia mengetuk pintu kamar mandi dua kali. "Kamu sudah setengah jam di dalam. Kalau kamu pingsan aku dobrak pintunya."
"Berisik!" balas Bianca dari dalam. "Aku masih hidup!"
"Buktinya?"
"Buktinya aku masih bisa marah sama kamu!"
Diego tertawa. Dia mundur, menyandarkan punggungnya di dinding kayu vila itu. Dari tempatnya berdiri, dia bisa mendengar suara ombak yang masuk lewat jendela yang sengaja dibiarkan terbuka. Angin laut membuat tirai putih itu bergerak pelan.
Sudah beberapa hari mereka di sana. Awalnya Bianca masih kaku. Dia masih sering melirik ponselnya, masih sering bertanya apakah ada wartawan yang tahu, masih menutupi wajahnya dengan topi setiap kali keluar dari pintu. Tapi pelan-pelan itu semua hilang. Kemarin Bianca bahkan berlari di pinggir pantai tanpa alas kaki, berteriak keras-keras ke arah laut sampai suaranya habis, lalu tertawa sendiri sampai terduduk di pasir.
Diego tidak pernah melihat Bianca setertawa itu di kota.
Pintu kamar mandi terbuka. Bianca keluar dengan rambut basah yang dia gulung dengan handuk kecil. Wajahnya bersih tanpa riasan apa pun. Diego menegakkan badannya.
"Kenapa?" tanya Bianca curiga. "Kenapa lihat begitu?"
"Tidak apa-apa."
"Bilang. Ada yang aneh di wajahku?"
"Tidak ada." Diego mengalihkan pandangannya ke jendela. "Cuma, kamu lebih bagus begini."
Bianca terdiam sebentar. Lalu dia melempar handuk kecil itu ke arah Diego. "Gombal!"
"Aku serius." Diego menangkap handuk itu. "Di kota kamu selalu pakai riasan tebal. Sekarang tidak. Dan kamu tidak kelihatan capek lagi."
Bianca tidak menjawab. Dia berjalan ke arah jendela, menyibak tirai lebih lebar. Matahari sudah turun setengah. Langit di atas laut berwarna jingga bercampur ungu. Bianca menyandarkan kedua tangannya di kusen.
"Aku sudah lupa kapan terakhir aku lihat matahari terbenam," ucap Bianca pelan. "Selama ini aku cuma lihat lampu studio."
Diego berjalan mendekat. Dia berdiri di sampingnya. Tidak menyentuh, hanya berdiri.
"Besok kita lihat lagi," ucapnya.
"Besok aku mau tidur sampai siang."
"Kalau begitu lusa."
"Lusa aku mau makan seafood sampai kekenyangan."
"Ya sudah. Sisa harinya masih banyak."
Bianca menoleh. "Kamu tidak bosan?"
"Bosan apanya?"
"Aku. Aku kan cerewet. Galak. Susah diatur." Bianca menghitung dengan jarinya. "Angel saja kadang menyerah."
Diego menoleh ke arahnya. "Angel menyerah karena dia sahabat kamu. Aku bukan sahabat kamu."
Bianca membuka mulutnya, tapi tidak ada suara yang keluar. Jantungnya kembali berdetak tidak beraturan. Dia buru-buru menunduk, pura-pura membenarkan lengan bajunya.
"Ayo turun," ucap Diego akhirnya. "Aku sudah siapkan sesuatu di bawah."
"Apa lagi sekarang?"
"Turun saja."
Di halaman belakang vila, di atas pasir, sudah ada tikar lebar dengan lampu-lampu kecil yang ditancapkan mengelilinginya. Ada dua piring, ada nasi, ada ikan bakar yang masih mengepul, ada kelapa muda yang sudah dibuka. Bianca berhenti di anak tangga terakhir.
"Kamu masak ini?" tanya Bianca.
"Aku yang bakar ikannya," jawab Diego bangga. "Bumbunya aku beli. Jangan tanya lebih jauh."
Bianca tertawa. Dia duduk bersila di atas tikar tanpa peduli pasir yang menempel di kakinya. Mereka makan sambil mendengar ombak. Diego sesekali menyodorkan potongan ikan ke piring Bianca tanpa diminta, dan Bianca menerimanya tanpa protes.
Di tengah makan, ponsel Bianca bergetar di atas tikar. Nama Angel muncul di layar. Bianca menatapnya sebentar, lalu membalikkan ponsel itu tanpa menjawab.
"Kenapa tidak diangkat?" tanya Diego.
"Nanti saja."
"Takut ketahuan kamu lagi sama aku?"
"Bukan begitu." Bianca menusuk nasinya dengan sendok. "Kalau aku angkat sekarang, dia pasti tanya aku di mana, sama siapa, sedang apa. Dan aku belum bisa bohong sambil dengar suara ombak di belakangku."
Diego tertawa. "Alasanmu masuk akal juga."
"Aku memang pintar."
"Pintar bohong."
Bianca melempar potongan kelapa ke arah Diego dan Diego menghindar sambil tertawa lebih keras.
"Diego," panggil Bianca di tengah makan.
"Hm?"
"Kenapa kamu ajak aku ke sini?"
Diego meletakkan sendoknya. Dia menyeka tangannya di celana, lalu menatap laut.
"Waktu itu di apartemen, aku lihat foto kamu sama Angel di dinding," ucap Diego. "Di semua foto itu kamu ketawa. Ketawa yang benar-benar ketawa. Terus aku lihat kamu yang sekarang. Kamu masih ketawa, tapi beda. Kamu ketawa sambil menjaga sesuatu."
Bianca meletakkan piringnya di pasir.
"Aku cuma mau tahu, ketawa yang di foto itu masih ada atau sudah hilang," lanjut Diego. Dia menoleh. "Ternyata masih ada. Kemarin waktu kamu teriak ke laut itu, aku lihat."
Mata Bianca berair. Dia mendongak, menahan supaya tidak jatuh.
"Kamu ini kenapa suka sekali bikin aku nangis," ucapnya dengan suara serak.
"Aku tidak bikin kamu nangis. Aku cuma ngomong."
"Sama saja!"
Diego tertawa pelan. Dia mengulurkan tangannya, menghapus air mata di pipi Bianca dengan ibu jarinya. Bianca tidak menghindar. Untuk pertama kalinya, dia tidak menghindar.
Angin laut lewat di antara mereka. Lampu-lampu kecil itu bergoyang. Diego menahan tangannya di pipi Bianca sedikit lebih lama dari seharusnya.
"Bianca."
"Apa?"
"Boleh?"
Bianca tahu maksudnya. Dia tidak menjawab. Dia hanya menutup matanya perlahan.
Diego mencondongkan badannya. Kecupan itu jatuh di bibir Bianca. Pelan, hati-hati, sama sekali tidak terburu-buru. Rasanya manis, bercampur kelapa muda dan udara laut. Hanya sebentar. Lalu Diego menjauhkan wajahnya, memastikan Bianca baik-baik saja.
Bianca membuka matanya. Wajahnya merah sampai ke leher.
"Sekarang aku boleh minta satu hal," ucap Bianca cepat, sebelum dia sempat berubah pikiran.
"Apa?"
"Jangan bilang siapa-siapa."
Diego mengerutkan keningnya. "Kenapa?"
"Karena Angel belum tahu apa-apa." Bianca memeluk lututnya. "Dan aku belum tahu bagaimana cara aku cerita ke dia."
Diego memandanginya lama. Lalu dia mengangguk. "Aku tidak akan bilang. Sampai kamu siap."
Bianca menoleh. "Beneran?"
"Aku pernah bohong ke kamu?"
"Pernah. Kamu bilang tempat di atap itu memang sudah ada dari dulu."
"Selain itu."
Bianca tertawa. Dia menyandarkan kepalanya di bahu Diego tanpa berpikir panjang. Diego membeku sesaat, lalu pelan-pelan tubuhnya rileks. Mereka duduk seperti itu lama sekali, sampai ikan di piring benar-benar dingin dan lampu-lampu kecil itu satu per satu meredup.
Malamnya, Bianca naik ke kamarnya dengan kaki yang masih berpasir. Kepalanya penuh, tapi bukan penuh yang biasanya. Bukan penuh jadwal, bukan penuh nama orang yang harus dia hindari. Kali ini penuh dengan hal-hal ringan yang tidak perlu dia sembunyikan.
Dia menjatuhkan tubuhnya ke ranjang, memeluk bantal, tersenyum sendiri seperti orang gila.
"Kamu kenapa senyum-senyum?" gumamnya pada dirinya sendiri. "Ingat, Bianca. Jangan kelewatan."
Tapi senyum itu tidak mau hilang.
Di bawah, Diego masih duduk di tikar sendirian. Dia mengeluarkan sebuah kotak kecil dari tas ranselnya. Kotak itu sudah dia bawa dari kota, sejak hari pertama, tapi belum sekali pun dia berani mengeluarkannya. Dia memutar kotak itu di tangannya, ragu.
Bianca bukan tipe perempuan yang bisa dibeli. Diego tahu itu. Bianca sudah menolak hampir semua yang pernah dia tawarkan. Tas ditolak. Sepatu ditolak. Bahkan makan di restoran mahal pun ditolak sampai perutnya sendiri yang mengkhianatinya.
Tapi yang satu ini bukan soal harga.
Diego berdiri, membersihkan pasir di celananya, lalu naik ke atas. Pintu kamar Bianca tidak terkunci. Dia mendorongnya pelan. Bianca sudah tertidur, masih memeluk bantal, rambutnya masih setengah basah, napasnya teratur.
Diego berdiri di ambang pintu cukup lama. Lalu dia masuk berjinjit, meletakkan kotak kecil itu di meja samping ranjang, tepat di sebelah kepala Bianca.
Sebuah ponsel baru. Bukan karena Bianca butuh. Bianca punya ponsel yang jauh lebih mahal dari itu.
Tapi di dalamnya sudah ada satu nomor yang tersimpan. Hanya satu. Tanpa nama, hanya tanda titik.
Diego menarik selimut sampai ke bahu Bianca, lalu keluar sepelan mungkin dan menutup pintu.