Gemerincik air yang beradu badan terdengar jelas, seolah membentuk alunan musik erotis yang berhasil mengganggu seorang pria dewasa dari tidur nyenyaknya. Tatapan tajam yang menghunus seolah ingin menghancurkan penghalang yang menghalangi pandangannya menikmati apa yang telah tuhan ciptakan.
"apa aku boleh menghancurkan pintu itu" Alex menggeram kesal, menatap penuh amarah yang beradu dengan nafsu yang membuncak, dia hanya lelaki normal yang sudah terbiasa dengan kehidupan panasnya. Tapi hanya gadis itu yang bisa membuatnya bertahan dalam puasa panjangnya.
"kakak sudah bangun" Alex menatap penuh minat apa yang disajikan di depan nya, adai saja dia tidak ingat siapa gadis di depannya pastinya sekarang, gadis itu akan menggerang nikmat di bawahnya.
Lexsa menatap heran prianya, tapi. Pandangan itu-.
Lexsa melangkah cepat dan menghilang di balik pintu wack in closet.
"laki-laki itu gila" Lexsa bergidik ngeri membayangkan tatapan m***m kekasihnya.
"kak, cepatlah bersiap, " Alex mendengus kesal mendapat teriakan dari kekasihnya.
"seharusnya aku mandi bersamanya tadi" Alex tersenyum geli dengan pemikirannya sendiri dia tidak yakin gadisnya akan mmebiarkannya.
"ah kenapa kami tidak menikah saja, aku akan menghubungi dady, dedy pasti mau membantuku" Alex tersenyum penuh makna, dia masihlah putra mahkota keluarganya. Dan apa yang dia mau harus di turuti. dan itu mutlak
Lexsa keluar dengan tampilan lebih santai. Tidak lupa sebuah topi untuk dia gunakan di pantai. Dan tas berukuran sedang yang berisi keperluannya serta kakaknya
Ah jangan lupakan dengan semua yang harus dia siapkan, sebelum prianya itu membuatnya sakit kepala.
Lexsa mengatur semua nya di atas ranjang mereka, baju yang akan di kenakan Alex dan juga celana pendek pria nya. Sepertinya dia sudah sangat cocok menjadi istri kekasihnya. Lexsa terkekeh pelan sampai tidak sadar ada sepasang mata yang sedang memperhatikannya penuh minat. Sampai akhirnya sepasang tangan kokoh itu kembali memeluknya dari belakang
"kak.. " Lexsa mendesis rendah
"lepas! kakak basah" Lexsa membalikkan badannya paksa. Lelaki ini masih basah dan seenakya memeluknya
Shit, apa dia mau membuatku terlihat bodoh.. oo god he look so sexy!
Lexsa menggurutu pelan, tapi sayangnya tatapannya tetap terpaku pada tubuh pria di depannya. Lihatlah betapa sexy pria ini dengan kotak-kotak kecil yang menambah sexy otot perutnya. Ah jangan lupakan air-air yang menetes dari anak rambut kekasihnya. He look so sexy. Really!
"suka dengan yang kau lihat sayang" Lexsa langsung gelagapan sendiri, bagaikan perawan yang ketahuan menonton film porno.
Akukan memang masih perawan, apa peduli ku
"kakak sudah siap mandikan?. " Lexsa mengumpat kesal, apa yang dia tanyakan jelas sekali dia sedang gugup
"hm" Alex menatap lucu gadis di depannya. Gadisnya sedang gugup rupanya, lihatlah waja yang mulai memerah itu
"berhenti menatapku seperti itu" Alex tertawa geli. Gadisnya dan amarahnya adalah hal yang lucu di saat tertentu. Seperti sekarang ini.
"kamu manis" sial
Lexsa menyentuh pipinya tanpa sadar, sekejab rasa hangat memenuhi tangannya. Dia yakin pasti pipinya sekarang sudah memerah
"Alex menyebalkan" Lexsa berucap kesal, dan melangkah pergi dari sana. Tapi sialnya lelaki itu memang tidak akan pernah membiarkannya pergi
"maaf. " ucap Alex sambil terkikir pelan.
"nyebelin" Alex menarik Lexsa agar duduk diatas ranjang, dan dia mengambil posisi bersimpuh di depan gadisnya.
'kamu marah" Lexsa membuang mukanya, lelaki ini benar-benar menyebalkan.
"maaf" rasanya Lexsa ingin tertawa lucu, lihatlah tatapan memohon prianya ini. Manis sekali
"cepatlah. Kita akan terlambat" Lexsa mengecup pelan pipi kakaknya. Dan memaksa laki-laki itu bangun. Mereka harus cepat. Semuanya sudah menunggu di depan sana
" pakaikan"
"hy kau kasar sekali" Lexsa menatap horor pria di depannya. Bahkan setelah dia melempar lelaki itu dengan bajunya . masih sempat-sempatnya Alex memancing amarah lagi.
'ok ok , aku minta maaf" Lexsa kembali mengacuhkan Alex, jangan lupakan tatapan geli lelaki itu karena berhasil mengerjainya
Alex tertekeh pelan, gadisnya yang manis, bodohnya dulu dia yang tidk sadar akan cintanya.
"ayo, " Alex mengulurkan tangannya yang dengan senang hati Lexsa akan menerimanya. Prianya sudah terlihat tampan.
"apa kau bawa bikini sayang" Lexsa memutar matanya malas
"tidak ada bikini" Alex tertawa keras, dia tahu gadisnya ingin memakai pakaian laknat itu
"terimasih sudah membuat ku tidak bisa memakai semua bikini yang sudah ku beli. Kau menyebalkan' Alex menatap gadisnya tajam
"tidak ada yang boleh melihatmu dalam balutan pakaian laknat itu. hanya aku" Lexsa bergidik ngeri sesaat dia bahkan lupa dengan kekesalannnya akan tanda yang kembali prianya torehkan di tubuhnya
"kamu mengerti sayang" Lexsa menganguk patuh, dia bahkan tak percaya kenapa sekarang dia bahkan sudah menjadi anak yang penurut, bukan dia banget.
Alex menuntun gadisnya menuruni tangga rumah mereka. Dia bahkan rasanya ingin membunuh semua yang ada di bawah sana, yang menatap gadisnya bagaikan milik mereka.
"jaga mata kalian sebelum benda itu hilang" Alex menatap penuh aura pemusuhan
"santai bro, aku masih ingat dengan kekasih ku Evelyn" Lexsa tertawa geli, dengan reaksi berlebihan kakaknya yang akan muncul setiap kali Al menatapnya berlebihan. Salahkan lelaki itu yang pernah menaruh rasa padanya
"ok guys, sebaiknya kita bergerak sekarang" Bram merangkul kekasihnya dan mengajaknya pergi dari sana, sebelum akhirnya mereka harus berakhir di rumah sakit akibat perdebatan yang tidak penting itu.
"pantai " Lexsa berteriak heboh, sambil membawa serta Feby yang juga penggila pantai. Oo jangan lupa tatappan horor yang Alex layangkan, seolah memerintahkan Devon untuk mengambil kekasihnya
"oo jangan aku broe, kau tahu Feby sangat keras kepala. Dan aku yakin mereka akan memilih satu mobil sekarag dan kau tahu apa artinya dude" Alex menatap Devon tak suka. Dia ingin satu mobil dengan kekasihnya. Dia tidak ingin berbagi.
'bawa mobil mu, atau aku akan menurunkanmu di tengah jalan' Lexsa yang mendengar itu mendelik marah
'berani turunin Devon tengah jalan. Aku juga akan ikut turun" Alex mendengus tak suka
"ok ok, hanya saat pergi. Dan mereka tidak boleh bersama kita saat pulang" putus Alex final. Dia tidak ingin dibantah lagi
"dasar egois" ucap Lexsa kesal tapi tetap saja menarik Feby untuk ikut berteriak bersamanya.
"pantai, pantai"
"bisakah kalian diam. Dan kau Devon, duduklah disamping kekasihmu!" usir Alex. Kekasih cantiknya malah memilih duduk dengan sahabatnya itu dari pada di depan bersamanya
"ayolah sayang, apa kamu ingin kami berdesak-desakan disini" Alex menatap kekasihnya yang mulai merayunya
'di depan!" putus Alex tegas, Lexsa yang mendengar itu memberungut kesal, gagal sudah keinginannya untuk bergosib ria dengan sahabatnya
"sana pindahlah, aku tidak ingin kita kecelakaan karena ulah mereka" Feby tertawa mengejek kedua laki-laki dalam mobil ini. Lexsa menatap tak rela, kenapa dia jadinya harus pindah
"dasar egois' Alex yang mendengar itu berusaha mengacuhkan gadisnya yang sedang merajuk
"hati es. "
"itu aku" Lexsa menatap kesal, mendengar balasan dari lelaki di sampingnya
"b******k"
"ku akui" Lexsa semakin menggepalkan tangannya marah
"Penjahat kelamin, egois, moster. Playboy. b******k"
"Yaaa Diam Kau" Alex menutup mulutnya rapat saat mendengar teriakan gadisnya
"tidak peka, menyebalkan. Maniak tomat. Dasar Gila" Alex memutar matanya malas, lagian apa yang harus di sanggahnya, dia memang Maniak Tomat yang sedikit gila kalau berhubungan dengan gadisnya, itulah dia.
"Ada lagi" Alex menatap gadis disampingnya dingin, seolah ingin menyulut emosi yang belum tuntas di keluarkan
"b******k dasar Muka tembok, jangan harab kau akan melihat tomat-tomatmu di kulkas nanti saat pulang" Alex menyeringai menyebalkan, dan Lexsa tahu apa saja yang akan keluar dari bibir sexy itu pasti akan merugikannya
"tidak masalah, aku bisa menikmati cerry sebagai pengganti. Aku bisa memaklumi itu. " Lexsa menatap horor saat pandangan kakanya malah mengarah ke bibirnya.
"Yaaa, dasar m***m. " Lexsa berteriak nyaring yang berhasil membuat Alex tertawa keras
"hahhahahha, lihatllah pipimu sudah seperti buah kesukaanku" Devon yang sedari tadi menyembunyikan wajahnya diantara dua bukit kembar kekasihnya langsung menatap Alex tak percaya saat mendengar tawa lepas itu lagi.
"kalian romantis sekali, rasanya kupingku mau pecah" Lexsa memberunggut kesal,dia bisa melihat bagaimana Feby menyentuh kuping itu bagaikan ada darah yang keluar dari sana akibat suaranya.
"menyebalkan' Lexsa menepis kasar saat tangan Alex hendak menyentuh tangannya, Alex yang melihat itu mendengus kesal, kalau saja tidak ada dua orang m***m dibelakang mereka, mungkin sekarang dia akan menghentikan paksa mobil mereka dan memaksa gadisnya untuk tidak mengacuhkannnya.
Berterimakasihlah pada pantai yang mereka datangi yang memang tidak terlalu jauh dari tempat kediaman mereka. Sepertinya dia semakin jatuh cinta pada negri paman sam ini.
Bam
Alex mengekori Lexsa yang sudah lebih dulu keluar sambil membawa tas kecilnya. Dan membiarkan dia membawa barang mereka. Saat gadisnya memilih duduk di salah satu kursi pantai di bawah payung, yang dia yakin kalau saja ada badai payung itu akan terbang. Alex memilih duduk di depan gadisnya.
"biarkan mereka, sebelum kuping kalian sakit karena teriakan Lexsa" Daniel yang baru saja ingin menyapa Alex dan hendak mengajaknya melihat apa yang bisa mereka lakukan di pantai ini. Langsung memilih mundur saat mendengar suara berat lelaki di belakangnya.
"sebaiknya kita membantu para gadis mengatur barang. Ini akan jadi piknik yang menyenangkan" ucap Daniel dan memilih pergi ke tempat Clara yang sedang menata semua bawaaan mereka .
"hy sayang perlu bantuan" Clara mengucup pipi lelaki yang memeluknya itu.
'tentu sayang" Balas Clara
"apa yang kau lihat" Lexsa yang sedang menikmati pemandangan manis di depannya, menatap kesal lelaki yang sedang mengganggu nya itu
"pergi" usir Lexsa yang dia tahu tidak akan berdampak apa-apa pada pria di depannya
"kamu marah' Lexsa menatap kesal seolah berkata kapan lelaki itu akan peka
'aku minta maaf" Lexsa memutar matanya malas. Kata maaf yang bearti kalau lelaki itu akan mengulangnya lagi.
" hy" Alex menggenggam tangan gadisnya erat,, seolah tau gadis nya akan menepisnya lagi
"Pliss' mohon nya
"b******k' Lexsa menatap tajam lelaki di depanya.
"egois" tambahnya lagi
"tidak peka' Alex menerima semua keluh kesah gadisnya, memang itulah dia
'pemaksa" Alex menunggu dengan sabar.
"Playboy" Alex rasanya ingin membantah, dia sudah lama taubat
"maniak tomat"rasanya dia ingin tertawa sekarang,
'aku akan membuatmu tidak bisa menikmati buah sialan itu kalau berani tertawa' seolah tahu Prianya akan tertawa. Lexsa menatap kesal,
"ia ia, maaf ok. Aku memang egois aku memang b******k. Tapi lelaki b******k ini hanya mencintaimu. Aku memang playboy, aku tidak menyanggah itu. tapi playboy ini hanya akan tunduk pada wanitanya. Dan itu kamu' Lexsa rasanya ingin segera memeluk lelaki di depannya. Prianya manis sekali
"aku memang sering membuatmu marah. Tapi ini lah aku. Dengan semua kekuranganku berharab kamu selalu ada untuk membuat aku sempurna' Lexsa menatap tak percara saat Alex mencium punggung tangannya
"apa kepala mu terbentur sesuatu' Lexsa menatap khawatir, apa mungkin tadi saat dijalan kepala kekasihnya terbentur, atau mungkin ada yang memukul prianya
"oo ok, ok. " Lexsa menyerah, sepertinya prianya memang sedang serius.
"berhentilah bersikab menyebalkan. " ucap Lexsa yang akhirnya berhambur dalam pelukan hangat kekasihnya.
'apa aku harus berhenti?, tapi aku tidak bisa, karena kamu adik kecilku yang menggemaskan' Lexsa memutar matanya malas, prianya dan kejailan pria itu benar-benar menguji kesabarannya.
"sebaiknya kita bergabung dengan mereka" Lexsa segera bangun dan menarik pria di depannya. Untuk mengikutinya.
'hy apa kalian ingin berenang" sangat menyenangkan kalau kau bisa memakai bikini, Lexsa mendengus kesal sambil terus berusaaha menghilangkan harapannya itu
"kamu ingin sesuatu" Lexsa mengikuti tuntunan kakaknya saat laki-laki itu menariknya untuk duduk disampingnya.
'tidak ada' Lexsa mengelengkan kepalanya seolah memang itu yang benar-benar dia pikirkan
Beberapa makanan sudah tertata rapi disana. Mungkin ini memang piknik yang menyenangkan. Dan bagusnya hanya mereka dan beberapa penduduk lokal yang berada di pantai ini, itu membuat mereka bisa menggunakan pantai ini sesuka mereka.
"kalian ingin berenang" tawar Monika yang sudah siap dengan bikini yang membalut indah tubuh rampingnya.
'tentu sayang, " Xarly langsung bangun dari duduknya, saat melihat kekasihnya sudah siap
'kalau begitu kami juga' Al dan Eve melangkah cepat, jangan lupakan Feby yang bahkan sudah berlari duluan kearah pantai. sedangan yang lainnya. Mereka bahkan sudah siap dengan selancar dari tadi dan juga jetske. Sahabat yang sangat baik
'kamu ingin berenang" Alex tahu gadisnya ingin, tapi sayangnya larangan darinya bersifat mutlak
"andai aku tidak punya pawang, ooo lihatlah air itu seolah-olah memanggil namaku" Alex mendengus geli.
"tidak dengan menggunakan bikini sayang, kau boleh berenang tapi bukan dengan bikini sialan itu" ucap Alex tegas. Lexsa tersenyum miring. bukankah itu artinya dia boleh berenang
"terimakasih sayang" Lexsa segera bangun dari posisi duduk nya tapi tangan Alex lebih dulu menariknya.
"apa lagi" geram Lexsa kesal sambil menyentuh jidatnya yang terasa sakit karena terbentur d**a bidang lelaki di depannya
"siapa yang mengizinkanmu berenang tampa aku" Lexsa mendengus kesal.
'kalau begitu ayo!" paksa Lexsa, Alex di tarik paksa tangannya berjalan cepat mengikuti langkah buru-buru gadisnya
'hy kalian lama sekali" Ucap Mona yang sedang berusaha berenang menjauh dari Dion
"hy jangan kemari, kau mengganggu saja" Bram yang merasa terganggu dengan kedatangan Dion, langsung mengusir cepat lelaki itu. dia tidak ingin acara berenangnya dengan kekasihnya harus terganggu
"air yang indah" gumam Lexsa yang sudah di peluk erat oleh Alex di belakangnya.
"kak, kalau begini bagaimana caranya aku berenang' Lexsa melepas paksa rengkuhan tangan itu, dan bergerak cepat menjauhi kekasihnya
'aku ingin berenang mengerti" Ken yang melihat itu langsung tertawa terbahak.
"diam!, sebelum aku membuang semua senjatamu yang ada di rumah ku" Ken mendengus kesal, sepertinya setelah ini dia harus mengambil semua senjata yang dia simpan dirumah sepupunya itu, sebelum itu hilang
"dasar bodoh" Skyla tertawa mengejek, lelakinya dan senjata. Dia merasa tersaingi,
"hy itu limited edition' bela Ken. Skyla mendengus kesal
'Aneh" ucapnya kesal.
Lexsa menatap masa bodoh dengan perdebatan mereka. Lagi pula ini saatnya dia berenang dengan puas, sebelum laki-laki itu kembali menahannya. Kapan lagi dia bisa seperti ini, menikmati dingin nya air laut yang sudah lama ingin dijamahnya. Kalau bukan karena larangan kakaknya pastinya dia akan dengan senang hati kemari. Bahkan dia sering dilarang hanya untuk berenang di kolam dirumah mereka dengan alasan ada lelaki lain dirumah mereka, rasanya dia ingin mengusir mereka semua
'hy Priences, kau yakin ingin terus berenang" Lexsa menatap tajam siapa yang berani mengganggunya itu
"lihatlah!, apa yang dilakukan priamu itu' Lexsa menatap tajam, disana Alex sedang bermestraan dengan Carolin
Carolin?
Darimana Cabe itu tahu kalau mereka disini. Apa mungkin kakaknya memberitahukannya. Atau
"dasar jalang' Al tertawa geli, bukan bermaksud untuk senang diatas kekesalan gadis disampingnya. Hanya saja gadis itu terlalu sering mengumpat sekarang.
"eve pasang GPS ditubuh priamu. Sekarang zamannya pelakor" AL menatap tak terima, jelas sekali dia tidak ingin ada pelakor dalam hubungannya
"berani dia gatal, aku jamin perusahaannya akan masuk berita besoknya karena hangus terbakar" Al menatap ngeri gadis disampingnya. Sadis sekali gadisnya.
Lexsa mengangguk mantap seolah dia juga akan mengatur rencana untuk membasmi semua pelakor yang ada di dunia ini, yang berniat masuk dalam hubungannnya
"lihatlah, baru ku tinggal sebentar dia sudah melebarkan sayabnya. Dasar gatal"
Lexsa berjalan cepat kearah Alex yang sedang berpelukan mestra dengan carolin, lihatlah betapa sexy tubuh wanita dalam dekapan kakaknya itu. rasanya Lexsa ingin menarik rambut wanita itu dan menariknya kelaut, itu terdengar menyenangkan
"aku diam bukan berarti aku tidak peduli, aku hanya ingin lihat seberapa keras usahamu untuk menjauh dari semua pengganggu itu"
***