Kabar hubungan Bianca dan Diego tersebar keesokan harinya. Foto buram dari pasar malam memenuhi media sosial. Sebagian orang mendukung, sebagian lain menuduh Bianca tidak punya harga diri karena kembali kepada lelaki yang pernah mempertaruhkannya.
Komentar terakhir menusuk lebih dalam daripada yang ingin Bianca akui.
"Apa aku terlihat bodoh?" tanyanya kepada Angel.
"Kamu terlihat seperti orang dewasa yang membuat keputusan rumit."
"Kalau Diego mengulanginya?"
"Kamu pergi. Tapi jangan menghukum keputusan hari ini karena sesuatu yang belum terjadi."
Bianca mematikan ponselnya. Ia memilih menghadiri rapat kampanye alih-alih membaca pendapat orang asing.
Di kantor barunya, Diego juga menerima kritik. Sejumlah calon mitra membatalkan kerja sama setelah ayahnya resmi diperiksa. Mereka khawatir usaha Diego hanyalah cara membersihkan nama.
"Mungkin mereka benar," kata Diego kepada timnya. "Niat awal program ini memang lahir dari rasa bersalah. Tetapi kegunaannya tidak boleh bergantung pada citraku."
Ia mengubah struktur organisasi dan menyerahkan pengawasan kepada dewan independen. Namanya tidak lagi menjadi pusat program.
Bianca mengetahui keputusan itu ketika menghadiri peluncuran layanan pertama. Diego berdiri di belakang ruangan, sementara para ahli dan pendamping korban berada di panggung.
"Kenapa kamu tidak ikut bicara?" tanya Bianca.
"Karena aku bukan korban dan bukan ahli. Tugasku menyediakan sumber daya."
Bianca tersenyum. "Akhirnya kamu tahu kapan harus diam."
"Pelajaran yang mahal."
Setelah acara, ayah Diego datang tanpa pemberitahuan. Semua orang menegang.
"Ayah hanya ingin bicara dengan putra Ayah," katanya.
Diego mengajak Bianca masuk ke ruangan. "Tidak ada lagi pembicaraan rahasia yang dapat memengaruhi hidupnya."
Ayahnya meletakkan dokumen di meja. Ia menawarkan jabatan Diego kembali jika putranya mencabut kesaksian dan menyebut keterlibatan keluarga sebagai salah paham.
"Tidak," jawab Diego.
"Kamu akan membuang nama keluarga demi perempuan ini?"
"Saya menjaga nama saya sendiri dengan berkata benar."
Ayah Diego pergi dengan marah. Setelah pintu tertutup, tangan Diego gemetar.
Bianca memeluknya. "Kamu tidak kehilangan nama keluargamu. Kamu sedang menentukan arti nama itu untuk dirimu sendiri."
Diego membalas pelukan itu dengan hati-hati. Kali ini Bianca tahu ia tidak sedang menyelamatkan Diego. Ia hanya menemani lelaki itu menghadapi harga dari pilihannya.
Hubungan jarak jauh Angel dan Giandra mulai diuji oleh waktu. Jadwal kerja Giandra semakin padat, sementara proyek Angel menuntutnya bepergian ke beberapa kota.
Pada ulang tahun Angel, Giandra berjanji melakukan panggilan video tengah malam. Angel menunggu di ruang tamu bersama kue kecil yang dibeli Bianca.
Pukul dua belas lewat. Tidak ada panggilan.
Pukul satu dini hari, ponselnya tetap sunyi.
"Tidurlah," kata Bianca. "Aku temani."
Angel menggeleng. "Dia berjanji."
Baru pada pukul dua Giandra menelepon. Wajahnya tampak panik.
"Selamat ulang tahun. Maaf, rapatnya—"
"Kamu bisa mengirim pesan."
"Aku pikir akan selesai sebentar lagi."
"Lalu aku terus menunggu karena janji yang kamu buat sendiri."
Giandra terdiam. Ia tidak berdalih lagi.
"Aku salah."
"Aku tidak butuh hadiah atau kejutan. Aku butuh kamu menghargai waktuku."
Angel memutus panggilan. Tangisnya pecah setelah layar gelap. Bianca tidak mengatakan bahwa Giandra pasti punya alasan. Ia hanya duduk di samping sahabatnya.
Keesokan paginya sebuah buket bunga besar datang. Angel menolaknya. Beberapa jam kemudian Giandra mengirim pesan singkat.
Aku tidak akan menutupi kesalahanku dengan hadiah. Aku akan menunggu sampai kamu siap bicara.
Angel baru menelepon dua hari kemudian.
"Aku tidak ingin berpisah hanya karena satu janji terlambat," katanya. "Tapi masalahnya bukan satu malam. Aku takut kembali menjadi orang yang terus menunggu."
"Aku mengerti. Mulai sekarang aku tidak akan memberi janji kalau tidak yakin bisa menepatinya. Dan kalau keadaan berubah, aku akan mengabari."
"Aku akan melihatnya dari tindakanmu."
"Baik."
Sebulan berikutnya Giandra tidak lagi menjanjikan hal besar. Ia hadir melalui pesan sederhana, panggilan singkat, dan kabar yang jujur ketika sibuk. Perlahan, kecemasan Angel berkurang.
Pada suatu pagi sebuah paket tiba. Isinya bukan barang mewah, melainkan rekaman suara Giandra membaca cerita pendek favorit Angel.
Di akhir rekaman ia berkata, "Aku tidak bisa mengembalikan waktu yang membuatmu menunggu. Tapi aku bisa belajar menghargai setiap waktumu setelah ini."
Angel tersenyum sambil menangis. Beberapa janji memang datang terlambat. Namun yang menentukan nilainya adalah tindakan setelah janji itu diucapkan.
Hari persidangan utama tiba. Bianca harus memberikan kesaksian tentang pengambilan foto, ancaman, dan dampaknya terhadap hidupnya. Ruang sidang dipenuhi wartawan.
Sebelum masuk, Diego menghampirinya.
"Aku akan berada di dalam," katanya. "Tapi kalau kehadiranku membuatmu tidak nyaman—"
"Tetaplah."
Bianca memberi kesaksian dengan suara tenang. Pengacara pihak lawan mencoba menggambarkan hubungannya dengan Diego sebagai alasan bahwa foto-foto itu layak menjadi konsumsi publik.
"Anda seorang model. Bukankah kehidupan Anda memang selalu berada di depan kamera?"
"Pekerjaan saya berada di depan kamera dengan persetujuan saya," jawab Bianca. "Itu tidak memberi siapa pun izin mengambil dan menyebarkan kehidupan pribadi saya."
"Anda kembali berhubungan dengan Diego. Apakah itu berarti kerugian yang Anda alami tidak sebesar yang dikatakan?"
"Memaafkan seseorang tidak menghapus tindakan orang lain. Hubungan saya dengan Diego tidak membebaskan mereka yang mencuri dan menyebarkan data saya."
Ruangan menjadi sunyi. Bianca menatap hakim, bukan kamera.
Angel juga memberikan kesaksian mengenai dampak video taruhan. Ia menjelaskan bagaimana sebuah percakapan yang dianggap lelucon membuatnya mempertanyakan setiap perhatian yang pernah diterima.
Kemudian Diego bersaksi melawan ayahnya sendiri. Ia mengakui kesalahannya dalam taruhan dan menolak mengalihkan tanggung jawab.
"Saya memberi mereka senjata ketika saya ikut merendahkan Bianca dan Angel," katanya. "Tetapi keputusan menyalahgunakan rekaman dan mengancam mereka tetap merupakan tindakan yang harus dipertanggungjawabkan."
Putusan belum dijatuhkan hari itu. Namun ketika mereka keluar, Bianca merasa beban di dadanya sedikit berkurang.
Di tangga gedung, ayah Diego menghampiri putranya.
"Mulai hari ini kamu bukan anak Ayah lagi."
Diego memandangnya dengan mata basah. "Saya tetap anak Ayah. Tetapi saya tidak akan menjadi alasan Ayah menghindari akibat perbuatan sendiri."
Ia berjalan pergi sebelum air matanya jatuh. Bianca mengejarnya, tetapi tidak langsung memeluk.
"Apa yang kamu butuhkan?" tanyanya.
"Temani aku pulang."
"Baik."
Di mobil, Diego menangis tanpa menutupi wajah. Bianca menggenggam tangannya. Ia tidak menjanjikan bahwa hubungan keluarga itu akan pulih. Ia hanya hadir, persis seperti yang diminta Diego.