Alexsa Alona William, atau kalian lebih mengenalnya dengan nama Alexsa Wilshon kekasih dari lelaki egois yang terus memonopoli hidupnya. Menjadi gadis yang selalu di prioritaskan oleh pangeran kampus membuatnya harus extra hati-hati dengan para cabe-cabean kampus yang terus saja melayangkan teror atasnya
Sayangnya tidak ada yang berani berbuat nekat atasnya, sebagai salah satu donatur di kampus nya belajar, dia juga menjadi gadis yang selalu di kawal oleh sahabat-sahabat kakaknya.
Kalian pasti bertanya bagaimana dia bisa menjadi salah satu donatur disana ,.pertanyaan itu seharusnya ditanyakan pada sepupunya tercinta, Kenzo William. Betapa beruntungnya dia.
"berhentilah memelukku. "gurutuan yang keluar dari mulut Alexsa seolah diabaikan begitu saja.
"hari ini jangan ke kampus ya, Kan masih masa orientasi mahasiswa" Alexsa memutar matanya malas, Sejak pertengkaran mereka kemarin karena ulah Carolin, kekasihnya ini terus saja merengek padanya untuk tidak ke kampus dengan alasan malas.
Luar biasa sekali
"hari ini kan penutupan masa orientasi kak" jawab Lexsa malas
"karena itu sayang, kita libur saja. Kan ada Corner nanti yang gantiin aku sayang"
Entah bagaimana ceritanya sekarang semua sahabat kakaknya dan sahabatnya malah memilih kuliah di kampus yang sama, setelah mereka tahu Lexsa menjadi Donatur di sana. alasan mereka sih gak jauh-jauh dari bisa berbuat seenaknya kalau di kampus yang berada dibawah kuasa sahabat mereka . kurang baik apa kan mereka padanya
Ah jangan lupakan musuh kakaknya yang sudah bersekutu dengan kakak nya itu, yang setiap hari harus dia lihat dalam kesehariannya. Menyebalkan sekali, seolah dia mengulang kembali masa SMA nya yang sangat membahagiakan itu.
Lexsa memutar tubuhnya, Melihat pemilik wajah yang terus memeluk nya erat sejak tadi.
"cepatlah kak, aku ingin melihat kakak berpidato" ucap Lexsa sambil mengusab pelan wajah tampan di depannya
" aku ingin melihat semua wanita itu berteriak histeris melihatmu, memimpikan untuk memilikimu, tapi sayangnya kau hanya milikku" Alex menyeringai licik. Dia tahu gadisnya pasti akan meradang, tapi kemudian perasaan takut itu kembali membayanginya..
"apa kamu ingin meninggalkan ku" Alexsa menatap heran. Yang benar saja , dia tak percaya dengan apa yang di dengarnya
"apa itu cukup. " Lexsa mengakiri ciuman singkatnya untuk menghilangkan kegundahan di hati prianya.
"kalau begitu kita menikah saja" Lexsa menggeleng cepat, dengan gerakan cepat Lexsa melepaskan rangkulan Alex dan segera berdiri di depan Alex yang masih terkejut tak menyangka Lexsa akan melepaskan diri dengan paksa
"aku mau tamat kuliah. Bukan tamat sekolah langsung nikah. Aku mau kakak nafkahin aku pakai uang sendiri, bukan dari Dady" Lexsa menatap kesal Alex yang sekarang ingin membantah perkataannya
"aku punya uang sendiri, aku pemilik Blue Resto, aku salah satu pemilik saham di diskotiknya Ken. Aku juga penanam saham utama dalam usaha Clup yang sudah setahun kita jalankan disini. Apa semua usaha yang kita miliki disini dan di Indonesia itu masih kurang" Lexsa menggeram kesal, bukan itu maksudnya
"kau pikir aku cewek matre. serah dah serah, aku mau ke kampus. " Lexsa berjalan cepat kearah kamar mandi kemudian mebanting pintunya keras.
"kan aku Cuma menjelaskan" ucap Alex yang masih menatap penuh tanya kearah benda mati itu
Dengan langkah malas Alex melangkah keluar kamar dan memilih mandi di kamar mandi di kamar sebelah.
***
Langkah yang terkesan tergesa-gesa mengiringi setiap langkah para mahasiswa yang sedang mengikuti hari terakhir orientasi kampus, para senior yang awalnya bersikap garang, langsung berubah baik. Seolah tak ada apa-apa. Membuat semua sebagai lelucon.
"ok guys sekarang waktunya bagi para mahasiswa baru untuk mengumpulkan semua surat cintanya " para mahasiswa mulai ribut, beberapa ada yang terkesan centil dan malu-malu saat melihat siapa senior yang jadi sasarannya.
"ayo cepat-cepat. "Bram berteriak heboh di depan sana. Sambil melihat kearah parkiran menunggu sang ketua datang
"Bram, my Honey mana"Bram melirik malas wanita di sampingnya yang terus saja menanyakan Alex. tidak tahu saja dia kalau pawang Alex itu kayak setan kalau udah ngamuk
"noh tu pujaan hati lo datang" teriak Bram keras saat melihat sebuah mobil yang sangat di kenalnya memasuki kawasan parkiran yang tak jauh dari taman tempat mereka berkumpul.
Semua mahasiswa melihat kearah yang ditunjuk Bram. Disana Alex sedang merangkul Lexsa yang terus saja menatap kearah Bram yang sudah membuat semua orang menatap kearahnya.
"yoo pak ketua, selamat datang " Alex mendengus sebal mendengar Bram yang berteriak menggunakan microfon.
"diamlah bodoh' umpat Alex sambil menyikut perut Bram yang sekarang sedang terkekeh pelan
"haha sorry Bro"
"dasar bodoh" umpat Lexsa yang semakin merapatan rangkulan Alex di pinggangnya. Saat mencium bau masalah akan datang
"sayang, kok telat banget datangnya. Kita udah mulai lo acaranya" carolin yang menjadi senior di kampus itu berhasil membuat semua matta menatapya aneh sekaligus jijik
"hn" Alex segera memeluk lexsa semakin erat, seolah menampakkan kepada
semuanya betapa nyata hubungan mereka.
"eh lo mahasiswa baru kan, sana gabung sama yang lain" Corolin yang memang awalnya ingin menyingkirkan gadis dalam pelukan Alex langsung memerintah sesuka hatinya.
membuatnya mengingat saat orientasi disekolahnya dulu saja.
"bodo" balas Lexsa yang membuat semuanya menatap penuh rasa penasaran kearah mereka. Menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya
"eh lo nyari gara-gara sama gue" Carolin yang besar kepala semenjak kejadian kemarin. Semakin ingin membuat Lexsa nampak jahat.
"ok semua surat sudah terkumpul ni, saatnya para junior membaca surat cinta dari para senior nya" Bram kembali bersuara, membuat semunya mengalihkan perhatiannya dari Carolin dan Alexsa.
"aku akan bergabung dengan yang lain, bacakan surat cinta untuk ku" Lexsa berbisik pelan yang tentu saja hanya dia dan Alex yang mendengarnya.
"tetaplah disini" ucap Alex final
"tidak akan seru sayang" balas Lexsa masih keras kepala. Lexsa mengusap pelan lengan yang masih setia menahannya. Seolah meminta izin yang membuat Alex akhirnya merelakan gadisnya bergabung dengan para sahabatnya yang sudah mengambil tempat paling depan di antara kelompok mahasiswa baru.
"hy kenalin nama gue bobi" Lexsa menatap heran belum satu menit dia mendudukkan pantatnya sudah ada saja yang mengajaknya kenalan.
Resiko cewek cantik haha
"Lexsa" balas Lexsa cuek. Lagi pula dia tidak ingin beramah-tamah sekarang
"gebetan baru" bisik Bella sambil tertawa lucu., yang membuat Lexsa mendelik tak suka
"itu artinya dia ingin mati ditangan Alex" Feby tertawa ngakak, membuat semua senior manatapnya aneh termasuk Devon yang sedang menatapnya penuh minat.
"para gadis di sana tolong fokuskan mata kalian pada senior tampan kalian ini" Mega menatap sinis lelaki di depannya
'dasar lelaki modus, awas aja nanti' Lexsa menatap teman barunya itu tabjub, kenapa gadis yang awalnya menyukai kakaknya ini malah berpacaran dengan musuh kakaknya dan kemudian menjadi satu komplotan dengan gengnya .
"untuk surat cinta pertama, mari kita lihat dari siapa ini... "Bram mulai melakukan tugasnya di temani Xarly yang mulai mengotak atik lagi surat lainnya.
"mika.. yang namanya mika ayo maju. " Bram menelicik surat itu untuk siapa, sesaat kemudian senyum liciknya bertengger indah di bibirya
"surat spesial untuk senior kita paling tampan, Alex Wilshon" Alex menatap tajam sahabat rasa musuh yang pernah jadi musuhnya itu. tak lama kemudian seorang gadis berambut pirang melangkah dengan percaya diri kedepan dan mengambil surat ditangan Bram yang langsung dihadiahi tepukan riuh para peserta orientasi lainnya
"siapa sih yang buat ni program" gurutu Bella kesal, karena dia yakin sebentar lagi pasti kekasihnya itu juga akan mendapatkan surat cinta dari para junior.
"pacarnya Monica" Monica langsung mengangkat tangannya tidak mau tahu,
"no orangnya, ngapain lihat mari" gerutu Monica sinis, sambil menunjuk kearah Xarly yang masih asik memilih-milih surat untuk dibacakan.
"gue mampusin tu orang kalau bukan surat dari gue yang dia dapat" Feby menatap ngeri gadis di sampingya itu. sambil menatap Monica yang sepertinya sedang berdoa demi kesalamatan pacarnya itu.
"untuk kak senior ku yang paling tampan. Kakak mau gak jadi pacar aku. Aku tahu kok kakak pacaran sama Lexsa mahasiswa baru satu angkatan dengan aku. Tapi aku masih berharap kakak mau pacaran sama aku dan putus sama Lexsa"
Lexsa melempar botol minumannya yang baru di minum setengah itu ke arah Xarly. Xarly yang mendapat serangan tiba-iba telonjak kaget. Lengkap dengan tatapan geli serta gelak tawa para senior.
"mampuss lo macan ngamuk" ujar Al gelii. Mantannya yang satu itu memang tob banget
"gak nyesal gue pernah pacaran sama adik lo Lex" ucap Al sambil memukul bahu Alex tanpa peduli dengan wajah marah lelaki di sebelahnya.
"udah bosan hidup" Al nyengir lebar, tentu dia belum bosan hidup. Hidup aman dan tentram dengan kekasihnya saja belum terwujut. Al menatap geli Lexsa yang sedang memberunggut kesal di depan sana, jangan sampai dia jatuh hati lagi pada gadis itu. bisa-bisa perang dunia ketiga dia nanti dengan Alex dan evelyn.
"ok surat selanjutnya. Ini dariiiiiiiiii" Xarly mencari nama pemilik surat itu, mata tajamnya menemukan tulisan yang sangat kecil di pojok surat, bagaikan perangko
"Bella Purwati diningrat" Xarly menatap sinis pacar Reno sahabatnya itu, yang sedang tersenyum sumbringah sambil melangkah kearahnya.
"nama lo benar-benar ya' Bella memeletkan lidahnya mengejek Xarly
"mampus, ke dokter mata lo habis ni" Xarly mendengus sebal sambil terus mencari surat dari kekasihnya Monica tapi sayangnya surat gadis itu seolah di sembunyikan. Dia lelah..
Reno tersenyum senang saat gadis nya tersenyum manis kearahnya
"surat untuk kak Reno Renandra. Love you"
Reno menatap tak percaya saat gadis itu mengakiri suratnya.
"hanya itu saja" Reno bertanya heran, yang di balas anggukan mantap dari Bella yang sekarang sudah bergabung dengan kelompoknya lagi
"hahaha, sungguh surat yang sangat singkat"Xarly dan Bram yang sedari tadi sibuk mencari surat untuk dibacakan, tertawa geli melihat bagaimana surat yang baru saja dibacakan bellya. Sungguh singkat padat dan jelas sekali
Alex yang sedari tadi melihat interaksi semua teman-temannya memilih diam. Carolin yang sedari tadi berada di sampingnya terus saja melancarkan aksinya seperti biasa. Dia heran apa semua wanita yang pernah dia tiduri dulu saat dia Amnesia akan datang dan meminta pertanggung jawaban. Kalau ia dia siap untuk membunuh mereka semua
"ada apa dengannya" Feby menatap sahabatnya penuh tanya, bukan rasa kesal yang di tampakkan oleh Lexsa, melainkan rasa khawatir.
"samperin aja kali, gak apa kok" Lexsa mennatap Feby seolah berkata tidak
"dari pada kamu dari tadi lihatin kak Alex terus". Lexsa tersenyum manis, seolah berkata dia tidak apa.
"tidak akan ada yang berani melarangmu disini, kak Alex pasti akan berpihak pada mu" itu lah yang dia inginkan . jauh dalam hatinya dia ingin kakaknya mengumumkan hubungan mereka, dan menyingkirkan wanita di samping kakaknya itu
"aku tahu sebenarnya kamu ingin menghajar wanita itu kan" Bella menatap Carolin seolah dia juga ingin.
Lexsa tertawa geli, sebenarnya dia juga ingin,, tapi dia tidak ingin melakukannya, dia ingin lelaki itu yang bergerak
"hy manis, " Lexsa menatap tak suka seorang lelaki berperawakan tinggi yang sedang mengajak Feby berkenalan.
Lancang sekali mengganggu obrolan mereka
"cari mati" gumam Lexsa penuh makna.
"boleh kenalan" Feby tersenyum manis, seolah menerima ajakan lelaki di depannya
"Steven" ucap lelaki itu mengulurkan tangannya.
Lexsa tersenyum seolah menunggu hal yang biasa terjadi. Dan lihatlah Devon bahkan sudah berjalan cepat kearah gadis di sampingnya.
"hmm, kau nakal sayang" Feby telonjak kaget, saat sebuah tangan memeluknya dengan begitu erat.
"Dev" Steven yang merasa diabaikan menarik tangannya canggung. Dia tentu kenal lelaki di depannya ini, lelaki satu angkatan dengannya, satu kelompok dengan ketua panitia mereka. Lelaki yang pernah membuatnya harus berurusan dengan polisi. Lelaki yang menyebalkan dan sekarang ternyata lelaki ini kekasih gadis yang diincarnya. Poor day
"oo hy stev" Devon menyeringai penuh kemenangan melihat ekpresi lelaki di depannya. jElas sekali lelaki ini sedang menahan amarahnya.
"kak devonnnnn YA aaaaa ahh "
'menyebalkan, " Devon yang paham apa yang menganggu kekasihnya langsung menatap tajam para wanita yang telah menataap lapar kearahnya. lengkap dengan teriakan tak bermutu mereka
"DIAM atau kalian Akan tahu akibatnya" Devon berteriak marah, seketika suasana menjadi hening siapa yangg akan peduli dengan para mahasiswa baru yang sedang membaca surat cinta mereka di depan sana, kalau di depan mereka tersaji pemandangan yang lebih menarik.
Lexsa mendengus kesal, bukan dia tidak bahagia dengan kebahagiaan sahabatnya, hanya saja dia lelah menunggu prianya bertindak. Dengan kesal Lexsa mengambil langkah hendak pergi, lagi pula siapa yang berani menghentikannya, jelas sekali yang jadi panitia di depan sana adalah sahabat kakaknya, mereka tidak akan berani
"hy kau yang disana berhenti!!" Lexsa mendengus kesal, semua mata kini memandangnya, Lexsa memutar badannya malas, menatap kesal lelaki yang barusan saja berteriak kearahnya,
'baru sadar saat aku akan pergi" Lexsa mendengus kesal
"kemarilah!!' itu perintah bukan permintaan ataupun pertanyaan. Menyebalkan sekali lelaki itu .
Lexsa melangkahkan kaki nya kesal,, dan tentu itu menarik perhatian Carolin yang memandangnya marah.
"dasar pengganggu" Carolin yang sedari tadi setia berdiri di samping Alex menatap tak suka kearah lexsa yang sekarang sudah berdiri dengan angkuh di depan lelaki yang di sukainya
'apa" tantang Lexsa yang membuat Alex menyeringai misterius
Lexsa menatap penuh tantangan, dia ingin tahu apa yang bisa laki-laki ini lakukan, dia tahu kekasihnya ini tidak akan membiarkannya di dekati siapapun, tapi siapa yang akan tahu, mungkin saja dia ingin semuanya kembali terulang. Dan saat itu terjadi lexsa siap untuk membunuh lelaki ini.
"Will you merry me" Lexsa menutup mulutnya tak percaya, melihat laki-laki yang sekarang sedang menciptakan dramanya bersujut di depannya, dengan tangan memegang sebuah kotak yang didalamnya terdapat cincin yang dia tahu itu tidaklah murah
"say no, nooo nooo' teriakan histeris terus terdengar dan tentu itu dari para penggemar kakaknya, yang rata-rata adalah mahasiswa baru . dan juga Carolin yang sejak tadi terus menatap penuh ancaman kearahnya.
"kau pikir aku akan takut, aku sudah pernah membasmi satu orang cabe yang sekarang tidak diketahui keberadaannya itu, mungkin kau juga akan mengalami hal yag sama hahahahah"
Lexsa menatap meremehkan wanita di belakang kakaknya yang sudah mengeluarkan taringnya itu.
"say yes!" Lexsa rasanya ingin tertawa, lamaran lagi, apa pria nya ini begitu sangat ingin menikahinya secepat ini
"say yes yes yes
"yes yes" Lexsa menatap kesal sekaligus senang kearah teman-temannya yang sudah berdiri dan berlagak bagaii pemandu sorak, tidak sia sia sahabatnya itu menjadi anggota chearliders saat SMA dulu.
"no" jawab Lexsa dengan suara lantang, sekejab suana menjadi hening, jelas Lexsa bisa melihat tatapan terluka dari mata prianya. Tapi hy ini bukan saatnya untuk membahas pernikahan, dia ingin semuanya berjalan normal. Bukan berada di bawah rasa takut prianya yang berlebihan
Lexsa meraih tangan kakaknya, memaksa lelaki itu bangun. Dia tidak ingin prianya ini malu . ini cukup romantis, dan dia merasa di utamakan.
Dengan cepat Lexsa memeluk Alex yang masih menatapnya menuntut penjelasan.
'hy apa kau musuhku, atau kekasihku" Lexsa rasanya ingin tertawa, dia yakin kekasihnya ini akan merajuk.
Lexsa menatap satu persatu orang disana, seolah ingin semuanya melihat apa yang akan dia lakukan.
"see and remember this' ucap Lexsa yang membuat semuanya semakin fokus padanya.
Cup.
"Aaaaaaaa " Lexsa tersenyum senang saat mereka menatapnya tak percaya, hy jangan terlalu polos mereka sedang berada di negara dengan semua budaya bebasnya, mereka berlagak bagaikan gadis perawan padahal bukan . dasar.
Alex tersenyum senang, tapi walau begitu dia masih kesal
"jadi kau menolak atau menerima" tanya Bram yang sudah bagaikan pembawa acara gosib di TV TV
"tentu saja aku tidak bisa menolak," Alex tersenyum senang
"tapi entah lah, apa aku bisa kembali.. oo tidak apa aku bisa pulang" ucap Lexsa menggantungkan ucapannya , yang membuat Alex ingin segera menarik gadisnya itu dan menciumnya brutal, karena berani mempermainkannya.
"ooo jangan pulang dulu, kau tidak menghargai seniormu ini" Lexsa memutar matanya bosan
"kita akan melakukan berbagai acara setelah ini. Jangan pulang dulu ya juniorku yang manis,, mantan kekasih sahabatku" Lexsa menatap sinis Bram yang tersenyum jenaka kearahnya.
"b******k, kau sudah membuatku menjadi korban para ratu gosib" Mega yang melihat kelakuan kekasihnya memutar mata malas, dia sedang malas kalau harus di paksa membela lelaki itu dia angkat tangan
Dengan perasaan kesal Lexsa kembali kedalam kelompoknya dan membiarkan semua menatapnya tajam, lengkap sudah masalahnya hari ini. Sepertinya masa kulahnya tidak akan seaman yang dia kira.
***