"Belajarlah dari seorang tosser, dia mampu membangun serangan. Saat dia melakukan kesalahan, dia pun bertanggung jawab atas kesalahan itu."
Ujian nasional berakhir, anak-anak kelas 6 diliburkan, mereka hanya perlu menunggu ijazah keluar, setelah itu mendaftar di SMP yang mereka inginkan.
Ada waktu kosong selama 1 bulan sebelum pengumuman nilai ujian dan ijazah keluar untuk Azkia berlatih voli lebih lama dan lebih jauh lagi.
Azkia sudah berusia 12 tahun, mimpinya sejak 5 tahun yang lalu untuk menjadi seorang atlet voli yang hebat tidak pernah pudar, malah semakin besar. Kecintaan Azkia pada voli semakin menjadi-jadi, hidupnya hanya tentang voli, voli dan voli.
"Azkia! Sudah mau malam, ayo masuk ke rumah! Makan malam!" Mama Azkia meneriaki Azkia dari balik pagar rumah, menyuruh putrinya itu untuk segera masuk, makan malam.
"Iya Ma!" Arika balas menyahut. Menangkap bola volinya yang melambung di udara, berlari kecil ke rumahnya.
"Aduh Azkia, kamu ini selalu lupa waktu terus saat main voli." Mama Azkia mengeluh, berkomentar.
"Hahaha, lagian tidak ada hal lain yang mau Azkia lakuin Ma, jadi Azkia main voli aja, olahraga." Azkia asal jawab, ngeles.
"Olahraga gak cuman voli kok, gak cuman lempar-lempar bola ke udara kayak kamu. Bantu-bantu Mama di rumah kek, itu juga olahraga." Mama Azkia menggerutu, menceramahi putrinya itu. "Kamu sudah mau masuk SMP, jangan main-main lagi. Mama gak ngelarang kamu main voli kok, tapi ya jangan dijadikan prioritas, belajar itu lebih penting!"
"Sayang, kamu masih ingin jadi atlet voli?" Papa Azkia tiba-tiba muncul, langsung duduk di meja makan.
Azkia mengangguk.
"Palingan juga cuman sementara, habis itu juga mimpinya bakal berubah." Mama Azkia nampak masih kesal, menyiapkan nasi untuk suaminya.
"Hahaha Mama, jangan begitu. Justru bagus dong kalau putri kita punya mimpi hebat seperti itu. Papa yakin Azkia bisa mewujudkan mimpi Azkia, karena Azkia mencintai voli kan? Azkia juga selalu berusaha dengan latihan setiap hari." Papa Azkia tersenyum, mendukung penuh impian putrinya itu.
"Tapi Mama gak suka melihat Azkia yang selalu lupa waktu tiap main voli! Selama libur ini dia terus main dan main. Kamu sudah remaja Azkia, sekali-kali Mama ingin lihat kamu main sama teman-teman kamu, gak melulu main voli di depan rumah, kalau tau begitu seharusnya dulu Mama gak beliin kamu bola itu."
Azkia menundukkan pandangannya, merasa bersalah, juga kecewa pada mama-nya yang tidak mau mendukung impian dan cita-citanya.
"Mama!" Papa Azkia berseru tertahan.
"Apa!?" Mama Azkia balas berseru, meneriaki suaminya balik.
Azkia langsung pergi dari meja makan, masuk ke kamarnya. Dia tidak ingin melihat orangtuanya bertengkar karena dirinya.
"Kan? Azkia jadi masuk ke kamarnya. Jika dia lapar bagaimana!?"
"Biarin aja, kalau lapar dia juga bakal ambil makan di dapur sendiri kok nanti. Anak kita itu gak boleh terlalu dimanjain, Pa."
"Dimanjain bagaimana!? Memangnya Azkia pernah minta apa ke Papa dan Mama!? Gak ada kan? Dia hanya pernah minta satu bola voli ke Mama, dan itu pun sudah sangat lama sekali. Papa cuman dukung mimpi putri kita saja! Lagian Mama juga kan yang mengajak Azkia menonton turnamen voli? Membelikan Azkia voli? Tapi kenapa Mama tidak mau mendukung impian Azkia!?" Papa Azkia marah, heran dengan istrinya.
"Papa kenapa sih jadi nyalahin Mama!? Jadi atlet itu tidak mudah Pa! Apalagi Azkia ingin jadi atlet yang profesional, dia ingin jadi pemain voli nasional. Papa pikir gampang? Lebih baik Azkia rajin belajar, mencari pekerjaan yang tetap lalu bertemu dengan laki-laki yang akan jadi masa depannya, bukan main bola seperti sekarang ini! Gara-gara Voli itu Azkia sama sekali tidak pernah main keluar bersama teman-temannya, setiap pulang sekolah langsung voli, voli dan voli!" Mama Azkia melotot marah pada suaminya, menjelaskan alasan dia tidak ingin Azkia terlalu serius mengejar mimpinya yang bisa dibilang mustahil itu.
"Sudahlah Ma! Papa gak selera lagi buat makan!" Papa Azkia langsung beranjak dari meja makan, malas melanjutkan perseteruan dengan istrinya.
"Seterah!" Mama Azkia berdecak sebal, makan malam sendirian.
Azkia di kamar yang menangis mendengar perdebatan kedua orangtuanya. Baru kali ini Azkia mendengar papa dan mama-nya marah, saling bertengkar. Ini karena dirinya.
"Apa aku salah punya mimpi untuk jadi seorang atlet voli profesional? Apa itu dosa besar? Kenapa Mama sebegitu tidak percayanya padaku?" Azkia menangis terisak, memeluk bantalnya.
oOo
Semua murid dan wali murid berkumpul di aula sekolah, menghadiri dan menyaksikan acara kelulusan siswa-siswi SD N 11 tempat Azkia bersekolah.
Mama Azkia tidak bisa hadir karena sedang sakit, hanya Papa Azkia yang datang menyaksikan acara kelulusan putri semata wayangnya.
"Gak kerasa ya, putri kecil Papa sudah lulus sekolah saja, Papa gak mau putri Papa jadi cepat dewasa, terus bawa pacarnya pulang ke rumah." Papa Azkia langsung menangis, terharu melihat putrinya lulus dengan nilai memuaskan.
"Hahaha pikiran Papa terlalu panjang, aku gak ada pikiran mau pacaran kok Pa, itu buang-buang waktu."
"Putri Papa memang benar-benar sudah besar ya, bisa mikir begitu." Papa Azkia tersenyum tipis, mencubit gemas pipi putrinya itu.
"Aduh Pa! Sakit!" Azkia berseru kesakitan, mengusap-usap pipinya untuk mengurangi rasa sakit.
"Hahaha." Papa Azkia tertawa gelak, menatap teduh putri semata wayangnya.
"Ayo Pa, kita pulang sekarang!" ajak Azkia.
"Eh? Bukannya terlalu cepat? Setelah ini ada acara penampilan adek-adek kelas kamu bukan? Gak mau nonton?" tanya papa Azkia kebingungan.
Azkia menggeleng. "Azkia gak tenang ngebiarin mama yang sakit di rumah sendirian, bagaimana jika nanti mama butuh sesuatu? Azkia harus selalu ada di sisi Mama."
"Azkia anak yang baik ya. Papa dan Mama senang bisa jadi orangtua Azkia."
"Azkia juga senang bisa jadi anak Papa dan Mama." Azkia tersenyum tipis, menarik tangan papa-nya untuk segera pulang.
"Jangan buru-buru dong Sayang," keluh papa Azkia.
Sampai di parkiran motor, Azkia langsung naik ke motor papa-nya, papa Azkia menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putrinya itu yang nampak buru-buru, padahal ini hari baiknya, hari kelulusannya, seharusnya Azkia menikmati dulu acara hari ini bersama teman-temannya.
"Papa nunggu apa? Ayo pulang!" Azkia sudah berseru tak sabaran.
"Iya, iya, ini Papa lagi cari kunci motor." Papa Azkia masih menggaruk-garuk saku jaketnya yang dalam. "Nah ketemu."
"Mau mampir ke tempat lain dulu untuk beliin mama makanan atau buah?" tawar papa Azkia.
"Hmmm, kita mampir ke toko buah aja Pa, beli jeruk buat mama," jawab Azkia setelah berpikir cukup lama.
"Siap Tuan Putri!"
Azkia tertawa kecil.
Tapi sayangnya sebelum sampai ke toko buah, sebelum tawa Azkia berhenti, sebuah truk melaju kencang, hilang kendali, dan...
BRUUUK!
Motor yang dikendarai papa Azkia tergelatak jauh, seperti melayang terbang ditabrak truk dengan kecepatan penuh.