BAB 1
.
.
.
“Aku tidak mau.”
Untuk pertama kalinya, perempuan itu mengangkat wajahnya.
Tidak ada lagi rasa takut.
Tidak ada lagi keraguan.
Hanya dirinya sendiri dan keputusan yang akhirnya berani ia pilih.
Jelita membaca ulang tulisannya.
Kemudian tersenyum kecil.
Karena untuk pertama kalinya, dia iri kepada karakter ciptaannya sendiri.
Tokoh perempuan itu akhirnya berkata tidak.
Untuk pertama kalinya, ia memilih dirinya sendiri.
Jelita berhenti mengetik.
Kursor berkedip di layar.
Ia membaca kalimat terakhir yang baru saja ditulisnya beberapa kali.
“Enak sekali kalau hidup seperti di cerita,” gumamnya.
Hela napasnya terdengar berat. Senyum kecil dan samar tersungging di bibirnya.
Dari lantai bawah, suara ibunya terdengar.
“Jelita! Turun dulu, Nak!”
Jemarinya berhenti di atas keyboard.
“Iya, Bu.”
Ia menyimpan dokumennya sebelum bangkit.
Tanpa tahu bahwa beberapa menit kemudian, ia akan kembali diminta memilih sesuatu yang bahkan tidak pernah ia minta.
Langkah kakinya terdengar pelan. Suasana hatinya masih baik-baik saja sampai sesaat kemudian ia tiba di ruang tamu.
Di sana, orang tua serta saudaranya tengah berbincang dengan dua orang tamu. Jelita mengenali salah satunya.
Pria dengan kopiah berwarna hitam dan jaket berwarna serupa. Orang yang sama dengan pria yang dua minggu lalu datang tiba-tiba ke rumah bersama orang tua Jelita dengan alasan ingin melakukan pembersihan diri atau ruqyah.
“Sini duduk,” kata sang ibu lembut.
Ingatan Jelita mulai berputar pada kejadian dua minggu yang lalu.
Ba’da magrib, dua minggu yang lalu.
Saat itu, Jelita sedang duduk sendirian di rumah. Ia baru saja menyelesaikan satu bab baru dari novel web miliknya.
Gadis itu tengah duduk santai, menyapu layar ponsel yang menampilkan video-video kucing kesukaannya, sesekali diselingi video idol Korea. Tidak ada yang aneh.
Seharusnya.
Sampai tiba-tiba saja sang ayah membuka pintu dengan agak tergesa, merapikan kursi, lalu berkata,
“Duduk yang benar, mau ada tamu.”
Jelita yang tidak menaruh curiga apa pun hanya mengira jika orang tuanya memang kedatangan tamu biasa. Mungkin teman lama yang tidak sengaja bertemu saat sama-sama mengantarkan sepupu Jelita yang baru saja melamar dan berniat mampir.
Tidak lama kemudian, sang ibu menyusul. Wanita paruh baya itu kemudian meminta Jelita untuk berwudu dan berganti pakaian yang lebih sopan.
Meski dalam benaknya sudah timbul pemikiran janggal, ia tetap menuruti perintah sang ibu.
Belum selesai Jelita berwudu, seorang pria berkopiah lengkap dengan pakaian islami datang bertamu.
Perasaan Jelita mulai terasa campur aduk. Ia mengerti apa yang akan terjadi malam ini.
Ruqyah.
Metode pembersihan diri secara Islami itu akhir-akhir ini tengah menjadi pembicaraan hangat di keluarga, khususnya sang ibu.
Hal itu tidak terlepas dari peristiwa ketika sepupu Jelita baru saja menjalani prosesi tersebut dan tidak lama kemudian mendapatkan seorang pendamping.
Sebenarnya, Jelita tidak terlalu peduli. Ia hanya berpikiran bahwa mungkin jodoh sepupunya memang sudah dekat dan ruqyah menjadi salah satu perantaranya.
Namun, tidak pernah terbesit sekalipun dalam pikirannya jika sang ibu benar-benar akan melakukan hal yang sama pada dirinya.
***
“Jadi, kedatangan Pak Ris ke sini itu mau melakukan pembersihan. Ya, bisa dibilang semacam ruqyah, lah,” buka sang ayah.
Jelita masih terdiam. Otaknya masih berusaha mencerna apa yang sedang terjadi.
“Iya, Mbak Jelita. Jadi, Ibu dan Ayah Mbak Jelita sudah cerita kalau katanya punggung dan tengkuk Mbak sering sakit?” tanya Pak Ris ramah.
Jelita yang masih agak kebingungan hanya bisa mengangguk. Memang beberapa hari ini tengkuknya terasa agak pegal, begitu pula kepalanya yang sesekali terasa berdenyut.
Tapi hal itu sama sekali tidak ada hubungannya dengan hal gaib.
Itu hanyalah efek stres karena ia terlalu memforsir diri untuk menulis bab novel onlinenya, ditambah pertanyaan tentang kapan menikah yang semakin gencar ditujukan kepadanya akhir-akhir ini.
“Nah, silakan duduk dulu di sana.”
Jelita duduk di atas karpet di tengah ruangan.
Dari arah belakang, sang praktisi mulai membaca doa-doa yang entah apa. Jelita sendiri tidak memahaminya.
“Merasa sesuatu?” tanyanya.
“Nggak,” jawab Jelita pendek.
Alisnya mengernyit. Ia merasa heran sendiri dengan apa yang sedang dilakukannya.
Ini apa sih? Aku ngapain?
Prosesi pembersihan terus berlanjut. Berkali-kali Jelita ditanya apakah ia merasa ingin menangis, mual, marah, atau merasakan sesuatu yang aneh.
Jawaban gadis itu hanya satu.
“Lapar.”
Karena memang dirinya tidak merasakan apa pun. Ia justru merasa lapar karena sejak pagi baru sempat menyantap dua potong roti sebagai pengganjal perut.
Lalu, mendadak, asam lambung di perut Jelita bergejolak seakan meminta dikeluarkan dengan segera.
Gadis itu muntah.
Dengan cekatan, sang praktisi kemudian memijat bagian ibu jari dan beberapa jari kakinya dengan alasan ada sesuatu yang gaib di sana.
Secara spontan, Jelita menarik kakinya tanpa permisi.
Bukannya apa, ia merasa kesakitan saat sang praktisi benar-benar memencet ibu jari serta beberapa jarinya dengan kekuatan super.
Namun, yang dikatakan sang praktisi justru hal lain.
“Jinnya bersarang di situ, makanya saat dipencet sakit. Tapi sekarang dia sudah keluar.”
Jelita tidak menanggapi apa pun. Ia hanya mengusap-usap ibu jari kakinya yang terlihat memerah.
Setelah serangkaian prosesi ruqyah selesai, barulah terungkap fakta bahwa orang yang secara tidak langsung mengundang si praktisi adalah sang ibu bersama bibi Jelita.
Sang bibi meminta bantuan kepada kakak kedua Jelita untuk memotret gadis itu secara diam-diam dan memberikannya kepada si praktisi untuk “diterawang”.
Dan begitu si praktisi mengatakan bahwa ada ‘sesuatu’ yang menempel di tubuh Jelita, dilakukanlah prosesi tersebut.
“Apa Mbak Jelita ingat pernah membentak kakak beberapa hari lalu?”
Jelita diam sesaat.
Otaknya mulai menyambungkan beberapa kejadian beberapa hari sebelumnya.
Tentang dirinya yang tanpa sengaja melihat chat antara sang kakak kedua dengan si bibi. Tentang foto dirinya yang diam-diam diambil. Juga tentang prosesi pembersihan yang tiba-tiba dilakukan kepadanya.
Terbesit dalam benak Jelita untuk jujur.
Namun, di sisi lain, ia merasa kasihan kepada si praktisi yang sejak tadi hanya mendapatkan jawaban “lapar” darinya, seolah tidak mendapatkan hasil yang memuaskan.
Maka, Jelita memutuskan untuk berpura-pura menggeleng.
Tujuannya hanya satu.
Menghormati usaha orang tuanya.
Seketika, senyum kelegaan muncul di wajah si praktisi. Ia menatap Jelita sebentar, kemudian beralih kepada kedua orang tua Jelita dan menjelaskan,
“Jelas Mbak Jelita nggak ingat. Pas itu bukan Mbak Jelita, soalnya,” ujarnya dengan nada bangga.
“Benar. Waktu itu kamu berteriak ke aku karena aku kasih fotomu ke Bibi. Tapi aku diam saja karena itu bukan kamu sekali. Kamu nggak biasanya marah karena hal sepele,” sambung sang kakak kedua.
Jelita hanya diam. Ia menoleh ke arah sang ibu yang sudah menangis, merasa kasihan melihat anaknya sampai harus seperti ini.
“Memangnya iya? Apa iya, Yah?” tanya Jelita, melanjutkan kepura-puraannya.
Sang ayah yang duduk tidak jauh dari mereka hanya tersenyum sebagai jawaban.
Sebenarnya, Jelita mengingat semuanya.
Ia ingat semuanya dengan jelas, bahkan sampai pada alasan kenapa ia bisa berteriak kepada sang kakak kedua.
Bukan soal gaib, ketempelan jin, atau apa pun.
Melainkan karena Jelita merasa risih dan tidak nyaman. Foto yang diambil secara diam-diam itu juga terlihat jelek, sehingga ia meluapkan protes dengan agak berteriak karena saat itu sang kakak sedang berada di luar rumah, menemani anaknya bermain.
Namun, melihat raut lega dan senyum di wajah orang tuanya membuat Jelita terpaksa kepura-puraannya.
Lagipula, ia berpikir semuanya sudah selesai sampai di sini.
Ternyata, pemikirannya salah.
Semuanya dimulai saat sang praktisi bertanya sesuatu yang menurut Jelita sama sekali tidak berhubungan dengan prosesi pembersihan yang baru saja dilakukan.
“Maaf, Mbak Jelita. Bapak mau nanya. Apa sekarang Mbak Jelita sudah ada keinginan untuk menikah?”