Deru ombak laut yang bertemu bibir pantai seolah berderu keras menghantam dan terus menghantam bibir pantai. Menciptakan irama yang seolah sanggup mengiringi langkah cepat seorang gadis yang terkesan tegas sekaligus keras, seolah menahan emosi disetiap hentakan kakinya yang beradu dengan pasir.
"aku diam bukan berarti aku tidak peduli, aku hanya ingin lihat seberapa keras usahamu untuk menjauh dari semua pengganggu itu"
Gumamnya dengan pandangan nyalang menatap penuh amarah dengan pemandangan yang tersaji di depannya. Emosi yang terasa semakin diubun-ubun itu semakin terasa tertarik keluar saat prianya seolah kurang tegas pada wanita di sampingnya. Dia tahu dia jahat yang ingin prianya menampar wanita itu . tapi itu cukup untuk membuat emosinya hilang dalam sekejab
"pergilah carolin, aku tidak ingin melihatmu disini" ucap pria itu kasar
"kita bisa bersenang bersama-sama sayang, " ucap perempuan itu semakin merapatkan tubuh setengah telanjangnya pada tubuh pria disampingnya
"pergilah, sebelum aku berbuat kasar' ucapnya sambil menatap tajam wanita yang tidak tahu diri di sampingnya
'kamu sering berbuat kasar saat kita bercinta sayang" ucapnya dengan suara menggoda
"bercinta" Alex langsung memutar tubuhnya cepat. Lexsa mematung di tempatnya
"jadi benar, dia juga salah satunya' lexsa menatap tak percaya. Seberapa banyak wanita yang pernah menjadi penghangat ranjang kakaknya
" sayang aku bisa jelaskan'
"apa lagi yang mau kau jelaskan, apa lagi yang belum aku tahu kak" lexsa menatap tak percaya, sebegitu brengsekkah lelaki itu. dia sakit
"sayang, tidak perlu sepanik itu, lagian memang benarkan. Kita sering melakukannya dulu" carolin tersenyum licik, seolah senang dengan rasa sakit yang dia torehkan.
"diam kau" carolin tersentak tak percaya, saat Alex membentaknya kasar. Bahkan laki-laki itu kini sudah mencengkram tangannya kasar
"Alex sakit" ucapnya mencoba melepaskan tangan pria itu
"kakak jahat' Alex mengusab wajahnya prustasi. Lexsa mengambil langkah cepat menjauh dari lelaki yang kembali menyakitinya.
"kalau sampai lexsa membenciku, kau akan tahu akibatnya' Carolin bergidik ngeri, dia tidak pernah melihat Alex semarah itu, sebenarnya sedalam apa hubungan lelaki itu dengan gadis bernama Alexsa itu
'kau membuat ku semakin ingin memilikimu sayang. Kita lihat saja apa yang bisa aku lakukan" carolin tersenyum licik, dia bukan wanita lemah yang bisa diancam begtu saja. Dia cukup kuat untuk melawan mereka. Dia bukan gadis lemah
"Lexsa stop, aku bisa jelaskan' Alex berusaha menahan lengan lexsa tapi sayang lagi-lagi gagal, saat gadis itu malah semakin mempercepat larinya
" I say stop" Alex mencengkram kuat tangan lexsa membuat gadis itu semakin menangis dalam diamnya. Alex menatap panik,dia sudah menyakiti gadisnya.
"sayang maaf , aku tidak bermaksud menyakitimu" Lesa menggeleng keras, apa nya yangg tidak bermaksud, apa tadi itu kurang.
Lexsa menghentakkan tangan itu keras, sambil mencoba membentuk jarang dari pria di depannya. Dia menatap sesekeliling, ternyata dia sudah berlari cukup jauh. Matanya meneliti sekitar,
Sial pantai ini cukup sepi. Dan apa yang mereka lihat
Lexsa menatap teman-temannya yang seolah sedang mengawasi mereka
Aku tidak akan kabur b******k , bahkan kalianpun sudah bersekutu dengan pria b******n ini untuk mengawasiku
Lexsa semakin menatap marah lelaki yang terus berucap maaf di depannya. Bahkan untuk pergi jauh saja dia tidak bisa. Menyebalkan.
"sayang. " lexsa menghentakkan tangannya kesal
"jangan pengang-pegang, jijik gue" Alex menatapnya terluka, lexsa tahu itu. tapi sadarkah lelaki ini sudah berapa banyak dia menyakiti dirinya. Kapan prianya akan terbuka padanya
"sayang aku mohon, kamu dengar dulu" mohon Alex sambil berusaha menyentuh tangan gadisnya.
"apalagi yang kau sembunyikan dariku" lexsa menatap tajam lelaki yang masih saja bungkam di depannya.
"sayang ini tidak seperti yang kamu dengar. Saat itu aku dibawah pengaruh alkohol" lexsa menatap tajam. Apa lagi ini alkohol apa lagi yang dia tidak tahu
"alkohol' Alex merutuki kebodohannya, sial kenapa dia lupa kalua gadis nya benci alkohl
"kau mabuk, kau bermain perempuan, kau balapan lagi. Kau bermain jalang, kau minum. b******k kau Alex , apalagi yang tidak aku tahu hah" lexsa memukul Alex brutal, dia merasa dibohongi disini
"sayang saat itu aku hanya sedang tertekan, aku melupakan tentang kita"
"kau tahu aku benci alkohol, kau tahu itu, kau tahu" lexsa berteriak marah, cukup sudah dia tidak tahan lagi
"siiaapa siapa lagi yang sudah kau tiduri Hah?" Alex menggeleng keras seoolah itu adalah jawabannya
'siapa Alex Willshon, jawab aku, " Alex menatap wanita di depannya terluka, dia ingin gadisnya memanggilnya dengan sebutan kakak bukan langsung namanya. Dia takut gadis nya akan pergi
"kau menghianatiku b******k" Alex berusaha menahan gadis nya agar jangan semakin menjauh dari nya
"sayang dengarkann aku, ini tidak seperti yang kamu pikir, aku tidak meniduri mereka" Lexsa melotot tajam
'mereka?, kau bilang mereka. Ada berapa banyak lobang yangg sudah kau masuki b******k. Jangan sentuh aku b******k. Kau menjijikkan jauh jauh dari ku. " lexsa meneis kasar tangan yang hendah menahannya.
"sayang dengar! maksud aku bukan begitu" Alex tidak tahu harus memulai dari mana lagi, dia bingung
"menjauh dariku b******k" Lexsa mendorong kasar tubuh yang berusaha menahannya tampa melihat ada sebongkah kayu di belakang Prianya.
"Au" Lexsa membalikkan tubuuhnya saat mendengar pekikian keras dan benda terjatuh dengan begitu keras.
"Au" Lelaki ituu kembali meringis, saat sadar sebuah kerang bersemayam dalam kulitnya.
"s**t' Lexsa menatap terkejut, saat darah segar mengotori pasir yang semula nampak putih.
"apa aku boleh menjelaskan semuanya , aku tahu aku salah. Karena itu maaf. Aku tidak inggin menyakitimu dengan mengatahui sisi gelabku" Lexsa menutup telinganya rapat, yang dia pedulikan sekarang adalah luka yang terus mengeluarkan darah itu
"tangan mu harus diobati' Alex menghentikan omongannya, saat gadisnya berucap dengan begitu datar kearahnya. Sambil menggangguk lemah Alex mengiikuti langkah gadisnya dengan hati berkecamuk
"aku mohon jangan benci aku" ucap Alex dalam
Lexsa berusaha mengacuhkan lelaki di belakangnya, yang sesekali meringis kesakitan karena luka di tangannya
"oo god Alex, what happen whit your hand" Evelyn berucap khawatir saat Alexsa sudah mendekat kearah mereka.
Lexsa enggan menjawab, dia lebih memilih mencari kotak P3K yang sengaja dibawanya tadi. Tak disangka koak itu akan bermamfaat sekarang. Alex mengikuti arah duduk lexsa dengan berat dia duduk di samping Alexsa yang sedang mempersiapkan air untuk mengobati lukanya
"maaf" ucapnya lagi,, dia tahu gadisnya mendengarnya tapi sayangnya lagi lagi dia harus menelan pil pahit. Gadisnya tidak memberikan respon apapun.
"oo god kenapa lengannya" mona yang baru saja bergabung seelah lelah berenang, menatap tak percaya dengan apa yang dilihatnya
'aku menancapkan batu karang di lengannya" jawab Lexsa yang berhasil membuat ken berteriak shok
'kau serius" tanya feby yang baru saja tiba
'kalau bisa aku bahkan ingin pisau milik devon yang menancap di tubuhnya dan para jalangnya' ucapnya sarkastik
'aku punya banyak kalau kau mau" ucap devon tampa beban
"kau ini" feby mencubit keras lengan kekasihnya itu
'apa?, aku hanya menawarkan" feby memutar matanya malas, meladeni pria ini hanya akan membuatnya berakhir dongkol.
"biarkan mereka, "daniel yang selalu bisa memahami suasana langsung menengahi. Dia tahu sahabatnya ini sedang ada masalah
"sayang, iish Auu" Alex meringis pelan, saat lexsa dengan cantiknya menekan lukanya dengan kapas yang sudah di tetesi obat merah.
Lexsa menata tajam lelaki di depannya seolah menyuruh lelaki itu diam
Hancur sudah acara ke pantainya, dasar jalang tak berguna. Mengganggu saja. Awas saja kau nanti.
Lexsa kembali menekan luka itu kasar . beberapa sudah meringis dan menatap prihatin Alex yang kembali meringis tertahan akibat ulah gadisnya. Darah kembali merembas keluar karena tekanan tangan gadisnya. Dan itu cukup menyiksanya.
"shitt" umpat Lexsa kembali melajutkan mengobati lengan kakaknya sambil sesekali menekannya kasar, seolah itu mencerminkan betapa dia juga merasa sakit
"apa kalian sudah selesai dengan acara berenang kalian" ucap lexsa seolah bertanya.
"ya" jawab monika yag sedang membantu Xarly mengeringkan rambutnya.
"aku ingin berenang" lexsa mencopot baju kaos kelnggaran yang dia kenakan, menampilkan Bra Hitam yang bertengker indah ditubuhnya, yang erhasil membbuat mata lelaki menatapnya penuh kagus,. Alex yang melihat itu langsung bangun menyusul gadisnya yang sudah berjalan kearah pantai
'kau menentangku' Alex menatap marah dengan kasar dia menarik tangan lexsa dan pergi meninggalkan bibir pantai. Ah bukan bibir pantai saja tapi juga pantai dan teman-temannya.
"kau " Alex menatap tajam saat gadisnya hendak membantah, masa bodoh dengan amarah gadisnya. Dia tidak ingin miliknya ditatap oleh orang lain, sekalipun itu sahabatnya.
"kau melarangku, kau memaksaku. Aku ingin berenang b******k" Lexsa menatap tak kalah tajam lelaki yang sudah memaksa nya duduk di jok penumpang. Bahkan mobbil mereka sudah meninggalkan area pantai.
'b******k" umpat Lexsa tak henti-hentinya
"hisss" Alex meringis pelan kala tanganya yang terluka kembali nyeri. Sepertinya dia tidak boleh terlalu menggerakkan tangan kanannya sekarang.
"lepas!" bentak lexsa saat alex hendak merangkulnya saat sudah berada di rumah mereka
"Pergi!" lexsa melempar cepat sandal yang melekat dikakinya. Dan itu berhasil mengenai perut Alex yang membuat lelaki itu meringis pelan
"janggan berani-berani ikuti aku" Lexsa berjalan cepat menaiki tangga menuju kamar mereka. Bahkan saat sedang berkelahi seperti sekarang, dia tidak bisa pergi kekamar yang lain
"sayang dengar....
"aku bilang keluar b******k" Alex berusaaha menghindar dari apapun yang dilempar lexsa. Tapi sialnya alarm yangg dilempar adiknya itu dengan mulusnya mendarat di kepalanya
"lexsa stop it" Alex mencoba menahan tangan Lexsa yang hendak mengambil barang lainnya. Sambil memengang kepaanya yang terasa nyeri.
Lexsa menatap masa bodoh, masa bodoh dengan kening laki-laki itu yang sudah memerah karena ulahnya. Dengan kasar lexsa menghempaskan tangan Alex. Dan kembali mengambi apapun yang bisa di raihnya
"Lexsa berhenti, apa yang kau lakukan"
"kau kau yang memulai ini, belum cukupkah kau menyiksaku, menahanku agar tetap disisimu, sedangkan kau malah bergatal dengann jalang-jalangmu itu"
"sayang dengar. Kita bbisa membicarakan ini baik-baik" Lexsa tertawa mengejek
"baik-baik, apa kau cukup baik untuk berbicara baik-baik hah" lexsa kembali menantang. Dia sudah cukup bersabar dengan semua ini
'kau melarrang ku berenang, kau melarang ku dengan pria, lalu kau apa. Apa yang kau lakukan"seolah kesetanan, lexsa kembali ingin melempar apa yang bisa di raih tangan nya. Tapi sayangnya barang itu malah mendarat dengan mulus di kepala Alex, Alex menggeram kesal, darah segar kembali keluar dari tubuhnya. Kenapa gadisnya brutal sekali, sepertiya dia harus memikirkan dua kali untuk membuat gadis itu marah.
Ale mendorong kasar tubuh Lexsa sehingga lexssa terbaring di atas ranjang mereka dengan kaki menjuntai.
'kau' lexsa menggeram kesal, dengan cepat dia membalikkan tubuhnya hendak bangun, tapi sayangnya lelaki itu lebih cepat menindiknya
"dengarkan aku!" Alex berusaha agar tetap sadar, degan kepala berdengut nyeri dan tanggannya yang seolah memberontak agar dia tidak memberi beben tubuhnya pada tangannya yang terluka
"ia aku minum, ia aku mabuk. Ia aku tidur dengan lebih satu wanita"
"kau menyakitiku" lexsa memukul laki-laki di depannya brutl, seolah lupa dengna darah yang mulai kering di sisi wajah prianya.
"maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakitimu. Aku hanya bingung. Kenaa aku selalu memikirkanmu, merutuki tubuhku yang selalu b*******h saat memikirkanmu. Yang berakhhir aku pergi ke Clup dan tidur dengann saah satu diantara mereka,. Termasuk Carolin"Alex menggelengkan kepalanya saat rasa ppening itu semakin menderanya.
"aku hanya ingin kamu, aku ingin mengingat semuanya. Tapi hanya kamu yang selalu muncul dalam pikiranku" Lexsa terhenyak. Apa itu benar , tapi tetap saja dia tidak bisa mentoleransi perbuatan kakaknya ini
"aku mohon, jangan benci aku. Jangan " Lexsa menatap panik saat Alex jatuh diatas tubuhnya
'kak.. kakak.. Alex" Lexsa terus menggoyang-goyangkan tubuh itu. tapi nihil
"panas" gumamnya setelah berhasil menyingkirkan tubuh Alex dari atasnya.
"oo god apa yang aku lakukan" seolah baru sadar apa yang telah dia lakukan pada tubuh kekasihnya. Lexsa langsung bangun dan berteriak panik..
"oo god bagaimana kaau dia Amnesia lagi. Bagaimana kalau dia ingatnya carolinlah pacarnya. Bagaimana kalau malah karin si jalang yang menculikku itu yang dia ingat"
Lexsa mulai panik sendiri, seolah melupakan fakta bahwa ada yang membutuhkan perawatannya sekarang
"oo no no, itu tidak akan terjadi" lexsa mengelengkan kepalanya panik
"oo ia obat. Oobat, O god darahnya banyak sekali" seolah baru sadar Lexsa langsung berlari kekamar mandi dan mengambil kain serta air dan obat untuk membersihkan luka lelaki yang sekarang sedang berbarik diatas ranjang.
"apa aku sekasar ini' lexsa menatap tak percaya apa yangtelah dia lakukan. Dan kembali meneliti keadaan kmar mereka yang sudah sangat berantakan
"maafkan aku" gumamnya sambil meringis melihat luka di kepala Alex yang tidak terlalu parah tapi darahnya benar-benar banyak.
Dengan telaten lexsa membersihkan luka akibat tangan nya itu. lexsa meringis beberapa kali saat melihat lebam di sisi tangan dan perut lelaki itu yang terespos.
"aku harap dia tidak merasakan sakit. Saat bangun nanti' lexsa kembali mengompres Alex yang suhu tubuhnya tiba-tiba saja berubah.
"cepatlah bangun. Agar kita bisa membicarakan semuanya" gumamnya pelan
***