Sidang awal perkara penyebaran data digelar tertutup. Dea menyampaikan permintaan maaf melalui kuasa hukum dan menawarkan perdamaian. Bianca menolaknya jika syaratnya adalah mencabut seluruh pengakuan publik.
"Aku tidak mencari balas dendam," katanya kepada pengacara. "Tapi aku ingin ada tanggung jawab."
Damar juga menerima konsekuensi atas kelalaiannya. Ia meminta waktu bertemu Diego dan Giandra setelah sidang.
"Aku akan menerima apa pun keputusan hukum," katanya. "Dan setelah ini aku pergi dari kota untuk mengurus usaha keluarga."
"Pergi tidak menghapus kesalahan," kata Giandra.
"Aku tahu. Aku hanya ingin memulai hidup tanpa kebiasaan lama kita."
Diego mengulurkan tangan. Mereka tidak kembali menjadi tiga sahabat seperti sebelumnya, tetapi perpisahan itu berlangsung tanpa kebencian.
Beberapa minggu berikutnya kehidupan bergerak perlahan. Bianca mendapatkan kembali kontrak yang sempat dibatalkan setelah kampanyenya mendapat perhatian positif. Angel mulai bekerja pada sebuah proyek baru dan tidak lagi bersembunyi dari publik.
Hubungan mereka dengan Diego dan Giandra juga berkembang tanpa nama yang pasti. Ada kopi, percakapan, dan beberapa pertemuan singkat. Tidak ada tuntutan untuk segera kembali seperti dulu.
Suatu malam Diego mengajak Bianca ke restoran tempat mereka pernah bertemu sebelum perjalanan ke vila. Ia tidak menyiapkan lilin atau hadiah.
"Aku ingin meminta satu hal," katanya.
Bianca mengangkat alis. "Apa?"
"Kesempatan untuk mengenalmu dari awal. Tanpa taruhan dan tanpa kebohongan. Kalau jawabanmu tidak, aku akan menerimanya."
Bianca diam cukup lama. Ia memikirkan luka, kemarahan, dan batas yang selama ini Diego hormati. Memaafkan tidak berarti melupakan. Memberi kesempatan juga tidak menjamin akhir bahagia.
"Aku belum bisa kembali menjadi kekasihmu," katanya.
Wajah Diego menyimpan kecewa, tetapi ia mengangguk. "Aku mengerti."
"Tapi kamu boleh mengenalku lagi. Pelan-pelan."
Diego menatapnya seolah tidak yakin mendengar dengan benar. "Aku tidak akan menyia-nyiakannya."
"Jangan berjanji terlalu banyak. Tunjukkan saja."
Sementara itu, Angel bertemu Giandra di halaman apartemen. Lelaki itu membawa tanaman kecil, bukan bunga potong.
"Katanya tanaman ini tahan banting," ucap Giandra. "Tapi tetap harus dirawat."
Angel menerima pot itu. "Ini bukan berarti semuanya kembali seperti dulu."
"Aku tahu."
"Kita mulai sebagai dua orang yang sedang belajar saling percaya."
"Itu sudah cukup."
Dari balkon, Bianca melihat mereka berbicara. Ia tidak merasa kehilangan Giandra, tidak pula merasa berhasil menyerahkan lelaki itu kepada Angel. Pilihan tersebut sepenuhnya milik sahabatnya.
Diego datang berdiri di samping Bianca, tetap menjaga jarak hingga Bianca sendiri menggeser kursi untuknya.
"Mereka terlihat lebih tenang," katanya.
"Kita juga akan sampai ke sana," jawab Bianca. "Mungkin."
"Mungkin sudah cukup untuk hari ini."
Bianca tersenyum. Di masa lalu, ia mengira merelakan berarti menyingkir demi kebahagiaan orang lain. Kini ia memahami bahwa cinta yang sehat tidak meminta seseorang menghilang. Cinta meminta kejujuran, tanggung jawab, dan kebebasan memilih.
Ia belum tahu ke mana hubungannya dengan Diego akan berakhir. Angel pun belum memberikan seluruh hatinya kembali kepada Giandra. Namun tidak ada lagi taruhan, pengorbanan diam-diam, atau keputusan yang dibuat atas nama orang lain.
Untuk pertama kalinya, mereka melangkah tanpa menjadi hadiah bagi siapa pun.
Kesempatan kedua ternyata tidak semudah mengucapkannya. Bianca mulai bertemu Diego lagi, tetapi suara dari video taruhan itu masih muncul pada saat-saat yang tidak terduga.
Siang itu Diego menjemputnya setelah pemotretan. Ketika Bianca keluar dari studio, ia melihat Diego berbicara dengan seorang perempuan. Perempuan itu tersenyum sambil menyentuh lengan Diego.
Langkah Bianca terhenti.
Diego segera melihatnya. "Bianca, ini Nara, konsultan untuk proyek kantor."
Nara menyapa ramah. Setelah memperkenalkan diri, ia pamit menuju mobilnya. Tidak ada hal mencurigakan, tetapi perasaan Bianca sudah telanjur berubah.
"Kamu kenapa?" tanya Diego.
"Tidak apa-apa."
"Kalau ada yang mengganggumu, katakan."
Bianca hampir menyangkal lagi. Ia terbiasa menyembunyikan rasa takut supaya tidak terlihat lemah. Namun hubungan yang baru tidak mungkin dibangun dengan kebiasaan lama.
"Aku teringat Dea," katanya. "Dulu kamu juga bilang tidak ada apa-apa, tetapi kamu membiarkanku memahami keadaan dengan cara yang salah."
Diego tidak marah. Ia membuka percakapan pekerjaannya dengan Nara dan menunjukkan bahwa pertemuan itu sudah dijadwalkan oleh kantor.
"Aku tidak ingin kamu harus memeriksa ponselku setiap kali takut," katanya. "Tapi untuk sekarang, kalau keterbukaan ini membantumu merasa aman, aku bersedia."
"Aku juga tidak ingin mengawasimu selamanya."
"Kita belajar pelan-pelan."
Mereka tetap pergi makan, meski suasana sempat canggung. Diego tidak memaksa Bianca segera ceria. Sikap itu perlahan mengurangi sesak di dadanya.
Di apartemen, Angel menghadapi persoalan serupa. Giandra mengajaknya menghadiri acara ulang tahun seorang teman. Angel khawatir akan bertemu orang-orang yang mengetahui taruhan mereka.
"Aku tidak mau menjadi bahan tatapan," katanya.
"Kalau begitu kita tidak perlu datang," jawab Giandra.
"Itu temanmu."
"Dan kenyamananmu lebih penting daripada pesta."
Angel menatapnya curiga. "Kamu tidak keberatan?"
"Aku yang menciptakan alasan kamu merasa tidak aman. Aku tidak berhak menyuruhmu mengabaikannya."
Angel akhirnya memilih datang hanya selama satu jam. Di pesta itu, beberapa orang memang berbisik. Giandra tidak meninggalkannya dan tidak mencoba menutupi masa lalu. Ketika seorang teman bercanda tentang taruhan, Giandra langsung menghentikannya.
"Itu bukan bahan lelucon," katanya tegas. "Aku menyakiti seseorang karena permainan itu."
Angel mendengar dari sampingnya. Untuk pertama kalinya, Giandra membelanya ketika tidak ada kamera dan tidak ada keuntungan yang bisa didapat.
Dalam perjalanan pulang, Angel berkata, "Terima kasih."
"Aku hanya melakukan hal yang seharusnya kulakukan sejak awal."
"Tetap saja, terima kasih."
Malam itu Bianca dan Angel saling menceritakan kejadian mereka. Keduanya menyadari bahwa kepercayaan bukan pintu yang sekali dibuka akan terus terbuka. Ia lebih menyerupai jalan yang harus dipilih lagi setiap hari.
Rena datang membawa sebuah surat resmi. Proses hukum terhadap Dea mendekati keputusan, tetapi pihak Dea kembali menawarkan perdamaian dan permintaan maaf terbuka.
"Dia ingin bertemu langsung," kata Rena.
Bianca menggeleng. "Aku tidak perlu menemuinya."
"Kamu yakin?"
"Memaafkan tidak selalu membutuhkan pertemuan. Biarkan pengacara mengurusnya."
Keputusan itu membuat Bianca lega. Ia tidak lagi merasa wajib menghadapi setiap orang hanya demi mendapatkan penutup.
Namun masalah lain muncul. Sebuah majalah menawarkan wawancara eksklusif tentang hubungannya dengan Diego. Bayarannya besar dan bisa memulihkan beberapa kontrak yang hilang.
"Mereka ingin kisah cinta yang dramatis," jelas Rena. "Pengkhianatan, perpisahan, lalu kesempatan kedua."
Bianca membaca daftar pertanyaannya. Sebagian besar menjadikan luka Angel sebagai tambahan cerita.
"Tolak. Aku tidak akan menjual kehidupan Angel."
Rena mengangguk bangga. "Aku sudah menduga jawabanmu."
Pada hari yang sama, Diego mendapat tekanan dari keluarganya. Ayahnya menganggap hubungan dengan Bianca merusak citra perusahaan dan menyuruhnya menerima perjodohan bisnis baru.
"Aku sudah terlalu lama hidup berdasarkan permainan dan tuntutan orang lain," jawab Diego. "Kali ini aku menentukan sendiri."
Ayahnya mengancam mencabut sebagian kewenangannya. Diego tetap menolak. Ia tidak segera menceritakannya kepada Bianca karena tidak ingin terlihat seolah sedang berkorban. Tetapi Bianca mendengar kabar itu dari Rena.
"Kenapa kamu tidak bilang?" tanyanya ketika mereka bertemu.
"Karena itu masalahku dengan keluargaku. Aku tidak mau kamu merasa berutang kepadaku."
"Aku tidak berutang. Tapi kalau kita sedang mencoba jujur, aku perlu tahu masalah yang bisa memengaruhi kita."
Diego mengangguk. "Kamu benar. Aku masih sering menyembunyikan sesuatu dengan alasan melindungi orang lain."
Kalimat itu mengingatkan Bianca pada dirinya sendiri. Dulu ia melakukan hal serupa kepada Angel.
"Lain kali katakan," ujarnya. "Biarkan aku memilih apakah aku ingin tetap tinggal."
"Baik."
Malamnya Angel menerima panggilan dari Zico, lelaki dari masa lalunya. Nomor itu sudah lama diblokir, tetapi ia menghubungi dari nomor lain.
"Aku dengar kamu kembali dekat dengan Giandra," kata Zico. "Kamu selalu memilih lelaki yang salah."
Angel menggenggam ponsel erat. Dahulu kalimat seperti itu akan membuatnya meragukan diri sendiri.
"Kesalahanku bukan urusanmu," jawabnya. "Dan kamu tidak berhak menilai pilihanku."
Ia memutus panggilan lalu memblokir nomor tersebut. Giandra baru mengetahui kejadian itu ketika Angel sendiri menceritakannya.
"Kamu ingin aku melakukan sesuatu?" tanya Giandra.
"Tidak. Aku hanya ingin kamu tahu."
"Terima kasih sudah percaya kepadaku."
Angel tersenyum. Masa lalu memang dapat kembali mengetuk, tetapi kali ini ia tidak harus membukakan pintu.