Video taruhan akhirnya menyebar ke publik. Nama Bianca, Angel, Diego, Giandra, dan Damar memenuhi media sosial. Seperti yang dikhawatirkan Rena, banyak orang justru menyalahkan kedua perempuan. Bianca disebut haus harta, Angel disebut terlalu mudah percaya, sementara tiga lelaki itu dianggap sekadar bercanda.
Bianca menolak diam. Bersama Rena dan pengacara, ia membuat pernyataan singkat di depan media.
"Saya tidak mengetahui taruhan tersebut ketika didekati. Foto-foto pribadi saya diambil dan disebarkan tanpa izin. Saya tidak akan membela perbuatan siapa pun, termasuk Diego. Saya juga meminta agar Angel tidak diseret karena dia adalah korban, bukan bagian dari permainan mereka."
Ia tidak menangis di depan kamera. Namun setelah kembali ke mobil, seluruh tubuhnya gemetar.
Tak lama kemudian Diego, Giandra, dan Damar mengadakan konferensi pers terpisah. Mereka mengakui perkataan dalam video tanpa menyebutnya rekayasa atau lelucon. Damar mengaku merekam. Giandra meminta publik berhenti menyerang Angel. Diego mengatakan bahwa Bianca tidak pernah mengetahui taruhan dan tidak pernah meminta uang atau keuntungan darinya.
"Tidak ada pemenang dalam taruhan itu," kata Diego. "Yang ada hanya tiga lelaki yang kehilangan kepercayaan orang-orang yang mereka sayangi karena memperlakukan perempuan seolah mereka hadiah."
Pernyataan itu mengubah sebagian percakapan publik, meski tidak menghapus semuanya. Mobil, apartemen, dan rumah yang pernah disebut sebagai hadiah taruhan mereka sumbangkan nilainya melalui lembaga perlindungan perempuan. Bianca tidak menganggapnya sebagai penebusan, tetapi setidaknya benda-benda itu tidak lagi menjadi lambang kemenangan.
Bianca menulis surat panjang untuk Angel. Ia menceritakan semua yang dulu disembunyikan: perasaannya kepada Giandra, alasan mendekati Diego, malam di vila, dan rasa takut kehilangan sahabatnya. Ia tidak meminta Angel segera pulang atau memaafkan.
Seminggu kemudian sebuah balasan datang.
Aku belum bisa melupakan semuanya. Tapi aku juga tidak mau persahabatan kita berakhir karena tiga lelaki bodoh dan kebohongan kita sendiri. Tunggu aku pulang. Setelah itu, kita belajar jujur dari awal.
Bianca memeluk surat itu sambil menangis.
Sebulan setelah kepergian Angel, pintu apartemen terbuka. Angel masuk membawa koper kecil. Mereka berdiri saling memandang, canggung seperti dua orang asing yang hafal seluruh luka satu sama lain.
"Hai," kata Angel.
"Hai."
"Kamarku masih ada?"
"Tidak pernah berubah."
Angel meletakkan koper. Bianca tidak langsung memeluknya. Ia menunggu sampai Angel membuka kedua tangan. Barulah mereka saling mendekat dan menangis dalam pelukan panjang.
"Aku masih marah," bisik Angel.
"Aku tahu."
"Aku belum memaafkan semuanya."
"Aku tahu."
"Tapi aku pulang."
Bianca mengangguk di bahunya. "Itu sudah lebih dari cukup."
Mereka duduk hingga malam, membicarakan hal-hal yang dulu terlalu takut mereka ucapkan. Angel mengakui bahwa ia masih mencintai Giandra, tetapi belum siap bertemu. Bianca mengakui bahwa ia juga masih mencintai Diego, sekaligus belum sanggup mempercayainya.
"Mungkin cinta tidak harus langsung kembali menjadi hubungan," kata Angel.
"Mungkin mereka harus membuktikan perubahan tanpa jaminan kita akan menerima."
"Dan kali ini kita tidak menentukan pilihan satu sama lain."
Bianca tersenyum kecil. "Sepakat."
Di tempat lain, persahabatan Diego, Giandra, dan Damar pun berubah. Mereka tidak lagi bertemu untuk mempertaruhkan siapa pun. Damar menjalani proses hukum bersama Dea atas penyebaran data. Giandra fokus memperbaiki hidupnya tanpa mengganggu Angel. Diego menenggelamkan diri dalam pekerjaan dan mengirim semua perkembangan kasus hanya kepada Rena.
Suatu sore Bianca bertemu Diego secara tidak sengaja di lobi gedung. Mereka berhenti beberapa langkah satu sama lain.
"Apa kabar?" tanya Diego.
"Sedang belajar baik-baik saja."
"Angel sudah pulang?"
"Sudah."
Diego mengangguk. "Aku senang."
Ia hendak pergi, tetapi Bianca memanggil namanya.
"Terima kasih karena tidak melanggar batas yang kuminta."
"Itu hal paling kecil yang bisa kulakukan."
"Aku belum memaafkanmu."
"Aku tidak menuntutnya."
"Dan aku belum tahu apakah kita masih punya kesempatan."
Diego menatapnya tanpa mendekat. "Kalau jawabannya tidak, aku tetap akan menerima."
Untuk pertama kalinya Bianca melihat penyesalan tanpa rayuan. Ia belum membuka pintu, tetapi juga tidak lagi harus membantingnya untuk membuktikan bahwa dirinya kuat.
"Selamat tinggal, Diego. Untuk sekarang."
"Sampai jumpa, Bianca. Kalau suatu hari kamu mengizinkan."
Bianca berjalan menuju lift. Di dalam tasnya tidak ada lagi ponsel bertanda satu titik. Di rumah, Angel menunggunya dengan makan malam dan rencana-rencana baru yang mereka susun bersama.
Tidak ada seorang pun memenangkan taruhan. Diego kehilangan kepercayaan Bianca. Giandra kehilangan kedekatan Angel. Damar kehilangan rasa hormat sahabat-sahabatnya. Namun dari kehancuran itu, Bianca dan Angel menemukan sesuatu yang lebih penting: hak untuk menentukan hidup sendiri.
Merelakan bukan berarti kalah. Merelakan adalah berhenti menggenggam sesuatu yang bukan milik kita, melepaskan harapan yang dibangun dari kebohongan, dan memberi ruang bagi kebenaran untuk tumbuh. Entah kelak cinta membawa mereka kembali atau berjalan ke arah berbeda, kali ini keputusan itu akan menjadi milik mereka sendiri.
Kepulangan Angel membuat apartemen itu kembali memiliki suara. Pagi-pagi sekali terdengar bunyi gelas dari dapur, musik pelan dari kamar, dan keluhan karena Bianca menghabiskan susu tanpa membeli yang baru.
Namun keduanya tahu bahwa keadaan belum benar-benar sama.
"Ada pesan dari Giandra," kata Angel ketika mereka sarapan.
Bianca tidak langsung bertanya. Ia menunggu Angel membuka pembicaraan sendiri.
"Dia ingin mengembalikan beberapa barangku. Katanya bisa dititipkan kepada petugas keamanan."
"Kamu mau menemuinya?"
Angel mengaduk kopi. "Aku belum tahu."
"Apa pun pilihanmu, aku tidak akan ikut campur."
Angel menatapnya, lalu tersenyum tipis. "Kamu benar-benar belajar."
"Dengan cara yang menyakitkan."
Mereka tertawa kecil. Belum lepas, tetapi cukup untuk mengurangi kekakuan di antara mereka.
Siang itu Bianca mengikuti pemotretan produk baru. Rena memberi tahu bahwa salah satu klien membatalkan kontrak akibat skandal video. Sebaliknya, sebuah organisasi perlindungan perempuan menawarinya menjadi pembicara dalam kampanye tentang kekerasan digital.
"Aku bukan orang yang pantas memberi nasihat," kata Bianca.
"Kamu tidak diminta menjadi sempurna. Kamu diminta menceritakan apa yang terjadi dan bagaimana korban sering ikut disalahkan."
Bianca meminta waktu untuk berpikir. Ia masih takut setiap kali melihat kamera di luar studio. Akan tetapi, diam juga membuat orang lain bebas menulis kisahnya sesuka hati.
Sore hari Rena menyerahkan sebuah amplop. "Dari pihak Diego. Ini hanya laporan perkembangan kasus."
Tidak ada surat pribadi di dalamnya. Diego menepati janji. Anehnya, justru itu yang membuat Bianca memikirkannya semakin sering.
Di rumah, Angel akhirnya memutuskan menemui Giandra di sebuah kedai yang ramai. Ia sengaja memilih tempat umum dan meminta Bianca tidak menemaninya.
Giandra sudah menunggu. Di kursi sebelahnya ada kotak berisi buku, syal, dan benda-benda kecil milik Angel.
"Terima kasih sudah datang," katanya.
"Aku datang untuk mengambil barangku, bukan memberi jawaban."
"Aku tahu."
Giandra tidak mencoba menyentuhnya. Ia menceritakan bahwa ia mengikuti konseling dan menjauh dari kebiasaan buruk bersama teman-temannya. Ia tidak mengatakan semua itu sebagai bukti bahwa Angel harus menerimanya kembali.
"Aku cuma ingin kamu tahu bahwa aku tidak menganggap kesalahanku selesai karena sudah meminta maaf," katanya.
"Aku masih mendengar suara kalian tertawa setiap kali mengingat pertemuan pertama kita."
Wajah Giandra menegang. "Aku menyesal."
"Penyesalanmu tidak bisa mengubah masa lalu."
"Tidak. Tapi mudah-mudahan bisa mengubah siapa diriku setelah ini."
Angel membawa kotak itu dan pergi. Di trotoar, ia menangis bukan karena ingin kembali, melainkan karena menyadari bahwa dirinya masih mencintai lelaki yang telah melukainya.
Ketika tiba di apartemen, Bianca tidak mengajukan pertanyaan. Ia hanya membuka tangan. Angel masuk ke dalam pelukannya.
"Ternyata melihatnya masih sakit," bisik Angel.
"Kamu tidak harus mengambil keputusan malam ini."
"Aku tahu."
Untuk pertama kalinya, mereka saling menjaga tanpa menentukan jalan yang harus ditempuh oleh yang lain.