Siang itu, selepas sekolah yang berakhir di pukul 01.00 siang, aku belum pulang dari sekolah. Aku harus mengikuti belajar kelompok Matematika. Tentu saja bersama Wati, gadis sekelas yang aku taksir, dan merupakan teman wanita terdekatku di sekolah.
Wati adalah sosok wanita yang baik dan pengertian. Ia adalah sosok wanita yang rendah hati dan tidak ada kesombongan sama sekali yang terlihat di wajahnya.
Segala masalahku selalu aku ceritakan padanya. Begitu juga, masalah-masalahnya selalu ia ceritakan padaku.
Selain Wati, ada dua teman sekelas ku yang lainnya yaitu Vigo dan Tania. Sehingga kami ada berempat, asyik berdiskusi Aljabar Matematika di taman sekolah di bawah rindangnya pohon mangga.
Tiga puluh telah berlalu, namun diskusi kami belum juga selesai-selesai.
Diskusi baru selesai di menit kelima puluh lebih tujuh detik, sesuai waktu di jam tanganku.
Vigo dan Tania berpamitan pulang terlebih dahulu, sedangkan Wati masih mau duduk denganku sambil bercerita.
Aku bercerita tentang Bu Ningsih yang sudah dilamar ayahku dan sebentar lagi akan menjadi ibuku yang kedua, dan mungkin lagi akan mengandung anak ayahku yang menjadi adikku dari ibu yang berbeda.
Sedangkan Wati, selalu bercerita masalah pribadinya. Ia mengalami gangguan emosional yang berubah-ubah disetiap saat ia mengalami menstruasi. Mungkin zaman ini sering diberi istilah PMS. Belum lagi, ia bercerita tentang, kesepiannya sendiri di rumah setelah ayah dan ibunya bertugas keluar kota. Sehingga, di rumah, ia hanya tinggal bertiga dengan kakak perempuannya yang sedang kuliah dan bibi pembantu rumah tangga.
Setelah cukup lama bercerita, kami akhirnya memutuskan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Wati tak langsung pulang, tapi ke kamar kecil terlebih dahulu.
Aku pun, yang menahan kencing dari tadi, juga memutuskan ke kamar kecil terlebih dahulu.
Di depan badan jalan, di pertengahan batas antara kamar kecil pria dan kamar kecil wanita, Wanita menarik tubuhku untuk ke kamar kecil wanita.
Ia memberikan isyarat supaya aku tidak mengeluarkan suara dan tidak membuat gadis sama sekali.
Aku hanya menurutinya saja.
Setelah sampai di dalam, kami berdua menyelinap bersembunyi di sudut ruangan yang terhalang oleh ruang kamar kecil.
Dadaku tergegup kencang, nafasku kembali tersengal dan sekujur tubuhku terasa darah mengalir seperti seorang atlet lomba lari.
Wati terus-menerus memberikan isyarat supaya aku tidak membuat bunyi sedikitpun.
Sungguh suatu pemandangan yang tidak senonoh sama sekali.
Di sudut ruangan yang lebih gelap, tampak bagi kami berdua tiga siswa kakak kelas dengan bercumbuh mesrah dan beringas.
Wati tampak tegang dan wajahnya merah penuh penasaran. Begitu juga aku sangat penasaran akan apa yang akan mereka lakukan sampai mereka bertiga mengalami kepuasan diri mereka.
Pikirku dalam hati,"Bukankah lelaki itu Satria, dan dua perempuan itu Iska Dan Laras."
Yang benar saja. Di sudut ruangan itu, mereka bertiga mungkin sedang dimabuk asmara dan terbawa arus remaja yang penuh fantasi dan kemabukakan cinta birahi.
Iska tampak sedang berjongkok, dan sedang mengulum dan mengisap-isap Mr. P Satria yang sedang berdiri meremas-remas d**a Laras sambil mencium bibir Laras berulang-ulang kali.
Batang kemaluanku kembali berdiri tegang.
Wati berbisik di telingaku,"Gas, kamu tegang yah. Wajahmu tampak merah padam. Jangan takut. Ada aku. Kita lihat aja dulu. Setelah selesai baru kita pulang."
"Apa kamu ngak sange, lihatnya?" Tanyaku pada Wati.
"Nggak. Udah biasa di sekolah ini. Aku sering mergoki kakak kelas di sini!" Bisik Wati dengan pelan.
Badanku sampai berkeringat dingin.
"Sudah tiga peristiwa yang membuat dadaku terguncang hebat, dan aku sampai-sampai tenggelam dalam trauma yang terus menyerang aku dalam tidurku, berupa mimpi-mimpi basah yang berulang kali, sampai-sampai ayahku dan Bu Ningsih menganggap ku mengalami kelainan psikologis." Belum sempat aku menyelesaikan pikiranku itu, Wati tiba-tiba saja terserang bersin dengan suara yang kuat, yang membuat bertiga sadar akan kehadiran kami yang dari tadi melihat aksi cinta gelora mereka bertiga.
Bang Satrio segera menoleh ke arah kami, dan tanpa mengatakan apapun, ia meringis kenikmatan, setelah cairan Mr. P menyembur masuk ke dalam mulut Kak Iska. Sedangkan Laras segera menghentikan tangannya yang dari tadi mengucek-ngucek Ms. V dan kedua payudaranya.
Kak Laras segera berlari kecil ke arah kami, dan memberikan isyarat dan memohon dengan bahasa yang paling lembut, supaya rahasia mereka bertiga itu tidak diketahui oleh orang lain.
Bang Satria dan Kak Iska berdiri dengan gugup dengan wajah sangat merah, yang menandakan mereka sangat-sangat malu dengan tindakan mereka barusa saja yang diketahui oleh kami berdua.
Setelah merapikan diri, dan membersihkan tubuh mereka, Bang Satria dan Kak Iska, juga Kak Laras, memaksa mengajak kami, dan mentaraktir aku dan Wati makan siang, sebagai cara mereka supaya kami berdua bisa menjaga rahasia mereka, dan tak seorang pun di sekolah termasuk guru-guru tidak akan sampai mengetahui tindakan cinta gelora mereka dalam kamar kecil perempuan itu.
Di saat makan, dan cerita panjang lebar, akhirnya aku tahu, ternyata Kak Laras masih memiliki hubungan saudara dengan Bu Ningsih, dan ia sudah mengetahui bahwa ayahku telah melamar Bu Ningsih. Dan ia juga tahu bahwa aku adalah Bagas, anak Pak Retno, suami baru Bu Ningsih yang dipanggilnya Tante Ning.
Aku dan Wati, lalu pamit pulang duluan, meninggalkan mereka bertiga di warung depan sekolah kami.
Peristiwa tak senonoh itu terus saja menghantui pikiranku. Belum lagi dendamku masih memerah dan memuncak pada brondong gila itu, dan juga senggama di apartemen antara Bu Ningsih dan ayahku masih terus mengahntui pikiranku; yang aku takutkan mengganggu tidurku, berupa mimpi-mimpi basah yang terus-menerus terjadi di setiap malam.