Bianca menerima tawaran kampanye perlindungan perempuan. Ia menyiapkan pidatonya selama berhari-hari, lalu merobeknya karena semua kalimat terdengar seperti milik orang lain.
"Bicaralah seperti kamu bicara kepadaku," saran Angel. "Tidak perlu terlihat kuat setiap saat."
Pada hari acara, ruangan dipenuhi wartawan dan korban kekerasan digital. Bianca berdiri di panggung dengan telapak tangan dingin.
"Saya pernah berpikir bahwa rasa malu itu milik saya," katanya. "Padahal yang seharusnya malu adalah orang yang menjadikan manusia sebagai taruhan dan orang yang menyebarkan kehidupan pribadi tanpa izin."
Ia mengakui pernah berbohong kepada sahabatnya. Ia juga mengakui bahwa dirinya mencintai orang yang ikut menyakitinya. Kejujuran itu membuat suaranya bergetar, tetapi ia tidak berhenti.
Tepuk tangan terdengar ketika ia turun dari panggung. Di antara kerumunan, Bianca sempat melihat Diego berdiri jauh di belakang. Lelaki itu tidak mendekat. Sesaat kemudian ia sudah tidak ada.
"Dia datang?" tanya Angel dalam perjalanan pulang.
"Iya."
"Kamu marah?"
Bianca menggeleng. "Tidak. Dia tidak menggangguku."
Malamnya Bianca meminta Rena mengirimkan satu pesan kepada Diego: Terima kasih sudah menjaga jarak.
Balasan Diego singkat: Terima kasih sudah berani berdiri.
Tidak ada rayuan setelahnya.
Sementara itu, kasus penyebaran video memasuki tahap baru. Damar bersedia menjadi saksi dan menyerahkan semua perangkatnya. Ia datang menemui Bianca dan Angel dengan didampingi pengacara.
"Aku tidak berharap dimaafkan," katanya. "Aku hanya ingin meminta maaf secara langsung. Akulah yang merekam, meski bukan aku yang menyebarkan. Kalau aku tidak merekamnya, semua ini tidak akan terjadi."
Angel menatapnya dingin. "Semua ini sudah terjadi ketika kalian mulai membuat taruhan. Kamera hanya memperlihatkan siapa kalian saat itu."
Damar mengangguk. "Kamu benar."
Ia pergi tanpa mendapat pengampunan. Namun pengakuannya membantu memperjelas perkara dan membebaskan Bianca serta Angel dari tuduhan bahwa video itu sengaja dibuat untuk mencari perhatian.
Beberapa hari kemudian Bianca bertemu Diego di kantor pengacara untuk menandatangani dokumen. Setelah urusan selesai, mereka berjalan keluar bersama.
"Boleh aku menawarkan kopi?" tanya Diego. "Kalau kamu menolak, aku tidak akan bertanya lagi."
Bianca menatapnya lama. "Tiga puluh menit. Di tempat ramai."
Diego tersenyum kecil. "Cukup."
Mereka duduk berhadapan seperti dua orang yang baru berkenalan. Diego tidak membicarakan vila atau meminta hubungan mereka kembali. Ia bertanya tentang pekerjaan Bianca dan mendengarkan jawabannya.
"Kenapa kamu diam saja?" tanya Bianca akhirnya.
"Karena dulu aku terlalu banyak menentukan arah percakapan. Sekarang aku ingin mendengar."
"Aku belum percaya kepadamu."
"Aku tahu."
"Kopi ini bukan berarti aku memaafkan."
"Aku juga tahu."
Tiga puluh menit kemudian Bianca berdiri. Diego tidak mencoba menahannya.
Di dalam mobil, Bianca menyadari sesuatu yang menakutkan sekaligus menenangkan. Memberi kesempatan kecil tidak berarti menyerahkan dirinya kembali. Kali ini, ia masih memegang kendali atas langkahnya sendiri.
Ketenangan mereka terganggu ketika sebuah akun baru mengunggah potongan video yang belum pernah beredar. Bagian itu memperlihatkan Bianca sedang berbicara kepada Diego tentang rencananya meninggalkan Angel bersama Giandra.
Potongan tersebut dipisahkan dari konteks dan diberi judul: Bianca Mengorbankan Sahabat Demi Lelaki Kaya.
Komentar kembali membanjiri akun mereka. Angel membaca beberapa sebelum Bianca sempat mencegahnya.
"Mereka pikir aku tidak punya pikiran sendiri," katanya kesal. "Seolah aku hanya boneka yang bisa kamu serahkan kepada Giandra."
"Aku akan membuat penjelasan."
"Tidak. Kali ini aku yang bicara."
Angel merekam pernyataan sederhana. Ia mengatakan Bianca memang pernah membuat keputusan yang salah, tetapi masalah mereka sudah diselesaikan secara pribadi. Ia meminta publik berhenti menggunakan persahabatan mereka sebagai hiburan.
"Saya bukan hadiah untuk Giandra, dan Bianca bukan hadiah untuk Diego," katanya. "Kami berdua pernah dibohongi, tetapi kami juga mampu menentukan siapa yang akan kami maafkan dan kapan waktunya."
Video Angel mendapat dukungan luas. Namun setelah kamera dimatikan, ia masuk kamar dan menangis.
"Aku lelah menjadi berani," katanya kepada Bianca.
"Kalau begitu, hari ini kamu tidak perlu berani lagi."
Bianca duduk di lantai bersama Angel sampai tangis sahabatnya reda.
Penyelidikan menemukan bahwa potongan baru dijadwalkan otomatis oleh akun yang sama sebelum Dea diperiksa. Pengacara segera meminta platform menurunkannya. Diego mengerahkan tim teknologinya, tetapi semua tindakan dilakukan melalui jalur resmi.
Giandra melihat pernyataan Angel dan ingin menelepon. Ia sudah menekan nomor itu ketika teringat permintaan Angel. Ia membatalkan panggilan dan hanya mengirim pesan melalui pengacara: Saya siap memberi kesaksian tambahan jika diperlukan.
Angel mengetahui hal itu dari Rena. Untuk pertama kalinya, ia melihat perubahan Giandra bukan melalui kata-kata, tetapi melalui batas yang dihormati.
Malam hari ia membuka kembali surat Giandra. Ia menulis balasan, menghapusnya, lalu menulis lagi.
Aku belum siap kembali. Tapi kalau kamu sungguh berubah, teruslah berubah meski aku tidak melihat.
Pesan itu dikirim setelah hampir satu jam. Balasan datang beberapa menit kemudian.
Baik. Jaga dirimu.
Tidak ada permohonan, pertanyaan, atau janji berlebihan. Angel meletakkan ponsel dan menarik napas panjang.
Di balkon, Bianca juga sedang membaca pesan dari Diego. Lelaki itu mengabarkan bahwa unggahan baru sudah diturunkan. Bianca menjawab terima kasih, kemudian ragu sebelum menambahkan satu kalimat.
Besok aku ada waktu untuk minum kopi.
Diego tidak langsung membalas. Ketika pesan masuk, isinya membuat Bianca tersenyum tipis.
Kamu yang pilih tempat dan waktunya.
Mereka belum sembuh. Namun di antara luka-luka yang tidak terlihat itu, kepercayaan mulai tumbuh kembali dalam bentuk yang sangat kecil.
Pertemuan kedua Bianca dan Diego berlangsung di sebuah taman terbuka. Bianca sengaja memilih tempat tanpa ruangan tertutup dan tanpa kenangan lama.
"Aku ingin bertanya tentang vila," katanya.
Diego menegang. "Tanyakan apa saja."
"Apakah kamu merencanakan semuanya untuk memenangkan taruhan? Makan malam, ponsel, dan perjalanan itu?"
"Perjalanannya awalnya memang kubuat sebagai cara mendekatimu. Tapi makan malam dan ponsel itu bukan bagian dari taruhan. Pada saat itu aku sudah tidak peduli dengan hadiah apa pun."
"Kenapa kamu tetap tidak mengaku?"
"Karena aku ingin menikmati versi diriku yang kamu percayai. Aku takut kalau kamu tahu siapa diriku di awal, kamu akan pergi."
Bianca menatap pepohonan. "Dan aku memang pergi."
"Seharusnya aku memberimu pilihan sejak awal."
Jawaban Diego tidak menghapus rasa sakit, tetapi setidaknya tidak menyembunyikan kesalahannya.
"Aku juga harus jujur," kata Bianca. "Awalnya aku mendekatimu karena ingin menjauh dari Giandra dan memberi jalan untuk Angel. Jadi aku pun memakai seseorang demi rencanaku sendiri."
"Itu tidak membuat kesalahanku lebih kecil."
"Aku tahu. Aku mengatakan ini bukan untuk membebaskanmu, tetapi karena aku tidak mau ada kebohongan lagi di antara kita."
Mereka berjalan mengelilingi taman. Diego menjaga jarak setengah langkah. Ketika Bianca hampir tersandung, tangannya bergerak hendak menolong, lalu berhenti. Bianca melihatnya dan mengulurkan tangan lebih dulu.
Jari mereka bersentuhan.
"Hanya sampai ujung jalan," kata Bianca.
"Baik."
Diego menggenggam tanpa menariknya lebih dekat. Bagi orang lain itu mungkin bukan apa-apa. Bagi Bianca, itu adalah keputusan yang ia buat sendiri.
Pada malam yang sama Angel menerima ajakan Giandra untuk menghadiri sesi konseling bersama. Bukan sebagai pasangan, melainkan untuk membicarakan dampak perbuatannya dengan pendamping profesional.
"Aku takut," kata Angel kepada Bianca.
"Kamu boleh membatalkan kapan saja."
"Aku ingin mendengar dia menjawab tanpa bisa mengalihkan pembicaraan."
Sesi berlangsung dua hari kemudian. Di hadapan konselor, Giandra mengakui bahwa ia terbiasa menjadikan kedekatan dengan perempuan sebagai ukuran kemenangan di antara teman-temannya. Ia tidak menyadari betapa merusaknya perilaku itu sampai Angel menolak menemuinya.
"Aku tidak ingin dicintai sebagai hadiah atas perubahanmu," kata Angel.
"Aku berubah karena tidak mau menjadi orang seperti itu lagi, meski kamu tidak kembali."
Angel tidak memberi keputusan. Namun ketika sesi selesai, ia bersedia berjalan bersamanya sampai tempat parkir.
"Minggu depan mungkin kita bisa bicara lagi," katanya.
Giandra mengangguk. "Kamu tentukan waktunya."
Di apartemen, Bianca dan Angel saling menceritakan pertemuan mereka. Tidak ada lagi rahasia, bahkan ketika kenyataannya terasa memalukan.
"Kita ini bodoh atau berani?" tanya Angel.
"Mungkin keduanya."
Mereka tertawa. Kali ini tawa itu lepas.