Malam itu, setelah menyelesaikan tugas rumah Bahasa Jepang, aku segera membaringkan tubuhku di atas kasur dan tertidur dengan pulasnya.
Ayahku dan Bu Ningsih juga ada di rumah, tidak ada tugas keluar kota.
Di tengah malam, dalam tidurku, aku mengalami sebuah mimpi yang tidak senonoh dengan Bu Ningsih, ibu keduaku.
Dalam mimpi itu, aku merayakan ulangtahunku yang ke-17 tahun.
Tamu undangan sangat banyak, termasuk teman-teman sekelas ku semuanya hadir.
Acara berjalan sebagaimana mestinya sesuai dengan yang aku harapkan, dengan rangkaian acara yang sangat meriah.
Banyak makanan dan banyak sekali minuman. Begitu juga, hampir semua tamu undangan yang datang membawa kado ulang tahun masing-masing.
Dalam mimpiku malam itu, tepatnya di malam Selasa, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasanya.
Tiba-tiba kebahagiaan itu menjadi sirna, dan berubah menjadi neraka j*****m bagiku, sebab di akhir acara yang seharusnya meninggalkan kesan bahagia, malah berubah menjadi pahit dan dipenuhi amarah.
Ibu kandungku Marna datang sambil bergandengan dengan brondong gila, yang katanya telah menjadi suaminya barunya.
Karena dipenuhi dengan dendam dan amarah yang begitu kuat melonjak, aku segera berlari keluar dan meraih sebuah tongkat kayu yang tak begitu panjang dan kembali ke dalam rumah hendak segera membunuh pria brondong gila yang bernama Aji itu.
Melihat aku yang berlari dengan tongkat kayu itu, ayahku segera mencekal dan menahanku dan berusaha merangkul tubuhku dengan erat sehingga niatku melukai brondong gila itu, bisa dicegah dan tidak menimbulkan hal-hal yang tak diinginkan.
Para tamu undangan ndangan segera bubar dan keluar rumah, lalu pulang ke rumah mereka masing-masing. Begitu juga ibu kandungku dan pria brondong gila itu pun segera keluar segera meninggalkan rumah dan pergi menghilang entah ke mana.
Setelah perasaanku agak tenang dari amarah, aku diantar oleh ayahku ke kamar tidurku dan membiarkan aku menenangkan diri dan berisitirahat seorang diri.
Lalu, di tengah malam, dalam mimpiku itu, pintu kamarku tiba-tiba diketuk, dan tanpa aku membukanya, Bu Ningsih seorang diri masuk ke dalam kamarku membawakan aku segelas teh hangat, sekaligus mengecek kondisiku apakah sudah benar-benar baik atau masih dipenuhi dengan amarah yang membabi-buta.
Bu Ningsih mengenakan daster putih yang tipis, sehingga pakaian dalamnya yang berwarna merah muda sepasang terlihat jelas oleh mataku.
Ia meletakkan teh hangat itu di atas meja belajarku. Dan mengajakku untuk mulai bercerita.
"Kenapa kamu begitu dendam dengan ibu kandungku dan juga pria yang bersamanya?" Tanya Bu Ningsih padaku yang masih berbaring di balik selimut.
Aku tak menjawab sepatah katapun.
"Ayoklah cerita sama ibu ini, sebenarnya ada apa?" Tanya Bu Ningsih lagi padaku.
Aku segera bangun dan menepikan selimutku, lalu duduk di sampingnya dan mulai meneguk teh hangat itu.
Aku lalu memberanikan diri bercerita. Kataku padanya:
"Aku melihat sendiri ibu kandungku bersetubuh dengan pria itu, di suatu siang, yang membuat amarahku meluap-luap dan dendam yang tak akan habis. Itulah aku menjadi sangat dendam dengan pria brondong itu."
"Ibu tahu, kepedihanmu," kata Bu Ningsih padaku dengan maksud hendak meresahkan amarahku.
Anehnya tangannya tampak mulai nakal membelai dadaku sampai pada perutku dan berhenti pada area Mr. PKU.
Tanpa ragu, ia membuka kancing celanaku dan menurunkan resleting ku. Dan tangannya benar-benar masuk dan mencengkeram erat kemaluanku.
Bisiknya di telingaku,"Mulai saat ini panggil saja aku Ning, jangan Ibu."
Ia kemudian melepaskan beberapa kancing atas daster putihnya, sehingga kelihatan bra-nya yang berwarna.merah muda itu.
Lalu ia segera melepaskan bra-nya, sehingga kedua payudaranya benar-benar telanjang tanpa halangan apa pun oleh mataku.
Ia menarik tangan kananku, dan memutar-mutarjan tanganku itu, supaya aku b*******h meremas-remas payudaranya.
Aku hanya bisa mengikuti saja, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Mr.Pku menjadi sangat tegang dan kaku seperti buah pisang mentah.
Merasakan Mr.Pku yang sudah dalam keadaan tegang, Bu Ningsih segera mengocok turun naik Mr. PKU sehingga aku meringis kenikmatan.
Karena.merakan sensasi gairah yang semakin memuncak, tanganku semakin kencang meremas kedua payudaranya.
Hingga di suatu titik, aku sampai pada puncak o*****e.
Mr. PKU menyemburkan cairan kental putih di dalam celana tidurku.
Aku melengkungkan nafas kenikmatan secara panjang di dalam dadaku.
"Akhhhhhhh"
"Kamu hebat, Gas!" Bisik Bu Ningsih di telingaku.
Aku kira, selesai sampai di situ.
Rupanya terus berlanjut.
Bu Ningsih menaikkan daster putinya sampai ke pusar.
Ia melepaskan celana dalamnya yang berwarna merah muda dan membiarkannya tergeletak sendiri di atas lantai.
Ia segera membuka kedua pahanya dan menganggang lebar, sehingga kelihatan jelas bagiku Ms. Vnya yang tembem dan berwarna.putih legit, tanpa buluh sedikitpun.
Ia segera menarik tangan kananku dan meletakan tepat di permukaan Ms. Vnya. Dan berbisik padaku, katanya dengan suara lembut di telingaku:
"Sentulah dan usaplah dengan penuh gairah sampai Ms. Vku basah dan aku bisa merasakan sensasi o*****e yang penuh kenikmatan."
Dengan polosnya, aku mengikuti suruhan itu, tanpa membantah sedikitpun juga.
Tanganku mulai mengusap-usap lembut berputar melawan arah jarum jam.
Setelah beberapa kali melakukannya, Bu Ningsih kembali berbisik padaku.
"Masukan dua jarimu ke dalamnya, biar aku merasakan kenikmatan yang berkali kali. Dan dorong keluarasuk berkali-kali, supaya sensasi itu semakin menjalar."
Akun pun dengan polos dan lugu, mengikuti suruhan itu tanpa ragu-ragu.
Maka, aku memasukan jari tenga dan jari manisku tangan kananku ke dalam lubang Ms. Vnya dan melakukan apa yang dimintanya.
Kedua jariku kudoro g keluar masuk, secara perlahan sampai gerakan yang agak cepat.
Wajahnya mulai menunjukkan kalau dia mulai terjerat sensasi gairah yang memuncak, sampai akhirnya, sebuah aliran cairan putih mengalir keluar dari Ms. Vnya dan diikuti semburan air kencing yang tipis namun deras membanjiri jari tanganku.
"Ahkhhhhhh, aku sudah Gas," keluh Bu Ningsih di puncak orgasmenya.
Mr. P tegang lagi dengan kuatnya dengan aliran darah yang bertubi-tubi menghujam jantungku.
Setelah mengalami kepuasaan, ia mengambil kembali celana dalam merahuda di lantai, mengenakannya. Juga kembali mengenakan bra, dan merapikan daster putihnya, lalu berdiri dan berpamitan denganku.
Ia merapatkan pintu kamarku dan menghilang ke kamar tidur keluarga dan tidur kembali bersama ayahku.
Aku kemudian tersadar dari mimpiku, bangun dari kelelapan tidurku, dan menyadari kalau celanaku sudah basah kuyup oleh cairan yang keluar dari Mr.Pku di saat aku mengalami mpi basah tadi.
Aku segera beranjak bangun, dan membersihkan diriku di dalam kamar mandi.
####
Keesokan harinya, aku menceritakan mimpiku itu.pada Bu Ningsih, yang menganggap bahwa aku harus dibawa ke seorang psikiater untuk mendapat pertolongan psikologis.
Di hari Rabu itulah, aku di bawa oleh Bu Ningsih ke Dokter Lilis, psikiater pribadiku, sampai akhirnya bertemu dan duduk bercerita dengan perawat Intan, perawat pribadi Dokter Lilis.
Bu Ningsih yang mendengarkan ceritaku pagi itu, hanya tersenyum penuh tawa sambil menunjukkan wajah penuh keraguan. Dan mengatakan padaku bahwa itu hanyalah bunga tidur, dan karena aku terlalu banyak terbawa pikiran sehingga bisa mengalaminya kembali dalam mimpi di malam hari.
Tapi setelah aku melihat dengan seksama ke arahnya, aku sempat terkejut dan tak percaya, sebab pagi itu, Bu Ningsih tepat sekali mengenakan daster putih yang tipis sehingga bra dan celana dalamnya yang berwarna merah muda, dapat terlihat jelas oleh mata telanjang.
Aku berharap, peristiwa dalam mimpiku itu, tidaklah terjadi di dunia nyata; apalagi bersama dengan ibuku sendiri, walaupun bukan ibu kandung dan hanya ibu keduaku.