"Hore!" Azkia bersorak gembira, mengepalkan jari-jari tangannya, mendorong tangan kecilnya ke atas.
"Hore kita sampai!" Papa Azkia ikut bersorak setelah sampai di lapangan, menurunkan Azkia dari punggungnya.
Azkia berseri-seri menatap papa-nya, sudah tidak sabar diajarkan main voli.
Papa Azkia menyeringai melihat putri kecilnya menatapnya sebegitunya, penuh harap.
"Ayo Pa ajarin Azkia!"
"Iya Sayang. Papa bakal ajarin Azkia sampai pandai " Papa Azkia tersenyum senang, semangat Azkia ikut berpindah pada papa-nya.
"Hmm, bagaimana jika kita mulai dari service?" tanya papa Azkia kebingungan harus mulai dari mana.
"Service? Service itu apa Papa?" Azkia nampak kebingungan, memeluk bolanya.
Papa Azkia menepuk keningnya sendiri. "Harus mulai dari sana dulu ya?" Papa Azkia menghela nafas, harus menjelaskan pengertian service dulu pada Azkia.
"Azkia, dengerin Papa baik-baik ya."
Azkia langsung mengangguk, semangat. "Service itu adalah salah satu teknik dalam permainan bola voli, pukulan awal yang dilakukan pemain untuk melambungkan bola ke arah tim lawan. Teknik ini pun menandai permainan telah dimulai."
Azkia mengangguk-angguk, seolah paham maksud perkataan papa-nya.
"Biasanya, terdapat bermacam-macam service yang dapat dilakukan dan disesuaikan dengan strategi permainan bola voli yang digunakan. Azkia harus tau teorinya dulu ya sebelum melakukan praktek." Papa Azkia mengingatkan.
Azkia tidak keberatan jika harus mendengar papa-nya berceloteh panjang.
"Yang pertama, Float service adalah teknis servis yang dilakukan dengan cara melambungkan ke udara, lalu memukulnya tanpa membuat bola berputar-putar, sehingga laju bola bergerak melambung horizontal."
Walau Azkia nampak semangat mendengar penjelasan papa-nya, tapi papa Azkia tau yang diinginkan oleh Azkia sekarang bukanlah teori, tapi praktek.
"Sini papa bolanya, Papa bakal tunjukkin cara mengepal tangan dan melambungkan bola pada Azkia."
Azkia langsung semangat, mimik mukanya berubah drastis, dia dari tadi memang ingin langsung melihat papa-nya bermain bola, Azkia menyerahkan bola voli yang sudah dipeluknya sedari tadi pada papa-nya dengan ikhlas.
"Buat posisi tangan Azkia seperti ini, kepal tangan kanan Azkia seperti ini." Azkia langsung mengikuti cara papa-nya mengepal tangan kanan. "Lalu tempelkan di tangan kiri seperti ini."
"Hmm, begini Pa?" tanya Azkia bingung melihat tangannya sendiri.
Papa Azkia mengangguk, tersenyum. "Anak Papa cepat paham ya."
"Hehe."
"Sekarang, Azkia lemparkan bola voli ini pada Papa."
Azkia mengangguk, langsung melempar bola voli ke arah papa-nya. Saat bola tepat di hadapannya, papa Azkia langsung memukul bola ke atas, melambungkannya, saat bola jatuh, Papa Azkia kembali melambungkannya, berulang kali dengan metode yang sama.
Azkia langsung bertepuk tangan. "Wah! Papa hebat!"
"Haha ini hanya hal dasar kok. Azkia mau mencobanya?"
Azkia mengangguk cepat, meniru cara main papa-nya tadi. Setelah melihat Azkia mengepalkan tangannya sesuai yang diajarinya tadi, Papa Azkia langsung melempar bola pada Azkia.
Papa Azkia langsung terdiam melihat putri kecilnya sudah asik melambungkan bola, nampak serius, walau dilambungan kedua bolanya sudah terjatuh.
Azkia mendengus kecewa, dia tidak bisa lebih lama dari papa-nya.
"Hahaha tidak apa-apa sayang, yang tadi sudah bagus kok, kamu baru memegang bola voli, tapi kamu sudah bisa melambungkannya sebanyak 2 kali, itu hebat!" Papa Azkia memuji putri kecilnya, mengelus lembut kepala Azkia.
Akhirnya papa Azkia tidak jadi menjelaskan teori dasar bermain bola voli, bapak anak itu kini malah asik saling mengoper bola dengan segala teknik yang nama-nama tekniknya Azkia tidak tau, juga nampak tidak peduli, dia hanya ingin bermain bola voli.
"Sudah mau maghrib sayang, sudah dulu ya mainnya, nanti Mama kamu marah. Ayo masuk ke rumah!"
Azkia langsung mengangguk, dia sudah cukup puas hari ini, mengandeng papa-nya kembali ke rumah.
"Hmm... sudah selesai?" tanya mama Azkia yang sedang asik menonton sinetron favoritnya.
"Sudah mau maghrib Ma." Papa Azkia yang menjawab, menyenderkan tubuh ke dinding, kelelahan. Mengulurkan kedua kakinya.
Azkia meniru papa-nya, ikut menyenderkan tubuh ke dinding. Mengulurkan kedua kakinya.
"Ma, tolong ambilin Papa minum dong, haus nih." Papa Azkia mengipas-ngipas mukanya dengan tangan.
Azkia kembali meniru papa-nya. "Mama, tolong ambilin Azkia minum dong, Azkia haus Ma."
Papa Azkia melirik putri kecilnya yang sudah berani berani meniru-niru dirinya. "Kamu ini ya." Papa Azkia langsung mencubit pipi putri kecilnya itu, gemes.
Mama Azkia hanya tertawa kecil melihat tingkah suami dan putrinya.
oOo
Ujian Bahasa Indonesia telah selesai, pengawas keluar dari ruang ujian sambil membawa soal dan lembar kerja murid-murid.
"Azkia! Kamu rencana mau masuk SMP mana?" tanya Yani, salah satu teman baik Azkia di SD.
"Aku mau masuk SMP 1," jawab Azkia, menyandang tasnya.
"Oh aku tau! Pasti karena di sana ada ekstrakurikuler voli-nya kan?" tebak Yani benar.
"Azkia mengangguk, tersenyum. "Kamu mau masuk SMP mana Ni?" Azkia mengajak Yani mengobrol sambil jalan keluar kelas.
"Hmm... gak tau. Apa aku ambil SMP 1 aja ya? Biar samaan terus sama kamu. Hehe." Yani menyeringai, senang.
"Halah, bilang aja kamu memang ingin sama aku terus." Azkia langsung berlagak sombong.
"Idih! Kamu pede banget." Yani meledek, mencibir.
"Masuk SMP 1 harus punya nilai yang tinggi Yani, nilaimu mengkhawatirkan," sahut Ane, teman Azkia dan Yani yang tiba-tiba menongol dari belakang, memasang wajah datarnya.
"Sejak kapan kamu ada di sana Ane?" tanya Yani sambil mengurut dadanya karena terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Ane.
"Sejak kamu bilang mau masuk SMP 1," jawab Ane cuek.
Yani memasang wajah cemberutnya. "Iya aku tau kok kamu lebih pintar dari aku, walau gak dapat SMP 1 aku masih bisa sekolah di SMP 20. Huh!"
"Gak nanya."
Yani langsung kesal melihat respon Ane yang nampak tidak peduli.
"Hahaha. Sudah-sudah, jangan berantem di sini." Azkia tertawa kecil melihat Yani yang menahan amarah pada Ane.
Sampai di rumah Dinda langsung meloncat ke atas kasur, menatap langit-langit kamar, meraih bola volinya yang ada di meja dengan kaki kanan, melambung-lambungkan bola volinya dengan posisi vertikal. "Aku sudah gak sabar mau main bola voli dengan tim," gumam Azkia pelan. "Ah iya! Aku harus belajar untuk ujian besok, nilaiku harus tinggi biar peluangku masuk SMP 1 lebih besar lagi." Azkia langsung turun dari kasur, beranjak ke meja belajarnya.
Selama 3 hari berturut-turut ini Azkia belajar dengan rajin, pergi ke sekolah untuk mengerjakan ujian nasional, menghentikan kebiasaannya untuk bermain voli di lapangan depan rumah.
Dari hari Senin sampai Rabu, bukan Azkia namanya jika tidak terlambat. Azkia selalu datang di detik-detik terakhir sebelum bel masuk berbunyi. 3 kali terlambat, 3 kali ditegur Pak Anton dan 3 kali pula diperingati oleh guru pengawas, tapi sayangnya Azkia tidak pernah kapok, selalu mengulangi kesalahan yang sama.