Suasana temaram dari sebuah kamar yang sengaja dimatikan lampunya menambah kesan betapa pemilik kamar itu tidak ingin di ganggu. Suara berisik seolah berbisik dengan begitu keras di luar sana, tetap tidak di hiraukannya, seolah itu hanya akan membuang-buang waktunya saja.
"Brisik" gumamnya semakin mengeratkan selimut yang sudah ditarik tinggi sebatas kepala
Suara pintu yang dibuka pelan serta langkah kaki yang membuatnya semakin ingin secepatnya tenggelam ke alam mimpinya. Tapi sialnya matanya bahkan tidak ingin diajak kompromi. bahkan saat seseorang mulai menaiki sisi lain ranjangnya rasanya dia ingin menendang siapapun itu yang sudah jelas sangat di kenalnya. Sayangnya hanya laki-laki itu yang berani melakukannya
"kamu sudah tidur" sebuah lengan memeluknya erat, deru nafas yang terasa hangat menerpa kulit telanjangnya, rasanya geli. Alexsa bergerak gelisah dan itu menyebabkan pelukan itu semakin erat saja
"kamu mendiamkan ku,"pria nya mulai merajuk, suara itu sangat kentara akan rajukan ingin dibujuk.
Kecupan-kecupan ringan yang dilayangkan Alex di belakangnya semakin membuatnya gelisah, bukan hanya ciuman tapi juga hisapan, sepertinya lelakinya mulai lapar.
"kamu menolak lamaranku" kecupan itu semakin terasa panas menggigit dan menjilati lehernya, pasti akan meninggalkan bekas disana
"apa aku harus memaksa, kamu tahu aku tidak suka di tolak, apa aku harus melakukannya agar kamu tidak menghindar lagi" tangan itu mulai mengelus perutnya pelan, seolah mengisyaratkan akan ada kehidupan disana.
Dia tidak ingin itu terjadi begitu cepat. Ingat dia masih berada di tahun pertama masa kuliah nya.
"hentikan itu kak!" Alexsa menyingkirkan lengan itu kasar, Alex yang tidak terima gadisnya menolaknya membalikkan tubuh Alexsa kasar.
"kamu kembali mengacuhkanku" Lexsa memutar matanya malas, dia sedang kesal dan itu karena kakaknya dan sahabat kakaknya itu yang sudah membuatnya berada di urutan pertama majalah gosib di kampusnya,
menyebalkan!
"kamu masih marah?" Lexsa menatap kesal. bukan Alex yang harusnya merajuk tapi dirinya
"hn" Lexsa bergumam tak jelas
"Maaf kalau aku membuatmu malu, aku tidak akan melamarmu_." Lexsa segera membungkam mulut lelaki ini sebelum semua yang seharusnya bukan hal yang perlu di perdebatkan malah itu yang keluar. Alex yang mendapatkan ciuman tiba-tiba dari gadis nya tentu saja menyembutnya dengan senang. Bukan lagi kecupan singkat melainkan kecupan panas yang membuat keduanya melenguh dalam ciuman mereka
" kamu ingin membunuhku" serang Lexsa yang masih mengatur nafasnya, rasanya dia akan mati kalau saja terlambat sedikit saja melepaskan ciuman laknat itu. apa bagusnya berciuman kalau itu hanya akan mengantarmu pada kematian
"kamu marah, kamu akan meninggalkan aku" kapan lelaki ini akan berhenti mengucapkan itu, bahkan saat mereka bertengkar selalu saja kata-kata itu yang keluar, seolah dia bisa meninggalkan lelaki ini saja. Bahkan dia sendiri tidak tahu akan lari kemana, semua orang bahkan sudah mulai bersekutu dengan prianya ini apalagi orang tuanya yang..... ah, tidak perlu diungkit lagi mereka tetaplah orangtuanya walaupun kenyataanya bukan secara kandung. Tapi dia menyayangi mereka. Sangat.
"berhentilah mengucapkan kata-kata itu, i don't" tegas Lexsa menatap penuh keyakinan dalam mata prianya.
"kalau begitu kita akan menikah besok"
"Auu" Lexsa memukul pelan kepala Alex, tapi dia yakin itu cukup keras,
"sakit sayang" mulai deh merajuknya
"pernikahan bukan sebuah permainan kak, dan aku tidak ingin menikah dengan kakak sebelum kakak berhenti merasa kalau aku akan meninggalkanmu" Alex mengangguk mantap, seolah dia memang sanggup melakukannya. Kita lihat saja nanti.. Lexsa tersenyum sedih. Prianya terlalu mudah berjanji.
"aku tidak akan berpikir begitu lagi, aku janji" Alex mengangkat tangannya sebagai bukti kalau dia sungguh-sungguh.
"tidurlah" Lexsa mulai menutup matanya, mulai mencoba berdamai dengan alam mimpinya. Dia ingin bermimpi indah kembali.
"aku kangen" kecupan-kecupan basah di lehernya membuat tidurnya tak nyaman, apa lelaki ini memang tidak ingin membiarkannya beristirahat
"kak" Lexsa berusaha menjauh,, dia teransang, dan dia ingin lebih, tapi ini tidak boleh diteruskan
"aku kangen sayang" menyerah, dia menyerah. Alex semakin melancarkan aksinya, bahkan tangan pria itu sudah merayap kedalam bajunya.
"emmmm" Alex menyeringai senang. Gadisnya dan nafsunya adalah perpaduan yang pas.
Alex membuka satu persatu kancing kemeja itu dengan gerakan pelan, sesekali dia mengumpat kesal, kenapa gadisnya harus memakai baju yang sangat banyak kancingnya ini. Dengan kesal Alex menarik paksa baju itu sambil tetap mencium Lexsa agar gadisnya tidak memberontak
"baju ku" Lexsa menatap ngeri bajunya yang sudah koyak
"aku bisa membelinya lagi kalau perlu toko-tokonya sekalian" Alex menatap Lexsa tajam seolah berkata jangan mengganggu aktivitasnya. Lexsa yang mengerti mengelus rahang kokoh itu pelan.
"Dasar sombong" ucap nya sambil mengalungkan tangannya di leher Alex, memberi izin kekasihnya untuk mencumbunya.
"Manis" Alex menjilat dengan cara memutar bibir sexy di depannya yang sudah semakin membengkak karena ulahnya.
"Aku menginginkanmu sayang" Alex membuang sembarangan baju kaosnya, hanya celana boxernya yang masih melekat di badannya, tak jauh berbeda degan Lexsa yang hanya menyisakan celana dalam nya.
"Jangan sekarang kak" Lexsa berusaha menenangkan prianya dengan mengelus pelan rambut kakaknya. Dia tahu prianya sedang tersiksa sekarang. Tapi dia tidak ingin melakukannya sebelum mereka menikah.
"Kamu membunuhku sayang" Lexsa memeluk Alex erat, tetap membiarkan prianya melayangkan kecupan basahnya di sepanjang perpotonggan bahunya. Ini nikmat tapi ini terlarang,, sebelum mereka menikah.
Entah sampai kapan dia sanggup menenangkan singa yang terbangun. Entah sampai kapan, dia tidak tahu
"I love you" Lexsa tersenyum manis sambil mencium bibir prianya lembut, tapi Alex tetaplah Alex, prianya suka sesuatu yang mengebu. Bahkan itu walaupun sekedar ciuman.
"Ahhhkkk kak " Lexsa melenguh pelan, Alex kembali meremas d**a nya pelan. Rasanya ini nikmat. Tapi dia tetap harus sadar.
Entah sampai jam berapa mereka tetap b******u panas Lexsa tidak tahu, yang pasti saat matahari mulai menampakkan dirinya kembali, wajah itu tertidur damai di sampingnya. Dengan gerakan pelan, Lexsa melangkah turun dari ranjang mereka
"s**t!, lihatlah tanda-tanda kemerahan ini. " Lexsa menatap ngeri leher dan d**a nya yang terlihat sangat jelas sekali bercak-bercak merah ulah kakaknya.
"Apa mereka seliar itu semalam, bahkan aku belum mebiarkannya melakukannya bagaimana kalau aku sudah mebiarkannya. aku tidak yakin semua ini semakin berkurang" Lexsa menyentuh pelan kissmark di payudaranya. Prianya liar sekali
"Selamat pagi semuanya" Lexsa sudah siap dengan baju santainya. Tentu dia harus berusaha exstra menghilangkan semua kissmark di lehernya . berterimakasihlah pada semua fondetion yang dia punya, itu sangat membantu
"Selamat pagi Princess" sapa Ken yang sedang memeluk Skyla di meja makan
"Lepas ken, aku punya kursi sendiri" skyla manatap jengkel tunangannya yang sangat possesif ini
"Dimana Alex" Daniel yang baru saja bergabung dengan mereka langsung mengambil tempat di samping clara. Ah jangan lupakan morning kiss itu
"Tidur" jawab Lexsa sekenanya. Dan itu berhasil mengundang siulan jail dari sepupunya itu. Lexsa memutar matanya malas. Ini masih pagi, dia malas berdebat
"Kamu tidak takut meninggalkannya. " Ken tersenyum jail. Dia tahu Alex akan marah kalau di tinggal saat bangun.
''terserah" Lexsa menjawab acuh. Ken yang melihat itu tertawa geli. Sambil mencium kekasihnya mestra. Dasar modus
"apa kalian akan melakukannya di depan ku" poor you Feby.
"poor you girl. Dimana pria mu itu" Reno yang sedang bersandar dibahu Bella, menatap penuh ejekan, itu sangat kentara sekali.
"mati saja kau sana'' Feby melempar anggur ditangan nya.. jangan lupakan bagaimana tawa Reno sekarang yang berhasil membuat Feby kesal.
''jangan dekat-dekat, gue tu gak cantik. Sana lo sama Skarlet atau Skarlat entah apa itu" pasangan aneh datang. Lexsa langsung duduk di tempatnya.
"Mona, listen to me ok'' Mona atau yang lebih kalian kenal dengan nama salsa, melangkah cepat dan langsung duduk di kursinya.
"kamu dengarin aku dong' Dion memasang wajah seolah ingin merajuk. Sebenarnya siapa yang sedang marah sekarang sih. Lexsa memutar mata malas
"apa-apa apa. Dasar gatal, cewek cabee itu juga lo ladenin. udah dikasih apa aja lo sama dia. d**a,paha hah apa. Dasar b******k" Ken tertawa geli. Adik Erik ini prontal sekali.
"sayang kamu kok ngomong gitu sih, aku gak ada hubungan apa-apa sama dia. Dianya aja yang kegatelan dekatin aku" Mona menatap jengkel
"sama kayak lo bang gatal. Makan tu cabe" Lexsa tertawa geli ini sungguh lucu sekali. Lihatlah bagaimana raut wajah tersiksa nya Dion yang baru saja di lempari cabe merah yang menjadi hiasan nasi goreng mereka. Menggenaskan
"LEXSAAAA"
"uhukkkk uhukk' Lexsa langsunb menatap horor, laki-laki yang sedang menuruni tangga dengan celana boxernya itu. untung itu celana boxer agak panjang sikit.
tapi tetap saja itu Memalukan.
"pawangnya Lexsa bangun" Cibir Daniel yang membuat Clara mencubitnya geram
Lexsa segera bangun dari posisi duduknya. Lihatlah siapa yang katanya tidak akan bersikap seolah dia pergi meninggalkan lelaki ini di pagi hari,
"kamu ninggalin aku" benarkan? Alex memeluk gadis nya cepat, seolah kalau dia terlambat sedikit saja , gadisnya akan pergii dari hadapannya.
"jangan dilihat sayang, adegan dewasa" Mona mencebik kesal saat matanya di tutup paksa oleh lelaki disampingnya. He dia masih kesal disini, dan sekarang dia malah dianggap anak kecil. menyebalkan
"kak" Lexsa mendengus pelan. Dengan cepat di lepasnya pelukan itu sebelum tubuhnya remuk. Ini sungguh menyesakkan
"kamu ninggalin aku" tatapan itu penuh luka . Lexsa tahu itu.
"duduklah" Alex mengambil posisi duduk tapi sayangnya dia tidak mengizinkan Lexsa duduk di kursinya melainkan di pangkuannya
"kak" Lexsa mengeram rendah. Lihatlah dimana lelaki ini meletakkan kepalanya. apa dikiranya bahunya itu bantal. Itu geli sekali
"kau meninggalkanku" ucapnya sambil mengendus wangi gadisnya. Dia menyukai itu, seolah itu menjadi bukti bahwa wanita nya masih disini.
Daniel yang melihat itu melempar tatapan kesal kearah sahabatnya yang tidak peka itu. ini masih pagi dan dia harus melihat adegan yang lebih panas. Semua yang ada disini berpakaian lengkap tapi Alex hanya mengenakan boxer yang panjangnya satu jengkel di atas lutut, dengan tampilan acak-acakan dan kissmark di sekitar dadanya. Apa dia ingin memamerkan sepanas apa malam mereka
"bukannya kakak sudah janji" Lexsa memutar kepalanya, dan mendaratkan kecupan singkat di bibir prianya.
" kenapa tidak bangunkan aku" Alex menatap dalam, dalam kedua bola mata yang selalu bisa menjeratnya itu.
" aku tidak ingin mengganggu tidur kakak , apa kakak mimpi indah semalam" Lexsa menggusap pelan dagu kokoh di depannya.
"hn" dia tahu kakaknya merajuk.
"bukannya kita sudah sepakat semalam" semuanya memandang mereka curiga, seolah ingin tahu apa yang sedang mereka bicarakan
"tapi tidak dengan.." Lexsa menutup mulut kakaknya dengan jari telunjuknya, memaksa lelaki itu berhenti.
"lihat" Lexsa sengaja menjeda kalimat, menunggu respon dari prianya
"siapa bertingkah bagai aku akan meninggalkannya sekarang" Alex menampakkan raut wajah tak suka
Lexsa mengusab rahang kokoh itu pelan dengan gerakan lembut,, Alex memejamkan matanya menikmati, tapi sesaat kemudian kembali melayangkan tatapan tajam pada gadisnya. Lexsa mendengus kesal, dasar lelaki menyebalkan, rasanya dia ingin meneriaki kata-kata itu sekarang, kalau saja tidak ingat betapa terlukanya pria ini nantinya
Luka itu masih berbekas, tapi tidakkah laki-laki ini sadar dia juga terluka, dia juga butuh sandaran
"dengar!" Lexsa kembali memaksa lelaki perajuknya untuk menatapnya dan mendengarnya
"kau meninggalkanku" Lexsa memutar matanya malas, walaupun dia tahu ada ketakutan dalam tatapan prianya
"aku disini, aku tidak akan meninggalkanmu, aku janji" Lexsa mengacungkan jari kelingkingnya,dia bersungguh-sungguh.
"kamu harus menungguku sampai aku bangun, kamu tidak akan beranjak sebelum aku bangun. Kalau kamu meninggalkanku, aku akan menyeretmu kekamar kita. Jangan salahkan aku kalau setelah itu kamu hamil" Lexsa menatap prianya horor tapi sayangnya kepalanya langsung menganguk patuh yang membuat lelaki itu tersenyum penuh kemenangan.
Kepala sialan, aku harus berhati-hati mulai sekarang
"woowowoowo., apa aku akan segera mendapatkan keponakan" Alex menatap tajam siapa yang berani mengganggu mereka
"santai Dude" Ken tertikikik geli, sepupunya itu sangat menyeramkan
"bukannya aku sudah mengusir kalian tadi malam" Alex kembali memeluk Lexsa dan memposisikan dirinya senyaman mungkin, sesekali mendaratkan kecupan ringan di bahu gadisnya.
"kami masih sangat menyayangimu, makanya kami disini. Dan memasak sarapan pagi untuk kalian" Xarly yang sedari tadi duduk manis di samping monica menatap Alex penuh sayang, yang membuat Alex melayangkan tatapan tajamnya pada lelaki berparas tampan didepannya
"kalau begitu aku tidak perlu lagi membayar pembantu di rumah ini." Ken menatap horor Xarly yang sedang menatap Alex seolah ingin protes
"kalian boleh mulai melakukkan tugas kalian hari ini, dari mencuci,mengepel, memasak. Ah jangan lupa untuk memeriksa stok tomat di kulkas, jangan sampai habis" Alexsa menatap teman-temannya kasian. Prianya tega sekali, tapi ini terlihat lucu, dan sepertinya sepupunya akan langsung kembali kerumahnya setelah ini. Rasanya dia ingin tertawa
"kau tega sekali Bro" Reno berucap tak terima, dia tahu ini rumah sahabatnya tapi dia tidak terima kalau harus melakukan perkerjaan rumah.
"hn" Alex membalas tak berminat, sambil memaksa Lexsa menyuapinya dengan gerakan tangannya
"kakak mau" Alex tersenyum mengiakan
"kami disini untuk menemanimu,"Alex memutar matanya bosan
"kalian bisa membeli rumah sendiri atau bergabung dengan tetangga kita" Reno menggeleng keras, tetangga mereka itu bearti rumah Al dan teman-temannya itu dia tidak akan mau, walaupun rumah itu berada tepat di samping rumah Alex
"kami masih memilih tetap tinggal disini, kau tahu membeli rumah baru dekat-dekat sini itu tidak ada" Alex tertawa mengejek.
"kalian pelit sekali" ucap Lexsa mewakili kekasihnya
"itu salah satu cara agar tetap kaya " Alex menatap mereka seolah berkata, kalian membuatku kesal.
"kakak mau lagi" Lexsa kembali mengisi piringnya dan kembali menyuapi kekasihnya. Dia mencintai lelaki ini. Dia mencintai prianya.
"sayang minum" Lexsa mengambil jus tomat di depannya dan membawanya ke bibir Alex, prianya dan tomat adalah kalaborasi yang tepat. Bahkan dia masih ingat bagaimana kekasihnya ini marah saat tahu tomat-tomatnya habis dan belum dibeli oleh pembantu mereka. Dia terkekeh lucu
"kenapa" Alex menatap gadisnya penuh tanya
"kamu lucu. Apa aku boleh menjual semua stok tomatmu" Alex menatap kekasihnya horor dan itu membuat Lexsa tertawa lucu
"jangan tatap aku seolah aku perampok. Kamu lucu sekali" Alex menatap gadisnya tidak suka
"hy masih ada kami disini " Feby menatap kedua sahabatnya horor, apa dia juga harus pindah kembali kerumah prianya , aa atau membawa lelaki itu kemari. Dan itu akan mengundang perang dunia disini. tapi apa salahnya mencoba.
"Ck!!, kalian mengganggu sekali" Lexsa tertekeh pelan,. Prianya tidak ingin diganggu eh
"aa apa kalian ingin berenang nanti, itu pasti sangat menyenangkan. " Lexsa langsung menggeleng kuat.
"aku ada kuliah nanti" ucapnya cepat.
"baiklah, bagaimana kalau besok, kita bisa ke pantai mungkin" Skyla kembali memberikan usulnya
"kenapa tidak" Lexsa menganguk mantap kemudian diikuti oleh para gadis lainnya.
"lalu bagaimana dengan mu boy" Lexsa menatap kekassihnya yang masih asik dengan lehernya
"hn"
"dasar Alien" Lexsa tertawa geli, mendengar gerutuan Skyla, yang berhasil mengundang tawa.
"tertawalah, dan kalian akan menemukan barang kalian di depan gerbang sebentar lagi." Semuanya kembali terdiam. Lexsa tertekeh pelan, prianya dan keangkuhannya adalah hal yang tidak bisa dipisahkan.
Lihatlah bahkan mereka kembai terdiam dan sibuk dengan makanan masing-masing yang entah sejak kapan acara makan ini terasa sangat lama. Lexsa mendengus geli saat hembusan nafas hangat itu kembali terasa di lehernya. Dan tubuh telanjang kakaknya yang begitu terasa, itu benar-benar menyiksanya.
"kita kekamar" ajak Alexsa, dia tidak mungkin membiarkan prianya sakit, karena kedinginan di udara pagi yang masih dingin ini. Dia harus kekampus nanti siang, dan itu akan gagal kalau kakaknya jatuh sakit
"hn" prianya suka sekali bergumam akhir-akhir ini, tapi dia entah bagaimana tahu apa yang pria ini inginkan.
Dengan langkah pasti mereka melangkah meninggalkan ruang makan yang kembali terasa hidup setelah Alex pergi
"wah-wah tuan rumah dalam mode siaga" ucap Daniel yang diiyakan oleh semuanya.
Alex dan moodnya adalah sesuatu yang buruk , laki-laki itu bisa melakukan hal yang buruk saat moodnya buruk. Mereka tahu akan hal itu.
"ah aku harus pergi, perusahaan memerlukanku" ken beranjak bangun diikuti Skyla disampingnya.
"sepertinya aku juga harus pergi, menjadi mahasiswa itu melelahkan" Feby beranjak bangun, dia ada kuliah pagi ini
"emm" balas mereka seadanya. Sambil memikirkan apa yang akan mereka lakukan sekarang. Ini masih pagi dan mereka perlu kegiatan bukan?
***