Pesan ancaman itu membuat malam terasa lebih panjang. Penyidik meminta Bianca dan Angel tidak meninggalkan apartemen sampai petugas datang. Diego juga diminta tidak bergerak sendiri.
Rekaman kamera keamanan memperlihatkan mobil hitam yang berhenti di depan gedung. Nomor pelatnya tidak terlihat jelas, tetapi salah satu kamera jalan merekam stiker kecil pada kaca belakang.
"Stiker perusahaan Rafael," kata Diego setelah melihat gambar itu.
"Belum tentu dia yang berada di dalam," jawab Bianca. "Kita serahkan kepada penyidik."
Diego mengangguk. Dahulu ia pasti akan mengejar Rafael tanpa berpikir. Kini ia mengikuti keputusan Bianca.
Keesokan harinya Bianca tetap datang ke studio dengan pengawalan. Ancaman tidak boleh menentukan hidupnya. Namun saat sesi berlangsung, listrik mendadak padam. Suara benda jatuh membuat beberapa kru berteriak.
"Bianca, tetap di sini!" perintah Rena.
Petugas keamanan memeriksa seluruh ruangan. Tidak ada penyusup, tetapi sebuah amplop ditemukan di meja rias Bianca.
Di dalamnya terdapat foto lama Diego, Giandra, Damar, dan Rafael. Di belakang foto tertulis satu kalimat.
Diego bukan satu-satunya pembohong.
Bianca langsung menyerahkan amplop kepada penyidik. Sidik jari yang ditemukan sebagian rusak, tetapi rekaman lorong menunjukkan seorang kru tambahan memasuki ruang rias sebelum listrik padam.
Orang itu ditangkap di terminal bus sore harinya. Ia mengaku dibayar untuk mengantar surat, tetapi bukan oleh Rafael. Pembayaran berasal dari sebuah rekening atas nama perusahaan milik ayah Diego.
"Ayahmu?" tanya Bianca ketika Diego datang bersama pengacaranya.
Wajah Diego memucat. "Aku tidak percaya beliau akan melakukan ini."
"Dulu aku juga tidak percaya kamu ikut taruhan."
Diego menerima kalimat itu tanpa membela diri. Ia menelepon ayahnya di hadapan semua orang.
"Datanglah ke kantor penyidik besok," katanya. "Kalau Ayah tidak terlibat, buktikan."
"Kamu memilih perempuan itu daripada keluargamu?" suara ayahnya terdengar keras.
"Aku memilih kebenaran."
Panggilan diputus dari seberang.
Malamnya Damar mengirim sebuah berkas lama. Dokumen itu menunjukkan Rafael pernah diperintah mengawasi Diego agar skandal dapat dipakai untuk memaksanya mundur. Perintah tersebut ditandatangani oleh sekretaris pribadi ayah Diego.
Bianca menatap Diego. Ia tahu lelaki itu sedang menghadapi kemungkinan bahwa keluarganya sendiri menjadikannya sasaran.
"Aku tidak akan meminta kamu memaafkan keluargaku," kata Diego.
"Dan aku tidak akan meninggalkanmu hanya supaya mereka menang," jawab Bianca. "Tapi kita hadapi ini dengan hukum."
Untuk pertama kalinya sejak semuanya terbongkar, Bianca menggenggam tangan Diego di depan orang lain. Bukan karena lupa pada kesalahannya, melainkan karena kali ini Diego memilih berdiri di pihak yang benar.
Ayah Diego akhirnya datang memenuhi panggilan penyidik. Ia menyangkal memberi perintah menyebarkan video atau mengancam Bianca. Menurutnya, pembayaran kepada kurir dilakukan tanpa sepengetahuannya oleh sekretaris perusahaan.
Rafael juga diperiksa. Ia mengakui pernah mencari bukti untuk menjatuhkan Diego, tetapi bersikeras tidak mengirim ancaman terakhir.
"Saya hanya menyerahkan informasi kepada paman saya," katanya. "Saya tidak tahu akan digunakan untuk apa."
Diego menunggu pemeriksaan selesai bersama Bianca dan Rena. Ketika ayahnya keluar, lelaki tua itu menghampirinya.
"Pulanglah dan hentikan semua ini. Ayah bisa membuat masalahnya selesai."
"Dengan uang?"
"Dengan melindungi nama keluarga."
"Nama keluarga rusak karena kebohongan kita sendiri."
Ayah Diego menatap Bianca. "Sejak perempuan ini datang, kamu melawan keluargamu."
Bianca hendak menjawab, tetapi Diego berdiri di depannya.
"Jangan salahkan Bianca atas pilihan saya."
"Kalau begitu tinggalkan perusahaan."
"Jika itu harga untuk berhenti menjadi boneka Ayah, saya akan pergi."
Keputusan Diego membuat semua orang terdiam. Ia menyerahkan surat pengunduran diri pada hari itu juga. Saham miliknya tetap ada, tetapi ia melepaskan jabatan dan fasilitas perusahaan.
"Kamu yakin?" tanya Bianca di luar gedung.
"Aku tidak melakukannya untuk mendapatkanmu. Aku melakukannya karena baru sadar selama ini aku membiarkan kekuasaan keluargaku menentukan siapa yang boleh terluka."
"Lalu apa rencanamu?"
"Memulai lagi."
Di apartemen, Angel sedang menerima panggilan dari Giandra. Lelaki itu mendengar kabar tersebut dan ingin pulang untuk membantu Diego.
"Kalau pekerjaanmu bisa ditinggalkan tanpa merusak masa depanmu, pulanglah," kata Angel. "Tapi jangan mengambil keputusan hanya karena rasa bersalah."
Giandra akhirnya meminta cuti satu minggu. Ia pulang dua hari kemudian dan langsung memberikan kesaksian tentang Rafael serta percakapan lama keluarga Diego.
Penyelidikan kemudian menemukan sekretaris ayah Diego sebagai pengirim surat. Ia mengaku diperintah membuat Bianca takut agar menjauh. Namun ancaman untuk menyebarkan bukti lain adalah idenya sendiri. Ia berharap Diego kembali tunduk kepada keluarga setelah kehilangan Bianca.
Ayah Diego tetap menyangkal memberi perintah langsung. Bukti yang ada cukup untuk menyeret sekretarisnya, tetapi belum cukup menghubungkannya dengan ancaman secara pidana.
"Aku ingin masalah ini selesai," kata Bianca kepada Diego. "Bukan ditutup, tetapi diselesaikan dengan benar."
"Kita akan mengikuti prosesnya."
Bianca memandang lelaki itu lama. "Kamu mengatakan kita."
Diego terlihat gugup. "Maaf. Kalau kamu tidak nyaman—"
"Aku tidak bilang aku tidak nyaman."
Senyum kecil muncul di wajah Diego. Di tengah masalah keluarga yang runtuh, satu kata itu menjadi harapan yang tidak berani ia minta.
Giandra hanya memiliki waktu tujuh hari sebelum kembali bekerja. Setelah memberi kesaksian, ia meminta bertemu Angel.
Mereka duduk di taman dekat apartemen. Giandra tampak lebih kurus, tetapi tatapannya lebih tenang.
"Aku tidak pulang untuk meminta jawaban," katanya. "Diego membutuhkan kesaksianku."
"Aku tahu."
"Tapi aku senang bisa melihatmu."
Angel tersenyum. "Aku juga."
Mereka menghabiskan waktu berbicara tentang pekerjaan dan kehidupan sehari-hari. Tidak ada pembahasan panjang mengenai taruhan. Untuk pertama kalinya, mereka dapat duduk bersama tanpa masa lalu memenuhi seluruh percakapan.
Ketika hujan turun, mereka berlari menuju atap halte. Angel tertawa saat melihat pakaian Giandra basah kuyup.
"Kenapa kamu tertawa? Kamu juga basah," kata Giandra.
"Wajahmu lucu."
Giandra ikut tertawa. Suasana ringan itu mengingatkan Angel pada alasan ia pernah menyukai lelaki tersebut sebelum semuanya hancur.
"Giandra," katanya setelah tawa mereka reda, "aku ingin mencoba lagi."
Giandra membeku. "Kamu yakin?"
"Bukan kembali ke hubungan lama. Kita mulai yang baru. Kalau ada kebohongan lagi, sekecil apa pun, aku pergi."
"Aku mengerti."
"Dan hubungan jarak jauh ini harus dijalani oleh kita berdua, bukan hanya aku yang menunggu."
"Aku akan berusaha."
Angel menggeleng. "Jangan hanya berusaha. Lakukan."
"Baik. Aku akan melakukannya."
Giandra mengulurkan tangan, tetapi berhenti sebelum menyentuhnya. Angel sendiri yang mendekat dan memeluknya. Hujan terus turun di depan mereka, menutup dunia dengan tirai tipis.
Bianca mengetahui keputusan itu malamnya. Ia tidak memberi nasihat, hanya bertanya apakah Angel bahagia.
"Aku takut, tapi iya," jawab Angel.
"Kalau begitu aku mendukungmu."
"Bagaimana dengan Diego?"
Bianca menghela napas. "Aku masih belum tahu nama hubungan kami. Tapi ketika keluarganya menyerang, dia tidak menyembunyikan apa pun."
"Mungkin kamu tidak membutuhkan nama sekarang."
Pada hari terakhir Giandra di kota, empat orang itu makan malam bersama. Suasana sempat kaku, lalu Angel sengaja menumpahkan saus ke piring Giandra karena lelaki itu mengejek masakannya. Bianca tertawa, disusul Diego.
Mereka tidak melupakan masa lalu. Namun malam itu mereka menemukan bahwa kebersamaan tidak harus selalu dihantui olehnya.
Sebelum pergi, Giandra berbicara empat mata dengan Diego.
"Kamu benar-benar meninggalkan perusahaan?"
"Iya."
"Kalau butuh bantuan, katakan."
Diego tersenyum. "Jalani pekerjaanmu. Aku akan menemukan jalanku sendiri."
Dua sahabat itu berpelukan singkat. Taruhan pernah menghancurkan mereka. Kini tanggung jawab perlahan mengajari mereka cara menjadi manusia yang lebih baik.