Setelah peristiwa tak senonoh antara brondong j*****m dan ibuku, ayahku pulang setelah dua hari. Ayahku, sudah tahu sendiri peristiwa itu, setelah di beritakan langsung oleh ibu lewat telpon.
Sehari setelahnya, ibu pergi menghilang tanpa kabar.
Rumah sepi, hanya aku dan ayahku.
Makan seadanya. Kadang tak masak. Makasan selalu ayahku pesankan secara online.
Ayahku pun tampak sangat kesepian tanpa ibuku Marna.
Di akhir pekan, ayahku ada tugas lagi keluar kota. Karena hari Sabtu dan besok Minggu libur, maka ayah mengajakku ikut serta pergi bersamanya. Aku setuju, dan ikut pergi.
Kami tinggal di sebuah apartemen mewah berbintang lima. Fasilitasnya lengkap, dan pengunjungnya pun banyak sekali.
Ayah memesankan kamar bernomor 157, dengan jumlah penginap 3 orang.
Aku sempat bertanya dalam hati, "siapa satu lagi yang akan tinggal dengan kami di kamar itu." Aku tidak tahu.
Sore harinya, sekitar pukul 05.00 sore, saat sedang bermain game PS4 yang aku bawa di dalam kamar, tiba-tiba pintu kamar diketuk beberapa kali.
Sangkahku, pegawai apartemen yang mungkin hendak mengantar makanan atau bisa saja hendak membersihkan kamar. Atau ayah udah naik lagi setelah tadi pukul 04.00 sore bertemu klien bisnis di depan taman.
Aku meletakan stik PS dan beranjak bangun untuk membukakan pintu.
Ternyata seorang wanita muda, yang langsing dan sangat cantik.
"Hai mbak, ada perlu apa?" Tanyaku padanya.
"Selamat sore mas, Pak Retno ada?" Tanyanya padaku.
Jawabku, "Anu ...ayah tadi ke bawah, katanya ada pertemuan dengan klien bisnis. Sebentar lagi mungkin akan segera kembali."
"Perkenalkan, saya Ningsih, salah satu klien bisnis Pak Retno. Kalau boleh tahu, mas ini sipanya Pak Retno? Tanyanya padaku lagi.
"Saya anak tunggalnya Pak Retno. Nama saya Bagas. Kelas 2 SMA jurusan Teknik," jawab Bagas dengan santai.
"Begini mas. Tadi Pak Retno DM saya, katanya saya boleh tinggal bertiga di kamar ini," kata Ningsih agak gugup dan kalut.
"Ngak apa-apa Mbak. Masuk aja. Sebentar lagi ayah datang kok," Bagas mengajak masuk wanita muda yang langsing dan cantik itu.
Ningsih melangkah masuk dengan wajah gugup dan segera meletakan tas mahalnya di atas meja dan duduk di kursi di samping TV PS4ku.
"Duduk di sofa aja Mbak, biar lebih santai," ajakku padanya.
Tanpa ragu, ia pun ikut duduk dengan lunglai di atas sofa.
Setelah bercerita panjang lebar. Aku akhirnya tahu, Ningsih adalah seorang gadis muda lulusan S3 akutansi bisnis ekonomi. Dan baru sadar juga, bahwa Ningsih pasti wanita yang berciuman bibir dengan ayahku di foto handphone ibuku.
Tepat pukul 06.18, ayah kembali, dan wajahnya tampak sangat riang dan bahagia melihat kehadiran Ningsih. Entah sudah sejauh apa hubungan mereka; sampai-sampai sudah ciuman bibir segala.
Ayahku segera mandi. Setelah Ningsih yang gantian mandi. Lalu terakhir aku yang mandi.
Ayahku Lalu mengajak kami bertiga ke sebuah resto. Mobil Pajero kesayangannya melaju ke arah timur menuju sebuah resto mewah dengan pengunjung yang ramai sekali.
Ayahku memesan banyak sekali makanan yang enak-enak. Diakhir santapan, ayahku memesan dua botol anggur hitam, yang mungkin berpotensi memabukkan.
Kami bertiga menikmati suasana resto yang indah dan ramai oleh pengunjung itu.
Ningsih tampak malu-malu dan segang dengan kehadiranku, karena mungkin biasanya ayahku hanya berdua dengannya.
Ia meneguk beberapa gelas anggur hitam dengan anggunnya. Wajahnya tampak manis sekali, dengan paras yang sangat ayu, dan tampak sekali sosok seorang wanita yang baik hati dan merupakan tipe seorang wanita yang penuh perhatian. Tampak dari caranya menyodorkan terlebih dahulu makanan atau minuman yang hendak di santapnya.
Di tengah keramaian itu, akhirnya ayahku dengan berani mengatakan hal yang jujur kepadaku.
"Gas!", Ayah tampak serius memanggil namaku.
Ia melihat ke arahku dengan wajah yang penasaran dan melanjutkan kata-katanya.
"Kita sebetulnya, keluar kota tidak hanya bertemu klien bisnis ayah. Ayah juga mau mengatakan secara jujur tentang hubungan ayah dengan Bu Ningsih."
Aku hanya mengangguk-angguk kepala sambil tersenyum.
Segala rasa marah, dan dendamku pada ibu dan brondong b******n itu perlahan menghilang oleh situasi resto dan wajah tenang ayahku yang seperti air yang jernih.
Ayah lalu mengeluarkan sebuah cincin dan menunjukkan padaku. Ia lalu berkata lagi padaku.
"Ayah mau melamar Bu Ningsih di malam yang berbahagia ini, dan kamu adalah saksi dari lamaran sederhana ini, Gas. Ayah berharap, kamu dapat menerima Bu Ningsih sebagai ibu barumu. Dan tidak usah lagi panggil dengan sapaan Mbak. Panggil saja dia dengan sapaan Ibu."
Aku mengangguk-angguk lagi sambil tersenyum.
Aku melihat ke arah Mbak Ningsih. Dia pun tampak tersenyum tersipu malu.
Ayahku lalu mengenakan cincin lamaran itu ke jari manis Mbak Ningsih. Dan ia tampak bahagia sekali.
Aku lalu dengan nada bersenda gurau, mencoba menggodanya dan menyapanya dengan lembut sambil tersenyum. Kataku:
"Silahkan Bu, makanan dan minuman dilanjuti, hhh".
Mbak Ningsih yang telah berganti status menjadi Bu Ningsih, ibu baruku tertawa lepas, dan tampak sangat bahagia.
Kami bertiga hanya mampu menghabiskan satu botol saja anggur hitam itu.
Aku sudah merasakan sensasi kemabukakan oleh alkohol yang terkandung dalam anggur hitam yang ranya manis tapi cukup memberikan efek kemabukakan itu.
Sebotol anggur hitam lagi kemudian ayah bawa pulang ke apartemen.
Kami bertiga pulang dalam keadaan sedikit mabuk.
Mobil Pajero melaju kembali ke apartemen.
#####
Pukul 02.00 dini hari, aku terbangun dari tidurku.
Aku tidur di atas kasur di bawah lantai. Sedangkan ayahku dan Bu Ningsih tidur berduaan di atas kasur.
Saking terkejutnya aku, dadaku kembali terasa sengal dan nafasku turun naik.
Belum sembuh dari luka batin melihat senggama ibuku dengan brondong b******n, kini aku disuguhkan pemandangan lain yang serupa.
Lampu kamar dalam keadaan remang-remang.
Aku melebarkan sedikit mataku.
Rupanya mereka tak menyadari kalau aku sudah bangun.
Tampak bagiku dengan jelas, Bu Ningsih sedang duduk menindih tubuh ayahku sambil keduanya mengeluarkan suara desahan kenikmatan.
Keduanya telanjang bulat, tanpa pakaian sedikit pun. Selimut telah jatuh ke lantai.
Bu Ningsih terus saja menggerakkan tubuhnya naik turun tanpa henti. Sedangkan ayahku, tampak sedang asyik meremas-remas dengan kuat kedua payudaranya yang montok dan putih, dengan p****g yang sedikit gelap dan menghitam.
Mr. PKU jadi ikut tegang dan mengeras.
Aku berpura-pura seperti sedang tidur, padahal aku sedang ketakutan namun dalam keasyikan melihat pemandangan senggama birahi antara ayahku dan Bu Ningsih.
Akhirnya mereka sampai pada o*****e puncak, terdengar dari suara desahan kuat dari ayah, yang menunjukkan bahwa cairan batang kemaluan ayahku telah menerjang masuk ke dalam rahim tubuh Bu Ningsih yang molek itu. Bu Ningsih pun mengeluarkan suara erangan yang kuat, kemudian menurunkan bibirnya ke atas bibir ayahku dan mengisapnya dengan gairah berkali-kali.
Mr. PKU semakin tegang dengan kuat dan kencangnya, dan seperti ada dorongan untuk melakukan m********i di dalam kamar mandi, namun aku menahan nafsu dan mengurungkan niatku itu.
Setelah selesai, Bu Ningsih beranjak bangun dari tubuh ayahku.
Tampak dengan jelas batang kemaluan ayahku yang besar dan panjang. Maklumlah tubuhnya jakun tinggi selaras dengan batang k*********a itu.
Sedangkan Bu Ningsih, aku hanya melihat jelas kedua payudaranya. Ms. Vanya tak terlihat jelas karena lampu kamar remang-remang.
Keduanya lalu berpakaian lagi dan tidur berduaan sambil berdekapan dengan mesrahnya.
Beberapa saat kemudian, mereka terlelap.
Aku pun sangat mengantuk dan ingin tidur lagi.
Sejenak, pikirku dalam hati:
"Bu Ningsih, pasti segera hamil dan aku pun segera akan memiliki seorang adik baru "
Aku kemudian tertidur dengan pulasnya sampai ke esikan pagi, setelah dibangunkan ayah tepat pukul 05.30 pagi.