Tekanan di perusahaan Diego semakin besar. Beberapa pemegang saham menggunakan skandal taruhan untuk mempertanyakan kepemimpinannya. Ayah Diego memilih tidak membelanya.
Dalam rapat penting, Diego mengakui kesalahannya di hadapan dewan dan menawarkan mundur sementara dari jabatan direktur.
Kabar itu sampai kepada Bianca melalui berita daring. Ia segera menelepon.
"Kamu di mana?"
"Di kantor."
"Aku ke sana."
Diego tidak melarang. Ketika Bianca tiba, kantor itu hampir kosong. Diego duduk sendiri memandangi kota dari jendela.
"Aku tidak dipecat," katanya. "Tapi aku akan cuti sampai evaluasi selesai."
"Kenapa tidak memberitahuku sebelum rapat?"
"Aku baru tahu hasilnya sore ini."
Bianca mendekat. Tidak ada Diego yang selalu percaya diri di hadapannya. Yang ia lihat hanyalah seorang lelaki lelah yang sedang menerima akibat dari masa lalunya.
"Aku takut kamu mengira aku datang karena kasihan," kata Bianca.
"Aku memang tidak ingin dikasihani."
"Aku datang karena aku peduli. Itu berbeda."
Diego menatapnya. Bianca mengulurkan tangan dan kali ini tidak menetapkan batas sampai ujung jalan. Diego menggenggamnya, tetap tanpa menarik lebih dekat.
"Apa yang akan kamu lakukan selama cuti?" tanya Bianca.
"Memperbaiki program perusahaan, mengikuti konseling, dan belajar hidup tanpa bersembunyi di balik pekerjaan."
"Kedengarannya sulit."
"Aku pantas menjalani bagian yang sulit."
"Jangan berubah hanya untuk menghukum dirimu. Berubahlah supaya kamu tidak mengulangi kesalahan."
Diego mengangguk. Nasihat itu menembus rasa bersalah yang selama ini ia jadikan tempat bersembunyi.
Pada saat bersamaan, Giandra mendapat tawaran pekerjaan di luar negeri selama enam bulan. Ia ingin menerimanya, tetapi takut Angel menganggapnya pergi ketika hubungan mereka mulai membaik.
"Kalau itu baik untuk masa depanmu, ambil," kata Angel.
"Bagaimana dengan kita?"
"Kita bahkan belum resmi kembali. Jangan mengorbankan kesempatan lalu suatu hari menyalahkanku."
"Aku tidak akan menyalahkanmu."
"Kalau begitu pergi. Kita lihat apakah kepercayaan ini bisa bertahan meski ada jarak."
Giandra meminta waktu berpikir. Angel juga takut. Namun ia sudah belajar bahwa mencintai seseorang bukan berarti menahan semua langkahnya.
Ketika Bianca pulang dari kantor Diego, Angel menceritakan tawaran itu.
"Kamu sedih?" tanya Bianca.
"Sangat. Tapi aku tidak mau melakukan pengorbanan diam-diam lalu menyebutnya cinta."
Bianca memeluknya. Mereka berdua sedang belajar bahwa merelakan bukan hanya tentang kehilangan. Kadang-kadang merelakan berarti memberi orang yang dicintai ruang untuk bertumbuh.
Giandra menerima pekerjaan di luar negeri. Sebelum keberangkatannya, ia menemui Angel di taman yang pernah menjadi tempat percakapan pertama mereka setelah skandal.
"Enam bulan," kata Giandra. "Aku akan pulang beberapa kali kalau pekerjaan memungkinkan."
"Jangan membuat janji yang tidak bisa kamu tepati."
"Baik. Aku akan menghubungimu dengan jujur. Kalau sibuk, aku bilang sibuk. Kalau rindu, aku bilang rindu."
Angel tersenyum. "Itu lebih masuk akal."
Giandra memberikan selembar kertas berisi alamat tempat tinggal dan nomor kantor. Bukan karena Angel meminta, tetapi sebagai bentuk keterbukaan.
"Aku tidak mau mengawasimu," kata Angel.
"Aku tahu. Aku hanya tidak mau menyembunyikan apa pun."
Hari keberangkatan tiba. Angel dan Bianca mengantar Giandra ke bandara. Diego juga datang untuk mengucapkan selamat jalan kepada sahabatnya.
Suasana sempat canggung ketika empat orang itu berdiri bersama. Dulu mereka dipertemukan oleh permainan. Kini mereka berusaha membentuk hubungan baru di atas sisa kepercayaan yang ada.
"Jaga Angel," kata Giandra kepada Bianca.
Angel langsung menyela, "Aku bisa menjaga diriku sendiri."
Giandra tertawa kecil. "Benar. Maaf. Kebiasaan lama."
Sebelum masuk, Giandra memandang Angel. "Boleh aku memelukmu?"
Angel mengangguk. Pelukan itu singkat, tetapi cukup untuk membuat matanya basah.
"Pulanglah sebagai orang yang lebih baik," bisiknya.
"Aku akan berusaha. Bukan hanya untukmu."
Setelah Giandra pergi, Angel memalingkan wajah agar air matanya tidak terlihat. Bianca menggenggam tangannya. Diego berdiri di sisi lain, tidak ikut memasuki ruang pribadi mereka.
Di perjalanan pulang, Diego mengajak Bianca mampir ke rumah ibunya. Ia ingin mengenalkan Bianca tanpa gelar sebagai model atau perempuan dalam skandal.
"Kalau kamu belum siap, kita bisa menundanya," katanya.
Bianca sempat ragu, lalu setuju. Ibu Diego menyambutnya dengan hangat dan meminta maaf atas sikap keluarga mereka yang sempat membiarkan Dea dianggap sebagai calon pasangan Diego.
"Diego banyak melakukan kesalahan," ucap perempuan itu. "Aku tidak akan memintamu memaafkannya. Aku hanya berterima kasih karena kamu membuatnya berani melihat dirinya sendiri."
"Perubahannya adalah pilihannya," jawab Bianca. "Bukan pekerjaanku."
Ibu Diego tersenyum. "Itu jawaban yang sangat adil."
Ketika mengantar Bianca pulang, Diego tidak meminta kepastian. Di depan apartemen, Bianca justru mendekat dan mencium pipinya.
Diego tampak terkejut.
"Jangan terlalu senang," kata Bianca. "Kita masih berjalan pelan-pelan."
"Aku tidak keberatan berjalan pelan selama arahnya bersamamu."
Bianca tersenyum lalu masuk. Malam itu ia mengerti bahwa perpisahan dan kedekatan dapat hadir bersamaan. Angel melepaskan Giandra pergi tanpa mengakhiri harapan. Sementara dirinya memberi Diego ruang masuk tanpa kehilangan batas.
Dua minggu setelah Giandra berangkat, kehidupan terlihat tenang. Angel dan Giandra berbicara melalui panggilan video setiap beberapa hari. Diego mulai menjalani konseling dan membantu organisasi tempat Bianca berkampanye tanpa memamerkan namanya.
Ketenangan itu pecah ketika Bianca menerima sebuah surat tanpa nama di studio.
Berhenti berpura-pura menjadi korban. Kalau kamu kembali kepada Diego, semua bukti lain akan disebarkan.
Di dalam amplop terdapat foto Bianca dan Diego ketika keluar dari rumah ibu Diego. Sudut pengambilannya menunjukkan seseorang masih mengikuti mereka.
Rena segera memanggil keamanan dan menghubungi pengacara. Dea masih berada dalam pengawasan hukum, sehingga kecil kemungkinan ia bergerak sendiri.
"Mungkin ada orang lain yang terlibat," kata Rena.
Bianca menelepon Diego. Lelaki itu datang bersama petugas keamanan, tetapi berhenti beberapa meter darinya.
"Boleh aku melihat suratnya?"
Bianca menyerahkannya. Rahang Diego mengeras.
"Aku akan mencari tahu."
"Kita akan mencari tahu," koreksi Bianca. "Ini hidupku. Jangan membuat rencana tanpa melibatkanku."
"Baik. Kita laporkan bersama."
Pemeriksaan rekaman studio menunjukkan seorang kurir mengenakan helm tertutup. Nomor kendaraan palsu. Namun kertas surat memiliki cap toko alat tulis dekat kantor lama Damar.
Diego menghubungi Damar. Awalnya tidak ada jawaban. Beberapa jam kemudian Damar menelepon kembali dengan suara gugup.
"Aku tidak mengirim surat itu," katanya. "Tapi mungkin aku tahu siapa yang melakukannya."
"Siapa?"
"Rafael. Dia ada bersama kita pada malam taruhan, tapi duduk di ruangan sebelah. Dia pernah meminta salinan video karena ingin menjatuhkanmu di perusahaan. Aku menolak, tetapi mungkin dia mengambilnya dari penyimpanan awanku."
Rafael adalah sepupu Diego sekaligus salah satu orang yang menginginkan jabatannya. Selama ini semua perhatian tertuju kepada Dea sehingga namanya tidak pernah diperiksa.
"Kirim semua yang kamu tahu kepada pengacara," kata Diego.
Angel yang mendengar kabar itu ingin pulang lebih cepat dari tempat kerja. Bianca melarangnya panik.
"Aku tidak sendiri. Keamanan sudah ditambah," katanya.
"Aku tetap pulang. Bukan karena kamu tidak bisa menjaga diri, tapi karena aku ingin berada di sana."
Kalimat itu menghangatkan hati Bianca. Kali ini kebersamaan mereka bukan kewajiban atau pengorbanan, melainkan pilihan.
Malamnya, keempatnya terhubung melalui panggilan video. Giandra ikut dari luar negeri dan memberikan informasi tentang hubungan Rafael dengan para pemegang saham. Diego menyerahkan seluruh data kepada penyidik tanpa mencoba menyelesaikannya sendiri.
"Besok kamu jangan datang ke studio," kata Diego kepada Bianca.
"Aku tetap bekerja. Tetapi aku akan membawa pengawal."
Diego hendak membantah, lalu mengurungkan niat. "Baik. Kabari kalau ada perubahan."
Setelah panggilan selesai, Bianca berdiri di balkon bersama Angel.
"Kamu takut?" tanya Angel.
"Iya. Tapi aku tidak mau hidupku dikendalikan ancaman."
Ponsel Bianca bergetar. Pesan dari nomor tidak dikenal muncul.
Kalian menuduh orang yang salah. Besok semuanya akan berakhir.
Bianca menunjukkan layar kepada Angel. Mereka saling berpandangan, lalu segera menghubungi penyidik.
Di luar gedung, sebuah mobil hitam berhenti cukup lama sebelum kembali melaju. Seseorang di dalamnya baru saja mengambil foto jendela apartemen mereka.