Putusan dibacakan dua minggu kemudian. Sekretaris perusahaan dan Rafael dinyatakan bersalah atas pencurian serta penyalahgunaan data. Ayah Diego menerima hukuman atas perannya dalam perencanaan dan intimidasi. Dea mendapat hukuman lebih ringan setelah mengakui keterlibatannya dan bekerja sama dalam penyelidikan.
Tidak ada sorak kemenangan ketika hakim selesai membaca putusan. Bianca hanya mengembuskan napas panjang.
"Sudah selesai?" tanya Angel.
"Bagian hukumnya, mungkin. Bagian lainnya membutuhkan waktu."
Diego tidak menghadiri konferensi pers. Ia pergi menemui ibunya, yang terpukul oleh keputusan pengadilan. Bianca memberinya ruang tanpa merasa ditinggalkan.
Beberapa hari kemudian Diego datang ke apartemen. Wajahnya masih menyimpan lelah, tetapi ia membawa kabar bahwa layanan keamanan digitalnya mendapat pendanaan mandiri.
"Berarti kamu tidak perlu kembali ke perusahaan keluarga," kata Bianca.
"Aku tidak ingin kembali."
"Apa kamu membenci ayahmu?"
Diego berpikir sebelum menjawab. "Aku marah. Tapi aku tidak mau menghabiskan hidup dengan kebencian. Aku akan merelakan hubungan yang kuharapkan darinya, setidaknya untuk sekarang."
Bianca memahami kalimat itu. Merelakan bukan selalu tentang kekasih. Kadang-kadang seseorang harus melepaskan harapan bahwa orang tua, sahabat, atau masa lalu akan berubah sesuai keinginannya.
Enam bulan penugasan Giandra hampir berakhir. Ia memberi tahu Angel bahwa perusahaan menawarinya perpanjangan kontrak satu tahun.
"Kamu mau menerimanya?" tanya Angel melalui panggilan video.
"Karierku akan berkembang di sini. Tapi aku juga ingin pulang."
"Jangan meminta aku memilihkan."
"Aku tidak akan. Aku sedang mempertimbangkan apa yang benar-benar kuinginkan."
Tiga hari kemudian Giandra menolak perpanjangan itu. Ia tidak menyebut Angel sebagai alasan tunggal. Ia sudah mendapat cukup pengalaman dan ingin membangun sesuatu di kotanya sendiri.
"Aku pulang bulan depan," katanya.
Angel tersenyum lebar. "Aku akan menjemputmu."
Di balkon, Bianca dan Diego berdiri berdampingan. Hubungan mereka kini lebih tenang, meski belum sempurna.
"Aku mencintaimu," kata Diego.
Bianca tidak lagi takut menjawab. "Aku juga mencintaimu."
"Apakah kamu menyesal memberiku kesempatan?"
"Belum. Jangan membuatku menyesal."
Diego tertawa kecil. "Aku akan menjaganya setiap hari."
Bianca menyandarkan kepala di bahunya. Ia telah merelakan Giandra, kemarahan, dan keinginan untuk selalu terlihat kuat. Angel telah merelakan rasa takutnya untuk mencoba percaya lagi. Diego dan Giandra merelakan versi diri mereka yang menganggap cinta sebagai permainan.
Mereka belum mencapai akhir perjalanan. Namun untuk pertama kalinya, masa depan tidak dibangun dari taruhan atau pengorbanan tersembunyi. Masa depan itu dibangun dari pilihan yang bebas dan kebenaran yang terus dijaga.
Angel tiba di bandara satu jam lebih awal. Ia beberapa kali memeriksa layar kedatangan, seolah nomor penerbangan Giandra dapat berubah jika tidak diawasi.
"Tenanglah," kata Bianca. "Pesawatnya sudah mendarat."
"Aku tenang."
"Kamu sudah merapikan rambut tujuh kali."
Angel mencubit lengan sahabatnya. Diego yang berdiri di samping Bianca hanya tersenyum.
Ketika Giandra akhirnya muncul membawa koper, Angel tidak lagi memedulikan orang-orang di sekitarnya. Ia berlari dan memeluk lelaki itu. Giandra sempat terhuyung, lalu membalas pelukannya.
"Aku pulang," bisiknya.
"Kamu terlambat lima belas menit."
"Pesawatnya yang terlambat. Aku punya bukti."
Angel tertawa dalam tangisnya. Jarak enam bulan telah mengubah mereka. Giandra belajar memberi kabar tanpa diminta, sedangkan Angel belajar menyampaikan takut tanpa mengubahnya menjadi tuduhan.
Diego menyambut sahabatnya dengan pelukan singkat. "Selamat pulang."
"Kantor barumu masih punya tempat untuk orang yang baru menganggur?"
"Kamu serius?"
Giandra mengangguk. Ia ingin membantu mengembangkan layanan keamanan digital milik Diego, terutama untuk kerja sama internasional yang dipelajarinya selama di luar negeri.
Mereka makan bersama malam itu. Angel dan Giandra belum memutuskan tinggal bersama. Giandra menyewa apartemen sendiri agar keduanya punya ruang.
"Aku tidak mau kepulanganku membuatmu merasa harus langsung melanjutkan semuanya," katanya kepada Angel.
"Aku menghargai itu."
Bianca memperhatikan mereka. Dulu ia mengira harus menyingkir agar Angel mendapatkan Giandra. Kini ia melihat kebahagiaan sahabatnya tumbuh bukan dari pengorbanannya, melainkan dari dua orang yang memilih saling memperbaiki diri.
Dalam perjalanan pulang, Diego bertanya, "Kamu baik-baik saja melihat mereka?"
Bianca tersenyum. "Aku bahagia untuk mereka. Tanpa rasa kehilangan."
Diego menggenggam tangannya. "Dan untuk kita?"
"Aku juga bahagia."
Jawaban sederhana itu cukup. Tidak ada lagi persaingan, hadiah, atau seseorang yang harus mengalah. Hari kepulangan Giandra sekaligus menjadi tanda bahwa mereka akhirnya meninggalkan permainan lama jauh di belakang.
Kehadiran Giandra membuat kantor kecil Diego semakin ramai. Ia membawa rencana kerja sama dengan lembaga luar negeri dan menawarkan sistem pelaporan yang lebih aman bagi korban.
"Kita membutuhkan orang yang memahami pengalaman korban," kata Giandra. "Bukan hanya tenaga teknologi."
Diego mengajak Angel menjadi konsultan komunikasi. Angel tidak langsung menerima.
"Aku tidak mau mendapat pekerjaan hanya karena dekat dengan kalian."
"Kamu punya pengalaman proyek dan memahami bagaimana media memperlakukan korban," jawab Diego. "Tetap ada proses seleksi."
Angel mengikuti wawancara bersama kandidat lain dan akhirnya diterima untuk kontrak tiga bulan. Ia merasa lega karena keputusan itu dibuat berdasarkan kemampuannya.
Bianca memilih tetap berada di luar perusahaan. Ia membantu kampanye hanya ketika dibutuhkan. Karier modelnya mulai pulih dan ia mendapat tawaran menjadi wajah produk internasional selama enam bulan.
"Pemotretannya akan dilakukan di beberapa negara," kata Rena. "Kesempatan ini besar."
Bianca senang sekaligus khawatir. Jadwal tersebut berarti ia akan sering jauh dari Diego.
"Ambil," kata Diego ketika mendengarnya.
"Kamu tidak keberatan?"
"Aku akan merindukanmu. Tapi aku tidak mau cinta kita menjadi alasan kamu mengecilkan hidupmu."
Bianca terdiam. Jawaban itu berbeda dari Diego yang dulu ingin menguasai setiap keadaan.
"Hubungan jarak jauh tidak mudah," katanya.
"Angel dan Giandra berhasil melewatinya. Kita bisa belajar dari mereka."
Bianca menerima kontrak tersebut. Mereka menyusun kesepakatan sederhana: tidak menjanjikan panggilan ketika jadwal tidak memungkinkan, selalu memberi kabar tentang perubahan, dan tidak menyimpan masalah dengan alasan melindungi pasangan.
Di rumah, Angel membantu Bianca memilih barang yang akan dibawa.
"Dulu aku yang pergi," kata Angel. "Sekarang giliranmu."
"Kamu akan baik-baik saja?"
"Aku punya pekerjaan, Giandra, dan kemampuan membeli susu sendiri."
Bianca tertawa. Ia sadar kekhawatirannya masih sering berubah menjadi keinginan menjaga secara berlebihan.
"Aku percaya kepadamu," katanya.
"Dan aku percaya kamu tidak akan mengorbankan kesempatan ini demi siapa pun."
Rencana baru itu menakutkan, tetapi juga membebaskan. Mereka tidak lagi membangun kehidupan dengan berpusat pada cinta semata. Cinta berjalan bersama mimpi, pekerjaan, dan ruang bagi diri sendiri.