Namanya Jelita.
Perempuan biasa berusia dua puluh delapan tahun dengan kekurangan fisik yang membuatnya merasa tidak layak menjadi pilihan pertama bagi siapapun.
Sejak lahir, mata sebelah kanannya mengalami kebutaan. Sejak kecil, menjadi bahan bully, olok-olok, juga gunjingan sudah menjadi makanan sehari-hari bagi Jelita.
Ia bahkan sudah tidak lagi merasa heran jika tengah berjalan, baik orang tua maupun anak-anak akan melihatnya hingga memutar kepala. Bukan karena terpesona, melainkan karena mata kanan Jelita yang memang tertutup dan tidak bisa dibuka menjadi hal aneh tersendiri bagi sebagian orang.
Tidak jarang juga anak-anak nakal sengaja mengikutinya sembari mengolok-olok ataupun menirukan mata kanan Jelita dengan ucapan-ucapan yang mencela dan mengejek.
Jelita tentu marah.
Namun, di sisi lain, ia tidak bisa melakukan apa-apa.
Pernah suatu kali ia mencoba menegur, tetapi yang ada gadis itu justru balik dimarahi oleh orang tua si anak. Mereka berkata jika itu hanya kenakalan biasa, tanpa ada permintaan maaf sedikit pun yang terucap dari mereka.
Belum lagi pengalaman bullying yang menimpanya semasa sekolah membuatnya kian menutup diri. Ia merasa malu dan merasa tidak layak untuk menjadi pilihan siapapun.
Jika pun ada yang memilihnya dalam kerja kelompok, sudah bisa dipastikan hanya dirinyalah yang akan mengerjakan tugas tersebut.
Tentu saja Jelita pernah mengadukan perlakuan tidak menyenangkan itu kepada orang tuanya. Berharap jika setidaknya orang dewasa bisa membela Jelita kecil, atau paling tidak membuat gadis itu mendapatkan sedikit keadilan.
Namun, yang didapatkannya hanyalah nasihat semu.
Perkataan.
“Jangan diambil hati.”
“Mereka cuma anak nakal, jangan dipikirkan.”
“Tidak usah diambil hati, itu kan ciptaan Tuhan. Terima saja.”
Sama sekali tidak menenangkan.
Justru hal tersebut membuat Jelita berpikir jika apa yang ia katakan adalah sebuah kesalahan. Tidak seharusnya ia mengadu. Tidak seharusnya ia membicarakan hal-hal seperti itu.
Karena tugasnya hanyalah menerima.
Hingga ia tumbuh menjadi wanita pendiam, menutup diri, dan lebih sering memilih mengalah karena ia tahu posisinya selalu akan berada di bawah atau menjadi bagian paling belakang.
Namun, di balik sifatnya yang pendiam, Jelita sebenarnya memiliki dunia kecil yang ia ciptakan sendiri.
Menulis.
Sejak remaja, Jelita menyukai cerita. Ia suka membaca, lalu perlahan mencoba menulis ceritanya sendiri. Dari sekadar iseng, kebiasaan itu tumbuh menjadi sesuatu yang tidak pernah bisa ia tinggalkan.
Kini, Jelita bahkan bekerja sebagai penulis freelance di sebuah platform novel online.
Di sana, ia bisa menciptakan kehidupan yang berbeda.
Kehidupan di mana seorang perempuan seperti dirinya bisa menjadi tokoh utama. Bisa dicintai. Bisa berani. Bisa mengatakan tidak. Bisa menentukan dengan siapa ia ingin berjalan.
Hal-hal yang tidak pernah benar-benar bisa ia lakukan dalam kehidupan nyata.
Menulis menjadi satu-satunya tempat di mana Jelita merasa memiliki kendali atas hidupnya sendiri.
Selain menulis, Jelita juga pandai memasak.
Bahkan di keluarganya, ia sudah seperti tukang masak tetap.
Sarapan, makan siang, makan malam, makanan ketika ada acara keluarga, bahkan ketika salah satu anggota keluarganya tiba-tiba menginginkan makanan tertentu—Jelita hampir selalu menjadi orang yang pertama kali dicari.
Ia tidak keberatan.
Lagipula, Jelita memang menyukai kegiatan itu.
Ia senang melihat orang lain menikmati masakannya.
Namun, terkadang, di sela kesibukannya menyiapkan makanan untuk keluarganya, sebuah pertanyaan kecil pernah terlintas di kepalanya.
Apakah mereka memang menyayanginya?
Atau mereka hanya sudah terlalu terbiasa dengan keberadaan Jelita yang selalu bersedia melakukan semuanya?
Jelita tidak pernah benar-benar mencari jawabannya.
Mungkin karena ia sudah terlalu terbiasa menerima.
---
Jika dalam pertemanan nasib Jelita tidak beruntung, maka dalam hubungan keluarga pun … hampir sama.
Meski tidak menjadi korban bully di rumahnya sendiri, Jelita tidaklah memiliki suara di rumah.
Apapun yang menyangkut hidupnya sudah diatur.
Jelita tidak memiliki hak untuk berbicara, mengungkapkan pendapat, apalagi melakukan penolakan.
Keluarganya selalu berkilah jika apa yang mereka lakukan adalah demi kebaikan.
Dan mungkin memang begitu.
Mereka menyayangi Jelita.
Mereka hanya ingin melindunginya.
Namun, cara yang mereka lakukan sering kali justru diterima dengan cara berbeda oleh Jelita.
Bukan, bukannya Jelita tidak bersyukur dengan niat baik keluarganya.
Hanya saja, cara yang mereka lakukan sering kali justru menghadirkan luka yang semakin dalam. Ditambah dengan kenyataan bahwa Jelita seolah dilarang untuk menolak.
Sebab sejak kecil, ia sudah belajar bahwa menerima adalah hal yang harus dilakukan.
Bukan pilihan.
Sampai suatu hari.
Saat itu Jelita sudah berusia dua puluh delapan tahun. Usia yang cukup untuk dikatakan matang.
Namun sampai detik itu juga Jelita masih belum memiliki seorang kekasih. Jangankan kekasih, ia bahkan tidak pernah memperkenalkan siapapun ke rumah.
Orang tuanya mulai resah dan terus menanyakan kapan kiranya Jelita akan menikah.
Sedangkan Jelita sendiri selalu berkata tidak tahu.
Karena dalam benaknya, ia berpikir tidak ada orang yang mau menerima dirinya dengan kekurangan yang ia punya.
Tidak ada laki-laki yang akan dengan sukarela memilih perempuan seperti dirinya.
Mungkin karena itulah, ketika suatu hari keluarganya tiba-tiba membicarakan pernikahan, Jelita tidak pernah menyangka jika pembicaraan itu bukan sekadar pertanyaan biasa.
Sampai sebuah nama disebutkan.
Seorang laki-laki.
Seorang duda.
Dengan satu orang anak.
Dan laki-laki itu sudah dipilihkan untuknya.
Jelita terdiam.
“Tidak.”
Hanya satu kata.
Namun untuk pertama kalinya, Jelita mencoba menggunakan suara yang selama ini terlalu sering ia pendam.
“Aku nggak mau.”
Ibunya menghela napas.
Ayahnya menatapnya cukup lama.
“Jelita.”
Satu panggilan namanya saja sudah cukup membuat gadis itu kembali terdiam.
“Kamu pikir akan ada berapa banyak laki-laki yang mau menerima keadaanmu?”
Jelita menunduk.
Tangannya yang berada di atas pangkuan perlahan mengepal.
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, ia menyadari satu hal yang mungkin selama ini tidak pernah benar-benar ia pahami.
Sepanjang hidupnya, Jelita memang tidak pernah benar-benar diberi hak untuk memilih.