Bianca merasa sangat puas berada do samping Diego. Namun Dia bingung dengan ponsel yang tergeletak di samping ranjang kamarnya. Dia pikir itu buka untuknya. Jadi jawaban untuk semuanya.
Diego sengaja memberikan ponsel ubtuk Bianca agar dia suka. Namun, ternyata Shinta menolaknya. Dia juga memberikan Bianca
**
Bianca sengaja untuk mendekati Deigo. Bukan karena hartanya Tetapi Deogo bahkan memberikan lebih bahkan tidak dia minta. Dia memberikan ponsel baru da semuanya. Namun kebanyakan Bianca menolakku apa yabg di berikan Deogo kecuali kartu.
Diego sengaja membuat Bianca dekat dengannya. Namun pertama Bianca terpaksa menerima tawaran Diego agar Angel bisa lebih dekat dengan Giandra. Sekarang, dia terasa nyaman dengan Diego. Entah kenapa dirinya tidak mau jika Diego meninggalkannya begitu saja.
Pagi itu adalah hari terakhir mereka di vila. Bianca bangun lebih awal dari biasanya. Bukan karena alarm, tapi karena dia tidak bisa tidur lagi. Dia duduk di tepi ranjang, menatap kotak kecil di meja samping ranjang yang sudah dua hari dia diamkan.
Akhirnya dia mengambilnya. Membukanya pelan-pelan.
Sebuah ponsel. Baru, masih licin, masih berbau plastik. Bianca menyalakannya. Layarnya menyala terang, kosong, tanpa aplikasi apa-apa. Dia membuka daftar kontaknya dan hanya menemukan satu nomor tersimpan di sana. Tanpa nama. Hanya sebuah tanda titik.
Di dasar kotak itu ada sepotong kartu kecil. Tulisan tangan, miring, jelek sekali.
"Nomor ini tidak akan ganti. Kalau kamu capek pura-pura, telepon ke sini. Tidak usah bicara juga tidak apa-apa."
Bianca menutup mulutnya dengan tangan. Dia duduk lama sekali seperti itu, dengan kartu kecil di jari dan ponsel yang masih menyala di pangkuannya.
Dia sudah menolak banyak hal dari Diego. Tas ditolak. Sepatu ditolak. Jam yang harganya tidak masuk akal itu bahkan dia kembalikan sambil marah-marah di depan lift. Bianca tidak pernah mau dianggap perempuan yang bisa dibeli, apalagi oleh laki-laki yang dari awal cuma jadi bagian dari kesepakatan.
Tapi kartu ini dia simpan. Dia lipat, dia masukkan ke dompetnya, ke tempat paling dalam.
"Bianca! Sarapan!" teriak Diego dari bawah.
"Sebentar!" balas Bianca. Dia buru-buru mengusap matanya.
Di bawah, meja sudah penuh. Roti bakar yang gosong sebelah, telur yang bentuknya aneh, dan teh yang terlalu manis. Bianca duduk, menatap piringnya, lalu menatap Diego.
"Kamu yang masak?"
"Kenapa? Tidak percaya?"
"Percaya. Justru karena aku percaya makanya aku takut."
Diego melempar serbet ke arahnya dan Bianca menangkapnya sambil tertawa. Dia menggigit roti gosong itu dan menelannya sampai habis tanpa mengeluh satu kali pun.
"Jam berapa kita pulang?" tanya Bianca.
"Sore. Supirnya sudah aku suruh datang."
"Oh."
Hanya itu jawabannya. Tapi Diego menangkap sesuatu di nada suaranya. Dia menurunkan cangkirnya.
"Kenapa?"
"Tidak apa-apa."
"Bianca."
"Tidak apa-apa, sungguh." Bianca menunduk, memainkan remah roti di piringnya. "Cuma... cepat sekali ya seminggu itu."
Diego tidak menjawab. Dia hanya memandangi perempuan di depannya yang tiba-tiba jadi sangat pendiam.
Selesai sarapan, mereka membereskan kamar masing-masing. Bianca melipat bajunya asal-asalan lalu menjejalkannya ke koper. Diego melihat itu dan langsung merebut kopernya.
"Kamu ini model, tapi cara melipat baju kayak orang lagi buang sampah," ucap Diego.
"Sudah, sini!" Bianca berusaha merebut kembali.
"Duduk. Biar aku."
Bianca akhirnya duduk di lantai, memeluk lututnya, memperhatikan Diego melipat bajunya satu per satu dengan rapi. Rasanya aneh. Selama ini yang membereskan barangnya selalu orang-orang yang dibayar untuk itu. Tidak ada yang melakukannya karena mau.
"Kenapa lihat begitu?" tanya Diego tanpa mengangkat kepalanya.
"Tidak apa-apa," jawab Bianca. Padahal dadanya sesak.
Siangnya mereka turun ke pantai untuk terakhir kalinya. Bianca berjalan di garis air, membiarkan ombak kecil menyentuh mata kakinya lalu mundur lagi. Diego berjalan di belakangnya, tangan di saku, tidak bicara apa-apa.
"Diego," panggil Bianca tanpa menoleh.
"Hm?"
"Aku mau jujur satu hal."
Diego berhenti melangkah. "Ya."
Bianca berbalik. Rambutnya diterbangkan angin dan dia menyibaknya ke belakang telinga.
"Waktu pertama kali aku mau ikut kamu, aku bukan karena suka." Suaranya bergetar sedikit. "Aku terima tawaran kamu karena aku mau Angel bisa lebih dekat dengan Giandra. Aku pikir kalau aku sibuk denganmu, mereka jadi punya waktu berdua. Itu saja. Aku memanfaatkan kamu."
Ombak datang lagi, menghapus jejak kaki mereka.
"Aku tahu," ucap Diego.
Bianca mengangkat kepalanya cepat. "Kamu tahu?"
"Dari awal." Diego mengangkat bahunya. "Kamu itu kalau bohong wajahnya kelihatan sekali, Bianca."
"Terus kenapa kamu tetap mau?"
"Karena aku juga punya alasan sendiri." Diego berjalan mendekat sampai jaraknya tinggal selangkah. "Bedanya, alasanku tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Alasan kamu yang berubah."
Bianca membuka mulutnya untuk membantah. Tapi tidak bisa. Karena Diego benar.
Dia bahkan tidak ingat lagi kapan perasaan itu bertukar tempat. Kapan dia berhenti menghitung berapa lama Angel dan Giandra berdua, dan mulai menghitung berapa lama Diego belum mengirim pesan. Kapan dadanya berhenti sakit setiap kali melihat Giandra, dan mulai sakit setiap kali membayangkan Diego pergi.
"Aku jahat ya," ucap Bianca pelan.
"Tidak." Diego menggeleng. "Kamu cuma capek jadi orang yang selalu mengalah."
Air mata Bianca jatuh lagi. Diego menariknya ke dalam pelukan, dan kali ini Bianca tidak mendorong, tidak protes, tidak menyuruhnya lepas. Dia menempelkan wajahnya di dada Diego dan menangis di sana, di pantai yang sepi, tanpa ada satu pun kamera yang mengarah padanya.
"Aku tidak mau pulang," ucap Bianca di sela isaknya.
"Kita harus pulang."
"Aku tahu. Tapi aku tetap tidak mau."
Diego mengusap punggung Bianca pelan. "Kita akan ke sini lagi."
"Janji?"
"Janji."
Sore harinya mobil sudah menunggu di depan vila. Bianca berdiri di teras, memandangi rumah kayu itu untuk terakhir kali. Tikar di halaman belakang sudah digulung. Lampu-lampu kecil itu sudah dicabut. Yang tersisa cuma bekas api unggun kecil dan jejak kaki yang setengah tertutup pasir.
"Kamu mau bawa apa dari sini?" tanya Diego yang berdiri di belakangnya.
"Tidak ada."
"Serius? Perempuan biasanya bawa kerang, atau pasir, atau apa gitu."
Bianca berpikir sebentar. Lalu dia turun ke halaman, jongkok, dan mengambil satu kerang kecil yang bentuknya sudah tidak utuh lagi. Dia meniup pasirnya, lalu memasukkannya ke saku.
"Yang itu? Yang sudah patah?" tanya Diego.
"Iya. Yang ini."
"Kenapa yang patah?"
Bianca tidak menjawab. Dia hanya tersenyum tipis dan berjalan lebih dulu.
Bianca menghela napasnya panjang. Dia masuk ke mobil.
Perjalanan pulang mereka lewati hampir tanpa suara. Bianca tertidur di bahu Diego sebelum mobil keluar dari jalan berbatu. Diego membiarkannya, bahkan menahan bahunya supaya tidak bergerak, walaupun lengannya kesemutan sampai kota.
Lampu-lampu kota mulai kelihatan. Bianca terbangun. Dia mengucek matanya, lalu tersadar di mana kepalanya bersandar dan langsung menegakkan badan.
"Maaf," ucapnya.
"Tidak apa-apa."
"Giandra sempat telepon aku kemarin," ucap Diego sambil menyalip sebuah truk.
Bianca menegang. "Kenapa?"
"Dia tanya kamu di mana. Katanya Angel terus-terusan mencari kamu."
"Kamu bilang apa?"
"Aku bilang aku tidak tahu." Diego melirik ke arahnya sebentar. "Aku janji tidak akan bilang siapa-siapa, kan?"
Bianca menunduk. Seharusnya dia lega. Tapi yang dia rasakan justru sebaliknya. Ada sesuatu yang menumpuk di perutnya, berat dan dingin.
"Damar juga sudah tanya-tanya," lanjut Diego. "Dia curiga aku hilang seminggu tanpa kabar."
"Kamu bilang apa ke dia?"
"Aku bilang aku pergi memancing."
Bianca tertawa kecil, tapi tawanya cepat sekali habis.
Semakin dekat ke apartemen, semakin dingin rasanya. Bianca menarik lengan bajunya turun. Di luar jendela, semuanya kembali seperti semula. Papan iklan, klakson, orang-orang yang berjalan cepat.
Mobil berhenti di depan gedung. Diego mematikan mesin.
"Bianca."
"Hm?"
"Kalau nanti di atas Angel tanya kamu dari mana—"
"Aku akan bilang aku kerja luar kota," potong Bianca cepat. Terlalu cepat.
Diego terdiam sebentar. "Sampai kapan?"
Bianca tidak menjawab. Dia membuka pintu mobil.
"Terima kasih untuk seminggu ini," ucapnya tanpa menoleh. Lalu dia turun.
Bianca naik lift sambil memeluk tasnya. Di dalam tasnya ada ponsel baru dengan satu nomor tanpa nama. Di dompetnya ada kartu kecil dengan tulisan tangan yang jelek. Dan di dadanya ada sesuatu yang terasa hangat sekaligus menakutkan.
Pintu apartemennya tidak terkunci.
Bianca mengerutkan keningnya. Dia mendorong pintu itu pelan.
Angel duduk di sofa. Lampu ruangan menyala terang. Di meja depannya ada sebuah ponsel yang layarnya masih menyala, dan Angel sedang menatap layar itu, tidak berkedip.
"Angel?" panggil Bianca.
Angel mengangkat wajahnya. Matanya merah.
"Kamu dari mana, Bianca?" tanyanya. Suaranya datar sekali.
Bianca meletakkan tasnya perlahan. "Aku... kerja."
Angel tidak menjawab. Dia hanya memutar ponsel di atas meja itu, mendorongnya ke arah Bianca, supaya layarnya menghadap ke atas.
Dan Bianca membeku di tempatnya berdiri.