Aku berbaring di kasur dalam kamarku, sepulang sekolah tadi pukul 10.00 pagi. Maklum, hari ini pulang cepat karena guru praktek mesin tak masuk, sehingga semua murid kelasku diperbolehkan pulang.
Hari ini aku heran. Biasanya ibuku Marna selalu menungguku pulang entah jam berapa saja. Tapi hari ini, rumah menjadi sangat sepi sekali, seolah-olah tidak ada kehidupan sama sekali. Ayahku lagi keluar kota menemani teman bisnisnya. Pikirku, mungkin ibuku Marna lagi tidak enak badan dan sedang beristirahat di dalam kamarnya.
Sedang asyik bermain game PS4 sepak bola antara klub AC Milan dan Juventus, aku mendengar suara-suara aneh dari dalam kamar ibuku. Aku sempat berpikir, bahwa ayahku telah pulang dan sedang berantem dengan ibuku, atau entah apa yang mereka lakukan.
Kamar ibuku Marna cukup luas, dilengkapi dengan kamar mandi dan WC dalam yang luxuri.
Karena terus mendengar suara-suara aneh itu, aku menjadi penasaran dan tertarik untuk melihat ke dalam kamar ibuku. Namun ketika langkahku sudah setara dapur, suara-suara aneh dalam kamar ibu tiba-tiba lengang dan tenang kembali.
Aku mengurungkan niat ke sana, dan karena perut terasa sangat lapar maka aku segera makan seorang diri di meja dalam dapur makan.
Keanehan lagi. Tampak bagiku begitu banyak lauk dan sayur serta buah-buahan.
"Biasanya tak seramai ini makanan, seperti ada tamu saja," pikirku dalam hati tanpa sedikit kata pun, takut mengganggu ibuku yang sedang beristirahat di dalam kamarnya.
Aku segera melahap banyak sekali makanan, dari ayam kuah santan, ayam goreng, ikan tenggiri panggang, udang galah geprek, dan masih banyak lagi. Belum lagi sayur sayur lodeh, sayur asam, dan gudek menambah selera makanku sang itu. Buah-buahan segar juga telah banyak mengisi perutku. Dari jeruk manis, Semangka, mangga madu, dan alpukat.
Setelah selesai, aku membereskan semuanya kembali dan mencuci piring bekas makanku. Dan bergegas untuk kembali ke kamar untuk lanjut bermain game. Namun aku mengurungkan niatku, dan berpikir untuk membuatkan dan membawakan s**u hangat untuk ibuku, karena pikirku ibuku mungkin sakit.
Aku segera membuatkan s**u hangat dan meletakan dalam talenan gelas jumbo kesukaan ibuku. Dan berjalan santai menuju ke kamarnya yang terletak di lantai dua.
Aku berjejak ke atas. Dan tanpa mengetuk pintunya lagi aku langsung membuka pelan.
Begitu pintu terbuka sedikit, aku terkejut bukan mainnya. Di sudut kamar di depan cermin, ibuku tengah berpelukan dengan seorang pria asing; tepatnya seorang brondong.
Mereka berdua tampak setengah telanjang, dengan hanya mengenakan pakaian dalam saja.
Ibuku mengenakan bra dan celana dalam putih, sedangkan brondong itu pun hanya memakai celana dalam boxer berwarna abu-abu. Badannya dipenuhi beberapa gambar tatoo. Sehingga pikirku dalam hati, pasti ia seorang brondong nakal dan sekarang sedang berselingkuh dengan ibuku, di saat ayahku tak ada dan sedang keluar kota.
Gelas s**u di talenan yang kubawa hampir saja terjatuh, sebab tanganku bergetar bukan mainnya.
Rupanya mereka tak memperhatikan kehadiranku. Aku hanya berdiri terpaku memperhatikan pemandangan yang sangat menyedihkan hatiku.
Karena sangat penasaran, akan apa yang terjadi selanjutnya, aku segera meletakan gelas s**u jumbo di talenan itu agak ke samping tubuhku dan berdiri dengan tenang tanpa membuat suara sedikit pun. Dan tanpa bergeming sedikitpun, terus saja aku memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh ibuku Marna dan pria brondong nakal itu.
Buluku semakin merinding, dan dadaku hampir-hampir terasa sangat sesak dan aku hampir saja pingsan.
Aku melihat sendiri dengan mata kepalaku, ibuku yang tadinya berdiri mulai merendahkan tubuhnya sampai berjongkok. Wajahnya tepat berhadapan dengan celana dalam boxer abu-abu pria brondong nakal itu. Segera ibuku menurunkan setengah sampai ke paha celana dalam boxer itu dan mulai meremas-remas batang kemaluan pria brondong itu, dan mengocok berkali-kali sampai tegang seperti buah pisang mentah.
Batang k*********a yang coklat semakin tegang dan melengkung sedikit ke atas. Dan tampak sedikit berbulu tipis dan sebuah tato bergambar teratai tampak di lingkaran pusarnya.
Lebih merinding lagi dan hampir saja aku berterima histeris namun aku menutup mulutku dengan rapatnya supaya tidak ketahuan aku sedang melihat pemandangan yang menggairahkan itu.
Ibu Marna segera memasukkan batang kemaluan pria brondong itu ke dalam mulutnya, dan mengisapnya berkali-kali dengan rakus dan menggairahkan.
Walaupun, sebuah pemandangan penuh menggaieahkan dan penuh kenikmatan, hatiku terasa sangat pukul dan sedih. Bagaimana mungkin, ibuku yang kutahu selama ini ayu dan bermartabat sampai tega melakukan hal yang tak senonoh itu. Bila saja ia melakukannya dengan ayahku tidaklah mengapa dan aku tentunya senang dan menganggapnya sesuatu hal yang wajar. Tapi ini dengan seorang pria asing; dan dengan seorang brondong nakal pula.
Brondong nakal itu berdiri tengasah meringis kenikmatan merasakan batang k*********a diemut-emut rakus oleh ibuku.
Setelah merasakan sensasi yang begitu hebat dan semakin menggairahkan, pria brondong itu segera menegakkan tubuh ibuku dan segera melepaskan bra dan celana dalamnya, sehingga ibu benar-benar berdiri dengan telanjang bulat.
Baru kali ini, aku melihat dengan terang-terangan tubuh ibuku yang telanjang bulat tanpa seutas benangpun. Biasanya kalau mandi di kolam, ia hanya mengenakan bikini saja.
Pria brondong nakal itu pun melepaskan celana dalam boxernya dan juga menjadi benar-benar telanjang.
Dadaku memompa darah dengan sangat cepat. Nafasku terasa tersengal dan hampir-hampir aku batuk, namun aku menahannya tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, bahkan nyamuk pun mungkin tak mendengar suaraku sedikitpun.
Kini, ibuku Marna dengan tubuhnya yang langsing dan putih legit berbaring terlentang di kasur. Payudaranya yang montok dan masih ranum dan mekar, tampaknya akan segera menjadi sasaran empuknya.
Benar saja. Ia segera meremas-remas dengan rakusnya kedua p******a itu, yang tampak semakin kencang. Lalu segera menundukan kepalanya, dan mulai mengisap dengan gairahnya, walaupun p******a itu tidak lagi mengeluarkan air s**u sedikit pun.
Karena dadaku terasa semakin sesak, aku segera berjongkok pelan dan segera meneguk gelas s**u jumbo di sampingku beberapa kali tanpa membuat suara sedikitpun juga. Akhirnya aku merasakan dadaku sedikit tenang dan plong.
Aku berdiri kembali dan melihat lagi ke dalam.
Tubuhku mulai berkeringat dan tanpa sadar ternyata aku juga menjadi tegang terbawa situasi. Mr. PKU pun mulai berdiri.
Yang benar saja. Pria brondong nakal itu, kini telah merapatkan wajahnya di kedua s**********n ibuku, dan tampak dengan rakus dan b*******h menjilati Ms. V ibuku yang tampak jelas bagiku tak berbulu, dan berwarna putih legit.
Pikirku dalam hati,"Pria brondong itu sangat beruntung mendapatkan ibuku."
Ibuku tampak menunjukkan wajah kenikmatan penuh ceria merasakan sensasi seksual itu.
Setelah puas menjilati dengan ganas Ms. V ibuku, brondong nakal itu, kemudian memainkan jarinya keluar masuk ke dalam lubang Ms. V, sampai ibuku menjerit kenikmatan berkali-kali.
Kasur persis di bawa tubuh ibuku menjadi basah karena air kencingnya.
Mr. Pku menjadi semakin tegang, dan keringat semakin membasahi tubuhku.
Aku melihat brondong nakal itu siap-siap memasukan batang kemaluan dalam Ms. V ibu, namun tiba-tiba mereka berhenti dan menjadi sangat terkejut, setelah menyadari aku sedang mengintip dan melihat kenakalan yang tak senonoh itu.
Mereka menyadari kehadiranku, sebab aku tiba-tiba tidak bisa lagi menahan batukku. Apalagi aku kentut dengan besarnya. Perutku menjadi sangat mulas, dengan keringat dingin membanjiri tubuhku, sehingga aku basah kuyup oleh ketakutan.
Bukannya malu dan menghentikan tindakan tak senonoh itu, ibuku Marna malah berdiri dengan telanjang bulat dan segera menarikku masuk.
Aku berdiri terpaku.
"Lihat ini foto ayahmu sedang ciuman bibir dengan seorang wanita!" Sambil ia menunjukkan layar screen handponeny ayang terlihat jelas foto ayahku sedang berciuman bibir dengan seorang wanita muda.
"Ayahmu yang cari gara-gara duluan dan tukang selingkuh! Emangnya ibu nga bisa seperti dia! Ini selingkuhan ibu dan sebentar lagi akan menjadi suami ibu yang baru," kata ibu dengan tegas dengan nada marah.
Wajahku merah padam seperti tersambar petir yang kuat. Dan aku hampir-hampir saja lemas dan jatuh pingsan, tetapi untunglah jiwaku kuat dan tentu saja karena aku dalam keadaan kenyang, sehingga tubuhku tetap kokoh berdiri.
"Namanya Aji, dan sebentar lagi, kau akan melihat yang lebih intim lagi antara aku dan dia", kata ibuku dengan nada tinggi sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arah hidungku.
Aku tetap berdiri terpaku tanpa bergerak. Aku menjadi sangat gemetar dan jiwaku tiba-tiba saja dipenuhi lautan kepedihan.
Yang benar saja. Pria brondong nakal bernama Aji itu, tengah mendorong tubuh ibuku yang molek itu. Batang k*********a telah benar-benar telah benar-benar masuk dalam lubang Ms. V ibu. Ia mendorong keluar masuk dengan semangatnya.
Aku tetap berdiri terpaku, dan terdiam.
Ibuku mengeluarkan suara desahan yang menggairahkan.
Setelah puas. Mereka berganti posisi.
Kini tubuh ibuku malah berada di atas tubuh pria brondong itu.
Ibuku tampak berjongkok turun naik dengan pelan dan menggairahkan. Keduanya mengeluarkan suara desahan penuh kenikmatan, untuk menuju sampai pada puncak kenikmatan seksual.
Setelah agak lama berjongkok turun naik di atas tubuh brondonngdong naka itu, ibuku mulai tampak kelegahan dan keringat mulai membasahi tubuhnya.
Mungkin telah mencapai klimaks, pria brondong nakal itu segera mendorong tubuh ibuku dan setengah berdiri di atas kasur dan menyemburkan cairan batang kemluannya yang putih kental ke wajah ibuku.
Air mataku benar benar menetes, dan aku terisak-isak. Amarah yang kuat segera membakar seluruh tubuhku, dan tiba-tiba niat yang begitu besar meledak dalam tubuhku untuk membunuh pria brondong itu, namun aku tak sanggup melihat wajah ibuku yang dipenuhi batang kemaluan pria brondong itu.
Aku segera berlari sambil menangis turun menuju ke kamarku.
Entah apa yang mereka lakukan selanjutnya aku tak tahu.
Di dalam kamar niat yang meledak itu semakin menggerutu dalam jiwaku.
Aku lalu berteriak sendiri dengan keras di dalam kamarku, " Dasar a*Jing, aku pasti membalaskan amaraku ini hai pria brondong jelek... Dan kau ibuku Marna, kau pasti akan menyesal."
Aku tersedia terisak-isak.