Bianca berdiri mematung di depan pintu. Tatapan Angel tidak seperti biasanya. Tidak ada senyum, tidak ada pertanyaan ringan tentang pekerjaannya. Hanya mata merah dan sebuah ponsel yang tergeletak di atas meja dengan layar menyala.
"Kamu dari mana?" tanya Angel.
"Aku sudah bilang, ada pekerjaan di luar kota."
Angel tertawa pendek. Tawanya begitu hambar hingga dada Bianca terasa diremas. Ia mendorong ponsel itu ke tengah meja.
"Lihat dulu. Setelah itu, coba ulangi kebohonganmu."
Dengan tangan dingin, Bianca mengambil ponsel tersebut. Sebuah video sudah dijeda. Di layar tampak Diego, Giandra, dan Damar duduk mengelilingi meja. Bianca menekan tombol putar.
Suara mereka terdengar jelas. Mereka menyebut namanya dan nama Angel. Awalnya tentang siapa yang paling cepat membuat salah satu dari mereka jatuh cinta. Kemudian candaan itu berubah semakin menjijikkan: mobil, apartemen, rumah, bahkan taruhan siapa yang bisa mendapatkan tubuh Bianca.
Bianca ingin meletakkan ponsel, tetapi jarinya membeku. Di dalam video, Diego ikut tertawa. Lelaki yang beberapa hari lalu menatapnya di bawah lampu-lampu kecil di vila itu ternyata pernah menjadikannya hadiah permainan.
"Lanjutkan," kata Angel tajam.
Video berganti menjadi beberapa foto. Bianca turun dari mobil Diego di pantai. Bianca berdiri di balkon vila. Lalu foto ketika Diego merangkul pinggangnya saat mereka berjalan menuju meja makan.
"Siapa yang mengirim ini?" suara Bianca nyaris tidak terdengar.
"Nomor tidak dikenal. Itu yang penting menurutmu?"
Bianca menelan ludah. "Angel, dengarkan aku."
"Aku menunggumu seminggu. Kamu bilang bekerja, padahal pergi bersama Diego. Kamu sengaja meninggalkanku dengan Giandra, bukan?"
Pertanyaan terakhir itu menelanjangi kesalahan yang selama ini Bianca bungkus sebagai pengorbanan. Ia tidak punya jawaban yang dapat membuatnya terlihat benar.
"Aku pikir kamu menyukai Giandra."
"Jadi kamu berhak mengatur hidupku?"
"Tidak. Aku hanya ingin kamu bahagia."
"Dengan lelaki yang bertaruh untuk membuatku jatuh cinta?"
Air mata Bianca jatuh. "Aku tidak tahu soal taruhan itu."
"Tapi kamu tahu perasaanmu sendiri kepada Giandra. Kamu menyukainya lebih dulu dan tidak pernah jujur kepadaku. Lalu kamu mendekatkanku kepadanya seperti aku anak kecil yang harus kamu pilihkan pasangan."
"Aku merelakannya untukmu."
"Aku tidak pernah meminta kamu merelakan siapa pun!"
Suara Angel pecah. Ia berdiri dan membuang muka, seakan tidak sanggup melihat sahabatnya. Bianca hendak memegang lengannya, tetapi Angel mundur.
"Jangan sentuh aku dulu."
Bianca meraih ponsel baru pemberian Diego dari tas. Hanya ada satu nomor di sana, disimpan dengan tanda titik. Ia menekannya dan mengaktifkan pengeras suara.
Diego menjawab pada dering pertama. "Bianca? Kamu sudah sampai?"
"Aku sudah melihat videonya."
Hening.
"Video apa?" tanya Diego, terlalu pelan.
"Video taruhan kalian. Katakan sekarang, apakah kamu pertama kali mendekatiku karena taruhan itu?"
"Kamu dapat dari siapa?"
Bianca memejamkan mata. Pertanyaan itu sudah menjadi jawaban.
"Jadi benar."
"Bianca, dengar. Awalnya memang—"
"Cukup."
"Perasaanku sekarang tidak ada hubungannya dengan permainan itu. Aku mau menjelaskan semuanya."
"Kapan? Setelah kamu menang? Setelah aku tidur denganmu?"
"Tidak pernah seperti itu. Aku menghentikan mereka. Aku salah karena tidak mengatakan yang sebenarnya, tapi aku tidak pernah berniat—"
Bianca memutus panggilan. Lututnya lemas dan ia duduk di lantai. Kenangan di vila mendadak terasa kotor meski Diego tidak pernah memaksanya melakukan apa pun. Yang ternoda bukan ciuman mereka, melainkan kepercayaan yang mendahuluinya.
Angel mengambil tas dari sofa.
"Kamu mau ke mana?"
"Ke rumah Mama. Aku butuh jauh dari semua ini."
"Aku ikut."
"Jangan. Untuk sekali ini, biarkan aku memilih sendiri."
Bianca tidak bergerak. Kalimat itu lebih menyakitkan daripada bentakan apa pun. Ia memandang Angel berjalan keluar, kemudian mendengar pintu tertutup.
Bel rumah berbunyi beberapa menit kemudian. Bianca tidak perlu melihat layar untuk mengetahui siapa yang datang. Diego menelepon berulang kali, lalu mengirim pesan ke ponsel lamanya.
Aku di depan. Tolong beri aku kesempatan menjelaskan.
Bianca mematikan semua lampu dan duduk dalam gelap. Bel terus berbunyi, tetapi ia tidak membuka pintu. Ia teringat bagaimana Diego berkata bahwa alasan mereka berubah. Mungkin perasaan lelaki itu memang telah berubah. Namun sebuah perasaan yang tumbuh dari kebohongan tetap meninggalkan akar beracun.
Ponsel Angel yang tertinggal di meja kembali menyala. Pesan baru dari nomor tidak dikenal masuk.
Masih ada bagian yang belum kalian ketahui.
Di bawahnya terlampir foto Diego sedang berdiri bersama Dea. Waktu pada foto itu menunjukkan malam sebelum Diego membawa Bianca pergi.
Bianca menatap layar sampai pandangannya kabur. Malam itu, untuk pertama kalinya, ia tidak tahu siapa yang paling mengkhianatinya: Diego, orang yang membongkar semuanya, atau dirinya sendiri.
Diego menunggu di depan apartemen hingga pagi. Tidak ada pintu yang terbuka. Ketika petugas keamanan memintanya pergi, ia baru sadar bahwa menjelaskan tidak sama dengan mendapat hak untuk didengarkan.
Di dalam, Bianca tidak tidur. Ia membaca ulang pesan anonim dan menyimpan semua bukti. Saat Angel menelepon menjelang subuh, Bianca segera menjawab.
"Kamu sudah sampai?"
"Sudah. Aku cuma mau bilang ponselku tertinggal. Simpan dulu."
"Angel, aku minta maaf."
"Aku belum bisa membicarakan kita."
"Aku mengerti."
"Ada satu hal lagi. Giandra menelepon."
Bianca menahan napas. "Kamu menjawabnya?"
"Iya. Aku bertanya langsung. Dia mengaku ikut taruhan itu. Katanya kemudian dia benar-benar menyukaiku. Lucu, ya? Mereka semua memakai kalimat yang sama."
"Apa yang kamu katakan?"
"Aku menyuruhnya tidak menghubungiku lagi."
Panggilan berakhir. Bianca memeluk lututnya. Giandra mungkin telah menyukai Angel dengan tulus, seperti Diego mungkin benar-benar mencintainya. Namun ketulusan yang datang terlambat tidak otomatis menghapus penghinaan di awal.
Pada siang hari Diego memanggil Giandra dan Damar ke kantornya. Video itu tidak hanya merusak hubungan mereka dengan Bianca dan Angel. Jika menyebar ke publik, pekerjaan dan nama baik semua orang akan terseret.
"Siapa yang merekam?" tanya Diego.
Damar tidak berani menatap keduanya. "Aku."
Giandra bangkit dan mencengkeram kerahnya. "Untuk apa?"
"Cuma iseng. Waktu itu aku merekam beberapa bagian buat bahan lelucon. Aku tidak pernah mengirimkannya."
"Lalu bagaimana video itu keluar?" Diego menghantam meja.
Damar menjelaskan bahwa ponselnya sempat rusak dan dibawa ke tempat servis. Semua berkas juga tersambung ke penyimpanan awan. Ia tidak tahu siapa yang mengambilnya.
"Kebodohanmu bukan satu-satunya masalah," kata Diego. "Kita semua ada di video itu. Kita mengatakannya."
Ruangan mendadak senyap. Tidak seorang pun bisa berlindung di balik alasan bahwa percakapan itu hanya bercanda. Mereka telah memperlakukan dua perempuan sebagai sasaran dan hadiah.
"Kita harus bicara kepada mereka," kata Giandra.
"Mereka tidak mau melihat kita," jawab Diego.
"Tetap harus dicoba."
"Bukan dengan memaksa masuk ke hidup mereka. Cari orang yang membocorkan video ini dulu."
Sementara itu Bianca tetap datang ke pemotretan. Ia menutupi mata sembap dengan riasan tebal dan tersenyum ketika kamera menyala. Manajernya, Rena, melihat ada sesuatu yang salah, tetapi baru bertanya setelah sesi pertama berakhir.
"Ada foto kamu dan Diego beredar di beberapa akun gosip. Mereka belum mengunggah wajahmu dengan jelas, tapi aku mengenali pakaianmu."
Bianca menunjukkan video yang diterima Angel. Rena memaki pelan, lalu segera menghubungi pengacara.
"Kita jangan bereaksi sebelum tahu seberapa jauh penyebarannya," katanya. "Dan jangan hapus pesan apa pun."
Pintu studio terbuka. Diego muncul dengan wajah lelah. Bianca langsung berdiri.
"Siapa yang mengizinkannya masuk?"
"Aku hanya ingin bicara lima menit," kata Diego.
"Aku tidak mau."
"Bianca, aku sedang mencari orang yang mengirim video itu. Kamu dalam bahaya karena seseorang mengikuti kita sampai vila."
"Itu urusan pengacaraku."
"Aku bisa melindungimu."
"Dari siapa? Dari orang lain atau dari kamu?"
Diego terdiam. Rena memberi isyarat kepada petugas keamanan. Dua orang mendekat, tetapi Diego mundur dengan kemauannya sendiri.
"Aku tidak akan memaksa," katanya. "Tapi semua yang kurasakan selama di vila itu nyata."
"Kenyataanmu datang setelah kebohonganmu. Pergi."
Diego pergi tanpa melawan. Beberapa kru pura-pura sibuk, meski jelas mendengar semuanya. Bianca kembali ke depan kamera. Kali ini senyumnya tidak bisa muncul.
Menjelang malam, foto-foto vila tersebar lebih luas. Judulnya menyebut Bianca sebagai perempuan yang merebut kekasih Dea. Komentar-komentar kejam mulai memenuhi akun media sosialnya. Tidak ada satu pun yang bertanya mengapa foto pribadi diambil tanpa izin.
Sebuah pesan masuk dari Dea.
Aku sudah memperingatkanmu. Diego tidak pernah menjadi milikmu.
Bianca meneruskannya kepada Rena, lalu memblokir nomor itu. Ia akhirnya mengerti bahwa orang yang membocorkan video kemungkinan ingin menghukum Diego dengan menjadikan dirinya korban.
Di tempat lain, Damar menerima hasil penelusuran awal dari temannya. Akun anonim pertama yang mengunggah foto dibuat menggunakan jaringan kantor perusahaan yang terhubung dengan keluarga Dea.
"Kita sudah tahu arahnya," kata Damar kepada Diego.
Diego memandang layar tanpa rasa menang. Menemukan pelaku tidak akan menghapus suara tawanya sendiri di video itu.